Seekor anak belentung tengah terjebak di dalam sebuah kelapa yang berlubang, bekas digerogoti bajing. Kelapa itu teronggok begitu menyedihkan di sebuah comberan yang airnya menggenang keruh.
Berbulan-bulan belentung itu hidup di dalam batok kelapa sialan itu. Entah bagaimana, setiap hari selalu saja belentung itu bisa makan. Sampai kemudian ia tumbuh menjadi dewasa.
Setiap sehabis hujan, insting hewani paling mendasar sebagai seekor belentung tidak dapat dibendungnya.
Ya, ia harus bersuara! Tidak ada yang mengajarinya olah vokal --do-re-mi-fa-so-la-si-do-- atau bagaimana bunyi nadanya, pakai cengkok apa tidak, berapa cepat temponya. Pokoknya ia hanya ingin bersuara. Insting fitrahnya sebagai seekor belentung lah yang menuntunnya. Sebagaimana bayi manusia, siapa yang mengajarkannya pertama kali menangis? Seperti itulah kira-kira.
Thung! Thung! Thung! Thung!
Karena ia seekor belentung, ia harus bersuara. Itu sudah menjadi takdirnya.
Berbulan-bulan Sang Kaloula Baleata alias belentung itu bernyanyi solo di atas panggungnya sendiri. Terkadang ia seperti mendengar suara-suara mirip dirinya dan suara-suara yang aneh yang lain, tetapi dasar belentung, persetan dengan suara itu! Ia tidak menganggapnya ada karena baginya dunianya ya hanya batok kelapa yang mengurungnya itu. Tidak ada yang lain.
Setiap saat ia selalu kagum dan terpesona akan suaranya yang merdu setiap kali olah suara. Suaranya terdengar menggema dan memantul-mantul dengan berwibawa.
"Sepertinya tidak ada makhluk yang lebih pandai bersuara dari pada aku. Ha-ha-ha ...." Ia terbahak-bahak dalam kesunyiannya.
Sampai suatu ketika, sang takdir mengoyak kekerdilannya. Kenyataan mencabik-cabik keangkuhannya dan menyisakan kepedihan yang tiada terperi. Suatu senja, langit mendadak menghitam. Petir menggelegar dan angin bertiup begitu dahsyat menghempas apa saja yang dilaluinya --juga-- dunianya sang belentung: batok kelapa!
Batok kelapa itu terguling-guling dan akhirnya ia terlepas bebas dari batok kelapa yang selama ini mengurungnya.
"Oh, tidak!" Belentung itu memekik tertahan. "Dimana ini!"
Kini, dilihatnya dunia yang baru, dunia yang begitu luas, suara-suara yang begitu heboh dan dahsyat. Dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya.
Lalu hujan turun lagi, dengan begitu derasnya.
Tentu insting fitrahnya membuat ia ingin bersuara, tetapi kini lidahnya kelu, suaranya bisu. Hanya bisa berdiam bodoh dengan napas yang tersengal-sengal.
TAMAT.