Silahkan dibaca!!
Kalo ga suka yaudah skip!!!!
Gausah dibaca!!
Di sini tidak ada maksud untuk menjelek-jelekkan siapapun. Ini hanya halu. Jadi jangan kebawa emosi!!
💫




Kisah ini menceritakan tentang seorang anak yang kedua orang tuanya sudah berpisah. Lalu si ibunya ini nikah lagi. Dan si anak ini di dalam hatinya tidak merestui. Ya tetep aja dilaksanakan. Kemudian si anak dari ibu ini merasa ibunya sudah tidak sayang lagi kepadanya, sudah tidak perhatian, dan sudah tidak seperti dulu. Sehingga si anak ini, rindu dengan sang ayah yang sudah berpisah bertahun-tahun dengannya. Sang anak ingin sekali bercerita untuk menghilangkan segala beban yang ada di dalam kepalanya. Tapi, dia seakan sudah tidak bisa percaya dengan orang luar. Dan akhirnya dia memendam semuanya sendirian.
Secara teori, hubungan asmara yang bahagia itu terbuat dari komitmen yang baik, komunikasi lancar, rasa respect satu sama lain, kepedulian, kesetiaan, penerimaan, saling percaya, dlsb.
Namun semua itu kandas karena perceraian orang tua, sebab yang menjadi role model anak dalam hubungan serius ketika menjalani hubungan langsung, kadang bingung.
Livia Sheva Elvin memiliki anak tunggal perempuan yang bernama Nadine Aquilla Kinara. Saat kedua orang tuanya berpisah Nadine masih duduk di bangku SD kelas 3. Sekarang Nadine sudah berubah menjadi gadis cantik,dan sudah kelas 8 SMP. Dan hari ini adalah hari pernikahan ibunya. Hanya dilangsungkan di KUA saja. Dan Nadine? Ya sekolah lah.
Setelah sekian lama hingga akhirnya Nadine merasa kalau ibunya semakin lama - semakin berubah atau itu hanya hayalan Nadine belaka. Ayah tiri Nadine tinggal dengan Ibu Nadine, Nadine, dan Nenek Nadine( ibu dari Livia ). Namanya adalah Surya Sawala Pratama. Nenek Nadine namanya Ovi Dwi Shafira.
Saat ini, Nadine sedang berada di kamarnya. Dia berpikir ;
"Kenapa harus aku? Kenapa? Kenapa harus aku yang menjadi korban saat perpisahan terjadi. Aku hanya diam, tetapi pikiranku tak bisa diam. Entah mengapa, selalu aku yang disalahkan. Andai itu tidak pernah terjadi, namun sudah terjadi. Seandainya saja keluargaku masih utuh, aku ingin mempunyai keluarga yang utuh. Hah sudahlah semuanya sudah berlalu. Yang melakukan dia, yang jadi korban aku. Seakan-akan saat dia marah pun dia melampiaskannya kepadaku. Hah sepertinya kau sudah berubah ya. Apa karena dia? Ku rasa setelah kau menikah dengannya kau berubah. Aku selalu memikirkannya, apakah dia merindukan putri kecilnya yang dulu? Yang sekarang sudah tumbuh menjadi gadis cantik. Ataukah dia sudah berkeluarga lagi, dan sudah memiliki putri dan putra. Sehingga dia melupakan putri kecilnya yang saat ini sedang merindukannya. Ya setiap di dalam putrinya selalu berpikir, Bagaimana rasanya mendapatkan kasih sayang, dan perhatian dari seorang ayah. Huh andai keluargaku masih lengkap. Ayah apa kau tahu, aku disini merindukanmu. Aku masih ingat bagaimana kau mengajariku naik sepeda. Hahh... Rindu yang tak kunjung berlalu."
Lalu jika kau tidak pernah mencintainya mengapa kau "melakukannya" hingga menghasilkan aku. Saat aku melakukan kesalahan kau selalu saja bilang begini " Aku yang sudah membayar semua kebutuhanmu, biaya sekolahmu, tapi apakah seperti balasanmu padaku? Apakah ayahmu itu yang membayar semua kebutuhanmu? Aku yang sudah membiayai TPQ mu dulu! Bukan, bukan dia! Tapi aku!"
Rasanya aku ingin bekerja sendiri saat kau bilang begitu kepadaku. Tapi mau cari kerja kemana? sekolah saja masih belum lulus, dan umur masih belum cukup. Hah.. aku masih ingat dulu, saat masih aku masih duduk di bangku SD. Saat itu guru memberikan tugas membuat prakarya, dan aku tidak bisa memulainya bagaimana. Tapi kau bukannya membantuku malah kau diam saja. Akhirnya aku menangis, saat itu sudah malam. Sehingga kau membakarnya padahal aku belum bisa membuatnya!! Tidak lama kemudian, tetanggaku datang melihat dan membantuku untuk membuat tugas prakarya ku.
Iya, aku tahu kalau kau yang sudah membayar semua kebutuhanku. Apakah karena kau menbencinya hingga akhirnya kau membenci diriku juga? Terserah padamu. Aku sudah pusing. Memikirkan segala tugas yang ada. Dan ya, apakah kau tahu? perasaan anakmu? apakah kau mengerti apa yang sedang dia rasakan sekarang, entah itu sedih ataupun bahagia??
