Bias lampu taman membidikkan sinar lembutnya kepada wajah ayu yang berada tepat di depanku. Angin bertiup mesra membelai-belai rambutnya yang kuning keemasan terkena sorot lampu taman. Sehingga keanggunannya nyaris sempurna. Pesonanya malam ini begitu memukauku untuk larut dan terlena dalam buaian asmara.
"Mas, maafkan aku. Dulu aku pernah menyia-nyiakanmu. Aku menyesal, Mas. Sungguh!" ucapnya sambil menatapku lekat. Oh, mata itu pernah membuatku tergila-gila.
"Aku sudah memaafkanmu, Lia. Itu sudah menjadi masa lalu kita. Dan sekarang kita sudah menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Kau telah bersuami dan aku telah beristri," ucapku berusaha tegar.
"Tapi, Mas. Aku benar-benar menyesal. Ternyata orang yang kupilih menjadi pendamping hidupku telah menghianatiku. Sakit, Mas .... " tiba-tiba saja tanpa kuduga, Lia menghambur ke dalam pelukkanku. Aku gugup, jantungku berdetak hebat. Aku tetap saja tidak bisa membohongi perasaanku bahwa mungkin masih ada sisa cintaku kepadanya. Cinta masa lalu yang teramat dalam. Dalam sekali.
"Aku mau menjadi yang ke dua, Mas. Asalkan Mas mau menerimaku lagi. Maafkan aku yang dulu pernah menghianati kesetiaanmu demi lelaki lain yang lebih mapan darimu, aku kira materi akan bisa membahagiakanku. Ternyata aku salah. Kini aku ingin kamu kembali, Mas," desisnya dengan mata berkaca-kaca. Terlihat butiran halus jatuh dari pelupuk matanya yang indah secara ritmis.
Bukankah ini sangat egois? Dulu ia mencampakkanku bagai sampah. Dan sekarang ingin kembali lagi? Tidak! Ini tidak boleh terjadi. Aku punya harga diri! Dan aku pun telah beristri!
"Maafkan aku, Lia. Aku sangat mencintai istriku dan telah berjanji tidak akan pernah menghianati kesetiaannya." Aku mengucap dengan nada bergetar. Mencoba berkata bijak meski dada terasa sesak.
Lia menatapku lekat. Cengkeraman tangannya di punggungku malah terasa semakin erat. Jantungku semakin tak karuan, aku berusaha melepaskan tangannya, tapi terlalu erat.
"Mas ... jangan pernah membohongi hatimu sendiri, Mas. Mas Irfan masih cinta kan dengan Lia?"
"Benar! Tapi itu dulu," aku tergagap menjawabnya.
Lalu wajah ayunya malah semakin mendekati wajahku. Sebagai lelaki yang normal aku merasa lemah. Benar-benar lemah. Pesona penggodanya begitu dahsyat luar biasa untuk sekadar meruntuhkan imanku sampai hancur berkeping-keping tak tersisa.
Saat adegan penuh sarat mulai memanas, tiba-tiba ....
"Mas Irfan! Tega sekali kamu Mas! Kamu jahat!"
Aku menoleh. Dan- ASTAGA! Minar! Istriku ... Oh, Tuhan ....
Minar berlari sekuat tenaga sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Aku menghempaskan tangan Lia yang melingkar erat di leherku. Kuhentakkan dengan keras, dan segera aku bergegas mengejar istriku, Minar.
Kususul Minar dengan berlari sekuat tenaga agar bisa mentusulnya. Namun, larinya terlalu kencang. Sampai kemudian tiba di pinggiran jalan raya, kutoleh kesana kemari, kudapati ia, lalu kukejar lagi. Dan, tiba-tiba ....
CITTT! BRAKKK!
Sebuah sedan hitam metalic menghempaskannya ke udara. Tubuh mungilnya jatuh terguling-guling di aspal dan tubuhnya kini berlumuran penuh darah.
"Tidak! Oh, Tuhan! Minar! Minar! Sayang!" Aku menghambur kearahmya sembari berteriak dengan sekuat tenaga yang kupunya. Aku meguncang-guncangkan tubuhnya yang berlumuran darah itu. Aku benar-benar tidak ingin kehilangan dia.
"Minar! Minar! Sadar, Minar! Minar! Maafkan aku, Minar! Tolong jangan tinggalkan aku!"
***
"Mas ... Mas Irfan ... bangun, Mas!"
Seseorang tengah menguncang-guncangkan tubuhku. Perlahan aku membuka mata. Dan ... Minar? Ya Tuhan! benarkah ini dia? Dia ada di hadapanku. Bukankah? Bukankah dia? Dan wajahnya kini putih bersih dan ayu tak berlumuran darah.
"Mas Irfan mimpi apa, sih? Ko sampai teriak-teriak begitu?" tanyanya dengan nada lembut. Hanya matanya yang bulat itu sedikit terlihat menyipit pertanda tengah menyelidikku.
Aku mengucek-ucek mata sebentar, memastikan apa yang sebenarnya tengah terjadi. Dan benar! Ini hanyalah mimpi. Ah, syukurlah, Ya Tuhan ... syukurlah ....aku mengebuskan napas lega.
"Eng ... Mas ... Ah, tidak mimpi apa-apa ko, sayang. Ya sudah tidur lagi, yuk, masih larut malam." Aku menjawab dengan kikuk. Tidak mungkin aku menceritakan mimpiku yang sebenarnya.
"Benar? Tidak ada apa-apa, Mas? Kok sampai teriak-teriak begitu?" kejar Minar masih terus menyipitkan matanya seakan ingin menembus pikiranku.
"Beneran kok, sayang ..." Kuraih tangannya yang putih bersih itu. Lalu kukecup lembut.
"Ya sudah, lain kali kalau mau tidur berdoa dulu, Mas. Biar nggak mimpi buruk lagi. He-he," lirihnya sembari tersenyum manis, manis sekali. Lesung pipitnya itu makin membuat senyum itu menjelma menjadi keindahan yang kemudian menenangkan hatiku.
"Iya, sayang," sahutku dengan lembut sambil beralih mengecup keningnya yang putih bersih.
Dalam hati aku berjanji. Dalam mimpi atau dalam kenyataan aku tak akan pernah menghianati kesetiaan cintanya, dan tak akan pernah melukai perasaan Minar. Sampai maut yang nanti memisahkan kita. Aku peluk dia semakin erat seakan tak mau kehilanganya untuk selamanya.
"I love you, sayang," bisikku lembut.
Minar kembali tersenyum manis.
***
TAMAT