Namaku Ayden Zilcaya, aku adalah seorang mahasiswa tingkat akhir yang sebentar lagi akan menyelesaikan study. Selama kuliah, aku hanya memilki dua orang teman dekat, mereka adalah Brian dan Latina.
Kami bertiga berada di jurusan yang sama. Setiap hari nya kami bertiga menghabiskan waktu di kelas, café dan tempat hangout lain nya.
Aku dan Brian adalah teman sejak kecil sementara aku dan Latina saat mulai berkuliah, kami bertiga pun sering berjalan bertiga. Setiap hari Brian selalu menjemput ku, itu di lakukan hampir setiap hari selama kami kuliah.
Awal nya hubungan kami bertiga baik – baik saja sampai akhir nya perasaan bodoh ku tumbuh untuk Brian, perasaan yang tidak semesti nya ada di tengah – tengah persahabatan kami, aku berusaha mengendalikan diri dengan tidak menunjukkan perasaan ku yang amat besar untuk Brian.
Seperti biasa sore itu, aku, Brian dan Latina hangout di café yang tidak jauh dari kampus, kamipun memesan 3 cangkir cappuccino dingin. Kami mulai bercengkrama seperti biasa, tak ada yang special tapi entah mengapa saat mata ku melihat mata Brian yang menatap Latina perasaan ku jadi kacau.
Aku meneguk habis minuman ku.
Melihat itu Brian dan Latina menatap ku aneh.
“Haus banget yah?” tanya Latina padaku.
“Iya nih, hari ini panas banget.”
“Bilang aja doyan,”ucap Brian diselingi tawa sembari menatap Latina yang ikut tertawa bersama nya.
Saat itu perasaan ku semakin kacau, air mata ku memaksa keluar, entah mengapa tawa mereka membuat ku semakin terluka. Setelah beberapa jam duduk sembari menahan perasaan ku yang kacau, kami pun memutuskan pulang.
“Ayo kita pulang, Latina mau bareng ama kita nggak?” tanya Brian.
“Gak usah, lagian kita gak searah,”sahut Latina.
“Aku antar Ayden dulu terus anterin kamu, gak apa – apa kok.”
Aku hanya diam, aku memandang Brian yang menatap ku seakan memberi isyarat bahwa ia ingin Latina pulang bersama nya.
“La, biar Brian anterin kamu, aku mau ke suatu tempat,”ucap ku.
“Kamu mau kemana den, biar aku temani.”
“Gak usah La, kamu pulang aja bareng Brian oke.”
“Oke, yah udah sampai besok yah.”
“Kamu mau kemana?” tanya Brian.
“Udah, pulang sana.”
Setelah itu aku berjalan keluar café dan mengambil jalan yang berlawanan arah dengan mereka berdua. Aku menyusuri jalan sembari malam kelamku, hari ini pertama kali nya hatiku terluka, pertama kali bagi Brian ingin mengantar gadis lain pulang selain aku.
Sejak kecil dia hanya memujaku dan begitupun juga aku, aku juga masih ingat ucapan. Waktu itu aku dan Brian masih duduk di bangku SMP, Brian mengutarakan perasaan nya padaku, mungkin karena malu aku tak bisa menjawab apa – apa, Brian juga berjanji akan selalu menyayangiku. Sejak hari itu aku semakin dekat Brian hingga ia memutuskan masuk kampus yang sama dengan ku.
Aku merasa bahagia saat Brian selalu ada di hari ku, aku yang belum pernah menyukai siapapun sebelum nya tidak menyadari perasaan ku pada Brian hingga pada malam ini Brian menunjukkan ketertarikan nya pada orang lain, aku mulai menyadari perasaan ku, perasaan cinta yang datang bersama luka.
Aku sampai dirumah dengan mengendarai kendaraan umum. Ada pesan singkat dari Brian, ia bilang kalau ia mulai menyukai Latina dan ia ingin aku membantu nya mendapatkan hati Latina.
