Perkenalkan namaku adalah Alan. Siswa SMA kelas 3. Keseharianku saat sekolah seperti anak pada umumnya. mengerjakan tugas, bersenang senang, sampai bercerita. Aku adalah anak tunggal dari keluarga yang disegani oleh orang lain.
Seiring berjalannya waktu, keluargaku di pandang sebelah mata oleh orang lain, karena kehadiranku. Semua ini bermula saat aku ikut campur masalah orang. Padahal aku ingin membantu mereka yang masalahnya belum kelar.
Aku juga disebut anak aneh oleh teman-temanku. Banyak dari mereka yang menjaga jarak denganku hanya aku mempunyai kelebihan yang nggak semua orang punya yakni mata batin. Walaupun nggak semua satu sekolah membenciku ada beberapa dari mereka yang paham apa yang dirasakan oleh anak indigo sepertiku.
Keseharianku sering terganggu oleh kehadiran mereka, kemanapun aku pergi mereka sering mengikutiku. Sampai suatu saat aku tidak bisa membedakan duniaku dengan dunia mereka.
#####
Sepulang sekolah, kebiasaanku adalah rebahan tanpa mandi terlebih dahulu. Ya tau lah, pulang sekolah tu capek banget rasanya. Saat aku merenggangkan tubuhku di kasur yang empuk. Tiba-tiba ibuku berteriak
"ALAN CEPAT MANDI!!!"
"Iya bu bentar."
Baru saja merenggangkan tubuh tapi langsung di suruh mandi. Dengan berat hati aku harus cepat mandi sebelum ibu mengamuk.
Aku mengambil baju ganti di lemari dan meletakkan ponselku di meja. Saat aku meletakkan ponselku di meja, ada sebuah notifikasi chat yang masuk. Ternyata itu adalah kak Faris.
Kak Faris adalah anak teman ayahku, aku kenal kak Faris sewaktu aku masih kecil. Saat ini kami sangat jarang berinteraksi.
Kak Faris:
'Alan lu sibuk nggak?'
Alan:
'enggak kak emangnya kenapa?'
Kak Faris:
'gue mau ke rumah lu sebentar, ada urusan penting'
Alan:
'oh iya kak'
Setelah mandi aku mau makan sebentar. Di saat aku sedang makan, kak Faris sudah datang, dan memanggilku. Aku menyudahi makanku lalu menemui kak Faris dan pergi ke depan, kedatangan kak Faris bukan seorang diri melainkan dia mengajak temannya
Lalu aku mempersilahkan mereka berdua ke ruang tamu kemudian kak Faris langsung bercerita.
"gini lan gue mau crita sesuatu, tapi sebelum nya perkenalkan ini temanku dion."
usai berkenalan kak Faris melanjutkan ceritanya
#POV: Kak Faris/Flashback On
Jadi gini lan. Nah kemarin itu gue ngechat si Dion buat nganterin beli alat dapur sekalian mau ngumpulin tugas kuliah. Gue pertama kali ke rumah si Dion. Jadi, gue minta dia untuk sharelock rumahnya
#Chat on
Faris:
'eh dion lu besok sibuk nggak?, temenin gue beli alat dapur sama ngumpulin tugas kuliah'
Dion:
'Y, tapi jemput gw'
Faris:
'Iya, gw jemput. Sekalian sharelock rumah lu juga'
Dion:
(location dion)
Faris:
'Done. Besok stay di rumah'
Dion:
'Y'
#Chat off
Besoknya gue ke rumah Dion dan rumahnya itu besar banget tapi kayak rumah yang nggak terawat. Ya udah gue mah bodamat, gw nunguin 5 menit dia nggak nonggol, gw chat, dia off.
Dan seketika ada ibu ibu yang keluar dari rumah itu sambil membawa bunga 7 rupa. Kemudian di taruh di samping gerbang. Terus si ibu nanyain gue mau nyari siapa? lalu gue jawablah, tanpa basa basi si ibu tadi balik masuk ke rumah. Tiba tiba ada yang nepuk punggung gue, ternyata itu Dion
"nunggu lama ya?"
