Malam masih lama untuk sampai pada penghujungnya, namun angin sudah berhembus dingin sekali, menusuk sampai ke tulang. Mungkin sisa hujan tadi sore yang membuat malam ini begitu dingin. Suara belentung lamat-lamat terdengar saling bersahut-sahutan. Hujan deras tadi sore sukses menggenangi beberapa kubangan bekas galian pipa.
.
Di sebuah pangkalan ojek, dekat sebuah terminal, tampak seseorang tengah bertopang dagu, sesekali merapatkan jaketnya untuk mengusir dinginnya malam. Malam ini dinginnya benar-benar luar biasa.
Kabut malam pun semakin terlihat menebal, merambah kesana-kemari, membuat suasana semakin terlihat sunyi.
***
Ujang menyulut rokoknya lagi. Dihisapnya dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan. Asap putih mengambang di udara, menari-nari ke segenap penjuru mata angin.
Matanya melirik jam di tangannya. Pukul 20.15. Lalu ia menengok ke ujung jalan di depannya. Kosong. Ia tampak gelisah sekali. Betapa tidak, dari tadi sore jok motornya belum juga mendapatkan penglarisan barang seorang pun. Menjalani profesi sebagai tukang ojek seperti dirinya memang tidak mudah. Apalagi sekarang mesti bersaing dengan ojek on line. Namun, tetap saja ia yakin, bahwa rezeki sudah ada yang mengatur, tinggal bagaimana kita untuk selalu berprasangka baik kepada Tuhan. Dengan berdoa dan terus berusaha semampunya.
Ia menyeruput kopinya yang telah dingin. Diamati lagi jalan di ujung sana. Masih kosong. Di hisap rokoknya lagi. Entah kenapa malam ini begitu sepi. Teman-temannya juga tidak ada yang narik. Biasanya, meski hujan pun mereka masih saja mangkal.
Ia meraih koran di selipan kayu dekat ia duduk. Koran sejak beberapa hari yang lalu. Ia baca-baca sekenanya. Berharap bisa mengusir sepi dan kejenuhan nya.
"Hedeh ... berita nggak ada yang menarik. Berita kecelakaan lah, pembegalan lah, pencopetan lah, korupsi lah. Mbok ya berita bantuan khusus tukang ojek kaya saya ini gitu, lho. Agar tukang ojek di sejahterakan." Ujang menggerendeng sendiri.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara motor butut dari kejauhan, semakin lama semakin jelas terdengar. Ujang menoleh, dan kemudian senyumnya mengembang. Itu pasti si Udin teman seprofesinya. Akhirnya dia tidak lagi bengong macam sapi ompong di malam dingin bedebah begini. Setidaknya ada teman ngobrol agar suasana sedikit hangat.
"Eh, Jang. Sendirian aja, lu? Pada kemana anak-anak?" seloroh Udin setelah sampai depan pangkalan, ia masih duduk di atas motornya, tidak turun dan bergabung dengan Ujang.
Sebelum Ujang menjawab pertanyaan Udin, Udin bersuara lagi.
"Ini aku mau nganter pesenan orang ke kampung sebelah. Mau dianter tadi sore hujan terus, eh, malah ketiduran juga. Ini aku mau cabut dulu, nggak bisa narik malam ini." Udin merogoh sakunya lalu menyalakan rokok.
"Hem ... kirain mau narik, Din. Kesepian, nih! Yang lain pada ngorok kali di rumah." Ujang pasang wajah manyun.
"Lagian malam dingin begini kamu narik juga. Mending tidur sana, gih! Nggak bakalan ada penumpang, sepi pasti. Kalaupun ada pasti pada milih taxi on line. Udah kamu pulang saja sana, Jang. Lagian ini malam Jum'at. Horor, Bro, ha-ha-ha ...."
"Terus, kalau malam Jum'at bakal ada setan gentayangan begitu? Masih saja percaya sama setan. Itu cuman di tipi-tipi, Din. Yang lebih menakutkan dari setan itu kalau aku sampai pulang nanti nggak bawa uang. Dah, kamu pergi sana! Enek aku liat mukamu." Udin mengibas-ngibaskan tangan seperti mengusir.
