Malam ini sebenarnya cuaca cukup cerah. Di atas sana bintang gemintang bertaburan dengan begitu indahnya. Hanya sedikit awan tipis yang menyelimuti sang rembulan sabit, membuat cahayanya seperti malu-malu membidik bumi.
Malam yang sempurna untuk berbahagia. Bersyukur kepada Tuhan atas segala karunia-Nya. Malam yang indah dan menawan.
Namun, malam yang indah ini terasa lain bagi Kang Sadad. Baginya malam ini justru terasa sangat panas dan menyesakkan dada. Begitu menyakitkan.
Sudah hampir dua tahun ini Kang Sadad menganggur akibat di PHK dari tempat kerjanya sebab imbas pandemi sejak dua tahun belakangan. Kini kerjaannya hanya lontang lantung tak jelas seperti orang bingung. Uang dapurnya sudah ludes tak tersisa. Rumah yang dikontraknya yang sudah nunggak lima bulan harus segera dibayarkan paling lambat esok lusa. Belum lagi biaya sekolah dua anaknya yang juga sudah nunggak berkali-kali juga harus segera dilunasi. Istrinya, Yu Marsun juga selalu uring-uringan. Mau hutang rasanya sudah tidak punya muka. Hutang sudah tersebar dimana-mana. Rasanya seperti mau pecah kepalanya malam ini. Semuanya terasa gelap, buntu dan pengap.
Sebenarnya Kang Sadad bukan tidak mau untuk mencari kerja. Ia juga bukan tipe orang yang gengsian. Juga bukan pemalas. Namun, nampaknya dewi fortuna belum memihak kepadanya. Selalu saja lamaran kerjanya yang hanya ijazah madrasah aliyah itu selalu ditolak. Atau disuruh nunggu. Entah nunggu sampai kapan. Tidak ada kepastian. Juga karena pandemi pekerjaan semakin sulit di dapatkan bahkan hanya sebagai buruh rendahan saja. Sejak ia di PHK dari pabrik kayu tempat ia bekerja, untuk mencukupi kebutuhan ia hanya bekerja serabutan saja. Tapi kian hari rasanya kian susah saja, dan kalau sudah begitu putus asanya semakin menumpuk-numpuk. Semakin hari gairah hidupnya menjadi semakin terpuruk. Ia seperti dilemparkan jauh ke dalam kepedihan yang sangat memilukan.
Kalau hanya dirinya sendiri yang harus menanggung kesempitan dan kesusahan. Ia rela, sungguh! Namun, ketika harus melihat istri dan kedua anaknya ikut merasakan, ia sungguh tidak tega. Bagaimanapun ia adalah kepala keluarga.
Dan malam ini adalah puncak dari rasa frustasinya yang selama ini terus dipendamnya. Istrinya yang juga ngomel terus lama-lama juga bisa habis kesabarannya. Namun, ia masih bagus untuk tidak bermain tangan. Ia sadar, dirinya juga lah yang bersalah sebab memang mencari nafkah sudah tugasnya. Kalau sudah begitu ia hanya diam membisu lalu pergi.
Seperti malam ini. Ia ingin pergi dari rumah. Entah kemana asal tidak berada di rumah yang semakin hari semakin panas saja rasanya. Jauh dari kata Baitii Jannatii: rumahku adalah surgaku. Yang dirasakan saat ini adalah baiti j*han*m! Sungguh begitu panas dan menyakitkan.
Ia melangkah keluar rumah dengan langkah gontai. Tatapan matanya kosong bagai tak bernyawa. Gairah hidup dan dan rasa optimis masa depan sudah digondol setan entah kemana. Semua ia maki-maki dan umpat. Bahkan Tuhan pun berani ia maki-maki.
Sempat terlintas ingin ia akhiri saja hidup tiada berarti ini. Buat apa hidup jika harus menanggung kepedihan yang tiada terperi. Namun, bukankah itu adalah pilihan orang yang lemah akan iman? Pilihan orang yang kalah dengan kehidupan? Pilihan para pengecut dan pecundang? Begitu kata nuraninya. Tapi langsung ia bantah sendiri. Persetan dengan iman! Kalau Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kemana saja Ia selama ini! Hati Kang Sadad sudah gelap. Benar-benar gelap. Bahkan mungkin lebih gelap dari kegelapan itu sendiri. Jiwanya terus bergejolak riuh bagai ombak samudra. Batinnya semakin sesak, seperti dihimpit gunung yang berat. Seperti tiada lagi ruang lega hanya sekedar untuk menghela nafas.
Sebenarnya Kang Sadad sewaktu masih membujang adalah seorang pemuda yang cukup cerdas dan religius. Ia sempat mencicipi pendidikan di dunia pesantren meski tidak tamat sampai akhir. Juga ia seorang yang jago pencak silat dan seni kaligrafi. Tapi entah kenapa, ilmu yang didapatnya selama mondok bertahun-tahun itu sedikitpun tak mampu mempertahankan kuda-kuda batinnya untuk bertahan dalam desakan kerasnya kehidupan. Kemiskinan dan kesusahan seperti menelan bulat-bulat semua yang ia miliki dan tak menyisakan apa-apa lagi selain keterpurukan yang mendalam. Benar-benar menyedihkan!