Kaget lah gue, terus gue liat wajahnya pucet amat kayak orang lagi sakit. ya udah Lanjut lah beli alat dapur. sepanjang perjalanan gue sama dion diem mulu, pas dah nyampe si Dion nggak mau masuk.
Gue ninggalin Dion dan masuk ke toko beli alat dapur. Waktu gue keluar dari toko, Dion yang nungguin di sepeda tiba-tiba menghilang sesaat.
Gue mencari Dion sampai bertanya sama orang sekitar mereka semua bilang "nggak tahu". Gw hubungi Dion lewat telepon tapi nggak ada respon sama sekali. Kepanikan gue membuat orang-orang di sekitar turut mencari Dion. Nah tiba-tiba si Dion muncul dari arah pemakaman
*(jadi lokasi toko dengan pemakaman saling berhadapan)*
"ngapain lu dari sana?"
Bukannya dia menjawab pertanyaan dari gue, dia cuma membalas dengan senyuman. gue hanya bisa menghela nafas legah karena Dion sudah ketemu. Setelah itu gue berterima kasih kepada mereka yang turut membantu mencari Dion.
Kemudian lanjut perjalanan menuju rumah pak dosen gue. Waktu di perjalanan gw terus mengomel tentang kejadian tadi dan menanyakan pertanyaan yang sama kepada Dion, tapi Dion tidak menjawab. Daripada kesabaran gue habis mending gue ngalah aja.
Saat sampai di rumah pak Dosen, gue langsung mengumpulkan tugas secepatnya supaya tidak terlambat.
"lu tunggu di sini!, gue mau ngumpulin tugas bentar, jangan ngilang."
Gue masuk ke rumah pak dosen dan mengetok pintu. Tidak berlangsung lama beliau datang menemui gue dan gue langsung salim serta mengatakan keperluan gue datang ke rumah beliau. Beliau orang yang ramah, dengan senang hati beliau menerima tugasku
"kesini sama siapa?"
"sama teman pak"
"mana temannya?"
Saat gue menunjukkan ke beliau, si Dion tidak ada disitu lagi. Gue menjadi sedikit kesel sama dia. Tiba-tiba anak beliau yang bernama Hendra keluar dari rumah dan menghampiri kami.
"ada apa ini yah?"
"itu, temannya si mas Faris ini pergi nggak tahu kemana?"
Hendra menawarkan ke gue untuk membantu mencarinya sedangkan beliau menunggu di ruang tamu. Akhirnya gue dan Hendra mencari ke sekeliling kampung sekitar sambil mencoba menghubungi Dion lewat telpon. Yang kita lakukan membuahkan hasil yang tak terduga yakni nihil. Akhirnya kami kembali ke rumah beliau
"bagaimana, sudah ketemu?"
"belum pak"
"yah, bagaimana kalau kita lihat rekaman di cctv saja?".
Beliau menutujuinya, sebab kawasan rumah beliau memakai cctv terutama area luar rumah. Akhirnya kami memutuskan untuk melihat rekamannya di kamar Hendra. Saat kami menyaksikan kejadian waktu gue ke rumah beliau, hasil menunjukkan bahwa gue kerumah beliau seorang diri.
"Terus tadi gw ngomong sama siapa?, tapi jelas-jelas tadi waktu pergi dari toko, gw lagi boncengin Dion" batin gue
Tiba-tiba gue terdiam sebentar melihat rekaman tersebut setelah itu gue jatuh dan lemas banget. Kemudian mereka yang melihat gue terduduk langsung membawa gue ke ruang tamu dan nenangin gue
Keluarga beliau sedang menenangkanku saat ini. Di situ gue yang masih syok memilih untuk berbaring karena masih lemas. Bukan hanya gue saja, namun mereka juga terheran-heran dengan kejadian tersebut.
Di saat suasana hening, tiba-tiba hp gue yang ada di atas meja berdering, seluruh perhatian tertuju pada hp tersebut. Gue yang sedang berbaring tidak dapat melihat nama si penelpon. Tiba-tiba...
