"Tidak... aku tidak akan menikahi Naila dan menduakan Zahra meski dia di takdir kan mandul..." Ujar Faiz meradang setelah untuk yang kesekian kalinya ia di paksa menikahi Naila oleh ayahnya.
"Kalau ayah merasa Naila adalah wanita yang baik baik mengapa bukan ayah saja yang menikahinya... mengapa harus Faiz...?"
"Faiz jaga mulutmu... kamu sedang berbicara pada ayahmu..."
"Oh... iya Faiz lupa,bukan kah dulu ayah melarang Faiz menikahi Sekar hanya karna dia terlahir dari orang orang yang tidak paham agama, ayahnya tidak shalat dan tidak bisa ngaji...? Lalu mengapa kini Ayah menyuruh Faiz untuk menikahi wanita yang tidak di ketahui asal-usulnya dan entah bagaimana bisa punya anak tapi belum punya suami.....sekarang juga entah sedang hamil anaknya siapa. tidak bisa ngaji dan bahkan hobi keluar masuk Bar...?"
Plak.
Satu tamparan mendarat dipipi Faiz.
"Kamu berubah Faiz...."
"Ayah yang berubah setelah menikahi lagi....bukan aku.!" Seru Faiz
Faiz tersenyum sinis.
"Bahkan ayah menampar Faiz demi anak wanita itu... wanita yang telah membuat Ummi meninggal dan Bunda pergi dari sisi Faiz... "
Faiz berlalu dari hadapan Ayahnya.
Namun langkahnya terhenti saat ayahnya bersuara.
"Jika ayah memintamu menikahi Sekar apakah kamu mau...?"
Tubuh Faiz menegang wajahnya memerah karna kemarahan yang memuncak.
"Apakah Ayah pikir Sekar mau dimadu...?, kalaupun mau aku tidak akan pernah menduakannya. karna aku tidak akan bisa berbagi cinta dan kasih sayang dalam hati dan kehidupanku , cukup aku mencintainya dalam diam..." Ucap Faiz lirih.
"Kalau begitu ceraikan wanita mandul itu...dan nikahilah wanita yang kau cintai..."
"Ternyata ayah benar benar telah berubah.... " ujar Faiz kecewa dan raut wajahnya berubah total.
"Bukankah Zahra wanita pilihan ayah untukku dulu...?" Imbuh Faiz.
"Mengapa kau tidak poli....?"
"Cukup ayah... Faiz bukan ayah, yang mau menyakiti wanita yang begitu tulus mencintai ayah dengan menduakannya. Faiz bukan ayah yang rela menikah untuk ketiga kalinya namun kehilangan dua wanita yang berpuluh puluh tahun menemani ayah hanya demi wanita yang ayah cintai... Faiz tidak mau peristiwa Ummi dan Bunda terulang kedua kali." Ucap Faiz tegas.
"Tapi ayah salah memilih jika aku tau dia mandul tidak mungkin ayah menjodohkannya denganmu..."
"Terlambat ayah, Faiz sudah terlanjur berjanji padanya untuk tidak menceraikan atau menduakannya... dan jangan pernah lagi menyuruh Faiz cerai dengan Zahra ataupun poligami..."
"Bukankah kamu tidak mencintainya Faiz..?"
"Faiz memang tidak mencintai Zahra ayah. Tetapi Faiz menyayangi dan mengasihinya. dan Faiz juga menghargai serta menghormatinya sebagai seorang wanita. Karna dulu Faiz terlahir dari rahim seorang wanita jadi Faiz tidak ingin menyakitinya... ataupun melanggar janji Faiz padanya..."
Ucap Faiz sambil berlalu dari rumah orang tuanya.
Tanpa di sadarinya ada wanita yang mendengar ucapannya menahan isak tangisnya.
Ternyata benar kata mertuanya, suaminya tidak pernah mencintainya.
Zahratul jannah menahan isak tangisnya, tangannya memegang dadanya yang sesak.
