Lelaki berjambang lebat dan rambut gondrong sebahu itu memasuki sebuah rumah yang penuh dengan lampu kerlap-kerlip dan dentuman musik membisingkan telinga. Ekor matanya menangkap pemandangan yang membuat hasrat paling purba dari lelaki menggeliat dari peraduannya. Berjejer-jejer kaum hawa berpakaian minimalis terlihat saling berbincang, bercanda, dan menikmati minuman keras sambil memegang rokok di tangan yang lentik berhias kutek bermerek.
Lelaki itu bernama Bahar. Seorang duda yang kini tengah jaya dalam bisnisnya. Hidupnya yang dulu miskin papa dan menjadi bahan olok-olokan, kini dia seperti membungkam orang-orang yang dulu merendahkannya dan memandangnya dengan sebelah mata.
"Mas Bahar ... wah, akhirnya balik kesini lagi. Ayo, Mas, pilih yang mana? Semuanya manis-manis dan cantik-cantik, lho. Pokoknya ada diskon deh, buat yang sudah langganan disini." Seorang ibu-ibu berdandan menor menyapanya dengan sangat ramah. Ia adalah mami Betty, begitu orang-orang sini memanggilnya. Induk semang di lokalisasi Waru Doyong.
"Si Ratih mana, Mi? Dia bisa kan temani saya malam ini?" ujar Bahar sembari lirik kesana-kemari, seperti mengacuhkan saja wanita menor di depannya.
Si wanita yang dipanggil mami itu seketika berpikir, terlihat dari pupil matanya yang terlihat keatas.
"Em ... Ratih, ya? Yang lain kan banyak, Mas Bahar. Nggak kalah seksi dan cantik sama Ratih, kok. Nah, ini ada barang bagus, Mas. Ada yang masih original, he-he, tapi yah, agak sedikit mahal. Wajarlah, kan belum dibuka segelnya, he-he. Buat Mas Bahar, diskonlah," jawab Mami Betty panjang lebar. Seperti hendak mengalihkan pembicaraan saja.
"Enggak, Mi, saya maunya si Ratih saja. Saya pengennya sama dia, titik!" kejar Bahar tak mau kalah.
Si mami diam-diam bingung juga. Sudah seminggu ini Ratih tidak absen di tempatnya. Dihubungi ponselnya tidak aktif. Di kostnya juga tidak ada.
"Dia sudah seminggu ini tidak nongol, Mas, entah kemana." Mau tak mau Mami Betty menceritakan juga yang sebenarnya.
Bahar kecewa. Rindu berat ia sama Ratih. Namun kemana gerangan dia? Entahlah .…
"Assalamualaikum ...." suara lembut seorang wanita tiba-tiba terdengar.
"Wa'alaikumussalam ... Ratih!" Bahar menjawab salamnya. Sementara Mami Betty seperti biasanya, diam. Tak menjawab kalau ada orang mengucapkan salam. Baginya itu tidak penting, yang penting baginya adalah uang, uang, dan uang.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba Ratih, kemana saja kamu ini? Banyak pelanggan yang nanyain kamu terutama mas Bahar ini lho, sudah datang jauh-jauh pengen ditemani kamu malam ini," tanpa basa-basi Mami Bety nerocos saja. Tiada simpati apalagi empati pada Ratih, misal bertanya bagaimana keadaannya apakah baik-baik saja?
Ratih melempar pandangannya kepada lelaki gondrong itu. Kemudian tersenyum tipis, setipis kulit ari.
"Benar Mas Bahar mencari Ratih?" ucap Ratih pada Bahar.
"Benar, Ratih. Terakhir kita bertemu sebulan yang lalu bukan? Dan bagiku seperti sudah satu abad kita nggak bertemu, aku sudah rindu berat denganmu, Ratih. Mau kan, menemaniku malam ini?" Bahar terlihat memelas.
Diawali dengan senyum khasnya, Ratih pun menjawab.
"Bisa, Mas. Mari," ujarnya sambil menggandeng lengan Bahar Masuk kedalam salah satu kamar.
Sementara Mami Betty bersorak kegirangan. Uang yang banyak yang ada di benaknya. Ia tahu, Bahar adalah orang yang tidak perhitungan dalam masalah uang. Sangat royal.
Suara dentuman musik terdengar semakin mengeras. Euforia jahanam memecah kesunyian malam itu. Aroma parfum wangi para kupu-kupu malam tercium semerbak kesana-kemari. Adegan demi adegan seronok bertebaran disana sini. Ketika malam semakin mencapai puncaknya, gairah nafsu purba pun kian memanas.
***
Bahar membuka matanya pelan-pelan lalu dikucek-kuceknya. Badannya terasa lemas seperti tak bertulang, setelah melepaskan hasrat kelelakiannya dan menumpahkan beban kerinduannya kepada Ratih. Seorang pelacur yang menjadi langganannya.
