Aku tak percaya akan adanya cinta. Aku juga tak menganggapnya Nyata. Cinta merupakan sebuah dongeng. Tak akan pernah nyata. Cinta hanya memberikan impian dan akan menghilang ketika menggapainya.
Aku menghela nafas panjang ketika melihat tokoh kopi tempatku bekerja masih tutup. Ku pikir aku akan terlambat karena sebelum pulang mereka menyuruhku melakukan hal-hal aneh lagi.
Aku berjalan santai menuju pintu belakang. Ahhh... ku lihat ada mayat yang tergeletak di sini. Dengan perasaan campur aduk aku memakai sarung tangan latest dan menyentuh tubuhnya. Mungkin saja dia hanya pingsan.
Setelah lama aku mengecek keadaan orang itu, Ternyata dia terluka cukup parah dan dalam kondisi yang sangat memprihatikan. Aku memutuskan untuk menolongnya.
Aku melihat situasi dan mengendap-endap sambil membopong tubuh orang itu menuju kamarku. Oh yah, Aku belum cerita yah? karena aku anak yatim-piatu pemilik kafe ini memperbolehkan aku untuk tinggal di loteng asalkan aku mau membantu bekerja dengan dibayar separuh dari gaji tetap.
Sungguh sangat hebat. Aku bisa membawa tubuh orang ini sampai loteng. Rasanya tubuhku pegal dan sakit. Yah mau bagaimana lagi aku yang mau menolongnya. Setelah dirasa cukup aman aku segera membalut semua lukanya. Meskipun kemampuan medis ku tak terlalu baik Tapi, perban yang aku pakaikan cukup rapi.
Setelah selesai mengobati pasien aku bergegas menuju toko. Terlihat Bos sudah menungguku dengan kesal. Sesekali dia membentak karena aku melakukan kesalahan. Bos adalah orang yang baik dan penuh perhatian namun banyak orang yang mengatakan dia jahat.
Setelah 2 jam berlalu saat jam istirahat aku memutuskan untuk memberi orang itu makan. Dengan membawa roti dan secangkir teh aku menunjuk loteng.
Saat sampai aku melihat dia sudah sadar dan sekarang dia sedang berjalan ke arahku. Aku mendekatinya dan menyodorkan Roti dan teh.
Prang...Tiba-tiba dia menarik tanganku yang mengakibatkan cangkirnya jatuh. Ack... rasanya kakiku sangat sakit dan panas karena terkena tumpahan teh. Dengan campur aduk aku marah kepadanya.
"Apa yang kau lakukan? itu sangat berbahaya, Kalau terjadi sesuatu bagaimana? Sekarang lepaskan tanganku. Sakit tahu".
Dia hanya menatap wajah dengan lekat. Karena merasa jengkel ku sodorkan roti ini ke mulutnya. Terlihat dari raut wajahnya terkejut sesekali di tertawa. Sangat mengagumkan, Tanpa sadar aku sudah terpesona dengan wajahnya yang indah.
Tunggu sebentar kurasa dia laki-laki? Seketika otakku berfungsi, dengan segera aku melepas genggamannya. "Tidak....kalau Bos tahu aku pasti akan dihukum karena membawa laki-laki ke dalam rumah".
Laki-laki itu memegang tanganku dan menggigitnya. Ackh....rasanya sangat sakit ketika giginya menancap di dalam daging ku. Ingin sekali ku tarik tanganku namun dia terlalu kuat. Entah kenapa pandanganku sekarang berkunang-kunang. Kurasa ini rasanya Anemia. Tubuhku seakan terjatuh namun ditahan oleh tubuhnya yang besar. Aku tidak mau tahu karena ini sangat sakit. Aku memejamkan mata dan tertidur.
Hem... tercium bau darah yang menyengat. Aku mencoba membuka mata dan melihat tubuhku berada di ranjang yang besar. Aku mengamati seluruh ruangan yang gelap namun terlihat sangat mewah.
Aku terbangun dan mengulurkan tangan "Di mana ini? apakah aku masih bermimpi". Ku pegang pipiku dan mencubitnya ackh... ini nyata dan rasanya begitu sakit.
Aku berjalan menuju arah pintu dan mengintip sebenarnya di mana aku? Setelah melihat sekitar ternyata tidak ada seorangpun. Melainkan hanya ada beberapa patung yang sangat besar terpanjang rapi.
Tanpa pikir panjang aku berjalan menyusuri lorong. Sesekali aku melihat beberapa patung dan barang antik yang tersebar di seluruh lorong. Aku terhenti dan melihat sebuah foto keluarga yang bahagia. Saat mataku terfokus pada 1 titik seseorang menepuk pundakku.
Ah, ternyata dia. Tubuh besarnya kini bersandar di pundakku. Rasanya sedikit risih namun anehnya tubuhku tak menolak. Aku tersentak saat seseorang menjatuhkan vas bunga yang ia pegang. Tampak dari wajahnya rasa takut. Pria itu menatap orang itu dan menyuruhnya pergi. Saat pria itu ingin pergi entah ke kenapa tubuhku reflek memegang tangannya. Dia tersenyum dan menyentuh rambutku "Ada apa?".
Oh Tuhan cahaya apa yang terpancar dari orang ini? Dengan kikuk aku menjawab "Tampan". Blush... wajahku memerah. Aku menutup wajahku dan berbalik. Saat aku akan pergi dia memelukku dengan erat. "Panggil namaku Glad, Gladiol Caddrick". Rasanya seperti kupu-kupu sedang menggelitik tubuhku aku hanya bisa mengangguk.