"biar aku saja!" ucap Hendra anak pak Dosen
Gue hanya bisa menganggukkan kepala untuk menyetujuinya. dia menjawab telepon sambil di loudspeaker, sehingga kami bisa mendengarnya dengan jelas.
'eh ris lu jadi nggak?. Katanya lu mau gue temenin belanja sama ngumpulin tugas. Gw dari tadi nungguin lu lama banget anj***'
'maaf ini siapa ya?'
'gue Dion, ini siapa? mana Faris?'
Dengan secepat kilat gue langsung berdiri, tanpa memedulikan badan yang masih lemas ini. Dan langsung melangkah cepat ke arah Hendra untuk segera mematikan sambungan telepon tersebut.
Dengan perasaan gusar, gue segera pamit untuk pulang ke rumah dan berterima kasih, karena tidak mau merepotkan mereka lebih dari ini.
____________________________
Saat sampai di rumah, tanpa menghiraukan panggilan dari ibu, gue langsung menuju ke kamar dan mengunci pintu. Gue terbaring lemas di kasur, pusing yang dari tadi gue tahan sekarang bertambah sakit dan peluh terus bercucuran. Saat gue mencoba untuk tidur, kejadian tadi terus terngiang-ngiang bak film yang diputar terus menerus.
Akhirnya gue mencoba tidur dengan mendengarkan musik. Mata yang udah dari tadi gue tutup, tak lama kemudian gue pun tertidur.
Saat bangun, tenaga gue kembali pulih secara perlahan-lahan. Setelahnya gue bisa melanjutkan aktivitas seperti biasa serta mencoba melupakan kejadian kemarin.
Malam harinya, gue mencoba untuk memberanikan diri menghubungi Dion dan memintanya datang ke rumah gue besok.
__________________________
Saat bangun tidur tenggorokan gue kering, sehingga gw beranjak dari tempat tidur untuk mengambil segelas air minum. Saat sampai di depan kulkas, gw melihat stickynote
'Bapak sama ibu ada kerjaan, jadi maaf ibu nggak bisa menyiapkan sarapan'
Saat hendak menyiapkan sarapan, terdengar suara ketukan pintu. Lalu gue menghampiri suara tersebut. Tapi sebelum itu, gue mencoba mengintip dari balik tirai jendela. Ternyata itu adalah Dion. Lalu gue membukakan pintu dan mempersilahkannya untuk masuk
"lu kemarin ada apa sih? gue telpon bukannya di angkat malah yang jawab orang lain"
"sebelum gue jelasin semuanya, lu lagi ngeprank gue kan? ngaku aja lu!" candaku
"Ha?! apaan dah"
"nggak usah pura-pura deh, ngaku aja!"
"eh anjir gue kemarin nungguin lu lama banget loh, ampe gue tanya ke ibu lu katanya lu dah pergi."
"jadi kemarin itu beneran? wah gila sih ini" batinku
terus si Dion gue ceritain. Mendengar penjelasan dari gue Dion kaget dan kebingungan.
"bentar, padahal rumah yang lu ceritain sama rumah gue jaraknya jauh lho. Kok bisa sih?"
"gw juga nggak taulah. Kan lu sendiri yang ngirimin lokasi rumah lu"
"mungkin google maps lu yang nggak akurat"
yang di katakan Dion ada benar nya. Gue mencoba untuk berfikir positif. Terus gue tanya lagi tentang rumah yang gue samperin. Dion yang tadi nya lupa seketika, mendadak ingat sesuatu.
"nah ada sebuah rumor di daerah gw... Jadi, waktu itu orang orang mengatakan kalau rumah tua itu adalah bekas dari pesugihan. Di mana semua orang yang menempati rumah itu meninggal satu persatu. Di mulai dari kakek-nenek, ayah-ibu dan anak-anaknya. Sekarang yang tersisa hanya 1 orang. Lalu...."
Belum sampai selesai bercerita, gue memotong cerita Dion dan gue di situ teringat sama orang yang nggak gue kenal.
