Liu menunduk untuk kesekian kali. Cincin itu telah tersemat di jari manisnya. Dia bahagia, akhirnya ia memiliki itu.
Sebelumnya, dia tidak memiliki keberanian untuk membayangkan bahwa Malik akan menjadi pasangan hidupnya. Pria itu terlalu baik, dia pantas mendapatkan wanita lain di sisinya. Bukan dia.
Puluhan pasang mata, keluarga besar dan sahabat, memandang pasangan itu dengan kebahagiaan dan haru. Sebagian dari mereka tahu kisah cinta keduanya. Perjalanan penuh duri dari awal hingga akhirnya bersatu di pelaminan.
" Berjanjilah bersamaku hingga tua." Bisik Malik di telinganya, " Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Jangan ada keraguan di hatimu. Berjanjilah."
" Aku,..." Malik telah membungkam bibir Liu dengan ciuman penuh bara, mencegah kata 'tidak' keluar dari bibir pujaan hatinya.
" Hei! Hormati yang lebih tua! Ada sesepuh di sini!" Teriakan demi teriakan riuh di sekeliling dua sejoli mengusik keintiman mereka. Malik mendesis.
" Cintamu membuatku takut." Kata Liu lirih, ketika bibir mereka berpisah.
" Tidak ada yang perlu kau takutkan dengan aku di sisimu. Kau harus percaya aku. Kau harus percaya cinta kita ini."
Kristal bening jatuh dari sudut mata Liu. Keyakinan Malik begitu kuat akan kehidupan mereka. Tapi, itu tak mampu menularinya.
Hatinya takut, benar- benar takut.
***
Mereka menikmati madu cinta setiap hari. Bukan lagi kata bahkan perbuatan intim mereka, tapi hati mereka mulai terjalin satu sama lain.
Malik menyadari, hidupnya sempurna bersama Liu. Dan sebaliknya, Liu merasa lengkap bersama Malik.
" Sayang, aku positif." Sukacita itu jawaban atas sekian doa mereka kepada Sang Pencipta. Buah cinta mereka telah mendapat restuNya.
Malik dan Liu berbagi kebahagiaan kepada keluarga dan teman- teman dekat mereka.
Aku takut, bertambah takut,...
***
" Anda tidak bisa melahirkan anak ini." Dokter memberikan ultimatum dengan tegas. Matanya tahu perasaan yang berkecamuk di hati Liu, tapi ia harus mengatakannya," Kesehatanmu tidak mengizinkanmu untuk melahirkan bayi. Ini demi kebaikanmu sendiri, Liu."
" Tapi, kami menginginkannya, Dok." Liu menolak kebenaran itu dan memiliki banyak harapan di hatinya. " Hanya itu yang bisa aku berikan untuk suamiku, sebelum,..."
" Liu, aku memahami perasaanmu. Tapi, kau juga harus melihat situasinya. Apa artinya memiliki bayi jika itu akan membahayakan dirimu."
Aku semakin takut.
Bahkan, tanpa bayi ini aku pun akan pergi,...
***
Bocah berusia tiga tahun itu berlari memeluk Liu, membenamkan wajah bulatnya di dada sang ibu.
Namanya Kalingga Anom. Panggil dia Anom.
Liu dan puteranya, Anom, menatap cakrawala senja yang terbentang di depan. Pemandangan ini menjadi favorit keduanya sejak kelahiran Anom tiga tahun yang lalu.
Menjadi kuat, hanya itu yang dibutuhkan orang- orang berani tanpa harapan akan kehidupan. Memiliki seseorang yang kau cintai dan mencintaimu kembali membuka batas bayangan ketakutanmu sendiri.
Ketakutanmu bukanlah kematian, tapi hidup tanpa harapan,...
Liu mengandeng tangan Anom, melangkah mendekati pusara di tengah Padang rerumputan. Menatap penuh kasih nisan batu di sana.
" Papa, kami pulang dulu. Kami akan kembali minggu besok dengan bunga yang lebih harum."
Liu tersenyum, " Sayang, aku mencintaimu."
Sosok itu mengawasi kepergian orang- orang tercintanya pergi. Dia tersenyum,
" Aku juga mencintaimu, Liu."
***
9/8/2001
By: KalinggaAnom