Saat Ayah mertuanya datang menghampiri Zahra secepatnya mengusap air matanya.
"Kamu sudah tau kan cinta Faiz bukan untukmu. Dia tidak mau menceraikanmu karna dia sudah terlanjur berjanji padamu bukan karna dia mencintaimu seperti yang kau katakan padaku... Sekarang kau harus memenuhi janji mu yaitu pergi dari kehidupan Faiz. Agar Faiz mau menikah lagi dan mendapatkan keturunan... Karna jika Faiz tidak punya anak maka aset keluarga Dirgantara akan jatuh ke pantai asuhan. Kamu tau bukan Faiz adalah satu satunya pewaris keluarga Dirgantara ? karna hanya Faiz cucu satu-satunya keluarga Dirgantara..."
Zahra mencoba menatap mertuanya.
"Saya akan penuhi permintaan ayah,Namun seperti permintaan saya yang ke 3. Saya baru akan meninggalkan Akang Faiz setelah kami pulang umroh bulan depan..."
"Tidak masalah, asalkan setelah itu kau tidak akan muncul dihadapan Faiz lagi."
Zahra mengangguk pelan.
Meski hatinya tercabik-cabik.
Zahra harus bisa dan kuat bertahan berpura-pura tidak terjadi apa apa padanya.
Zahra pov
Satu bulan berlalu...
Zahra telah bersiap siap pergi dari kehidupan Faiz
rela ataupun tidak ia harus rela.
Ditatapnya rumah yang selama ini banyak memberikan kenangan indah dalam hidupnya.
Faiz benar benar menyayanginya. Tak pernah sedikitpun dia marah ataupun menyakitinya.
Faiz adalah sosok suami idaman.Siapa pun akan bahagia hidup bersamanya apalagi jika mendapatkan cintanya.
Zahra tersenyum miris saat mobil mertuanya sudah menjemputnya.
Dengan deraian air mata ia tinggalkan rumah suaminya yang telah 5 Tahun ini hidup bersamanya.
"Aku sudah membuat identitas palsu untukmu... termasuk surat nikah dan surat cerai palsu. karena Aku juga tidak ingin kamu menderita disana. Disana kamu bisa mencari pekerjaan yang cocok. ngak usah khawatir aku telah mengisi ATM mu dengan sejumlah uang yang tidak akan habis kau makan selama puluhan tahun kedepan..."
Kata-kata ayah mertua sangat menyakitkan. Namun ku coba untuk bertahan. aku sadar siapalah aku ini yang hanya seorang wanita di vonis mandul...
Aku dikirim ke sebuah kota yang tak mungkin akan diketahui oleh suamiku.
Aku harus menerima kenyataan yang pahit saat melihat identitas yang kini harus aku sandang.
Wanita yang sangat dibenci oleh suamiku karna pernah berusaha membunuhku.
Nurmiati.
Entah mengapa ayah mertuaku menganti identitasku. Mungkin agar suamiku tidak akan pernah mengetahui keberadaanku.
Setelah sampai disebuah kampung. Aku merasakan badanku serasa remuk. ku baring tubuhku di rumah minimalis yang ternyata sudah atas nama Nurmiati.
Kuusap peluh yang membanjiri wajahku.
"Mbak Zahra saya pamit dulu,maafkan saya tidak bisa menjaga mbak lagi, jaga diri baik-baik" Kata Mang Ujang.
"Tidak apa apa Mang... kembalilah dan tolong kabari saya jika terjadi sesuatu pada suami saya..."
"Insyaa Allah..."
Mang Ujang berlalu.
"Tunggu Mang"
Zahra menyerah ATM yang kemarin diberi oleh mertuanya.
"Mang terimalah ini,Mamang bisa memakainya. saya tidak membutuhkannya...."
"Tidak mbak,saya tidak berani. jika memang mbak ngak mau memakainya mengapa tidak Mbak kembalikan kepada pemiliknya. satu lagi Mbak... segera tinggalkan tempat ini dan pergilah sejauh mungkin. Ini saya bawakan identitas asli mbak berserta akta nikah asli mbak dan mas Faiz..."