"Yowis. Tak tinggal dulu, ya, hati-hati jaga pangkalan. Waspada, jangan sampai di culik setan gentayangan. Ha-ha-ha ...." Suara tawa udin semakin terdengar keras.
Ujang melempar sendal ke arah Udin. Udin langsung tancap gas sembari ngakak. Suara tawannya masih saja lamat-lamat terdengar sampai ekor sepeda butut Udin hilang di kelokkan gang.
"Bedebah!" umpat Ujang sembari memungut sandal yang tadi dilemparnya. Dalam hati ia bicara. Kalau sepuluh menitan lagi tidak ada penumpang juga. Ia memutuskan pulang saja. Persetan dengan omelan istrinya di rumah kalau pulang sampai nggak bawa uang.
Belum sampai Ujang menghempaskan tubuhnya di balai pangkalan, sebuah suara terdengar.
"Mas, bisa antar saya ke kampung Rawa Pening?"
Ujang menoleh. Pucuk ditimpa ulam pun tiba. Rejeki tidak akan kemana. Mata Ujang mendadak berbinar-binar. Senyumnya mengembang. Hatinya membuncah. Terlihat seorang bapak-bapak bertubuh tambun tengah berdiri tak jauh dari pangkalan. Entah sejak kapan berada disitu. Ah, bodo amat! Yang penting dapat proyekan.
"Bisa, Pak. Berangkat kita!" sambar Ujang penuh semangat.
Tiba-tiba Ujang mendadak ragu. Kampung Rawa Pening kan lumayan jauh. Sekitar 15 km dari sini.
"Tapi, nanti di lebihin ya, Pak? Ongkos biasanya 45 ribu nanti dilebihin dikit, lah. Banyak juga tidak apa-apa, he-he. Soalnya agak jauh dan dingin pula malam ini, Pak. Penumpang dari sore pun sepi." Dasar Ujang kebanyakan maunya.
Bapak-bapak agak tambun beruban itu hanya mengangguk. Tentu Ujang girang sekali.
Ujang pun memacu motor matic-nya. Kemudian otaknya mendadak mendapat ide. Jalan ke kampung Rawa Pening kan bisa menerabas lewat kampung Beraya. Lewat pematangan sawah. Biar lebih cepat. Kan lumayan bisa hemat bensin. Begitu pikirnya.
"Pak, lewat kampung Beraya saja ya, Pak? Biar cepat. Sudah malam juga." Ujang menoleh kebelakang ke arah penumpang.
Lagi-lagi lelaki itu hanya mengangguk.
Ujang memacu motornya agak perlahan. Sampai di pematangan sawah jalan mulai becek dan licin. Ah, bodoh sekali, kenapa lewat sini, bukankah tadi sore habis hujan lebat. Pikir Ujang menyesali keputusannya. Tapi sudah terlanjur, ya sudah dilanjutkan saja. Perlahan ia memacu motornya menembus pekat malam di pematangan sawah.
Sesampai di perkampungan. Jalan mulai tidak begitu licin lagi. Hanya Ujang harus tetap hati-hati. Ia bersiul-siul kecil untuk sekedar melawan dinginnya malam. Meski bapak-bapak penumpangnya gemuk, tetapi terasa enteng saja memacu motornya. Ini pasti karena habis servis dan ganti oli tadi siang.
Sesekali Ujang mencoba mengajak ngobrol penumpangnya agar suasana sedikit cair dan sekedar menghalau sepi. Namun, setiap apa yang ditanyakan selalu saja dijawab dengan anggukkan. Terkadang hanya deheman kecil. Ujang jadi risih sendiri. Mungkin bapak ini habis dari luar kota, dan sudah terlampau lelah di perjalanan, begitu pikirnya. Ujang pun akhirnya memilih diam saja dan segera memacu motornya lebih cepat. Biar segera sampai di tujuan dan cepat bisa pulang sampai rumah. Hiii ... dinginnya malam ini benar-benar luar biasa. Gigi Ujang sampai gemeretakkan sendiri dibuatnya.
