Aku adalah seorang laki-laki berumur 33 tahun. Sebenarnya aku punya usaha sendiri sebagai agen sembako dan saudara-saudara sepupuku yang mengurus usahaku. Sedangkan aku sendiri karena punya kemampuan bela diri, jadi lebih sering bekerja kontrak sebagai bodyguard para pengusaha. Karena dari pekerjaanku itu selalu mendapat upah yang sangat besar. Dan dari hasil kedua usahaku, selain aku bisa mencukupi kebutuhan keluarga aku, aku juga bisa beli rumah dan mobil. Bahkan aku bisa bayar jasa pembantu rumah tangga untuk meringankan pekerjaan isteriku.
Aku sudah menikah dan punya 2 anak(laki dan perempuan). Isteriku sebenarnya nyaris tidak ada cela. Dia cantik, ramah, sopan, dan telaten dalam mengurus urusan rumah. Dan dia juga sangat menghormati orangtuaku, sehingga mereka sangat menyayanginya. Namun untuk memenuhi kebutuhan biologisku, jujur dia sangat kurang. Setiap kali kami mengajaknya berhubungan intim, selalu saja dia menolak dengan alasan lelah. Dan kalaupun dia mau, itu pun dia seolah terpaksa, aku bisa melihat dari ekspresi wajahnya yang seolah tidak pernah menikmatinya. Terkadang aku merasa kalau isteriku tidak benar-benar mencintaiku.
Suatu ketika aku mendapat tawaran kontrak untuk menjadi pengawal putri seorang pengusaha. Karena orangtuanya ada urusan ke luar negeri untuk enam bulan. Tugasku hanya mengawasi aktivitas putrinya, terutama aktivitas di luar rumah, karena dia hobbynya cari hiburan di klub malam.
Awalnya sih hubungan kami biasa saja. Dan perasaanku juga biasa saja. Namun belakangan aku sering melihatnya sedih dan aku selalu mencoba untuk menghiburnya. Dan akhirnya aku tahu ternyata ternyata ibunya sudah meninggal, dan ayahnya sendiri sudah menikah lagi dan punya anak. Jadi, selain ayahnya sibuk untuk urusan bisnis, dia juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga barunya.
Dan teman-teman dia juga tidak ada yang tulus berteman dengannya, hanya ingin memanfaatkan uangnya saja untuk bersenang-senang dan belanja.
Mungkin berawal dari rasa kasihan padanya dan dia juga selalu merasa nyaman untuk mencurahkan kesedihannya, yang membuat hubungan kami jadi semakin dekat. Bukan sekedar berbagi kesedihan, tapi kadang dia juga ternyata punya pribadi yang menyenangkan.
Aku tidak benar-benar mengerti apa yang aku rasakan. Tapi aku selalu senang jika bersamanya dan ingin terus bersamanya. Dan rupanya dia pun merasakan perasaan yang sama. Dia selalu berbinar setiap kali kami bertemu. Setiap aku bersamanya, aku seolah lupa kepada isteri dan anak-anakku.
Dari pernikahan isteri keduaku
Hingga suatu ketika, ada suatu momen yang hampir saja menyeret hubungan kami pada titik terjauh. Kami hampir melakukan hubungan intim. Tapi untungnya aku masih menguasai diri, dan aku menyadari kalau ini adalah salah.
" kalau kamu takut berzina, maka nikahilah aku...:
Itulah kalimat yang pernah dia katakan.
Aku sangat ingin menikahinya, tapi begitu banyak yang aku pertimbangkan. Aku sudah punya isteri dan anak. Aku tak mungkin menceraikan isteriku, karena dalam banyak hal dia nyaris seorang isteri yang sempurna. Selain itu latar belakang kehidupan dia juga sangat berbeda dengan aku, mungkin dia akan sulit beradaptasi dengan kehidupanku. Mungkin kalau sekedar menafkahi makan untuk kedua isteriku aku mampu. Tapi untuk memenuhi kehidupan dia yang serba glamour aku tidak sanggup.
"aku tidak menyuruhmu untuk meninggalkan keluargamu, tapi jadikan aku isterimu, aku mau meninggalkan semua yang aku miliki, asal aku bisa bersamamu". Kalimat ini juga sering sekali dia ucapkan.