Sudahlah aku sudah tahu jawabannya!! Jawabannya adalah kau tidak pernah mengerti perasaannya, dan apa yang dia rasakan.
Yang kau pedulikan sekarang, hanyalah suami keduamu!! Dan ya lebih tepatnya ayah tiri ku!!
Bahkan saat kau bersamaku, kau tidak seperti saat kau bersamanya!! Apakah saat ini kau menyesal? Ya, apakah kau menyesal karena kau duu pernah bilang padaku bahwa kau menikah hanya karena kasian padanya. Dan sekarang, apakah kau menyesal setelah aku ada di dunia ini???
Capek ya pura-pura bahagia terus di hadapan semua orang, padahal kita sedang memikirkan sesuatu yang tidak tahu kapan akan berakhir. Dan hanya kita sendiri yang tahu. Orang di luar sana pasti berfikir bahwa kamu sedang baik-baik saja. Padahal saat itu juga kita sedang mempunya masalah yang masih belum terselesaikan.
Oh ibu...
Andai kau tahu, aku rindu dirimu yang dulu..
Dirimu yang selalu ada saat keadaan terpurukku, tapi sekarang...
Dirimu bagaikan pahlawan saat dulu membelaku di hadapan temanku dulu, hanya karena mereka membully ku.
Oh Ibu..
Aku rindu pelukanmu...
Aku rindu kasih sayang dan perhatian yang pernah kau berikan kepadaku..
Dimana ibuku yang dulu? Ibu yang selalu bersamaku..
Aku rindu dimana disaat kita bercanda dan tertawa bersama,
Apakah mungkin? jika kau akan kembali seperti dulu lagi, ku rasa kau tidak akan berubah seperti dulu lagi.
Capek ya......
Harus berpura-pura kuat di depan semua orang
Padahal gak sekuat itu
Selalu terlihat baik-baik saja tapi sebenarnya banyak kesedihan dan
Beban dalam pikiran
Ingin sekali rasanya dimengerti
Tapi hanya diri sendiri yang bisa mengerti
Perceraian kedua orang tua Nadine masih meninggalkan luka, meski kejadiannya sudah lama, namun luka itu masih ada dan nyata. Karena itu, harap maklum jika perpisahan tersebut menjadikan Nadine sensitif soal keluarga, cinta, masa depan, dll. Ada orang tua yang sedang jalan dengan anaknya saja bisa bikin baper.
Berawal dari keluarga yang tidak utuh bukanlah hal mudah. Ada rasa rendah diri dan kurang pantas, apalagi ketika menjalin hubungan dengan seseorang dari kalangan keluarga harmonis atau keluarga lengkap. Banyak orang memberikan stigma terhadap anak broken home.
Banyak yang menganggap 'enggak bener' , reputasinya bandel, suka membangkang, mentalnya labil, takut masa depannya seperti orang tuanya, dll. Rasanya tidak percaya adanya sosok yang menerima kami dan latar belakang kami dengan apa adanya.
Bisa dibayangkan bagaimana rasanya ketika percaya orang tua itu tidak akan berpisah, tetapi pada akhirnya mereka hidup masing-masing. Dulunya mereka sering berkomitmen, namun lihatlah mereka berubah. Keadaan mereka benar-benar tidak bisa diprediksi. Tidak heran kalau Nadine membuat benteng kokoh dan tinggi untuk mempercayainya.
Rasanya sulit untuk curhat terbuka. Sulit untuk menceritakan pengalaman, atau kisah masa lalu. Tetapi, jika Nadine sudah percaya dan memang ingin bercerita, Nadine juga bisa melakukannya. Pelan-pelan saja.
Ironis, sih. Di satu sisi kami ini cukup tertutup. Sulit rasanya untuk mengekspresikan diri secara terbuka. Di sisi lain Nadine juga ingin memiliki partner yang terbuka untuk berkomunikasi. Pada akhirnya Nadine mencoba untuk membuka diri. Sebab, keterbukaan itu menjadi salah satu modal penting agar komunikasi berjalan dengan baik.
Di masa kecil, orang tua atau wali mestinya support system terbaik. Namun anak-anak broken home tidak benar-benar merasakannya. Malah ada kecenderungan untuk memendam beban sendirian.
Trauma saja. Dulu keluarga kita masih harmonis dan orang tua masih bersama, tiba-tiba saja momen mengubahnya. Rumah berubah menjadi tempat yang penuh air mata. Orang tua jadi figur yang terasing.
Diam - diam masih tidak percaya dengan "cinta sejati."
Meski tidak mengucapkannya langsung, namun keraguan itu masih ada. Rasanya ingin tertawa ketika ada dua insan yang menggombal, rasanya hambar dengan ungkapan cinta yang berlebihan, rasanya geli melihat pasangan yang mengumbar kemesraan, rasanya skeptis terhadap orang yang tampak seperti pahlawan dan banyak berkorban ( padahal mungkin ada maunya ), dll. Rasa pesimis itu masih ada. Masih rentan.
by : ɴͩ͢ᴀͤᴀͩͤᴀͤ͢.🌻