“Sssttt ...,” aku menempelkan telunjuk di bibir. Memberi kode agar Susi berhenti berbicara. Langkah kaki Risha kian mendekat.
“Tok ... tok ... tokk!!! Sus, boleh aku masuk?”
“Masuklah.”
“Gelap sekali,” protes Risha sambil menekan saklar di samping pintu.
Mataku menyipit, membiasakan diri pada cahaya yang akhir-akhir ini sering kuhindari.
“Aku punya kabar bagus.” Risha mengambil tempat di sampingku.
“Apa?”
“Edo melamarku.”
“Kau terima?”
“Tentu saja.”
Aku tersenyum, rasanya berat melakukan itu tetapi tak mungkin kukatakan aku tidak bahagia dengan kabar yang dibawanya.
“Lihat ini Sus, cantik ya?” Jemari Risha menyentuh cincin di jari manisnya, matanya bercahaya, sama persis dengan cahaya yang kumiliki, sayang dia tak bisa melihatnya.
“Besok malam aku dan Edo akan mentraktirmu, perayaan."
“Tentu.” Aku menyetujui terlalu cepat kali ini, berusaha kuat menekan pias yang merayapi kulit, kekhawatiran ini sedikit berlebihan memang, tapi sungguh aku tidak menyukai konfrontasi.
“Baiklah, sekarang kutunggu panecake-mu di bawah secepatnya, bye Sus.”
Risha melenggang tenang, langkahnya anggun menghipnotis.
Ya Tuhan, dia terlalu sempurna!!!!
“Dia berubah bukan?”
Aku terlonjak, Susi kembali muncul. Rambut hitamnya terlihat lebih berkilat, mungkin sambil bersembunyi ia membubuhkan hair shine.
“Memangnya apa?” aku balik bertanya, ingin tahu apa kami memiliki satu pendapat.
“Dia menganggapmu pembantu..”
“Benarkah?” Alisku bertemu. "Apa salahnya? Aku memang pembantu, tidak, anak pembantu. Dan Risha tidak pernah mempermasalahkan itu, dia menganggapku sahabat."
“Sahabat?" Susi tersenyum sinis. "Kau tak lihat sikapnya tadi, pongah sekali, kau pikir apa tujuannya memperlihatkan cincin itu? Dia ingin memberitahu -'aku akan menikah Sus, jadi berhentilah mengekoriku'."
Aku terdiam, menampik Itu tak benar, Risha tak pernah mengeluh, selalu membawaku kemana pun ia pergi, tapi kenapa tiba-tiba hati ini terasa nyeri? Tanpa sadar aku mengernyit dan menyentuh dada.
"Kenapa, sakit? Biasakanlah.”
"Tolong pergilah," kuusir Susi halus, kepalaku terlalu penat untuk sekedar berdebat.
"Baik, tapi kuberitahu satu hal, Risha tak lagi mengucapkan tolong dan terimakasih padamu."
Aku tercenung, kali ini ucapan Susi bisa kuterima. Belakangan Risha memang jarang melakukan itu, mungkin ia lupa. Tapi lagi-lagi hatiku perih.
"Aku tahu itu sulit untukmu. Tapi nasi kadung menjadi bubur, Edo sudah menggantikan posisimu. Ah, lelaki itu memang bermulut manis."
“Edo.” Kurapal nama itu seperti mantra. Ya, lelaki pembawa bala itu memang bermulut manis. Tapi bagaimana bisa buaya menjijikan sepertinya menjerat hati Risha dengan begitu mudah, pasti ada sesuatu, pasti."
"Dugaanmu tepat, dia menyewa dukun."
"Dukun?" Aku menutup mulut tak percaya.
"Sus, pancake-ku mana?!!!" Jeritan Risha membuatku berlari meninggalkan kamar.
***
Hampir tiga jam kami mengitari Mall, mencari sepatu dan baju-baju milik perancang ternama. Aku bosan dibungkam suasana. Risha tak meminta masukan untuk setiap barang yang ditaksirnya.
Aku ingin protes, tapi Edo tidak memberi kesempatan. Ia menenggelamkanku bersama setumpuk barang.
Kupandang gaun hijau toska dalam maniken sendu. Sayang sekali tak terboyong padahal ia begitu manis, muda dan berkelas.
“Menyedihkan.”
Aku melonjak, mencari-cari sumbernya.
“Aku di sini,” maniken itu menggeliat.
Aku melotot, kesal dengan penyamarannya yang arogan dan vulgar. Bagaimana kalau sampai ada orang yang melihat???
“Kenapa kau menguntit?” bisikku hampir tak terdengar.
“Aku tidak menguntit, aku ke sini atas permintaanmu.”
“Kapan aku meminta?”
“Kau tidak ingat?”
Aku menggeleng.
“Ah lupakan. Anggap saja aku menemuimu atas inisiatif sendiri. Aku tidak tahan kau diperlakukan seperti ini. Lihat dirimu, kau benar-benar seperti kacung.”
“Aku tahu, tapi apa yang bisa kulakukan?”
Bibir indah itu melengkung.