Setelah sepenanakan nasi Kang Sadad berjalan. Sampailah jua ia di pinggiran jembatan jalan raya. Suasana riuh lalu lalang kendaraan dan orang-orang berjalan sama sekali tak di gubrisnya. Bahkan tak sedikit pun mampu menghiburnya. Malah bisa menambah sesak dadanya saja, jika yang terlihat di depan matanya adalah orang yang mempertontonkan kebahagiaannya, kemesraannya dan keceriaannya. Umpatan dalam hatinya bertambah-tambah seperti rentetan peluru lepas kendali yang ditembakkan seorang sniper gila.
Ia sandarkan tubuh kurusnya di tiang jembatan, di pinggiran jalan raya. Ia sulut sebatang rokok. Lalu Ia hisap dalam-dalam. Matanya menatap ke atas langit sana. Angannya menerawang jauh menjamah cakrawala. Berharap masih terselip untuknya secuil harapan meski hanya untuk sekedar menemaninya bermimpi.
Lama ia termenung dalam kebisuan malam. Dinginnya angin malam yang menyapu tubuhnya tak sedikitpun dihiraukannya. Dadanya bergemuruh hebat, sejuta rasa saling bertabrakan satu dengan yang lainnya. Lidahnya kelu, tiada gairah selain membisu. Sampai tiba-tiba suara serak parau terdengar di telinganya,
"Oe ... oe ... ahi-hi-hi ...."
Kang Sadad acuh tak acuh untuk menoleh. Dan, weladalah! Jabang bayi! Sial dangkalan! Setan alas! Orang gila rupanya. Majnun!
Kang Sadad kaget bukan main, lantas beringsut mundur seperti ketakutan. Terlihat dari pupil matanya yang membesar dan ekspresi wajahnya yang mendadak pucat. Kalau yang datang adalah jin ifrit di oplos dengan demit pelayangan mungkin ia tidak akan takut. Bahkan kalau ada preman sekawak apapun kalau sampai mengganggunya, ia tak akan sampai mundur, bakal ia lawan sampai tetes darah penghabisan. Dengan keadaan begini adalah waktu yang sangat tepat untuk memainkan jurus-jurus andalannya. Sudah lama juga tidak 'berolahraga'. Tapi ini sesuatu yang lain. Sebuah fobia dari kecil.
Majnun itu kembali bersuara dan terus cekikikan. Kedua jarinya digerak-gerakan di depan bibirnya yang hitam berbungkus kumis lebat tidak karuan. Kang Sadad tahu, ia minta rokok. Dengan secepat kilat, ia merogoh saku bajunya, mengambil sebatang rokok dan buru-buru ia sodorkan agar segera minggat makhluk mengerikan di depannya.
"Hoe ... api, api ... ahi-hi-hi ...."
Kang Sadad buru-buru memberikan koreknya.
Majnun itu menghisap rokok dalam-dalam sembari tak berhenti cekikikkan. Asap disemburkan ke udara sembari mangap-mangap sehingga deretan gigi-gigi yang warna dan bentuknya absurd itu menjadi terlihat sangat jelas. Lalu ia pun pergi, dan masih terus tertawa dan berjoget ria sepanjang jalan. Cuek saja dengan orang-orang disekitarnya.
Dipandanginya majnun itu oleh Kang Sadad cukup lama, sampai ia menghilang di ujung belokan jalan. Lalu Kang Sadad merenung. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Dan tiba-tiba suara tawa Kang Sadad pecah di langit. Menggelegar di udara. Ada apa gerangan dengan kang Sadad? Apakah mendadak ikut jadi gila?
"Ha-ha-ha! Aku yang mengaku waras ini ternyata jauh lebih gila daripada si majnun itu. Aku yang masih punya istri dan anak-anak nyatanya selama ini tidak aku syukuri keberadaannya. Jika dibandingkan dengan si majnun itu tentu keadaan diriku ini jauh lebih baik. Ia yang tak punya siapa-siapa. Tempat tinggal tidak jelas dimana, kerjaan juga nggak punya, tapi selalu saja bisa tersenyum bahkan tertawa lepas. Begitu bahagianya dia. Ha-ha-ha! Aku memang tolol, goblok, pekok! Ha-ha-ha ..." Kang Sadad meracau tidak karuan.
Dan, entah kenapa. Mendadak hati dan pikiran yang gelap itu seketika berubah menjadi lega. Seperti ada kekuatan misterius yang dahsyat menyadarkan dirinya. Memberikan siraman cahaya kepada jiwanya yang selama ini gersang, tandus, dan kering kerontang. Sumbatan demi sumbatan yang menyumpal di batinnya seperti luruh satu persatu. Rasanya tak tergambarkan dengan kata-kata. Plong! Bebas! Lepas! Merdeka!
Semangat hidupnya kini perlahan bangkit kembali dari kematiannya. Cita-cita dan optimisme masa depan pun menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Kang Sadad lalu bergegas melangkah pulang kerumah. Dengan membawa semangat dan jiwa yang baru. Untuk menyulam kembali cinta dan kebersamaan yang tlah lama robek oleh kerasnya arus kehidupan. Untuk memungut kembali serpihan mimpi-mimpi yang selama ini tercecer di jalan-jalan sejarah kehidupannya yang selama ini luput dari perhatian dan pengertiannya. Ia melangkah mantab dengan senyum dan keyakinan yang terus menetap.
Oh, Tuhan. Engkau memang misterius. Pencerahan dari-Mu terkadang tidak datang dari para pemuka agama atau dari para bijak bestari. Namun, justru datang dari orang yang tidak biasa. Siapa saja.
Ah, memang Engkau Maha Semau Sendiri. Semuanya terserah Engkau saja, Tuhan. Maunya bagaimana.
***
TAMAT