Ia menoleh ke samping tempat tidurnya. Kosong! Kemana Ratih? Ia tengok jam hitam metalic yang melingkar di tangannya. Pukul 03.30 dini hari. Masih cukup larut, lalu kemana Ratih? Ah, mungkin ke toilet, pikirnya. Ia pun bergegas melanjutkan tidurnya lagi. Badannya benar-benar lemas, agaknya ia terlalu boros dalam menghabiskan energinya semalam.
Ketika hendak menutup matanya. Lamat-lamat Bahar mendengar seperti seseorang mengaji. Siapa pula gerangan ditempat seperti ini ada orang yang mengaji? Melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an yang seharusnya di tempat suci. Bukan di tempat penuh lumpur dosa seperti ini.
Semakin lama semakin merdu saja lantunan ayat suci itu. Bahar menikmatinya, dan tanpa ia sadari air matanya menetes. Semakin lama semakin deras tak terbendung. Jiwanya bergetar hebat. Nuraninya seperti dicabik-cabik. Ada suatu hal misterius yang membuat dirinya menjadi damai. Bak tanah gersang tersiram air hujan. Begitu menyegarkan.
Bahar bangun dari ranjang lalu mencari asal suara itu. Sampai di kamar sebelah, ia mendapati seorang wanita yang sangat dikenalnya tengah duduk bersimpuh diatas sajadah dengan mukena lebar dan tengah melantunkan ayat suci Al Qur'an. Apakah dia Ratih? Ah, mungkin salah. Ia berkali-kali mengucek-ucek matanya. Benar, dia Ratih! Pelacur yang habis ditidurinya semalam.
Bahar mengintipnya pelan-pelan agar tak diketahui atau tak ingin mengganggu Ratih. Bahar juga menikmati lantunan merdu yang mengusik jiwa dan menikam hatinya sampai kedalam relung terdalamnya. Diam-diam Bahar sungguh malu dengan Ratih, terlebih malu dengan Tuhan. Ia lalu teringat waktu mudanya dulu. Ia sering mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu agama. Ia bahkan sempat bercita-cita menjadi pendakwah.
Tetapi semenjak ia ditinggal pergi oleh istrinya yang sangat dicintainya untuk selamanya, ia jadi seperti kehilangan kendali. Terlebih setelah Bahar jaya dalam Bisnis properti nya. Ia memang tak lagi kesulitan ekonomi seperti dulu.Yang karena kemiskinannya ia tak mampu mengobati penyakit asma istrinya, hingga penyakitnya bertambah parah dan tak tertolong lagi. Sampai saat ini ia masih menyesali akan hal itu.
Setelah berjaya, ia malah salah arah. Lingkungan pergaulannya dan uang telah membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Bahar yang dulu tak pernah melupakan sholat dan mengaji, kini entah kapan terakhir ia melakukannya. Sudah lama ia terjebak dalam dunia yang menipu dan memabukkan yang menawarkan kebahagiaan semu nan menjerat. Ia memang bisa membeli segala apapun untuk menyenangkan nafsunya. Namun, kalau boleh jujur. Hati nuraninya sebenarnya menangis sedih tiada terperi. Meronta-ronta dan merengek pedih sekali.
Entah kenapa Bahar juga ingin melakukan sholat. Hati nuraninya kali ini berhasil didengarkannya. Ia bergegas mandi besar lalu melakukan sholat. Adzan subuh juga telah terdengar. Entah kenapa hatinya begitu bahagia, seperti ada kenikmatan luar biasa yang tak bisa terbeli dengan apapun saat ia melakukannya.
Usai sholat subuh, Bahar kembali ke kamar sebelah tempat dimana tadi Ratih mengaji. Ratih Masih terlihat duduk bersimpuh bersimbah air mata di pipinya.
"Ratih ...." suara Bahar memecah suasana.
Ratih menoleh. Lalu buru-buru mengusap air mata yang membasahi pipinya sedari tadi.
"Iya, Mas," jawab Ratih hampir tak terdengar.
Bahar melangkah lebih dekat lalu di duduk bersimpuh tepat disamping Ratih.
"Kenapa kamu bisa sampai ditempat seperti ini? Sepertinya tidak masuk akal, tidak logis dan rasional. Aku tahu, kamu wanita baik-baik yang sungguh tak pantas di tempat kotor seperti ini," ucap Bahar. Pandangannya menatap lekat pada Ratih. Kali ini bukan tatapan birahi yang dirasakannya.
Ratih menghela nafas dalam, matanya dipejamkan kuat-kuat. Lalu menjawab lirih.
"Ibu saya di kampung sakit keras, Mas. Saya mesti mencari uang untuk pengobatannya. Saya terpaksa disini, Mas. Saya ingin ibu saya sembuh."
Bahar mendengarkan dengan seksama.
"Ibu saya Sakit kangker. Dan butuh uang yang tidak sedikit untuk biaya pengobatannya. Disini, alhamdulillah saya bisa menabung, suatu saat saya pasti bisa membiayai pengobatan ibu saya, Mas. Ibu saya satu-satunya harta bagi saya, dia yang membesarkan saya sampai sekarang ini. Suami saya sudah menikah lagi, kami bercerai setahun yang lalu ketika saya mengandung 7 bulan. Kini anak saya juga saya titipkan dengan saudara. Saya sudah buntu mas." Air mata Ratih mengalir semakin deras.
