"Aku lihat kemarin Juminten, pacarmu makan bareng sama cowok lain lho, Jo," kata Slamet kepada Paijo. "Jangan-jangan dia selingkuh di belakang kamu?"
Paijo yang tengah menyeruput wedang jahe, mendadak keselek, batuk-batuk, tapi segera di tutupi, takut dikira kena corona.
Belum Paijo menjawab, Slamet nyerocos lagi, "Wanita jaman sekarang banyak yang player juga, Jo. Kamu harus hati-hati!"
Mata Paijo seketika mendelik, melotot tak percaya, "Ah, nggak mungkin, Met. Juminten kan setia. Jangan ngarang, ah. Biar penulis saja yang suka ngarang kamu kan bakul dawet nggak cocok ngarang."
"Aku serius ini, sering aku lihat pacarmu, Juminten itu pergi sama cowok lain," ujar Slamet lagi. Wajahnya yang berminyak makin glowing kala tersorot lampu pinggir jalan.
"Sudah-sudah, barangkali cuman temannya. Besok biar aku tanya baik-baik sama Juminten." Paijo menyeruput wedang jahenya lagi sampai tandas tak tersisa.
"Yah, aku sebagai temanmu cuman ngasih tau saja, Jo. Aku nggak mau kamu patah hati," tukas Slamet lagi.
"Yowis, sudah malam ini. Kita pulang, besok aku harus nganter Juminten kerja. Bisa marah kalau aku sampai telat, Met."
Setelah membayar, mereka pun pulang.
***
Di pagi hari yang bukan siang apalagi malam. Terdengar ponsel Paijo berdering-dering. Diangkatnya ponsel merk Ciomi itu dengan wajah yang masih ngantuk.
"Halo, Mas. Sudah siap kan jemput aku." Terdengar suara Juminten di seberang sana.
Paijo melirik jam yang nemplok di Dinding kamarnya. Gawat! Kesiangan dia, gara-gara di ajak Slamet ke angkringan tadi malam sampai dini hari baru pulang.
"Eh, iya, Dik. Halo," Paijo menjawab agak gugup. Maklum, sebagian nyawanya masih nyantol di awang-awang, belum kumpul benar.
"Iya, Mas. Gimana jadi jemput, kan? Ini aku sudah siap. Tak tunggu ya sekarang. Jangan kelamaan, bisa telat. Ini hari pertamaku kerja." Terdengar suara Juminten di ponsel Paijo.
"Jadi dong, Dik. Ini siap mau kesitu. Kamu tunggu, ya?" Jawab Paijo dengan suara di semangat-semangat kan, "ini mau otw kok, tunggu, ya."
Paijo buru-buru menutup ponselnya lantas bergegas ngacir ke kamar mandi. Bukan buat mandi, tapi buat cuci muka saja dan lantas dandan sekenanya. Bisa gawat kalau sampai telat. Tau sendiri kalau Juminten ngambek. Seblak pedas terenak sedunia juga nggak mempan merayunya.
Kini motornya siap dihidupkan. Tetapi sial dangkalan benar, distarter berkali-kali tak mau nyala. Coba di engkol berkali-kali nggak mau hidup juga.
"Dasar motor tak berperikemanusiaan! Kok ya disaat begini nggak mau diajak kompromi to, ya!" Paijo mengumpat-umpat, penyakit motornya yang susah dihidupkan kalau pagi kambuh lagi.
Setelah sekian lama berjibaku dengan segenap jiwa raga serta menghabiskan bertetes-tetes peluh untuk menghidupkan motornya, tentu tak lupa sambil misuh-misuh juga, akhirnya motornya pun hidup juga. Tanpa babibu lagi Paijo langsung tancap gas.
Tapi motornya lambat. Kurang trengginas tarikannya. Tarikannya loyo persis orang lagi puasa pas jam 12 siang. Tak bertenaga. Lemah. Paijo misuh-misuh lagi. Memang motor bebeknya yang keluaran tahun 2000 sebelum masehi itu jarang di servis. Lha gimana, uang jatah servis sering terpakai untuk kebutuhan. Maklum, golongan ekonomi tiarap.
Setelah sampai setengah perjalanan menuju rumah Juminten gebetannya, mendadak motornya macet cet. Modar ora urip. Kali ini bensinnya yang habis. Kalau sudah begitu kata apalagi yang tepat untuk Paijo utarakan? Kata mutiara? Atau kata bijak? Edan po! Ya jelas misuh lagi!
Ponsel di saku Paijo terdengar berdering-dering. Juminten menelpon.
"Halo, Mas. Piye, to?! Lama banget. Sampai dimana? Sudah mau telat ini aku, lho?"
Paijo tentu saja gugup. Keringat yang membasahi tubuhnya makin deras. Bingung mau bilang apa.
"Eng, nganu, Dik. Motorku mogok kehabisan bensin. Pom masih jauh lagi. Piye?"
"Yo Wis! sak iki kita putus wae, Mas! Nggak sudi aku punya pacar ra iso diandelno!" sembur Juminten.
"Tapi, Dik?"
"Wis, nggak tapi-tapian! Pokoke putus!" Suara Juminten terdengar makin keras. Ponsel dimatikan.
Paijo lemas seketika. Tentu masih sambil misuh. Tapi dalam hati. Silent mode. Sudah kehabisan tenaga rupanya.
Akhirnya mau tak mau, disisa tenaga dan gairah hidup yang tinggal secuil, Paijo bergegas mencari pom atau penjual bensin eceran terdekat. Dan mau balik pulang saja.
Dalam perjalanan pulang, masih sambil menuntun motornya, tiba-tiba mata Paijo terbelalak. Ia melihat sesuatu pemandangan yang biadab al bedebah, pemandangan yang sangat menyakitkan: sebuah motor yang nggak asing melintas manis melewatinya yang tengah berjalan bodoh menuntun motornya. Ia melihat Juminten di bonceng mesra oleh seorang pria, dan pria itu adalah si Slamet (bayangkan adegannya slow motion sambil diiringi lagu "Dalan Liyane" nya Happy Asmara).
"Tego tenan sliramu, Dik," Paijo melenguh kecil, "Slamet, kamu konco a*u tenan!"
Paijo menuntun motornya sambil mengelus dada, menahan perih tiada terperi. Hatinya benar-benar telah hancur lebur, remuk sak walang-walang.
TAMAT.