Sudah berapa lama aku ada tempat ini? Rasanya begitu asing namun sangat nyaman. Karena Glad sangat sibuk akhir-akhir ini aku memutuskan untuk pergi taman. Saat di taman tak sengaja aku bertemu dengan laki-laki tinggi. Dia berjalan ke arahku dan mencium bibirku. Secara reflek aku mendorongnya dan mengusapnya dengan sarung tangan. Saat aku ingin marah kepadanya dia sudah menghilang.
Saat aku menuju kamar terlihat Glad yang sudah menungguku. Raut wajahnya terlihat senang. Saat aku ingin menghampirinya tiba-tiba awan hitam muncul di ikuti oleh beberapa daun yang berputar di sekitarku. Aku melihat Glad panik dan beberapa kali berteriak namun aku bahkan tidak mendengar apapun.
Setelah awan hitam itu menghilang aku melihat bangunan yang sangat berbeda dari mansion miliki Glade. Saat aku membuka pintu beberapa dayang mencegah ku untuk keluar. Tentu saja aku tak mendengarkan nasehat mereka karena aku yakin aku sedang diculik oleh orang gila. Aku berlari mencari di mana letak pintu keluar.
Saat berada di lantai dasar aku melihat pria brengsek itu berada di depanku. Dia tersenyum licik dan mengerikan. "Apa kau suka dengan rumah baru milikmu?". Aku masih terheran dengan apa yang ia katakan.
Deg... Sekarang tubuhnya dan tubuhku hanya berjarak 5 cm. Sebelum aku mendorong dia sudah membawaku ke tempat makan. Sebuah pemandangan yang tak menyenangkan terlihat. Banyak sekali tulang dan tubuh yang terpotong-potong. Tapi yang membuatku sangat shock adalah tubuh Lily, Pembantuku sudah terikat di atas kami. Ingin rasanya muntah, sedih, bercampur marah.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapku sambil meninggikan nada. Ku lihat dia hanya tersenyum dan memberiku steak daging. Aku yakin ini pasti daging orang-orang yang berada di ruangan ini. "Panggil aku William, aku tidak akan membunuhmu karena aku juga suka kepadamu, kalau kamu tidak mau makan daging ini, kamu akan melihat temanmu yang lainnya mati".
Tubuhku bergetar ketakutan air mataku mulai menetes aku terus menerus memanggil nama Glad. Jujur, saat aku tak bersama dengannya tubuhku rasanya tidak lengkap. William menampar pipiku dan menghela nafas panjang "Kenapa saat bersama dengan ku, Kau tetap saja memanggil nama si brengsek itu, Jika kau tidak berhenti menangis sekarang, Maka teman-teman mu akan musnah".
"Kamu gila apa? Kenapa kamu memaksa orang lain untuk makan. Kalau kamu mau makan makanlah sendiri sana. Aku hanya mau bersama dengan Glad--". Belum selesai aku berbicara dia menghempaskan tubuhku. Pandanganku mulai kabur samar-samar ku lihat Glad datang kemari. Hatiku merasa lega. Semoga Glad bisa membawaku pulang ke rumahnya.
Kurasa sudah cukup lama aku pingsan. Aku mendengar Glad yang selalu menangis ketika menjengukku. Hatiku rasanya sangat sakit. Ingin ku bangun dan menghapus air matanya, namun apa dayaku. Hanya menggerakkan jari-jari tangan saja sudah sulit. Setelah beberapa hari berlalu aku masih mendengar Glen menangis, namun sebuah suara membuatnya terhenti. Samar-samar ku dengan ucapan orang itu "Caddrick seharusnya kau membawa manusia itu kembali, kamu tahu bahwa manusia tidak akan bisa tinggal di tempat yang berbeda. Jika kamu tetap memaksa, tidak mau meninggalkan dia maka perlahan-lahan dia akan lenyap". Setelah mendengar apa yang dikatakan orang itu aku berpikir sejenak. Jika aku kembali apakah aku bisa bertemu dengan Glen? Jika aku kembali apakah aku bisa mengingat semua kebahagiaan yang Glen berikan kepadaku?.
Aku mencoba sekuat tenaga untuk bangkit. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu Glen. Jika kamu tidak ada maka kehidupan yang selama ini aku impikan akan hancur. Secercah harapan terlihat. Aku mengikut kemana arah cahaya itu pergi. Saat aku terbangun sebuah pemandangan familiar terlihat. "Keana akhirnya kamu bangun". Dengan wajah yang basah bos memelukku. Terlihat kakak-kakak karyawan tersenyum dan terharu karena aku bisa tersadar. Aku melihat segala penjuru loteng berharap aku bisa menemukan sosok yang aku cintai.
"Bos apa kau melihat Glad?".
Dengan tatapan bingung bos berkata "Siapa yang kau maksud?".
Saat semua karyawan pergi aku menjelaskan semua yang aku lalui bersama dengan Glad kepada Bos. Bos hanya memandangku dengan iba. Dia menjelaskan sebenarnya apa yang terjadi.
Waktu itu saat aku akan menuju loteng. Ketika menaiki tangga tubuhku ambruk yang mengakibatkan patah tulang. Saat itu juga aku tidak sadarkan diri. Mendengar hal yang bertolak belakang dengan apa yang aku alami membuatku frustasi.
"Apa Glad hanya imajinasiku saja, aku bahkan tidak menyangka kalau itu semua hanya ilusi". Aku mencurahkan semua isi hatiku kepada air mata.
Untuk cinta pertamaku aku benar-benar bahagia meskipun ini hanya ilusi. Kenangan yang selama ini kita jalin akan tetap melekat dalam hati. Tapi, aku sangat bahagia jika semua yang aku mimpikan selama ini benar.