"apaan ris?" (tanya dion)
"waktu gue mau pulang dari kampus, ada pria yang lagi berdiri di gerbang kampus gue. Gue kira sedang nungguin seseorang. Padahal kampusnya sepi, hanya ada gue dan penjaga kebun saja. Pria itu membawa semacam benda, sepertinya benda mirip jimat. Dan saat gue berjalan keluar, pria itu tiba tiba nyamperin gue. Dan dia ngasih semacam kertas lalu pergi. Pas gue baca, gw nggak ngerti bahasanya itu apa?. Yang gue ngerti cuma kata mati".
**POV: Faris/Flashback Off
POV: Alan On**
Setelah kak Faris bercerita, aku langsung meminta izin ke kak Faris untuk meminjam hpnya. Aku melihat history chat antara kak Faris dengan kak Dion dan aku membuka lokasi rumah yang di kirimkan oleh kak Dion. Memang benar, ada sebuah rumah tua yang di ceritakan oleh kak Faris tadi. Setelah memperhatikan rumah itu. Aku merasakan aura yang sangat aneh. Kemudian aku mengajukan sebuah pertanyaan.
"emangnya, kak Faris tahu ciri ciri dari pria itu?" tanyaku
"yang gw ingat dia pria tinggi. Mungkin sekitaran 177cm an, bertopi, umurnya kelihatan 23-25 tahunan lah, di tangan kanannya ada bekas luka sayatan dan saat dia mendekat ke gw, bau parfum nya itu mirip banget yang di kenakan oleh Dion." jawab kak Faris
"ha?! Apa?!... Oh yang itu. Gw pakai parfum melati" kata kak Dion yang setengah kaget
Ciri-ciri tadi tidak cukup membantuku untuk menemukan orang itu. Tapi untuk detailnya kak Faris tidak tahu. Tidak ada petunjuk yang jelas wajah pria itu?. Karena kak Faris lupa dengan wajah pria itu. Lalu, kak Dion menyarankan untuk melihat cctv yang ada di kampus kak Faris. Kami semua menyetujui dan untungnya besok kak Faris libur. Jadi kami semua sepakat pergi ke kampus kak Faris jam 09.00.
Esok harinya kami semua sudah tiba di kampus kak Faris. Di sana ada beberapa mahasiswa dan dosen yang masuk. Kami semua menuju ke ruang cctv. Tapi sebelum itu, kita sudah meminta izin ke pak satpam Dan pak satpam ikut bersama kami untuk menemani. Saat kami berada di ruang cctv dan memperhatikan kejadian yang berlalu, tiba tiba kak Faris....
"nah ini orangnya!!! kalian lihatkan?!." tegas kak faris
"tapi wajahnya sama sekali tidak kelihatan" ucap kak Dion
(Satpam kampus yang tidak tahu apa yang sedang terjadi memilih untuk diam.)
"kayaknya ada yang aneh dari pria itu?." gumamku
Sontak kak Faris, kak Dion dan pak satpam kaget mendengar gumamku. Lalu mereka menoleh ke arahku secara bersamaan. Aku tidak mengira bahwa gumamku tadi terdengar jelas oleh mereka. Mereka menanyakan pertanyaan yang sama. Tapi aku tidak ingin menjawabnya.
Setelah keluar dari ruang cctv. Kak Faris menyarankan untuk makan di kantin kampus. Sebab, saat berangkat menuju kampus tidak ada dari kami yang sarapan terlebih dahulu. Di kantin tempatnya lumayan rame, kak Faris dan kak Dion memesan mie ayam. Sedangkan aku mencari tempat meja makan, yang sekiranya jauh dari keramaian. Karena aku ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Setelah mendapat tempat meja makan, ada seseorang yang ingin bergabung ke meja makan kami dan aku menyutujuinya. Orang itu duduk tepat di samping ku. Saat orang itu gabung bersama kami, aku mencium bau parfum dari orang itu. Tapi, baunya itu sedikit familiar. Dan seketika aku mengingat apa yang kemarin di bicarakan oleh kak Faris. Disitu aku kaget dan nggak bisa mengeluarkan kata-kata. Aku perlahan menjaga jarak dari orang itu, serta memainkan ponselku dan menganalisa gerak geriknya dari ekor mata.