"Memangnya ada apa Mang...?"
"Saya tidak bisa menjelaskannya. yang terpenting jika Mbak Zahra ingin selamat cepat pergi sejauh mungkin dan tinggalkan ATM itu... dikamar yang telah mbak tempati saat ini... semoga Allah senantiasa melindungi Mbak Zahra. Hanya satu jika suatu saat Mbak Zahra melihat mas Faiz bersama wanita lain. jangan kaget karena sepertinya bos besar akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuat Mas Faiz lupa pada Mbak Zahra atau mungkin akan membuat membuat seseorang yang seperti mbak Zahra..."
Zahra terdiam kemudian mengangguk pelan.
Meski hatinya bagaikan disayat sembilu. Setelah Mang Ujang berlalu Zahra dengan berbekal tawakal Ia pun meninggalkan rumah tersebut. Sesuai pesan Mang Ujang ATM nya dia tinggal karena Zahra tidak pernah mau menukar cintanya dengan harta.
Setelah setengah hari berjalan kaki tanpa tujuan Zahra yang memang tidak makan dari kemarin merasakan badannya lemah dan gemeteran pandangannya mulai kabur hingga kegelapan menyapanya.
Saat terbangun dia berada disebuah gubuk kecil.
Zahra berusaha mengingat apa yang dia alami dan berada dimana dia.
hingga dia dikagetkan oleh suara pintu berderit.
"Alhamdulillah akhirnya engkau sadar nak...?"
Zahra menatap perempuan didepannya.
"Dimana saya...?"
"Kamu berada dirumah kami,kamu kami temukan dalam keadaan pingsan dipinggiran hutan sebrang. Kamu dari mana atau mau kemana...?"
"Saya tidak tau mau kemana Nek...?"
"Baiklah kamu untuk sementara bisa tinggal disini sampai kondisimu pulih... Ingat ada janin yang harus kamu jaga."
"Janin...?"
"Lha kamu ngak tau kalau kamu hamil...? aneh... Lalu kemana Faiz... Zahra?"
"Nenek tau nama saya dari siapa...?"
"Ya dari identitas di tasmu tho... Tapi yang membacanya cucu laki-lakiku... Imran. Oh iya kenalkan nama nenek Sarah...."
"Terima kasih banyak Nek,sudah sudi menolongku...? Tapi apakah benar saya hamil... sedangkan dulu dokter menvonis saya mandul...?"
"Kamu benar hamil Zahra, bukankah tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah...?"
Zahra berlahan mengusap perutnya yang masih rata. air matanya mengalir deras... antara senang ,sedih dan bahagia bercampur menjadi satu.
5 Tahun berlalu.
Ada dua anak yang sedang berlarian dilorong rumah sakit, karena kurang hati hati mereka menabrak seorang Ibu ibu yang sedang berdiri.
"Dasar anak tidak tau diri...!" teriaknya membuat laki laki yang disebelahnya terhenyak dan menoleh.
Deg...
Laki laki itu menatap tajam kearah kedua anak itu. membuat mereka mengkerut karena takut.
"Abdullah dan Abdillah bukankah Ummah sudah katakan jangan lari lari..." Kata seorang wanita berbalut gamis dan secarik nikop lusuh menutupi wajahnya.
"Haai... Kalau punya anak itu diawasi untung aku ngak jatuh. kalau jatuh dan anak di dalam perutku kenapa-kenapa bagaimana... aku yakin kamu ngak akan bisa membayarnya..."
"Maafkan anak saya...."
"Sudahlah Zahra jangan dibesar besarkan. mereka masih anak anak...."
"Tapi mas ini anak yang kita nanti nantikan sejak 5 tahun ..."
"Cukup Zahra...!Aku tidak mau dengar lagi kamu bicara yang tidak-tidak, sekarang kita pulang..."