"Apa tidak ada cara lain selain bekerja disini Ratih?" tanya Bahar dengan nada lembut. Ia tak mau terlihat sedang menghakimi atau menyalahkan. Ia hanya ingin bertanya.
"Pikiran saya sudah mentok, Mas. Kesana-kemari saya sudah berusaha mencari uang yang halal. Tapi, pendidikan saya rendah dan kalaupun ada gajinya kecil, Mas. Butuh waktu lama untuk bisa mengumpulkan biaya pengobatan sebanyak itu. Satu-satunya jalan ya disini, Mas. Setiap detik saya selalu berharap kalau Gusti Allah mau mengampuni dosa-dosa saya ini."
Tak terasa air mata Bahar menetes. Ya! Bahar lelaki gondrong bercambang lebat itu tengah menangis.
"Andai sudah terkumpul uang untuk pengobatan Ibumu, apakah kamu akan berhenti dari sini, Ratih?" Bahar bertanya lagi.
"Tentu saja, Mas. Satu-satunya alasan saya disini adalah karena ibu saya. Kalau sudah terkumpul saya pasti pergi dari sini, Mas. Namun, entah sampai kapan aku bisa mengumpulkan uang itu, Mas. Jumlahnya terlalu besar buatku." Ratih menerawang jauh.
"Berapa? Kalau saya boleh tahu," kejar Bahar.
Ratih menatap Bahar, lalu menerawang lagi.
Ratih menyebutkan biaya yang cukup besar untuk pengobatan ibu nya.
Bahar sedikit terkejut. Besar juga jumlahnya. Bahar memang lumayan kaya tapi kalau sebanyak itu?
Bahar terlihat sedikit merenung. Namun, entah kenapa Ia seperti mendapat kekuatan yang dahsyat untuk memutuskannya kali ini.
"Baiklah! Besok kamu tak usah kembali ketempat ini untuk selamanya. Pulang Saja ke kampungmu."
"Maksud, Mas Bahar? "
"Sudahlah, turuti saja. Nanti kamu akan tahu sendiri."
"Baiklah, Mas ...." Entah kenapa ia mau saja menuruti lelaki yang belum begitu dikenal akrab olehnya. Seperti ada kekuatan yang membuatnya harus percaya kepada Bahar.
"Ratih ...." ujar Bahar sembari menatap lekat mata Ratih.
"Iya, Mas."
Seandainya ada seorang lelaki yang ingin menikahimu, maukah kau menerimanya?" Tiba-tiba Bahar mengalihkan pembicaraan.
"Ha-ha-ha!" Spontan Ratih tertawa terbahak-bahak. Namun, entah kenapa, kecantikannya tak berkurang sedikitpun. "Mana ada lelaki yang mau menikahi pelacur sepertiku, Mas? Dia pasti sudah gila kalau sampai mau menikahi wanita kotor sepertiku ini."
"Aku orang gila itu Ratih ...." Bahar menatap semakin lekat. Bukti ia memang serius kali ini.
"Maksudnya, Mas?" Ratih terlihat seperti terkejut bercampur bingung.
"Aku mau menikahimu, Ratih. Apakah kamu mau menerimaku?" Bahar adalah seorang lelaki. Pantang untuk berbasa basi.
Mendadak wajah Ratih memerah. Namun, segera ditutupinya.
"Aku bukan wanita baik-baik, Mas. Aku seorang pelacur! Pelacur tak pantas mendapatkan kebahagiaan, Mas ...."
"Aku juga bukan lelaki baik-baik, Ratih. Namun, aku ingin kita bersama-sama berusaha memperbaiki diri. Aku dan kamu! Jawab saja. Apakah kamu mau menikah denganku?" Tanya Bahar sekali lagi. Dengan nada tegas. Sorot matanya terlihat tajam.
Ratih menatap lekat mata Bahar. Ada sebuah keseriusan disana. Dan, Ratih memang menyimpan rasa Kepada Bahar sejak pertama kali bertemu. Jika lelaki lain memperlakukannya bagaikan barang saja. Tapi lain dengan Bahar. Ia selalu nyaman bersama lelaki gondrong itu. Ia sangat tahu bagaimana memperlakukan seorang wanita.
"Apakah diam berarti mau, Ratih ?" Kali ini Bahar tersenyum. Ah, semakin membuat Ratih salah tingkah.
"Datanglah ke orang tuaku, Mas. Dan ingat! Rapikan rambut dan cambangmu itu, Mas ...." Ratih tersenyum malu-malu. Tangis yang tadi adalah tangis kesedihan, kini berganti menjadi tangis kebahagiaan.
Bahar ikut tersenyum. Kebahagiaan yang lama tak ia jumpai kini datang menyapanya kembali.
TAMAT.