Handphone ku terjatuh dari genggaman ku, air mata yang ku tahan jatuh, aku merasa bodoh, mengapa di saat aku mulai menyadari perasaan ini Brian justru ingin bersama gadis lain, bagaimana dengan ku yang ternyata mencintai nya.
Ku hapus air mata ku, ku pungut handphone ku dan membalas pesan Brian, aku bilang akan membantu nya mendapatkan Latina, aku sungguh bodoh bukan, bagaimana aku bisa membantu nya di saat aku juga menginginkan nya.
Hari demi hari mereka berdua semakin dekat, aku sedikit memberi jarak pada Brian demi menjaga hati Latina, dan hari ini tepat di hadapan ku Brian memeluk Latina karena Latina menerima perasaan. Aku tersenyum memandangi mereka berdua, berpura – pura bahagia di saat hatiku terasa tersayat – sayat, di saat nafasku tertahan menahan tangisku.
“Selamat yah, ciee sahabat jadi cinta,”ucapku sembari memasang senyum bahagia.
Mereka berdua nampak serasi, Brian terlihat bahagia dan Latina menatap Brian penuh cinta. Semenjak mereka resmi jadian, Brian tidak pernah lagi menjemputku, tidak ada lagi Brian sahabat ku yang ada Brian pacar Latina.
Minggu malam Brian dan Latina mengajak ku ke rumah Brian, aku sebelum nya sudah pernah berkunjung ke rumah Brian dan cukup akrab dengan kedua orang tua Brian.
Kami bertiga masuk, kedua orang tua menyambut kami bertiga, ibu Brian menghampiri Latina dan memeluk nya.
“Ahh jadi ini yang nama nya Latina, Brian sering sekali menyebut nama mu, ia bahkan memajang fotomu di kamar nya,”ucap ibu Brian.
“Mama, jangan ngomongin itu kan malu,”ucap Brian dengan wajah memerah.“
Aku hanya tersenyum mendengar percakapan mereka. Kamipun di persilahkan duduk, sepanjang pertemuan itu aku hanya diam sembari menikmati kue yang ada di hadapan ku, orang tua Brian sedang asyik berbicara dengan Latina, aku seperti nya sedikit terlupakan.
Meskipun begitu aku tetap berusaha tenang dan mengendalikan perasaan ku yang mulai kacau.
Sejak pertemuan itu, aku jarang bertemu dengan mereka berdua di kampus, aku sering hangout sendiri di café.
Beberapa hari yang lalu aku bertemu mereka berdua dan mengajak mereka hangout bersama, tapi Latina menolak alasan nya mereka berdua ada pertemuan keluarga, aku hanya tersenyum saat mereka berjalan melewatiku bahkan Brian tak memandang ku seperti biasa.
Saat melihat mereka bersama aku sadar bahwa aku telah kehilangan Brian ku, tidak ada akhir yang indah untuk cinta sepihak.
Sejak saat itu aku memutuskan mengubur dalam – dalam perasaan ku pada Brian, berharap aku akan baik – baik saja tapi seperti nya tidak semudah itu melupakan cinta pertama, cinta pertamaku yang diselimuti luka.
Hari demi hari terus berlanjut, sampailah hari kelulusan kami, aku berkeliling mencari Latina dan Brian tapi aku tak melihat mereka. Ibu dan adik ku menghampiriku dan memeluk ku.
“Selamat yah nak,” ucap ibuku sembari memeluk ku.
“Terima kasih bu.”
Aku masih mengedarkan pandangan ku dan mencari Brian serta Latina tapi tetap tak menemukan mereka, aku pun memutuskan pulang bersama ibu dan adik ku. Sampai dirumah, aku mengirim pesan pada Brian dan Latina. Tapi balasan mereka berdua membuat ku sangat terkejut.