“Marahlah, sudah terlalu lama kau memenjarakannya, itu tidak baik. Marahlah, tunjukan pada mereka, kalau kau sangat berharga.”
“Bagaimana caranya?”
“Kemarilah,” Susi memintaku mendekat, ia membisikan beberapa kalimat panjang.
“Aku tidak berani.”
“Jangan takut, aku akan membantumu, tidak ada satu orang pun yang bisa melihatmu, sekarang katakan kau butuh bantuanku.”
Aku tertegun, berpikir dengan otak yang rasanya semakin menyempit. Aku melirik pasangan itu, mereka menautkan bibir seolah ingin memonopoli dunia ini dengan cinta yang meluap-luap lalu membumihanguskan segala cinta yang telah kubangun sekian lama.
“Tolong bantu aku, Susi.”
Serangkum angin dingin menerpa wajah, setelah itu badanku terasa ringan. Penasaran kudatangi cermin dan bersorak dalam hati ketika tak kutemukan pantulan tubuh ini di sana.
“Kau sudah siap?”
“Ya.”
“Pergilah, jangan pedulikan orang lain, mereka tidak melihatmu.”
Aku melangkah mantap tanpa suara. Benar, tak seorang pelayan pun menoleh ketika aku lewat.
Kudekati Edo lalu tanpa ragu kuselipkan sebilah belati pendek milik Susi di jantungnya . Darah meluap, amis dan bau sangit, mungkin itulah bau darah pembawa bala, aku tidak mau tahu, pikiranku terfokus pada rasa puas yang aneh, renyah dan memabukan.
“Plakkk!!!”
Hening. Segalanya menguap. Panas tamparan Risha menjalar hingga ke sum-sum.
Bagaimana bisa? Mustahil!!!
Aku tergagap, bingung dengan apa yang harus kulakukan. Orang-orang berkerumun, dua security datang meringkus. Sayup-sayup kudengar lolongan Risha, oh pilu sekali, aku ingin merengkuhnya, mengatakan semua akan baik-baik saja setelah ini tapi cekalan pada lenganku terlalu kuat untuk ditepis.
“Susi tolong aku!!!”
Tak ada jawaban.
***
Tiga bulan kemudian.
“Hai,” sapanya setelah sekian lama menghilang.
Aku menatap cermin, Susi tersenyum manis, rambutnya masih hitam mengkilat seperti dulu.
“Berani sekali kau datang?” kebencian seketika mengalir dalam setiap CC darahku.
“Ayolah Sus, jangan bersikap seperti itu.”
“Kenapa tidak? Kau berkhianat, kau membuatku mendekam di tempat ini. Aku menyesal percaya padamu.”
Susi kembali tersenyum.
“Itu kesalahanmu, kau menjerumuskan dirimu sendiri. Bukankah sudah kukatakan agar kau menikam perutnya, bukan jantungnya. Kau berimprovisasi dan lihat akibat yang kau terima dari keegoisanmu?”
Gigiku gemerutuk menahan marah mendengar tudingan Susi, namun aneh aku tidak mampu membantah, beberapa bagian hatiku bahkan berkomplot membentuk aliansi pembenaran kata-katanya.
“Sudahlah, menurutku pasrah lebih baik.”
“Aku tidak mau, aku akan mengajukan pembelaan, setelah itu aku akan menemui Risha untuk menjelaskan semuanya.”
Susi tertawa lepas, gigi-giginya yang putih tertimpa cahaya neon.
“Menjelaskan apa? Risha sudah membencimu, bahkan dia sudah mempersiapkan tuntutan agar kau dihukum seumur hidup.”
“Kau bohong, Rishaku tidak begitu!!!!”
“Itu kenyataan.”
Mataku nyalang menatap cermin. Susi balas menatapku dengan lebih nyalang. Aku lumer bak lilin terbakar, ini tidak mungkin, kastil-kastil percayaku rengkah perlahan, berjatuhan ke bumi dengan ribut. Kepalaku pening.
“Aku tidak mau menghabiskan hidup dalam penjara,” rintihku tanpa sadar.
“Aku tahu, kau memang tidak pantas untuk itu, aku bisa menolongmu kalau kau mau.”
Aku terdiam beberapa saat, mencipta konsekuensi terburuk dari jalinan pertolongannya yang beracun.
“Bagaimana?” Susi tidak memberiku kesempatan untuk berpikir lebih lama.
“Baiklah, asal kau tidak kembali berkhianat.”
“Tentu, asal kau juga bersedia menuruti apa yang kuperintahkan, sekarang mendekatlah.”
Kupenuhi keinginan Susi, ia membisikkan beberapa kalimat panjang di telinga seperti dulu. Terdengar sempurna. Sekelumit senyum kembali terbit.
Susi memberikan sepotong silet. Dengan benda itu kubiarkan nadi mengalirkan banyak darah.
"Ini tak seberapa sakit, bertahanlah, seperti kata Susi sebentar lagi Risha akan datang menjenguk, ia tak akan tega melihatku seperti ini," bibirku berceloteh lirih.
"Tapi kenapa semakin dingin dan gelap? Dimana Risha? Susi, tolong aku!"
Hening.
***