Wanita bercadar itu terpaku melihat lelaki yang menyeret wanita bernama Zahra itu.
Badannya bergetar air matanya deras mengalir.
"Zahra ada apa...?"
Zahra segera mengusap air matanya.
"Tidak ada apa apa mas... Ayo kita segera keruangannya nenek. beliau pasti menunggu kita."
"Abdullah Ummah gendong ya... Abdillah biar Abah Imran yang mengendong agar kita cepat sampai keruangan Nenek Buyut...". Kata Imran kedua bocah kembar itu mengangguk.
Faiz Pov...
Sejak bertemu dua bocah kembar Faiz merasa tidak tenang.
wajah mereka sangat mirip dengannya.
Kring
Kring
"Hallo bagaimana hasil penyelidikannya. apakah terbukti kalau dia itu bukan Zahra istriku....?"
"Belum ada bukti akurat yang bisa menentukan apakah dia Zahra asli atau palsu, apalagi dengan menghilangnya Mang Ujang tanpa jejak...."
"Tapi aku yakin dia bukan Zahra istri ku, Fauzan."
''Aku tau,tapi hanya kamu yang mengetahui Zahra asli dengan mengenali tanda ditubuhnya ,sedangkan yang lainnya tidak ada yang mengetahui jika Zahra punya tanda tersebut. kecuali kita bisa menemukan Zahra yang asli... sementara keberadaan Zahra terakhir kali yang mengetahui adalah Mang Ujang..."
"Sebagai detektif sudah lima tahun apakah tidak ada petunjuk yang kau dapatkan walaupun hanya sedikit Fauzan...?"
"Maafkan aku Faiz, ayahmu terlalu licik dan pintar untuk di buka kedoknya. Selain itu minimnya Info tentang Zahra juga jadi kendala, kamu juga menikah dengannya lima tahun tidak tau apa apa tentang hidup dan kebiasaannya. yang patut dipertanyakan adalah dirimu Faiz...." Kata Fauzan.
"Aku tadi bertemu dua bocah kembar sekitar 4 tahun. Anehnya wajahnya mirip sekali denganku. Mereka menabrak Zahra saat aku mau menyapa mereka ternyata ibunya datang. Dia mengenakan nikop... tapi entah mengapa aku seperti mengenalnya dan dari tatapan matanya mengingatkanku pada Zahraku."
""Hmmm...Zahraku,tumben kamu mengakui nya."
tawa Fauzan mengema membuat Faiz meradang.
"Aku tidak bercanda Fauzan...."
"Maaf, sensitif sekali seperti orang nyidam saja. ach...aku baru sadar bukankah istrimu sedang hamil...?"
"Fauzan berhenti mengejek. kamu tau kebenarannya, jadi berhenti mengatakan wanita itu istriku..." Teriak Faiz.
Terdengar suara tawa mengejek Fauzan.
"Dan berapa kali ku katakan anak yang di kandungnya bukan anak ku. aku tidak pernah menyentuh nya...."
"Menyentuh nya pun tidak apa apa... "
"Fauzan berhenti bercanda....!" Bentak Faiz
"Aku ingin kamu menyelidiki bocah kembar itu aku bertemu dengannya di rumah sakit Sumber asih... " Kata Faiz sambil menutup teleponnya.
Membuat Fauzan uring uringan.
"Bagaimana aku menyelidiki mereka namanya saja aku ngak tau... dasar teman songgong...apakah aku harus ke rumah sakit Sumber Asih. dengan alasan apa coba...?"
Fauzan berfikir keras sambil mondar-mandir.
Setelah lama berfikir. Fauzan tiba tiba teringat sahabatnya yang dari pedalaman datang karena Neneknya sakit keras.
"Yees...! "
"Aku bisa menjenguk neneknya Imran. sambil berusaha untuk menemukan bocah kembar itu. Imran... Aku tak menyangka kedatanganmu membawa berkah untukku...!" Teriak Fauzan tanpa sadar.
