“Penghuni baru rumah nomor 56 di ujung sana, ya?” tanya Ibu penjaga warung.
“Iya, tadi pagi pindah ke sana, Bu.”
“Oalah, semoga betah saja keluargamu, Nak.”
Aku mengangguk, kemudian mengeluarkan uang sepuluh ribu membayar telur yang kubeli. “Terima kasih, Bu.”
“Iya, Nak. Hati-hati saja,” balas Ibu penjaga warung itu, beliau tersenyum misterius, seperti memendam sesuatu.
‘Hati-hati saja’ sebuah kalimat yang mengusik hati dan pikiranku selama perjalanan pulang. Gimana aku enggak ke pikiran coba, hampir orang-orang yang tak sengaja kujumpai di jalan mengatakan hal serupa ketika mengetahui bahwa aku dan keluargaku yang tinggal di rumah nomor 56. Ah, apakah maksud mereka rumah baru yang kutempati dengan keluargaku bermasalah? Atau ... ah, tidak-tidak!
“Lama sekali padahal cuma beli telur, Key.” Suara nyaring Mama di depan rumah membuatku kembali lagi ke dunia nyata. Aku hanya cengir, menggaruk-garuk belakang kepala yang tak gatal, “Biasa, Ma. Banyak tetangga-tetangga mengajak mengobrol di jalan,” jawabku, lalu menyerahkan keresek hitam berisi telur ke tangannya.
Mama hanya berdecak pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian berlalu ke dapur. Kuperhatikan dengan saksama setiap inci rumah minimalis yang kutempati ini, enggak ada hal-hal yang mencurigakan atau apa pun. Rumah ini sama seperti rumah pada umumnya, ya ... cuma agak kurang terurus karena sudah lama tak berpenghuni. Wajarlah. Aku mengembuskan napas panjang. Huh, dasar! Orang-orang tadi membuatku memikirkan yang tidak-tidak.
Aku berjalan menuju kamar dengan santai, dan langsung merebahkan tubuhku yang terasa pegal sekali ke atas kasur, efek beres-beres rumah sejak tadi pagi tadi nih. Tak lama aku terhanyut oleh lagu yang kuputar dari handphone, hingga tak lama aku terbang bersama dengan mimpi-mimpi indahku.
Tok! Tok! Tok! Sayup-sayup terdengar bunyi ketukan entah jam berapa, pastinya ini tengah malam. Awalnya aku tak peduli, tapi lama-kelamaan ketukan itu benar-benar mengusik pendengaranku, siapa sih orang yang iseng tengah malam gini? Ganggu aja! Aku beringsut dengan malas. Suasana dalam kamar benar-benar gelap gulita. “Akh! Mama ....” Spontan aku menjerit menyebut nama Mama, melompat kembali ke atas kasur saat tak sengaja aku menginjak sesuatu seperti jari ... iya itu jari tangan!
Tubuhku gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisku. Mama atau pun Papa tak kunjung datang, aku dilanda ketakutan. Sial. Sial. Sial. Kamarku benar-benar jadi sunyi ketika lagu yang kuputar mati bersamaan dengan handphoneku. Tok. Tok. Tok. Bunyi ketukan itu semakin terdengar berkali-kali, bahkan terasa lebih dekat. Itu bukan ketukan pintu, tapi itu ketukan dinding di kamarku.
“Mama! Papa!” Aku semakin berteriak lebih kencang, bulu-bulu halus di tanganku berdiri. Aku mulai menangis ketakutan, dengan tangan gemetaran aku mengambil selimut menutupi seluruh tubuh, menyembunyikan diri di dalam situ, saat itu tiba-tiba kepalaku terasa sangat pusing, tubuhku panas, belum lagi aku merasakan sulit sekali bernapas, hingga pandanganku mulai kabur, dengan setengah kesadaran aku melihat sosok bayangan hitam di balik selimut, ingin kumenjerit tapi tak bisa, seperti ada yang menahan suaraku, setelah itu tubuhku terjatuh ke samping.
***
Aku membuka mata perlahan saat cahaya matahari menerpa wajahku, ah, kepalaku sedikit pusing. Perlahan aku mulai duduk sembari memperhatikan sekitar.
“Syukurlah, Key. Kau sudah sadar,” ucap Mama di ambang pintu kamar, senyuman terukir di sudut bibirnya.
