Iki berjalan kencang menuju rumahnya di ikuti oleh Rama.
"Tunggu Ki, pelan pelan jalannya, kamu ga apa apa kan? Kamu harus sabar Ki... Kiii tunggulah jangan kencang kencang jalan nya aku pegel nih."
Namun ucapan Rama tak di indahkan oleh Iki, dia terus saja berjalan kencang hingga sampailah di rumah nya.
Brakkkk
Iki membanting pintu dgn kencangnya.
"Ibu.... "
Iki terus berteriak mencari keberadaan ibunda nya.
Rama yang mengikutinya langsung saja menarik tangan Iki.
"Ki plis tenanglah kamu jangan teriak teriak seperti ini, bersabarlah cari dan bertanya lah baik baik. Kasian ibu mu pun pasti bersedih melihatmu seperti ini." Ucap Rama
Keluarlah kakak kedua Iki dari kamarnya yang terbangun karena teriakan Iki.
"Ada apa si dek teriak teriak? Ganggu orang tidur siang aja.!"
"Mmm itu, itu kak tadi Iki di bully lagi di tempat PS." Jawab Rama
"Hah siapa lagi yang berani bully adik ku, kurang ajar!"
"Anak anak yang biasa kak." jawab Rama
"Udahlah kak dimana ibu? Aku mau bicara sama ibu.."
Sanggah Iki lalu berjalan ke dapur mencari Ibunya.
Di dapur ......
Brukkkk
Iki memeluk ibundanya dari belakang sehingga ibunda nya terkejut.
"astagfirulloh, ada apa?" kata ibunda iki merasa kaget.
" Ibu sebenarnya siapa ayah ku, dimana dia, dan mengapa aku berbeda ?" Ucapnya menangis pilu dipelukan ibu nya.
"Mengapa kamu bertanya seperti ini lagi sayang..?" Menahan tangis dan amarahnya.
" Apakah ada seseorang yang membully kamu lg..?
Memeluk anaknya tersebut.
Iki hanya menjawabnya dengan menganggukan kepalanya, ia terus menangis.
"Baiklah ibu tidak tau apakah kamu sudah cukup dewasa untuk mendengarkan penjelasan dari ibu, tapi ibu harap kamu jangan pernah menganggap kami tidak sayang padamu nak.."
"Dahulu keadaan ekonomi keluaraga kita sangat sulit ditambah lagi ibu yang seorang janda harus menafkahi kedua kakak mu, membuat ibu barus bekerja extra keras. Namun tetap saja tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga kita."
"Kemudian ada seorang teman ibu yang menawarkan pekerjaan ke Luar Negeri dengan gaji yang besar pada saat itu, lalu berangkat lah ibu kesana. Ibu mendapat majikan yang baik, setiap bulan ibu kirimkan gaji ibu pada nenek mu dan lihatlah sekarang rumah kita sedikit lebih bagus dari yang dulu."
"Beberapa tahun Ibu menjadi TKW di Luar negeri sampai kakak kakak mu lulus sekolah dan sekarang kakak pertama kamu bekerja di Luar Kota. "
"Malam itu..."
"Di malam saat ibu hendak pulang ke Negara ini, kejadian itu hal yang sangat ingin ibu lupakan.. ibu di lecehkan secara seksual oleh supir majikan ibu, kemudian orang itu melarikan diri entah kemana."
"Ibu lalu menceritakan kejadian itu pada majikan ibu, dan mereka melaporkan nya ke pihak berwajib. Tapi karena ibu ingin pulang ibu mencabut laporan tersebut dan pulang lah ibu ke Indonesia ini."
"Beberapa bulan kemudian ternyata tumbuh kamu didalam rahim ibu."
"Maafkan ibu dahulu ibu pernah mencoba membunuh mu nak."
Ibu Iki terus menangis menceritakan masa lalu nya yang begitu pahit.
"Jadi benar aku ini anak ***** ? Pantas saja aku berbeda dengan kalian." Lirih Iki menangisi dirinya.
"Jangan begitu dek, tidak ada anak ***** dalam keluarga kita. Kami semua sangat menyayangimu, bukan hanya kamu yang berbeda lihat lah lebih jauh ada juga saudara yang sekandung tapi mereka sangat berbeda. Dengarlah Tuhan tidak pernah membeda bedakan cipta an nya, Kakak mohon... terimalah dengan ikhlas. Lagipula sekarang kita juga sudah memiliki ayah yang meskipun bukan ayah kandung kita tapi dia sangat sayang dan peduli pada kita." Ucap kakaknya Iki.
"Tapi tidak ada yang mau berteman dengan ku kak.." lirih iki.
"Hei apa maksudmu memangnya kamu gak pernah nganggap aku teman ya...?" Ucap Rama menepuk pundak Iki.
"Lihatkan kamu punya orang orang yang tulus sayang sam kamu dek, lebih baik satu kawan daripada ribuan teman tapi tak tulus." Saut Kakak Iki.
"Itu benar sayang, maafkan ibu. Semua ini pasti ada hikmahnya... tolong jangan bersedih atau menjauh dari kami. Jadilah Iki yang kuat dan kokoh sehingga dapat menjadi seseorang yang bermartabat."
Mereka saling berpelukan satu sama lain, namun tiba tiba tercium sesuatu yang menusuk hidung basah mereka.
"Ya Tuhan masakan ku gosong..." teriak Ibu nya Iki.
Tamat
_