Siang menjelang sore, Kiara berjalan menuju kearah rumahnya. Dia baru saja kuliah di universitas yang jauh dari rumah. Namun dia memiliki biaya yang cukup untuk kuliahnya. Kaki melangkah hingga beberapa meter.
Aku ingin segera pulang batinnya. Dia kemudian berhenti sejenak karena badannya tiba-tiba dingin. Entah kenapa dia tidak enak badan tiba-tiba. "Kenapa aku lemas sekali?"
Brukk Dia jatuh didada seorang pria yang berkumis tipis. Pria itu melihat ke wajah Kiara dengan lekat. Bukankah dia perempuan yang selama ini kucari? batinnya bertanya.
Jack menoleh ke kanan-kiri jalan. Hampir tidak orang yang berjalan kesini. "Dev, apakah mobilnya selesai diperbaiki?"tanyanya kepada supir pribadinya.
Dev mengangguk kepala dan menjawabnya dengan tegas. "Iya tuan. Saya akan mengambilnya lalu membawa kesini. "Dev berlari untuk mencari mobilnya yang selesai diperbaiki.
"Kiara, kemana saja kamu selama ini?"tanya Jack kepada Kiara yang pingsan. Dia merindukan wanitanya yang telah lama dicarinya. Sudah sekitar lima belas tahun tidak menemukan keberadaan Kiara. Akhirnya dia bertemu disaat yang tepat seperti ini.
Dev berhenti tepat disampingnya Jack tuannya. Dia membukakan pintu mobil untuk Kiara serta Jack. Lalu menutup pintu dan melajukan mobilnya.
Dev bahagia melihat Jack yang tersenyum tidak seperti biasanya. Anda sangat bahagia bukan? Saya tahu anda tertekan dengan aturan yang dibuat oleh keluarga anda. Apa benar dia wanita yang selama ini anda cari?batin.
Dev dengan penuh keberanian bertanya tentang Kiara. "Tuan, apakah dia wanita yang anda cari selama ini?". Dia tidak ada maksud terselubung. Hanya saja dia tidak ingin Jack bisa bebas dan bahagia.
Jack melihat Dev melalui kaca spion mobil. "Iya. Aku masih ingat Kiara betul wajahnya. Ah ya, apakah kamu tahu dimana Kiara tinggal?".
"Saya tidak tahu banyak informasi tentang Kiara. Namun saya pernah melihat Kiara dikerjain teman kampusnya. Terus, dia juga disiksa oleh seorang wanita dan pria tua. "
"Dimanakah dia waktu itu?"tanya Jack untuk menggali info lagi.
"Dekat dengan rumah saudara saya. Saya bisa tunjukkan rumah saudara saya tuan." Jelas Dev dengan rinci.
"Bagus." Jack memberi pujian. Siapa yang berani menyiksa wanitaku? Aku tidak segan-segan memberinya hukuman yang pantas untuknya. Aku tidak perduli muda atau tua. Batinnya.
***
Jack sampai di rumah mewahnya. Pagar rumah yang tinggi, ada kolam ikan, rumah besar yang mewah dan berkelas. Jangan lupakan kebun belakang yang luas. Itu semua hasil dari jerit payahnya selama ini.
Gerbang dibukakan oleh satpam yang terlihat agak tua. Lantas, mobil masuk ke dalam rumah sambil memarkirkannya.
Dev membukakan pintu mobil dan Jack keluar sambil menggendong Kiara. Dia kembali menutupnya serta tidak lupa menguncinya. Lalu bergabung dengan satpam yang berjaga.
***
Kiara mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat seorang pria dengan baju hitam polos dengan celana jeans pendek. Dia terbelalak dan mengambil selimut untuk melindunginya.
"Siapa kamu? Apakah kamu berniat untuk menculik ku?"tanya Kiara dengan suara bergetar.
Jack menghela nafas panjang. Dia tahu Kiara tidak mengenalnya dengan begitu baik. Dia lebih baik bicara pelan-pelan dan lembut. "Aku Jack calon suamimu. Aku tidak ada niat untuk menculik mu. Aku hanya merindukan wanitaku yang selama ini kucari. "
Kiara menggeleng kepala tidak mempercayainya. Tidak mungkin dia tidak berniat apa-apa batinnya. "Akh, kepalaku"Kiara mengerang ketika merasakan kepalanya yang sakit.