“Ayden, bisakah kau berhenti mengganggu Brian, aku merasa risih saat dia terus menyebut namamu, ku mohon kamu adalah sahabat ku, aku harap kamu paham yah, oh iya aku dan Brian sedang berada di luar negeri, kami berencana bekerja di perusahaan ayah ku yang ada di sini, semoga kau bahagia selalu Ayden.”
Itulah pesan Latina yang menurutku terlalu kejam, bagaimana ia bisa mengatakan hal buruk seperti itu padaku, sahabat nya sendiri dan lagi balasan pesan Brian yang lebih mengerikan.
“Ayden, aku sedang berada di luar negeri bersama Latina, bisakah kau berhenti mengirimiku pesan, karena mu Latina sering salah paham dan marah padaku, kau sahabatku bukan, jika kau ingin aku bahagia berhentilah menggangguku.”
Itu pesan terakhir dari Brian, air mata ku jatuh, nyeri di hatiku semakin terasa, aku mulai menangis terisak sembari memegang dadaku, aku merasa di hantam depan belakang oleh dua orang yang aku sayangi, kebersamaan ku bersama mereka kembali terbayang, aku semakin terisak, napasku tersengal. Ku raih handphone dan memutuskan menghapus kontak mereka.
****
Tahun demi tahun berlalu, ini adalah tahun ke 6 sejak kelulusan ku dan sejak Latina dan Brian mengirimi ku pesan. Saat ini aku bekerja sebagai seorang manager di salah satu perusahaan besar di kotaku. Sejak saat itu pula aku tak pernah lagi mendengar kabar mereka berdua. Tapi menurut teman – teman alumni mereka berdua sudah menikah.
Senja menyambut lelah ku dengan jingga nya, aku melajukan mobilku. Saat sampai dirumah ibuku memberi sebuah surat yang katanya di kirim untuk ku. Aku mengambil surat itu dan membawa nya di kamar ku, aku duduk di tepi kasur dan membuka surat tanpa nama itu.
Dear Ayden Sahabatku
Ini aku Brian, apa kabar? Semoga kau baik – baik saja. Kau pasti sangat membenci ku kan, aku paham jika memang begitu. Ayden, kau mungkin berpikir jika aku melupakan janjiku, tapi kau salah Ayden, aku tak pernah sekalipun melupakan janji kita, aku selalu menyayangi mu, menunggu dengan sabar, selalu ada buat mu walau kau tak menyadari nya.
Ayden, aku tidak pernah menyukai Latina, aku tidak pernah memajang foto Latina di kamarku, aku juga tak pernah menceritakan Latina pada orang tua ku, aku yang meminta mereka mengatakan itu di hadapan mu, aku meminta kedua orang tua ku mengacuhkan agar kau membenciku dan menjauhiku, dengan berat hati mereka menuruti ku, begitupun Latina dengan berat hati dan penuh penyesalan melakukan semua yang ku minta, ku mohon untuk tidak membenci Latina, dia sangat menyayangi mu.
Ayden, maafkan aku karena melakukan hal ini padamu, aku bahagia dan sedih di saat bersamaan, aku bahagia karena tahu kau mulai membuka hatimu untukku tapi saat itu juga aku tak punya banyak waktu, aku membenci diriku yang terlahir lemah, aku ingin melindungi mu, aku terpukul karena harus menjauhi mu di saat aku sangat ingin dekat dengan mu.
Ayden, jika surat sampai padamu itu berarti aku sudah tidak lagi di dunia tempatmu berada, ku mohon lupakan aku, berbahagialah, bencilah padaku seperti sekarang ini, Selamat tinggal Ayden.
Aku terisak membaca isi surat itu, dadaku nyeri, aku merindukan Brian ku, aku tidak percaya jika Brian ku kini telah hilang.
Izinkan aku terus menyayangimu, aku juga mencintai mu Brian ku, aku berharap di kehidupan selanjut nya tuhan mempertemukan kita lagi sebagai seorang yang saling mencintai dan bisa bersama, semoga kelak kau terlahir sebagai lelaki tangguh. Maafkan aku Brian.