Aku meliriknya sedikit tapi aku tidak bisa melihat wajahnya begitu jelas. Karena wajah orang itu tertutup oleh hoodienya. Aku cuma bisa melihat bibir dan hidung orang itu. Orang itu juga memainkan ponselnya, dan tiba-tiba ponsel orang itu berdering, seakan ada yang menelepon. Orang itu menjawab teleponnya, sedangkan aku mencoba untuk mendengar kan percakapan mereka dengan seksama.
'oh, anak itu. Sayang sekali nggak mati. padahal udah gw tabrak tapi tetap aja nggak mati. Justru dia sekarang di rawat di rumah sakit. Yaahh... Gw juga nggak di bayar sih buat ngabisin anak itu.'
"Ha?!gila!! Jadi orang itu adalah seorang pembunuh?!!"
batinku
'EH LU GILA APA?, BISA-BISANYA LU MAU NGABISIN ANAK ITU. CEPAT KASIH TAU DIA DIRAWAT DI RUMAH SAKIT APA?, GW MAU JENGUK DIA"
'nggak usah di jenguk. Gue pastiin dia sekarang dalam bahaya. Dan sebentar lagi keluarga mereka datang tapi bukan untuk menjenguk, melainkan membunuhnya'.
'ha?!maksud lu apa?'.
"masa lu nggak tau?".
'jangan bilang mereka.....'.
'ya benar. Keluarga mereka sudah tidak membutuhkan anak itu lagi, karena keluarga dia,....Ya taulah ada....pasti Ada uang
"Sial, aku tidak bisa mendengar dengan jelas"
(batinku)
'jadi menurut lu dia harus menerima karmanya sendiri?'.
'wow gilaa cerdas sekali anda hahaha.'.
Dan saat itu dia menutup teleponnya dan langsung pergi. Tapi, saat dia mau pergi dia membisikkan sesuatu kepadaku.
"terima kasih sudah memperbolehkanku bergabung dan aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. BERHENTILAH mencobah MENGANALISAKU ucap pria itu sambil tertawa kecil ke arahku
Sontak aku kaget mendengar apa yang orang itu ucapkan.
"bagaimana dia tahu apa yang sedang aku lakukan?" batinku
Dan orang itu langsung pergi. Tiba tiba, ada seseorang yang menepuk pundak ku dari belakang. Saat kutoleh ternyata itu adalah kak Dion.
"tadi bicara sama siapa lan?" tanya kak Dion
"hmm Kak, sepertinya aku mau mengambil barangku yang ketinggalan di satpam. Kakak makan dulu nanti aku menyusul"
"jangan lama lama" balas kak Faris
Bukannya mengambil barang di satpam, malah aku mengejar orang itu. Aku menemukan orang itu tapi, orang itu justru lari, mungkin dia tahu bahwa aku sedang mengikutinya. Kemudian aku segera mengejarnya. Sampai di suatu tempat aku tidak bisa menemukan orang itu.
Tiba tiba, ada seseorang yang menarik ku di suatu gang yang gelap dan sepi. Ternyata yang menarik ku adalah orang yang aku kejar. Dia menarik ku, kemudian menghepaskan tubuhku ke tembok dengan keras. Aku melawan orang itu tapi orang itu sangat gesit.
Di situ kita berdua berkelahi dan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Di saat aku menghajarnya, orang itu dengan gesit menghindarinya kemudian memukul wajah dan perutku. Aku menganalisa pergerakannya dan saat itulah aku bisa menghajar wajahnya dan menendang perutnya dengan keras, hingga orang itu tersungkur. Saat aku mendekatinya, tiba-tiba orang itu menendang kakiku sehingga aku terjatuh. Orang itu langsung mengunci seluruh badanku. Tangan dan kakiku tidak bisa bergerak, Dan orang itu mengatakan sesuatu kepadaku.
Penasaran dengan kelanjutannya?.Apakah dari kalian berpikir
"apakah itu orang yang sama saat bertemu dengan kak Faris?"...