'Aku mencintaimu, Fevita.' Adalah kalimat yang akhir-akhir ini menggangguku. Bagaimana tidak? aku menemukan kalimat itu lebih dari sekali dalam setiap harinya.
༻❀༺
Semuanya berawal saat aku mendapat hukuman di masa orientasi siswa. Semua mata tertuju kepadaku. Dari teman-teman sekelas hingga kakak kelas. Iya, aku yakin salah satu pelaku yang menerorku dengan kalimat romantis itu adalah salah satu di antara mereka.
"Nemu lagi Vi?" tanya Alora sahabat dekatku. Rambutnya pendek sebahu, dan sedikit diwarnai merah muda di bagian ujungnya. Bermata belo sepertiku. Gayanya terkesan tomboy, tetapi dia tetaplah perasa layaknya gadis pada umumnya.
"Iya, kesel banget!" balasku sembari meletakkan dagu di kedua tangan yang sedang terlipat di atas meja. Aku menatap secarik kertas yang tadi aku temukan saat kembali dari kantin. Seperti biasa, isi kertas itu hanya bertuliskan kalimat, 'Aku mencintaimu, Fevita.'
"Aku rasa itu Kak Gavin deh. Dia kan sering curi-curi pandang sama kamu," ucap Keyla menebak. Dia sahabatku yang satunya, duduk tepat di depanku. Rambutnya panjang dan memiliki lesung pipit di salah satu pipinya. Paling feminin dibanding aku dan Alora.
"Terserah siapa, tetapi yang jelas mengganggu banget. Kayaknya kerjaan orang gabut!" ujarku seraya meremas-remas kertas yang sedari tadi kupegang.
"Ini sudah hari ketiga semenjak kamu nemu kalimat itu dimana-mana, aku yakin sih kalau ini bukan kerjaan orang gabut!" balas Alora dengan ekspresi seriusnya.
"Gimana kalau kita selidiki? emang kamu nggak tertarik nyari tahu Vi?" tanya Keyla. Dia tampak mengangkat kedua alisnya penuh semangat.
Aku mendengus kasar dan berucap, "Penasaran sih. Tetapi masalahnya, dia cuman kirim satu kalimat loh. Ambigu banget kan? gimana coba kita nyari tahu?"
"Datang lebih pagi mungkin..." Keyla memberikan saran asal-asalan. Dapat terlihat dari raut wajahnya yang sedikit meragu.
Lidahku berdecak kesal. "Biarin dulu aja deh, aku mau liat apa yang dilakukannya, jika aku bersikap tidak peduli dengan pesannya!" kataku bertekad. Kedua sahabatku hanya mengangguk pelan, pertanda mereka setuju-setuju saja dengan pilihan yang kubuat.
"Kamu aneh banget, kalau aku jadi kamu, aku pasti senang banget bisa punya penggemar rahasia. Iyakan, Al?" timpal Keyla yang meminta persetujuan Alora.
"Menurutku, orang yang ngirim pesan diam-diam kayak gini pasti pecundang. Kenapa? karena, ngomong saling berhadapan aja nggak mau. Dia pikir aku seseram wewe gombel apa?" aku menghela nafas sejenak dan meneruskan, "tipe yang aku suka itu, cowok pemberani dan manly. Bukannya bersembunyi kayak udang dibalik batu!"
"Idih! lebaaayy!" balas Alora sambil mencubit ujung hidungku. Mungkin dia membenci penuturanku yang terdengar arogan.
"Dasar Fevita alay!" Keyla ikut menimpali. Sedangkan aku hanya bisa terkekeh geli untuk membalas respon kedua sahabatku.
❀❀❀
Hari demi hari berlalu. Aku benar-benar mengabaikan secarik kertas yang selalu diselipkan di laci bawah mejaku. Bukannya berhenti, kalimat itu semakin menghantuiku. Dan kali ini lebih parah, aku bahkan menemukan kalimat 'Aku mencintaimu, Fevita.' tertulis di salah satu sepatuku. Kebetulan saat itu ada jam pelajaran olahraga, makanya aku meninggalkan sepatu hitam di dalam kelas.
Selain itu, aku juga menemukan kalimat tersebut di buku modul pembelajaran. Tulisannya berada di bagian catatan halaman terakhir. Parahnya, kalimat itu ditulis puluhan kali. Jadi, terkesan seperti sebuah pragraf jika digabungkan.
Semuanya semakin menjadi-jadi. Aku rasa orang yang mengirimkan pesan tersebut adalah seseorang bermental psikopat. Karena merasa takut, aku akhirnya berniat melaporkannya kepada guru BK.
"Kamu yakin Vi?" tanya Alora yang tengah menyamakan langkahnya denganku. Kami dalam perjalanan menuju ruang BK.
"Aku nggak punya pilihan lain," jawabku.
