Pernah ga seh kalian ngerasa kehilangan kata-kata ketika berpapasan (tanpa sengaja) dengan sang pujaan hati?
Yah, inilah yang sekarang sedang ku alami..
Kalimat-kalimat yang biasanya lancar terurai dari mulut ini (bagaimana tidak, sudah 2 tahun ini aku menjabat sebagai President ECC, English Conversation Club, sebuah prestasi tersendiri bisa terpilih menjadi President ECC ketika masih Madya Praja, tingkat kedua di sekolah kedinasan ini. Mungkin disebabkan juga oleh 3 kali berturut-turut memenangkan kejuaraan English Speech Contest, yang artinya kosa kata ku bukan 'kaleng-kaleng' plus kalimat-kalimat, dalam bahasa Indonesia maupun Inggris, selalu lancar keluar dari mulut ini).
Tapi ketika berhadapan dengan sang Senior ini, mulutku seperti sudah kena lem korea yang super duper kuat ituh.. lengket abis ga bisa digerakin untuk mengucapkan sepatah kata saja..
Masih dengan PDUB-nya (Pakaian Dinas Upacara Besar) sang Senior tampak berjalan santai tadi, sendirian, dari arah lapangan Parade. Wasana Praja, tingkat 4/terakhir di sekolah ini memang baru saja selesai melaksanakan Upacara Pelantikan Purna Praja, kelulusan mereka. Entah mengapa dia tidak bersama keluarga ataupun sahabat-sahabatnya?
Sementara aku yang berjalan sendirian juga, dari arah barak menuju perpustakaan, seperti biasa menunduk, mendongak tepat ke arah tatapan matanya yang tajam hanya sekitar 100 m.
Insting pertama ku, tentu saja, mencari jalan lain dan menghindari berpapasan dengannya. Tapi harga diri ini menahanku balik kanan (khawatir dianggap menghindar tanpa sebab yang jelas) dan hanya bisa pasrah memperlambat langkah, berharap sang senior tidak terlalu memperhatikan kegugupanku.
Sudah sekian lama asa ini ku simpan sendiri.
Rasa memuja ini pertama kali hadir ketika Pekan Pengenalan Kehidupan Ksatrian (PPKK) di awal Muda Praja dulu (tingkat 1), yang artinya sudah hampir 3 tahun ku pendam.
Teringat aku pada awal mula sosoknya lekat dalam pikiran dan hati ini..
***
"Ini minum dulu dek!" sebuah suara tegas dan sebotol air mineral di depan mataku, menghentikan jalan jongkok yang sedang ku lakukan.
"Siap, terima kasih kak.." jawabku lirih, tak berani mendongak dan melihat wajahnya, namun langsung mengambil botol itu, membuka tutupnya dan menenggak habis 330 ml isi-nya.
"Haus ya dek? Tapi lain kali kalau bicara, lihat orangnya ya!" kalimat tegas itu menarik wajahku untuk mendongak dan melihat dengan jelas sosoknya.
Tampak bercahaya wajahnya di pengelihatanku kala itu dan langsung masuk kategori sebagai orang paling ganteng, paling tidak sekemampuan otak ini dapat mengingat.
Entah berapa lama aku melongo (mungkin bahkan sampai meneteskan air liur 😅 sangking kagumnya akan kesempurnaan ciptaan Tuhan ini), sampai tangannya terulur di depan mataku dan tanpa sadar tangan ini menyambut uluran tangannya dan berdiri di hadapnnya, aga minder dengan tampang kucel/lecek/kotor (sehabis direndam di kolam belakang, merayap dan jalan jongkok entah berapa ribu meter sebelumnya) dan tubuhku tergolong mungil jika dibandingkan dengan perawakannya yang tinggi menjulang dan tampak bersih, rapi.
Namun kejadian berikutnya sangat mengagetkan dan merupakan salah satu peristiwa paling memalukan buatku seumur hidup ini.
"Kita bisa lanjutkan bergenggaman tangan nanti, sekarang saya hanya minta botol kosong di tanganmu itu dan sebaiknya kamu jongkok lagi sebelum senior lain memperhatikan.." bisiknya di telingaku dengan senyum geli yang tidak berhasil ditahannya.
Kaki ini langsung tidak bertenaga dan sambil kembali jongkok, ku tundukkan kepala dan segera ku tarik tanganku dari genggamannya, sambil menyerahkan botol kosong tadi.
"Siap salah, maaf kak.." jawabku cepat.
Untung wajah ini sudah sangat gosong akibat dijemur berhari-hari dan belum lagi noda lumpur dan kotoran yang tidak sempat diusap, kalau tidak, mungkin bisa merah membara menahan malu luar biasa yang ku rasakan kala itu.
