"Apapun yang terjadi, aku berjanji. Aku akan membuat ayah bahagia, meskipun aku sendiri tidak bahagia."
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Kim Ar-Vin, laki-laki berusia empat belas tahun, kelas 3 SMP. Dia merupakan seorang blasteran Indonesia Korea.
Dia tinggal di Seoul, Korea Selatan bersama dengan ayahnya yang bernama Kim Dae-Vin. Hanya dengan ayahnya, entah ibunya pergi kemana. Dia belum pernah melihat wajah ibunya, belum pernah merasakan sentuhannya.
Beberapa kali dia bertanya pada ayahnya, "Dimana ibuku? Siapa ibuku? Bagaimana keadaan ibuku?"
Tapi ayahnya selalu menjawab dengan jawaban yang sama, "Lain kali, ayah akan menceritakannya."
Tentu saja hal itu membuat Kim Ar-Vin menjadi kecewa. Dia kesepian, kegiatan yang dia lakukan sehari-hari hanyalah belajar, belajar dan belajar saja.
Dulu, ayahnya adalah seorang pilot. Tapi sekarang, dia sudah berhenti karena suatu alasan. Sekarang, dia membantu mengelola perusahaan besar milik kakeknya Ar-Vin. Hal itu membuatnya sibuk dan terkadang dia tidak sempat meluangkan waktu untuk Ar-Vin.
Suatu hari, saat Kim Ar-Vin sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah. Ayahnya yang mengantarkannya menggunakan mobil pribadi berwarna putih. Saat di perjalanan, suasana sunyi. Hanya suara mesin mobil yang terdengar meskipun sangat pelan.
"Ayah, bisakah lebih pelan sedikit?" Tanya Ar-Vin setelah melihat speedometer yang menunjukkan angka 90 km/h.
"Ya," balas ayahnya dengan nada datar dan ekspresi datar. Kemudian, kecepatan mobilnya menurun secara signifikan, hingga sudah menunjukkan angka 40 km/h.
Setelah itu, keadaan kembali sunyi. Jarang sekali Kim Dae-Vin yang membuka pembicaraan lebih dahulu. Kemudian, Ar-Vin mempunyai ide.
"Ayah, mungkin nanti aku akan pulang terlambat. Ada kegiatan klub sains." Ucap Ar-Vin dan berharap supaya ayahnya menanggapi dengan ekspresi.
"Ya," lagi-lagi tanpa ekspresi. Ar-Vin menghela nafasnya.
"Ayah?"
"Hmm?"
"Apakah Ayah tidak bisa tersenyum? Wajah Ayah selalu datar."
"Tidak bisa,"
"Kenapa? Kenapa Ayah tidak bisa?"
"Lain kali, kau akan tau." Dan lagi-lagi, jawaban itu lagi. Ar-Vin sampai bosan mendengarnya. Setelah itu, dia memutuskan untuk diam saja. Memandang jalanan lewat kaca jendela. Pagi hari yang ramai, banyak orang-orang yang memulai aktivitas mereka.
Lima menit kemudian, Ar-Vin telah sampai di sekolah. Dia berjalan di lorong sekolah yang sudah mulai ramai. Langsung saja dia berjalan ke kelasnya, kelas 3 - 3.
Dikelas hanya ada beberapa orang saja. Ar-Vin langsung duduk di bangkunya yang dekat dengan jendela. Duduk dengan tenang, hingga suatu saat..
"Annyeong, Kim Ar-Vin!" Seseorang menyapanya. Ar-Vin mengalihkan pandangannya dan menatap orang itu. Seorang perempuan seusianya, memakai name tag 'Park Se-Na.'
"Annyeong. Wae?" Balas Ar-Vin dengan nada datarnya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Ada apa denganmu? Kenapa pagi-pagi kau sudah terlihat badmood?" Tanya Se-Na sambil duduk di bangku yang letaknya di depan tempat duduk Ar-Vin.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Jawab Ar-Vin sambil menggeleng pelan.
"Bohong. Aku tau dari ekspresimu. Aku sudah hafal sifatmu." Ujar Se-Na, dia merupakan teman Ar-Vin sejak masih di sekolah dasar.
"Hanya, tentang ayahku."
"Ayahmu kenapa?"
"Entahlah. Selama ini, aku belum pernah melihatnya tersenyum, apalagi tertawa. Dia juga sangat jarang menghabiskan waktu denganku." Ar-Vin bercerita sedikit.
"Hmm kurasa dia menyimpan masalah. Tapi, tunggu. Selama ini kau belum pernah melihatnya tersenyum? Tapi, beberapa kali kau pernah cerita, kau tidak memberi tau hal itu?"