"Sudah lama ngojek, Kang?" Akhirnya bapak itu bersuara juga.
"Eh, iya, Pak. Ya, lumayan lah. Sudah 5 tahunan lebih. He-he ...." Ujang menjawab sambil tetap fokus dengan medan jalan. Kalau nggak hati-hati bisa kepleset ke dalam lubang yang licin masalahnya.
Tiba-tiba tengkuk Ujang meremang luar biasa. Kepalanya seperti membesar sepuluh kali lipat. Ujang sampai mengibas-ngibaskan kepalanya. Seketika juga tercium bau wangi, seperti kembang kuburan. Jangan-jangan penumpang di belakangnya .... ah, Ujang menepis pikirannya sendiri.
"Oh, lumayan lama ya, Kang. Ngojek malem-malem begini nggak takut, Kang?" Bapak penumpang itu bersuara lagi. Kali ini suaranya tidak begitu terdengar di telinga Ujang. Mungkin karena Ujang juga pakai helm, dan motor melaju agak cepat juga.
Ujang menarik nafas lega. Ternyata bukan setan yang diboncengnya. Masa setan bisa ngomong bukan?
"Takut setan ya, Pak? He-he. Bagi saya pulang nggak bawa uang lebih menakutkan dari setan manapun, Pak." Ujang meringis. Dalam hatinya bicara. Ya kalau bisa jangan sampai lah ketemu setan, ngeri juga kayaknya. Hiii ... Ujang jadi bergidik sendiri.
"Bener nggak takut, Kang? Ini malam Jumat, lho. Katanya banyak arwah penasaran yang bergentayangan." Bapak itu bersuara lagi.
Ujang lama-lama makin ngeper sekaligus jengkel juga di takut-takuti seperti begitu.
"He-he. Nggak, Pak. Sudah biasa," jawab Ujang singkat sembari tersenyum kecut. Diam-diam ia mengatur napasnya untuk memantapkan hatinya. Ujang pun semakin cepat memacu sepeda motornya menembus pekatnya malam yang dingin luar biasa. Agar segera sampai dan pulang ke rumah.
***
Setelah dua puluh menitan Ujang berjibaku dalam sulitnya medan perjalanan, akhirnya tiba juga di tujuan, kampung Rawa Pening. Ujang memarkir motornya tepat di depan halaman rumah si penumpang yang kini mulai perlahan turun dari motornya. Dipandanginya sejenak halaman rumah yang cukup luas itu. Bangunan rumah yang cukup mewah semi tradisional, arsitektur bangunan rumah itu mirip bangunan jaman dulu.
Halaman rumah ramai dengan mobil dan motor yang tengah diparkir. Dan rumah itu pun kelihatan ramai pula. Sepertinya ada sebuah acara, mungkin pengajian. Hampir semua memakai pakaian koko dan peci. Sedangkan yang perempuan memakai kerudung. Terlihat juga ramai orang lalu lalang keluar masuk sambil membawa seperti bingkisan plastik.
"Sebentar ya, Mas. Saya ambil uang dulu di dalam. Tunggu saja di sini." Suara bapak tambun itu memecahkan konsentrasi Ujang yang tengah melihat-lihat rumah besar di depannya.
"Eh, iya, Pak. Silahkan. Saya tunggu," jawab Ujang sembari melepas helm-nya.
Satu menit, sepuluh menit, setengah jam, dan satu jam pun berlalu. Namun, si bapak tambun tidak kunjung kembali lagi. Ujang berkali-kali melirik jam tangannya. Malam sudah semakin larut. Wah, bisa kemalaman nanti sampai rumah, pikirnya mau nyamperin saja ke rumah di depannya, tapi kok kayaknya malu, banyak orang.
Tidak berselang berapa lama, orang-orang di dalam rumah terlihat mulai membubarkan diri. Orang-orang yang sepertinya habis pengajian itu mulai keluar rumah satu persatu. Sampai kemudian ada salah satu orang yang keluar dari rumah itu menegur Ujang. Mungkin heran melihat Ujang yang sendirian saja tengah bengong macam sapi ompong nangkring di motornya.