"Tunggu, mungkin sebaiknya kita cari tahu dahulu. Emang kamu nggak kasihan sama si pengirim pesan itu?" Alora memegangi lenganku. Dia menatapku dengan mimik wajah serius.
"Harusnya dia yang kasihan sama aku! lihat nih sepatuku sampai dicoret-coret, belum lagi buku modulku!" terangku sembari menunjukkan sepatu yang bertuliskan 'Aku mencintaimu, Fevita.' Tintahnya sendiri sama sekali tidak dapat dihapus, karena menggunakan spidol permanen. Makanya aku merasa frustasi. Ini namanya bukan romantis, tetapi lebih ke arah iseng!
"Ya udah deh, terserah kamu." Alora mengalah, dan pada akhirnya menemaniku melapor kepada guru BK.
Bu Irana selaku guru BK, menyuruhku untuk tenang. Dia akan berbicara kepada teman-teman sekelasku lebih dahulu. Jika sang pengirim pesan tidak ketemu juga, maka Bu Irana akan mencari tahu ke kelas-kelas lain.
Benar saja, si pengirim pesan itu bukan dari kelasku. Hingga akhirnya Bu Irana melakukan pencarian di kelas lainnya. Seiring itu terjadi, kalimat sok romantis juga terus berdatangan kepadaku. Anehnya, kalimat tersebut selalu berada di benda mati. Andai pesannya dikirimkan melalui seseorang mungkin aku bisa saja mengetahui dengan mudah pengirimnya.
Berita tentang penggemar rahasiaku akhirnya tersebar ke seluruh lingkungan sekolah. Berbagai respon kuterima. Ada yang menganggapku berlebihan, bahkan ada juga yang mengira aku berbohong, tetapi sebagian besar orang-orang berusaha membantuku untuk menemukan sang pengirim pesan.
❀❀❀
Suatu hari saat aku menunggu mobil jemputan. Aku bertemu dengan Gavin, kakak kelasku. Dia juga salah satu anggota osis yang ikut andil dalam kegiatan orientasi siswa beberapa minggu lalu. Dia berdiri di sampingku. Membisu dan menatap ke arah jalanan.
"Aku mencintaimu, Fevita..." ucap Gavin mendadak. Hingga membuat jantungku langsung berdegub kencang.
Perlahan Gavin menoleh ke arahku dan tersenyum. Kami saling bertukar pandang sejenak.
"Kira-kira siapa yang menulis kalimat itu ya?" ujar Gavin lagi yang sekarang melotot tajam ke arahku.
"Cih! nggak usah ikut campur!" sinisku seraya menyilangkan tangan di dada.
"Vi, aku juga lihat kalimat itu di rumah kamu loh!" kata Gavin yang terlihat melontarkan tatapan ngerinya.
"Apaan sih!" balasku dengan dahi yang berkerut kesal.
"Aku tahu kamu sendiri yang nulis kalimat itu, kurang kerjaan banget sih!"
"Apa?! enak aja! mana mungkin!" bantahku tegas. Kemudian segera beranjak pergi menuju mobil jemputan yang telah datang.
Gavin bukan hanya kakak kelasku. Tetapi juga tetanggaku. Rumahnya berada beberapa helat dari kediamanku. Di sekolah kami memang sengaja bersikap tidak saling kenal. Toh hubungan kami berdua juga tidak sedekat itu.
Setibanya di rumah, aku langsung melempar tas ke kasur dan menjadikannya bantal. Aku menghempaskan badanku ke tempat ternyaman.
Aku merasa kecewa, sebab Gavin sepertinya mengetahui rahasiaku. Kemungkinan dia mengetahuinya saat berkunjung kemari saat acara ulang tahun adikku dua hari lalu.
Benar, aku sendirilah yang menulis kalimat 'Aku mencintaimu, Fevita.' Aku hanya ingin mendapatkan perhatian.
Mungkin dari luar aku terlihat ceria, tetapi jauh dari lubuk hati, aku adalah gadis yang didera kesepian. Ayah dan ibuku hampir tidak pernah pulang karena sibuk bekerja. Aku juga tidak pernah berhasil memiliki seorang pacar.
Cowok yang aku suka tidak pernah membalas perasaanku. Namanya Ferdi, berusia sepantaran denganku. Aku sudah tiga kali menyatakan cinta kepadanya, tetapi tiga kali juga aku mendapat penolakan.
Makanya aku membuat cerita versiku sendiri, yaitu dengan berpura-pura bahwa aku memiliki penggemar rahasia. Agar Ferdi tahu, bahwa aku bukanlah cewek semenyedihkan itu.
Tapi tunggu, ada satu hal yang aneh dari pesan-pesan yang kutulis. Anehnya ada satu kertas yang sama sekali bukan tulisanku. Kertas tersebut juga terasa asing bagiku. Apakah aku benar-benar mempunyai penggemar rahasia?