***
"Jangan menggerutu karena ada duri diantara mawar, tapi mengucap syukurlah karena masih ada mawar diantara duri-duri itu" kalimat bijak itu membuatku mendongak ke arah altar gereja. Sosoknya yang berwibawa tampak bercahaya lebih terang dari sebelumnya.
Sang Senior sedang sharing Firman Tuhan di ibadah malam kamis ini. Saat yang tepat sebenarnya untuk para Muda Praja melonggarkan kewaspadaan akan keisengan senior dan sejenak beristirahat setelah kegiatan fisik yang sangat melelahkan seharian penuh, bahkan beberapa temanku tampak sudah terlelap.
Namun kata-kata yang keluar dari mulut sang Senior menohok ke hati dan sanubariku. Benar lah yang dia katakan, walaupun keadaan saat ini tampak sangat menyiksa fisik dan psikis-ku, namun masa depan yang menanti sangat indah. Walau air mata selalu mengalir setiap kali selimut ku tarik ketika akan beristirahat di penghujung hari, namun bayangan karir yang menjanjikan sudah terpahat jelas di masa depan. Hitung-hitung bayar sekolah dengan tangisan, melatih otak dan otot dengan upaya maksimal demi hasil yang optimal.
Sejak malam itu, sosoknya bukan hanya lekat di pikiran ini, tapi juga sudah meresap di hatiku.
Memperhatikannya adalah suatu oase buat hari-hari ku yang penuh perjuangan di ksatrian ini. Setiap kali perasaan menderita dan keinginan untuk pulang membuncah, maka membayangkan keberadaannya di ksatrian ini, bisa meredakan gejolak tersebut.
Debar jantung ini akan langsung naik intensitasnya dengan tidak beraturan ketika sosoknya masuk dalam area pengelihatanku. Semua tentangnya membuatku bergairah, bahkan hanya mendengar namanya dipanggil orang lain, bisa membuat bulu kuduk-ku berdiri dan tubuhku akan mematung sesaat.. freezzz...
***
Kini kami berhadapan dengan jarak kurang lebih 2 meter. Saling menatap tanpa berkedip. Lalu senyum geli-nya kembali menghiasi wajah ganteng-nya, sambil bertanya dengan nada menggoda: "Apa mentang-mentang saya bukan lagi Wasana Praja, Nindya Praja tidak perlu PPM lagi ya?" (PPM = penghormatan ala militer)
Setelah mencerna pertanyaannya, aku langsung mengangkat tangan, memberikan PPM dan menjawab cepat, "Siap, salah kak.. maaf.." kataku sedikit memberanikan diri tetap memandangnya. "Mungkin ini kesempatan terakhir kali aku dapat menikmati keindahan wajahnya, sebelum akhirnya ia pergi ke tempat tugas asal pendaftarannya sana.." batinku nelangsa.
Sang Senior tampak mengangguk membalas PPM-ku, mungkin karena topi pet PDUB-nya memang ada di tangannya dan dia kembali tersenyum geli tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua bola mataku.
"Lagi sibuk mempersiapkan diri menjadi senior tertinggi atau ada waktu menemani kakak sebentar?" tanya-nya lagi mengagetkanku.
"Izin kalau boleh tau, menemani kakak kemana ya?" tanyaku penasaran, sekaligus merasa sangat bahagia. Beberapa kali kami sempat berbincang atau terlibat dalam percakapan, seringnya setelah ibadah di gereja, selalu ada orang lain di antara kami, tidak pernah ada kesempatan berdua. Walaupun mata kami sering bersirobok, namun tidak pernah lebih dari itu.
"Ke gereja, mau berdoa di ruang doa. Bersedia nemenin? Mungkin ini yang terakhir kali loh.." jawabnya memandang sekilas ke arah atas di belakang punggungku, dimana lokasi gereja berada.
"Baiklah.." jawabku singkat. Entah mengapa merasa bahagia (karena akhirnya bisa menghabiskan waktu bersamanya) tapi juga sedih mendengar ucapannya.
Kami berjalan bersisian menuju gereja dalam diam. Aku seperti biasa berjalan menunduk, tidak berani memandang ke arahnya. Sampai di gereja yang tampak sepi, kami tidak masuk dari pintu depan, namun memutar dari arah samping menuju belakang gereja, ke arah ruang doa.
"Silahkan kak kalau mau berdoa, sy nunggu di pelataran belakang ya.." kataku kemudian.
"Loh, katanya tadi mau nemenin berdoa?" tanya-nya masih dengan senyum jahilnya.
"Kirain nemenin kakak ke gereja tadi, bukan berdoa bersama.." jawabku aga bingung, masih merasa sang Senior hanya bercanda. Ruang doa biasanya dipakai perorangan dan kalaupun bersama hanya muat 2 atau 3 orang karena tempatnya memang tidak terlalu besar.