"Lagi nunggu siapa, Mas? Kok kayaknya bukan orang desa ini, ya?"
Ujang kaget, wajahnya terlihat sedikit gugup.
"Eh, Iya, anu, ini lagi nungguin ongkos ojek, Pak. Tadi saya nganterin penumpang ke rumah ini. Kayaknya habis dari luar kota. Tapi dari tadi saya tungguin hampir satu jam tapi nggak nongol-nongol juga. Apa lagi sibuk di dalam ya, Pak?" Tanya ujang yang entah kepada dirinya sendiri atau bapak di depannya.
"Penumpang? Oh...Siapa ya, Mas?" Si bapak malah balik bertanya.
Ujang malah jadi bingung sendiri ditanya balik begitu.
"Katanya yang punya rumah ini. Penumpangnya bapak-bapak sekitar seumuran sampeyan, Pak. Orangnya gendut, pendek, agak putih, dan rambutnya beruban."
Bapak-bapak di depan Ujang kelihatan sedikit kaget. Terlihat dari pupil matanya yang membesar. Badannya juga terlihat seperti bergetar. Lalu bapak itu merogoh saku, mengeluarkan sebuah ponsel. Di otak-atiknya beberapa lama, lalu menyodorkan ponselnya tepat di depan muka Ujang.
"Apakah ini orangnya, Mas?"
"Iya, betul, Pak. Itu bapak yang saya antar kesini. Betul, dia orangnya. Bisa tolong panggilkan, Pak. Saya harus buru-buru pulang, sudah malam ini soalnya."
Bukannya menjawab atau bagaimana, si bapak malah tiba-tiba lari menuju ke dalam rumah. Kepala Ujang seketika diliputi tanda tanya.
Beberapa saat kemudian bapak yang tadi lari masuk ke dalam rumah kini keluar lagi dan bergegas menuju ke arah Ujang yang tengah berdiri bodoh. Kali ini bapak itu tidak sendirian, tetapi bersama dengan seorang perempuan yang nampaknya seumuran juga dengan bapak di sampingnya.
"Ini dia tukang ojeknya yang saya ceritakan tadi, Mbak," ujar bapak itu kepada wanita di sampingnya ketika tiba tepat di hadapan Ujang.
"Bener, Mas? Mas tadi nganterin suami saya pulang kesini?" tanya wanita itu dengan suara parau dan sedikit gemetar.
"Oh, bapak gemuk yang saya anterin itu suami ibu, ya? Iya, Bu. Saya tadi anterin dari kampung saya Pring Wulung sana. Dekat terminal Jembeh. Tadi saya suruh nunggu di sini. Beliau masuk ke dalam, dan nyuruh saya nunggu. Katanya mau ambil uang," jelas Ujang panjang lebar.
Bapak dan wanita di depan Ujang malah saling saling melempar pandangan satu sama lain, mereka makin terlihat gemetar. Ada apa ini? Belum sempat Ujang bertanya karena bingung, wanita itu mendahului bersuara. Kali ini dengan suara sedikit keras namun agak parau.
"Mas!" Wanita itu memegang kedua pundak Ujang dengan sangat erat. Badan Ujang sampai sedikit menciut dibuatnya. "Suami saya itu sudah meninggal dunia! Bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan sewaktu perjalanan pulang sehabis merantau dari kota. Dan malam ini adalah malam selamatan tujuh hari selepas kepergian suami saya!"
Ujang bagai disambar petir. Bagai ditimpa reruntuhan gunung. Rekaman demi rekaman kejadian sebelumnya seakan terputar di memori otaknya: koran kecelakaan, Udin yang bilang malam Jum'at, kedatangan penumpang yang muncul tiba-tiba, sikap aneh penumpangnya, motor yang enteng seakan tanpa beban, bau wangi, dan badannya yang merinding tanpa sebab.
Lalu kemudian semuanya mendadak gelap. Ujang pun tidak sadarkan diri lagi.
TAMAT