"Iya, memang. Bu guru sudah datang." Ucap Ar-Vin ketika seorang guru sudah masuk ke kelasnya. Setelah itu, keadaan kelas menjadi lebih tenang dan pelajaran pun dimulai.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Singkat cerita, saat ini Ar-Vin baru sampai rumah. Dia pulang tanpa di jemput, dia pulang sendiri naik bus. Hal itu sudah biasa baginya. Rumahnya sepi, sepertinya ayahnya masih belum pulang bekerja.
Setelah itu, dia mandi dan berganti pakaian. Kemudian memasak makanan dan dia makan sendiri. Itulah kesehariannya, bagaikan tinggal sendiri di kost yang agak mewah.
Setelah makan, Ar-Vin pergi ke kamar untuk mengerjakan PR, membuat rangkuman, menulis jurnal, membaca buku, dan beristirahat. Hari-harinya selalu seperti ini. Ayahnya juga, hari-harinya selalu bekerja saja, hingga tidak mempunyai waktu untuk me time bersama Ar-Vin.
Ar-Vin meletakkan kepalanya di atas meja belajarnya yang telah dia rapikan, kemudian memejamkan matanya. Dia kesepian, selalu kesepian. Hingga tak lama kemudian, terdengar suara mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.
"Ayah sudah pulang." Ucap Ar-Vin senang, kemudian segera berjalan keluar kamar dan membukakan pintu depan.
"Selamat datang, ayah." Kata Ar-Vin menyambut ayahnya. Tapi, ayahnya tetap memasang wajah datar.
"Ya," balas ayahnya sambil melepas sepatunya. Setelah itu, berjalan masuk ke kamarnya, dan langsung mengunci dirinya di dalam kamar.
"Ayah selalu seperti itu.." kata Ar-Vin pelan, matanya berkaca-kaca karena merasa tidak dipedulikan. Kemudian, dia memutuskan untuk ke kamarnya dan belajar lagi saja.
Satu jam kemudian, sekitar jam delapan malam. Ar-Vin merasa lapar lagi, energi dari makanan yang dia makan tadi digunakannya untuk berpikir. Dia pun ke dapur untuk memasak makanan sendiri. Kali ini, dia memasak ramyeon instan. Membuatnya sepedas mungkin, yang bisa membuatnya menangis sekalian, supaya tidak tanggung-tanggung.
Selesai memasak, Ar-Vin memutuskan untuk memanggil ayahnya. Saat dia sudah berdiri di depan pintu kamar ayahnya.
"Ayah, ayo makan bersama." Ucap Ar-Vin dengan harapan ayahnya akan membukakan pintu dan menerima ajakannya.
"Ayah tidak lapar." Suara ayahnya membalas dari dalam ruangan itu. Ar-Vin menundukkan kepalanya, lagi-lagi dia dikecewakan. Ar-Vin menghela nafasnya, kemudian berbalik dan kembali ke dapur.
Pada akhirnya, dia makan sendiri. Rasanya memang tidak senikmat makan bersama. Dia mulai menyeruput ramyeon instan yang dia masak tadi. Panas, pedas, membuat sensasi terbakar di lidah dan kerongkongannya. Ar-Vin sampai berkeringat.
Skip setelah Ar-Vin selesai makan, saat dia akan membereskan alat makannya tadi kemudian akan mencucinya.
PRANK!
Ar-Vin tidak sengaja memecahkan mangkuk mie yang dia gunakan tadi. Ar-Vin terkejut dan merasa bersalah, dia mulai membereskan pecahan mangkuk tersebut.
Tap! Tap! Tap!
Seseorang berjalan ke arahnya. Dia adalah Kim Dae-Vin, ayahnya. Ayahnya berdiri di depannya.
"M.. maafkan aku.. ayah. A.. aku benar-benar tidak sengaja." Ucap Ar-Vin dengan sedikit terbata-bata, matanya berkaca-kaca.
"Iya, tidak apa-apa."
"Aku.. aku akan membereskannya, ayah. Ouch!" Tangan kanan Ar-Vin berdarah akibat terkena serpihan beling, matanya semakin berkaca-kaca, perih.
Di luar dugaan Ar-Vin saat itu, entah bagaimana, ayahnya langsung memeluknya.
"Sudah tidak apa-apa. Nanti biar ayah yang membereskan." Ucap Kim Dae-Vin sambil memeluk Ar-Vin dan mengelus rambutnya. Rasanya hangatnya, terakhir kali ayahnya memeluknya saat usianya masih tujuh tahun.
"Hiks.. maaf ayah. Hiks.." Ar-Vin menangis. Meskipun dia laki-laki, dia juga bisa menangis.