Setelah melalui pertimbangan yang matang akhirnya aku mantap membicarakannya dengan isteri dan orangtuaku. Menolak dan sedih, pasti itu yg terjadi pada isteriku. Tapi dia juga tidak bisa memilih untuk minta bercerai.
"kamu yang sabar ya, mungkin saat ini suamimu sedang gelap mata, tapi percayalah itu hanya keinginan sesaat, toh nanti juga kalau sudah menyadari keburukan perempuan itu, dia pasti akan meninggalkannya". Itulah kata-kata yang diucapkan orangtuaku untuk menguatkan hati isteriku.
Aku tahu isteriku tidak rela jika aku menikah lagi, namun aku tetap terus terang padanya, bahkan kepada anak-anakku pun aku berterus terang.
Aku membawa gadis itu ke rumahku, gadis yang jauh lebih muda 13 tahun dari ku. Orangtuanya tentu tidak benar-benar merestuinya. Namun sang ayah lebih khawatir jika putrinya terperosok pada pergaulan bebas, hingga akhirnya mau menikahkannya denganku.
Kami pun menikah secara agama karena isteriku tidak mau memberi surat persetujuan untuk menikah di KUA. Aku tempatkan isteri keduaku di rumah orangtuaku.
Memang dia banyak kekurangan, dia acuh terhadap pekerjaan rumah, dia juga bukan isteri yang telaten mengurus keperluan lahiriahku, seperti masak, menyiapkan makanan, mencuci baju, dll tidak terlalu peduli. Namun, ternyata dia mau hidup dalam kesederhanaan, bahkan dia mau membantu pekerjaan di toko. Dan dalam memenuhi kebutuhan biologisku, dia sangat mampu memuaskanku.
Aku memang tidak pernah menunjukkan kemesraanku dengannya di depan isteri pertamaku dan orangtuaku. Tapi di dalam kamar, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermesraan dan berbagi kepuasan batin dengannya.
Aku tetap berusaha adil dalam membagi waktu kebersamaan, antara dengannya maupun dengan keluarga pertamaku, walaupun dalam keliarga pertamaku sebenarnya aku lebih menghabiskan waktu dengan anak-anakku. Adapun dengan isteri pertamaku, memang dari sebelum hadir isteri kedua pun hubungan kami sebenarnya sudah hambar, meskipun kami selalu tidur satu kamar tapi tidak pernah ada kemesraan dan hubungan intim juga sangat jarang, itu pun harus aku paksa. Bahkan untuk mengurus lahiriah pun dia seolah sudah enggan. "Kan ada isteri kedua yang mengurus mas". Itulah yang sering dia katakan. Jadi kalau pun saat ini kami tidak bercerai, itu mungkin karena demi anak-anak, itulah sepertinya yang kami pikirkan saat ini.
3 tahun pernikahan dengan isteri kedua...
Aku sudah dikaruniai seorang anak laki-laki, umurnya baru satu tahun, karena setelah menikah sempat menunda kehamilan selama satu tahun lebih. Kehadiran anak, tidak mengurangi keintiman kami. Meskipun dia lelah ngurus di Kecil dan harus curi-curi waktu dari si Kecil, dia tetap selalu berusaha memenuhi kebutuhan biologisku.
Karena tidak punya surat nikah, aku tidak bisa mencantumkan namanya dan juga anak kami di daftar Kartu Keluargaku. Bahkan di akte anak kami pun tidak bisa dicantumkan namaku. Namun kami tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Dia tidak suka menuntut karena mungkin dia sadar posisinya saat ini. Dia hanya menginginkan aku. tetap di sampingnya, dia tidak pernah memintaku untuk melegalkan pernikahannya ataupun menyuruhku untuk menceraikan isteri pertamaku, bahkan sampai anak-anak kami besar. Ya...saat ini pernikahan kami sudah berjalan 21 tahun, anak pertamaku darinya yang laki-laki sudah masuk kuliah dan anak kedua kami perempuan sudah kelas 3 SMP. Dan hubungan dengan ayahnya juga sudah mulai membaik. Bahkan anak-anakku dari isteri pertamaku juga sudah mau menerima dia. Orangtuaku sudah bisa menerimanya, walaupun tidak pernah menunjukkannya di depan isteri pertamaku, mungkin mereka masih menjaga perasaannya.
Aku sangat bahagia dengan kehidupanku saat ini...