Jack mengambilkan obat serta air putih. "Minumlah. Aku tidak tega melihatmu sakit seperti ini. "Ujar Jack dengan lembut.
"Ah, tanganku lemas sekali"perlahan tangan Kiara turun. Dia seperti tidak bisa bergerak-gerak. "Aku tidak bisa meminumnya sendiri."katanya dengan jujur.
Jack berdecak sebal dan tersenyum. Dia memakan obat dan mencium bibir Kiara. Hanya itu cara satu-satunya untuk membuat Kiara meminum obat.
Kiara tidak tahu kenapa terbawa suasana. Kenapa aku ingin lagi? Tidak, aku bukan siapa-siapanya. Batin Kiara.
Dengan sekuat tenaga, Kiara menjauhkan wajah Jack darinya. "A-aku tidak pusing lagi. Kam kamu pergilah!!"pintanya.
Jack melepaskan ciumannya dan tersenyum. Dia mengusap puncak rambut Kiara dengan penuh kelembutan. "Baiklah aku pergi. Jika kamu merasa pusing lagi, kamu bisa memanggil pelayan disini. "
Jack menutup pintu dengan perlahan-lahan. Dia baru saja kepikiran untuk mencium wanitanya untuk pertama kalinya. Aku tidak menyangka menciumnya. Oh Tuhan, terimakasih. Dia membatin dalam hati.
***
Seminggu kemudian, Kiara sudah sehat seperti semula. Dia juga mulai terbiasa dengan Jack selama beberapa hari ini. Dia pergi untuk mencari keberadaan Jack sekarang.
"Permisi, dimana tuan Jack sekarang?"tanya Kiara kepada salah satu seorang pelayan wanita.
"Tuan ada kebun belakang. "Jawabnya sambil menunjuk ke belakang..
Kiara mengikuti ucapan pelayan rumah ini. Dia bisa melihat Jack yang sedang menanam sesuatu. Dia mendekat dan ikut berjongkok di samping Jack.
Jack awalnya terkejut namun dia senang. "Apakah kamu sudah sembuh?"
"Su sudah. Aku senang bisa berjalan seperti semula lagi. Apa kamu suka menanam sesuatu?"tanya Kiara dengan suara lucu.
"Tentu saja. Kamu dulu juga sering menanam bunga bersamaku. "Jack ingat Kiara sangat suka dengan bunga melati putih. Masa itu adalah hobi dan kebahagiaannya.
Kiara tidak tahu apa sebenarnya. Hanya saja dia ikut senang hati.
"Kamu suka melati putih kan?"tebak Jack.
Bagaimana dia tahu. "Darimana kamu tahu?"tanya Kiara.
"Sebelum kamu diculik, kamu sering datang ke rumahku dulu. Aku tahu kamu belum mengingat semuanya. Tapi, aku akan menjadikanmu istri dan mendapatkan kehidupan yang layak. "
"Benarkah?"
Jack mengangguk kepala.
"Aku khawatir dengan orang tuaku." Mengingat orang tuanya, membuat Kiara merasa sedih.
"Mereka bukan orang tuamu. Orang tuamu itu ada di negara lain. Mereka yang kamu kira orang tuamu, aslinya orang yang mau memanfaatkan mu saja. Percayalah padaku."
"Apa? Pantas saja mereka selalu menyiksaku. " Mata Kiara berkaca-kaca mengingat siksanya yang diterima.
Jack memeluk Kiara sambil mengusap rambut panjang wanita itu. Dia tidak mau melihat Kiara menangis untuk hal yang tidak penting.
Tangisnya pecah di dada Jack. Dia meninju dada pria tersebut dengan sekuat tenaga. "Ah, aku benci sama kalian!?"
"Sudahlah. Aku sudah mengurus orang jahat itu. " Jack mengusap air mata Kiara dan menatap Kiara dalam.
"Kamu tidak berbohong?"
"Tidaklah. Aku ini suamimu beberapa bulan lagi. "
"Terimakasih. Tapi aku masih kuliah "
"Kamu masih bisa kuliah tapi tutup rahasia ini. "
Kiara tersenyum membuat wajahnya semakin bertambah cantik. Dia bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan untuknya. Ini saatnya dia bahagia dari sekarang.
"Kamu mau tanam apa?"
***