"Iya, sudah tidak usah menangis lagi. Ini, minum." Ucap ayahnya menenangkannya, kemudian menggapai segelas air minum yang tidak jauh dari sana dan memberikannya pada Ar-Vin. Ar-Vin meminumnya. Dia menjadi lebih tenang.
"Ar-Vin, kamu memang mewarisi sifatnya. Dia juga selalu menangis setelah tidak sengaja memecahkan piring." kata Dae-Vin dalam hati.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•
Keesokan harinya adalah hari Minggu. Ar-Vin tidak melakukan apa-apa dirumah. Ayahnya telah kembali bersikap dingin dan tak banyak bicara. Ar-Vin sampai bingung harus bilang apa.
"Hmm, ayah?" Ucap Ar-Vin ketika melihat ayahnya yang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.
"Hmm," ayahnya menanggapinya dengan gumaman.
"Sekarang kan hari Minggu dan masih pagi, bagaimana kalau kita jogging?" Dengan ragu, Ar-Vin bertanya.
"Ayah masih ada pekerjaan. Ini kalau mau menonton." Ucapnya sambil menyerahkan remote televisi pada Ar-Vin. Kemudian berjalan menuju kamarnya dan menutup rapat pintu kamarnya. Tapi, sebelum itu, dia berbicara terlebih dahulu pada ayahnya.
"Kalau begitu, Ayah, aku ingin ke taman untuk menemui teman-temanku." Ucap Ar-Vin meminta izin. Kemarin, dia memang sempat untuk membuat janji dengan beberapa teman laki-lakinya untuk bermain bola basket di lapangan dekat taman.
"Ya, hati-hati di jalan." Sahut ayahnya. Setidaknya berpesan seperti itu, Kim Ar-Vin sudah sangat senang.
=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=•=
Skip malam harinya, saat Ar-Vin sedang belajar di kamarnya, dia mendengar sesuatu dari dalam kamar ayahnya. Seperti nada dering telepon. Tidak lama kemudian, Kim Dae-Vin alias ayahnya berjalan keluar kamar untuk menerima telepon itu. Dia pergi ke depan supaya tidak mengganggu.
Ar-Vin yang melihatnya pun menjadi penasaran. Bukan penasaran siapa orang yang menelpon, tapi penasaran dengan apa yang ada di kamar ayahnya. Dia pun keluar kamarnya, dan berdiri di depan pintu kamar ayahnya.
"Maaf ayah, aku izin masuk sebentar." Gumam Ar-Vin, kemudian masuk ke ruangan ayahnya.
Dia tidak memegang apa-apa, dia hanya melihat-lihat. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Yaitu, sebuah foto yang dibingkai sehingga terlihat aestetic.
"Itu, foto ayah dengan siapa?" Batinnya setelah melihat foto itu.
Pada foto itu, adalah foto Kim Dae-Vin yang menggunakan seragam pilot sedang berpelukan dengan seorang perempuan cantik berusia sekitar dua puluh dua tahun yang merupakan mahasiswi sepertinya.
Di pojok kanan bawah, terdapat nama tempat dan juga tanggal diambilnya foto tersebut. Seoul, 24 Oktober 2029, di ambil sekitar empat belas tahun yang lalu. Kira-kira, siapa wanita itu? Mungkinkah dia adalah ibunya?
"Ehem!" Suara seseorang berdeham dari arah belakangnya. Ar-Vin membelalakkan matanya, kemudian perlahan tapi pasti, dia berbalik dan menatap orangnya.
"A.. ayah.. M..maaf. A.. ak..aku.." ucap Ar-Vin gugup sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa?" Tanya ayahnya, dengan nada datar yang biasanya.
"A.. ayah, siapa perempuan yang ada di foto itu?" Ar-Vin memberanikan diri untuk bertanya, sambil mengedikkan dagunya untuk menunjukkan foto itu tanpa harus menyentuhnya.
"Suatu saat kau akan tau." Ucap ayahnya sambil duduk di bangkunya.
"Ayah selalu saja seperti itu.. Sudah berapa ratus kali.. setiap aku bertanya, ayah selalu saja menjawab seperti itu.. Ayah selalu merahasiakan sesuatu.." tanpa Ar-Vin sadari, matanya berkaca-kaca.
"Ar-Vin, maksud ayah-"
"Sudahlah, ayah. Aku memang tidak berhak untuk tau." Pada akhirnya, Ar-Vin berlari ke kamarnya sebelum air matanya menetes.
Di dalam, Ar-Vin mengunci dirinya dikamar. Menangis tanpa suara sambil memeluk bantalnya.
Tanpa Ar-Vin ketahui, di depan pintu kamarnya, ayahnya sudah menunggunya. Saat dia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba dia teringat sesuatu.
"Sayang, tolong jaga Ar-Vin dengan baik ya." Kalimat itu, terputar jelas di memorinya.