❀❀❀
Keesokan harinya, aku mendengar kabar mengejutkan bahwa semua orang sudah tahu sang pengirim pesan rahasiaku.
Deg!
Jantungku serasa disambar petir karena saking terkejutnya. Aku takut, Alora dan Keyla marah dengan kebohonganku.
"Al, Key, aku--"
"Vi, Kak Gavin sudah ngaku sama Bu Irana loh!" ujar Keyla bersemangat. Dia tidak sengaja memotong ucapanku.
"Nggak nyangka ternyata psikopat pengirim pesan itu adalah Gavin!" kata Alora dengan raut wajah seolah kaget.
"Untung banget sih kamu Vi, dapat penggemar rahasia seganteng itu," komentar Keyla lagi dengan mulut yang dimanyunkan.
"Apa? Ga-gavin?" Mataku terbelalak, lalu mengerjap beberapa kali. Aku pun segera berderap untuk mencari Gavin.
Aku berjalan menyusuri lorong sekolah. Namun tidak kunjung menemui Gavin, bahkan dikelasnya sekali pun.
Hingga pada saat aku berada di depan ruang laboratoriom, sepasang tangan mendadak menarikku ke dalam ruangan. Dialah Gavin, cowok yang aku cari-cari sedari tadi.
"Kak, kamu ngapain bohong sih!" timpalku seraya menghentakkan sebelah kaki kesal.
"Aku nggak bohong kok!" balas Gavin.
"Maksudnya?!"
"Aku..." Gavin mendadak menunjukkan mimik wajah serius, kemudian mendekatkan dirinya kepadaku. Dia berhasil membuatku terpojok ke dinding dengan keadaan mata yang membulat. "Mencintaimu, Fevita..." sambung Gavin.
"Gila! nggak lucu tau Kak!" balasku kesal, sambil berusaha mendorong dada Gavin. Tetapi tangan lelaki itu dengan sigap memegangi lenganku.
"Bodoh, gara-gara skenariomu itu, skenarioku menjadi berantakan. Bagaimana bisa kita menuliskan kalimat yang sama?" ucap Gavin menatap dalam ke manik hitamku.
"Jadi, kamu yang nulis--"
"Iya, itu aku. Syukur deh kamu sadar kalau ada satu kertas bukan tulisanmu." Gavin tersenyum tipis sembari mengusap tengkuknya tanpa alasan.
"Kamu beneran suka sama aku Kak?" tanyaku, yang masih tak percaya.
"Iya, bukankah sudah jelas? aku bahkan sudah mengaku ke sejuta umat di sekolah ini, kalau akulah sang penggemar rahasiamu," tutur Gavin.
Mataku mengedip beberapa kali. Aku berusaha mencerna apa yang terdengar di telinga. Kata Gavin, dari awal dia memang berniat menulis pesan singkat 'Aku mencintaimu, Fevita.' Dia mengirim pesan itu setelah beberapa hari aku berpura-pura di depan sahabatku.
Gavin mengurungkan untuk tidak mengirim pesan lainnya, karena mendengar berita tentang penggemar rahasiaku di sekolah. Dia berniat mundur dan mengalah. Akan tetapi ketika dia datang ke rumahku, Gavin berhasil menemukan kedok kebohonganku. Entah bagaimana caranya dia bisa tahu secepat itu.
Sekarang aku semakin dekat dengan Gavin. Meski awalnya aku begitu kaget dengan perasaannya terhadapku, tetapi aku bahagia bisa mendapat perhatiannya. Gavin ternyata adalah cowok yang sangat lucu dan manis. Lama-kelamaan aku melupakan Ferdi, dan jatuh hati kepada seorang Gavin.
Aku dan Gavin mulai menghabiskan waktu bersama. Momen paling berkesan adalah, pada saat Gavin mengajakku ke kebun bunga matahari yang ada di Jawa Timur. Saat itu Gavin memetikkan setangkai bunga matahari untukku.
"Nih, kembaranmu!" ujar Gavin seraya menyodorkan setangkai bunga matahari kepadaku.
"Kembaran?" aku mengerutkan dahi heran.
"Iya, karena bunga ini selalu menarik perhatianku. Berwarna cerah, dan lebih bersinar dibanding bunga yang lain, persis sepertimu." Gavin mengucapkan gombalan mautnya.
Aku yang mendengar tentu langsung tersipu malu. Hatiku serasa melambung ke angkasa. Langsung aku pegang wajah Gavin dengan kedua tanganku, lalu tersenyum simpul dengan pipi yang merona merah.
Gavin ikut tersenyum lebar, dia perlahan menyentuh dahiku dengan jidatnya. Matanya terpejam lama, seolah begitu menikmati waktunya bersamaku.
"Aku mencintaimu, Fevita..." lirih Gavin masih dengan senyuman yang belum memudar.
[Gambar ilustrasi ending, ada di cover]
༻𝑻𝑨𝑴𝑨𝑻༺