"Tadi kamu sudah setuju nemanin saya berdoa loh, masa sekarang takut?" pertanyaannya kembali menggoda harga diriku.
"Yah kalau kakak memaksa.. kenapa harus takut?" jawabku akhirnya, masuk ruang doa yang pintunya telah dibuka sang Senior dan ditutup kembali di belakangnya.
***
Aku termasuk pengguna tetap ruang doa ini. Dalam seminggu bisa 5 sampai dengan 7 kali. Ada suasana yang khusyuk dan magis berdoa dalam ruang doa ini, seperti langsung berkomunikasi dengan Tuhan. Ketika keluar dari ruang doa, semua beban akan terasa lebih enteng dari sebelumnya.
Pada beberapa kesempatan, aku memang pernah menggunakan ruang doa ini bersama dengan teman/sahabat atau senior/junior perempuan yang sedang berbeban berat. Kami berdoa dan bertangisan bersama. Tapi aku belum pernah berduaan saja dengan lawan jenis berdoa bersama di ruang doa yang kini terasa semakin kecil dan sempit.
***
Dengan menahan rasa grogi sebisa mungkin, aku langsung mengambil sikap berlutut dan menangkupkan kedua tangan (bertelut) menghadap meja penyembahan.
Sang Senior pun mengambil sikap yang sama di sebelahku. Tubuh kami saling bersisian menempel, aku otomatis menggeser menjaga jarak, namun tanpa diduga, sang Senior juga bergeser kembali menempelkan tubuh sampingnya ke tubuhku yang semakin kaku mematung.
"Boleh saya mulai berdoa?" tanyanya dengan suara lembut sejurus kemudian.
"Silahkan kak.." jawabku perlahan semakin menundukkan kepala dan menutup mata untuk berdoa bersamanya.
"Tuhan kami yang bertahta di dalam kerajaan Sorga, Bapa yang kami kenal dalam Nama Tuhan Yesus Kristus, kami datang hari ini untuk mengucap syukur buat begitu banyak kasih karunia yang boleh kami rasakan sepanjang kahidupan kami.
Terkhusus pada hari ini, hamba bersyukur buat kebaikan dan rancangan-Mu yang indah ini, memperbolehkan hamba dan kekasih hati hamba bersekutu bersama di hadapan-Mu yang Kudus.
Kami berdua sehati, sepikir dan sejiwa, memohon pertolongan-Mu untuk dapat terus memelihara cinta kasih diantara kami ya Tuhan dan biarlah boleh semakin kuat bertumbuh semakin hari, seturut dengan kehendak-Mu, walau mungkin kami akan sering berjauhan.
Kami percaya Kau akan senantiasa melindungi dan memberkati kami dimanapun kami berada.
Ini doa dan permohonan kami ya Tuhan, kami serahkan di dalam Tuhan Yesus Kristus, yang telah menebus kami daripada segala salah dan dosa.
Amin."
Seperti terbangun dari sebuah mimpi, aku membuka mata dan memandang ke arahnya, seakan bertanya "Apa-apaan doa tadi?" dalam batinku saja.
Sang Senior menggenggam kedua tanganku yang masih terjalin dan berkata dengan raut wajah memohon: "Tidak ada yang kebetulan, semua adalah bagian dari rancanganNya. Saya sudah bergumul selama 3 tahun ini untuk menyatakan perasaan ini ke kamu. Hari ini saya akan menyerah sebenarnya, jika memang bukan kamu jodoh yang sudah disiapkan Tuhan, maka Beliau ga akan mempertemukan kita dan Beliau juga ga akan menggerakkan hatimu untuk mau menemani saya berdoa di sini. Maaf kalau kamu merasa terjebak, tapi ini adalah jawaban permohonan saya ke Tuhan, kalau sekarang kamu belum mengasihi saya sedalam perasaan saya ke kamu, pada waktuNya nanti mungkin kamu akan bisa merasakannya, yang penting kamu mau kasih kesempatan rasa itu untuk tumbuh. Kamu mau kan?" 🥰
Aish.. gimana ga tambah klepek-klepek hati inih mendengar ungkapan cinta-kasih sedalam ini coba?
Cowok biasa akan menyatakan perasaannya ke ceweknya langsung, pria dewasa akan minta izin orang tua si-perempuan, ini ada laki-laki sejati langsung memohon ke Pencipta sang pujaan hati, bagaimana mungkin akan ada penolakan yak? 😇
Ketika ku anggukkan kepala menyetujui permintaannya, wajahnya semakin mendekat dan akhirnya bibir kami bertaut menyegel kesepakatan cinta-kasih kami. Batinku kembali bersenandung: "Senior.. aku mencintaimu.."
***
Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mampir dan membaca cerpen ini..
Jangan lupa kasih ❤ ya para pembaca yang budiman.. #Akumencintaimu 🤗😘😍🥰