Keesokkan harinya. Fauzan datang menemui Imran. Saat sampai diruangan itu Fauzan dikejutkan dengan dua bocah kembar yang sedang asyik makan nasi kuning.
"Mereka anak-anakmu Imran...?"
"Bukan, mereka adalah anak..."
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumussalam... bagaimana, apa kata dokter Zahra...?"
Zahra tertunduk kemudian tersenyum...
"Insyaa Allah semua baik baik saja Mas.Kita tinggal nunggu nenek sadar" ucapnya pelan.
Fauzan terpaku mendengar suara yang tak asing baginya, ia berbalik menatap si kembar sangat mirip dengan Faiz.
"Apakah mereka anak Faiz Zahra...?"
Zahra kaget dan menoleh ke arah Fauzan.
"Kak... Fauzan..." Zahra mundur saat sadar ada laki-laki lain diruangan tersebut.
"Zahra katakan padaku apakah mereka anaknya...?"
Zahra terdiam sesaat sambil mengeleng.
"Mereka anak kami... "jawab Zahra lirih matanya tertuju pada Imran.
Imran menghela nafas panjang.
"Zahra mau sampai kapan kamu menghindarinya...dan tidak mau jujur pada dirimu sendiri...?"
"Maaf Mas bukankah kemarin kita telah membahasnya...?"
"Iya tapi untuk apa jika dalam agama statusmu masih sah jadi istrinya...? selamanya kita tidak akan bisa menikah. jalan satu satunya adalah menemuinya dan minta diceraikan... jika kamu memang lebih memilih hidup bersamaku. bukankah itu tujuan kita kesini...?"
Zahra terdiam.
Fauzan mencoba mencerna apa yang terjadi. saat dia sadar dia segera mengirim pesan untuk Faiz.
Ternyata tidak lama Faiz sudah ada diruang tersebut. matanya membulat sempurna saat melihat si kembar yang sedang asyik bermain.
Matanya bertemu dengan mata Zahra ada getaran hebat yang dia rasakan.
Zahra terpaku menatap Faiz.
"Faiz..." Hanya kata itu yang terucap dari lisan Zahra.
"Kalian butuh waktu untuk berbicara... pergilah bersamanya Zahra dan selesaikanlah masalah yang telah lama kau hindari." Kata Imran.
Zahra menatap Imran, Imran tersenyum dan mengangguk.
"Bukankah dia masih suamimu... pergilah dan selesaikan masalahmu..."
Zahra mengangguk. kemudian berlalu.
Faiz menatap si kembar.
"Bolehkah aku membawa mereka...?"
"Bisa... tapi tidak untuk sekarang, ada banyak hal yang meski kalian selesaikan." Ucap Imran.
Faiz kemudian menyusul Zahra.
Zahra Pov.
Bertemu Faiz tentu saja aku bahagia. Namun aku sadar , sesadar-sadarnya kini dia telah memiliki wanita lain.
Terasa nyeri di ulu hatiku.
Ku tatap taman rumah sakit.
Saat aku menyadari ada yang duduk disebelahku.
aku tersenyum miris.
"Bagaimana kabarmu,dan mengapa engkau menghilang begitu lama tanpa memberi tau jika kau hamil saat itu.?"
"Apakah aku punya pilihan lain. ku rasa tidak ada. bukankah kau tidak mencintaiku... lalu untuk apa aku bertahan hidup dengan orang yang tidak memiliki rasa cinta.?" Ucapku.
"Lagi pula aku melihatmu bahagia bersamanya, dia sedang hamil anakmu bukan...?" Tanyaku.
"Ach... wanita yang kemarin itu...dia aku tidak tau siapa dia. tapi dia telah menipuku dengan wajahnya yang mirip denganmu, namun aku tau dia bukan kamu."
Aku tersenyum kecut.jika dia tau wanita itu bukan istrinya mengapa dia masih mau menyentuhnya hingga hamil atau mereka telah menikah.