DEG!
Kim Dae-Vin merasa bahwa dirinya telah gagal untuk menjaga Ar-Vin, hingga pada akhirnya Ar-Vin menjadi seperti ini. Kim Dae-Vin terduduk di tempat itu juga.
"Maaf sayang, aku.. aku memang tidak bisa kau harapkan. Kim Ar-Vin yang kau titipkan, aku tidak bisa menjaganya dengan baik.. Aku.. aku memang bersalah. Aku memang tidak cocok menjadi seorang ayahnya." Kata Kim Dae-Vin dalam hati sambil memejamkan matanya. Dia teringat saat-saat terakhir istrinya ketika masih bersamanya.
KRIEEETT!
Pintu terbuka, Ar-Vin yang membuka pintu. Rambutnya acak-acakan, matanya agak merah karena habis menangis. Niatnya, dia ingin ke dapur untuk mengambil minum.
"Kim Ar-Vin.." ucap ayahnya lirih, kemudian langsung menariknya dalam pelukannya.
"Ayah benar-benar minta maaf." Lanjutnya masih sambil mendekap Ar-Vin.
"Ayah, kenapa-"
"Ayah memang tak bisa kau harapkan. Ayah sudah diberi amanah untuk menjagamu, tapi ayah tidak melakukannya dengan baik. Ayah benar-benar minta maaf."
"Tidak apa-apa, ayah. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Apapun yang terjadi, aku berjanji. Aku akan membuat ayah bahagia, meskipun aku sendiri tidak bahagia."ujar Ar-Vin sambil memegang kedua tangan ayahnya.
"Tidak, Ar-Vin. Ayah sudah tidak bisa bahagia. Sebenarnya, yang di foto itu tadi, dia adalah ibumu."
"Ibuku?"
"Iya, dia ibumu. Namanya Araya. Nama Ar-Vin merupakan gabungan nama ibu dan ayah. Araya dan Dae-Vin. Dan juga, wajahmu, bentuk mata, dan juga kepintaranmu, sangat mirip dengannya."
"Sekarang, ibu ada dimana, ayah?"
"Sudah tiada,"
"Apa? A.. ayah berbohong kan? Itu tadi hanya bercanda kan? Tidak serius kan?" tanya Ar-Vin berturut-turut. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Ayah tidak berbohong. Dia menghembuskan nafas terakhirnya setelah melahirkanmu."
"Hiks, maaf ayah. Hiks.. Jika saja aku tidak lahir ke dunia ini, ayah tidak akan seperti ini. Hiks.. Jika aku tidak ada di dunia ini sejak dulu, ayah tidak akan kesepian, ayah tidak akan kehilangan ibu."
"Itu bukan salahmu, Ar-Vin. Jangan menyalahkan dirimu." ucapnya sambil menenangkan Ar-Vin. Menyandarkan kepalaku pada bahunya, dan mengelus rambutnya dengan lembut.
"Menangis saja kalau kau ingin menangis." ucap Dae-Vin saat itu.
"Tidak, ayah. Kalau aku menangis terus, mataku bisa bengkak." jawab Ar-Vin sambil melepaskan pelukan ayahnya, kemudian duduk berhadapan di depan ayahnya.
"Ayah?"
"Iya?"
"Apa ayah merasa lebih lega setelah menceritakan hal itu padaku?"
"Iya, rasanya sudah lebih baik." jawab Dae-Vin sambil mengangguk.
"Apakah setelah ini, ayah masih bisa tersenyum?"
"Entahlah,"
"Ada beberapa orang yang bahagia hanya dengan melihat orang lain tersenyum. Salah satunya adalah aku. Aku bisa sangat bahagia melihat senyuman ayah. Kapanpun itu, bagaimanapun keadaannya, aku ingin melihat ayah tersenyum. Ibu juga pasti bahagia disana ketika melihat senyuman ayah. Aku tau itu."
"Iya, ayah akan berusaha. Ayah akan berusaha membahagiakan mu, dan semua orang. Ayah berjanji." ucap Dae-Vin sambil menunjukkan senyuman dan juga mengacungkan jari kelingkingnya. Ar-Vin juga ikut tersenyum, dia menyatukan hari kelingkingnya.
Hari-hari berlalu, kini Kim Ar-Vin tidak lagi merasa kesepian. Setiap ayahnya pulang bekerja, dia selalu dihadiahi senyuman. Meskipun selelah apapun, Kim Dae-Vin tetap memberikan senyuman untuk Ar-Vin. Setelah ini, Ar-Vin adalah segalanya bagi dirinya.
~Tamat~
Jangan lupa like, dan komen ya. Semoga terhibur dengan cerita ini.