"Aku ingin kita bercerai Faiz... Karna hanya dengan kita bercerai maka aku bisa menikah lagi. tidak sepertimu yang bisa menikah lagi walau kau masih punya istri..." ucapku.
"Tidak... aku tidak akan menceraikanmu Zahra...!"
"Ternyata aku salah menilaimu Faiz... tadinya aku berharap kita dapat bicara baik baik... dan kita bisa berpisah baik baik... karena rumah tangga kita tidak mungkin dipertahankan. Aku juga ingin hidup bahagia bersama dengan pria yang mencintaiku dan menyayangi anak-anakku dengan tulus.Ternyata kamu tidak bisa diajak bicara baik baik... tidak mengapa... aku yang akan mengurus sendiri perceraian kita... " Ucapku.
"Aku yang salah menilaimu... ku kira kau wanita yang setia dan tidak mudah tergoda oleh rayuan laki laki ternyata... kau sama saja...." ucapnya sambil berlalu
"Kamu bahkan tidak mau mendengarkan penjelasanku... Baik lah jika itu keinginanmu. akan aku penuhi permintaanmu Zahra. Namun satu yang perlu kau ketahui aku tak pernah menyentuhnya walaupun hanya sekali. Jika dia hamil dapat ku pastikan itu bukan anakku. Selamat kau telah bisa menghancurkan semua impian yang ku bangun selama ini. Dan Kau berhasil membuat ku kehilangan arah dan tujuan. Selamat semoga kau bahagia... aku menceraikanmu...."
Ucap Faiz berlalu dari hadapanku.
Deg
Air mataku mengalir deras, pertahananku jebol. Aku tergugu saat mendengar dia telah menjatuhkan talak kepadaku.
"Apakah ini keinginan hatiku yang sebenarnya...? Padahal bukan ini yang ku mau..."
Dengan langkah gontai ku tinggalkan Taman rumah sakit, aku tidak tau kemana aku pergi hingga mataku melihat Faiz yang kala itu menyebrang jalan dihantam mobil yang sedang melaju kencang.
"Tidak... !!!"
Aku berlari kearah Faiz. Namun naas mobil lain menghantam tubuhku.
berlahan lahan pandanganku kabur hanya suara klakson dan teriakan-teriakan tak jelas yang kudengar.
Hingga Aku merasakan tubuhku dipeluk seseorang. Aroma tubuhnya masih begitu ku kenali kupaksa membuka mataku.
" Fa...iz..."
"Iya ini aku... kamu harus bertahan demi anak-anak... ku mohon..."
Aku tersenyum.
"Aku ingin menjadi istrimu didunia dan akherat da pat kah kau menga bul kannya..."
Faiz mengangguk.
"Aku men cin tai mu Fa iz... baik du lu a tau se karang " dadaku terasa semakin sesak dan kepalaku semakin terputar ku paksa untuk tetap membuka mataku.
"Kita rujuk, aku janji akan membahagiakanmu dan anak-anak...tapi kamu harus kuat."
Aku mengeleng.
"Faiz A ku ti tip a nak-a nak...aku..." belum selesai ucapanku dadaku terasa semakin sesak,sesak ,sakit dan pandanganku semakin buram hingga kegelapan menyapaku.
Aku sadar dan mendapati diriku berada di ruangan yang tak kenali dan semua gelap tak terlihat sedikitpun cahaya.
apakah aku sudah mati...?
Samar samar ku dengar suara seorang lelaki menangis memanggil-manggil namaku.
Kilatan kecelakaan yang ku alami membuatku merasakan sesak.
"Aku mencintaimu Zahra... cepat sadarlah dari tidur panjangmu... apakah kamu tidak kangen pada Abdullah dan Abdillah....?"
"Mas Faiz... kamu kah itu... mengapa semua terasa gelap meski aku mendengar dan merasakan sentuhan Mas Faiz....?"
"Aku pun mencintaimu Mas...." lanjut bathinku bersuara.
Tamat.