“Emangnya aku kenapa? Kok Mama bicara kayak gitu?” tanyaku kebingungan, sembari mengingat apa yang terjadi denganku.
Mama duduk di bibir ranjang, dia mengusap lembut rambut panjangku. “Nah, itu yang mama mau tanyain ke kamu, semalam kamu teriak-teriak, pas mama dan papa ke kamar kamunya sudah enggak sadarkan diri.”
Aku diam sejenak, ya ... sekarang aku mengingatnya! Refleks aku langsung memeluk tubuh Mama. “Kita pindah aja, Ma. Aku enggak mau tinggal di rumah ini,” ucapku masih menyembunyikan diri dalam dekapan Mama.
“Eh, kenapa? Bukannya kamu senang juga tinggal di rumah ini?” tanya Mama terdengar tidak setuju dengan usulanku.
“Aku pokoknya enggak mau tinggal di sini, Ma! Kita pindah, kumohon!” Aku sedikit berteriak, bulir-bulir air mata keluar begitu saja. Ah, bayangan jari tangan yang kuinjak, sosok hitam di balik selimut, ketukan-ketukan di tembok kamar, terus berputar di kepalaku.
Mama sepertinya panik, karena melihatku tiba-tiba menangis, ditambah dengan tubuhku yang gemetar ketakutan. Dengan sentuhan lembut tangannya Mama mengusap cairan bening yang menempel di pipiku. “Ada apa, Sayang? Ceritakan ke Mama,” ucapnya dengan suara lembut. Masih dalam dekapan Mama aku menunjuk dinding kamar, dan menceritakan tentang suara ketukan di dinding itu, semuanya yang terjadi semalam aku menceritakan kepada Mama. Awalnya Mama syok mendengarkan ceritaku, tapi lama-lama dia tersenyum dan mengatakan bahwa semua yang terjadi padaku semalam itu tidak mungkin. Bahkan, Mama bilang itu hanya mimpiku saja.
“Kebanyakan nonton film horor, inilah jadinya,” ucapnya, sebelum beranjak pergi dari kamar.
Kecewa? Tentu saja. Ah, Mama, kenapa selalu tidak percaya dengan ucapanku? Aku tidak menyerah begitu saja, selepas Papa pulang kerja aku menceritakan semua yang terjadi, tapi tanggapan Papa hampir sama dengan Mama, bahkan Papa menasihatiku untuk berdoa sebelum tidur. Kuakui aku keteledoran akan hal itu, tapi yang kualami itu bukan mimpi!
***
Sejak kejadian malam itu, aku tidak lagi tidur di kamar. Aku memilih tidur bersama Mama, Papa, dan satu adikku yang berumur dua tahun lebih. Masih terbesit kecewa dalam benakku, karena Mama dan Papa tetap tidak percaya apa yang kukatakan.
Hari-hari berlalu, meskipun aku tidur bersama Mama dan Papa, ketukan-ketukan masih dapat kudengar saat tengah malam tiba, banyak kejadian aneh yang silih berganti menghampiri kami saat tinggal di rumah baru ini. Mama mulai mengakui akan hal itu. Mungkin Mama ikut merasakan, seperti apa yang kurasakan.
“Oh, Tuhan ... Kevin kecilku mana?” Suara Mama terdengar dari sampingku, tapi aku masih enggan untuk membuka bola mataku.
“Sayang, ah, ini tengah malam kenapa kau teriak-teriak.” Tak lama suara berat Papa terdengar.
Lampu kamar dinyalakan. Aku mengucek mata, menguap beberapa kali. Kulihat Mama begitu panik, dia berteriak menyumpah Papa yang masih tidur, Mama beringsut berjalan ke sana kemari. Aku ikut bangkit, meskipun kesadaranku belum sepenuhnya kembali.
“Key, lihat adikmu ke luar,” ujar Mama dengan napas tak beraturan.
Aku mengangguk, ikut panik. Baru benar-benar sadar. Ah, Kevin tidak ada? Ke mana dia? Perasaan aku memeluknya selama tidur tadi. Aku menyalakan lampu di semua ruangan yang ada di rumah. Di dapur tidak ada, begitu pun di kamar mandi. Aku berjalan ke ruangan tamu menundukkan sedikit kepala di bawah kolong meja, mungkin dia bersembunyi, tapi nihil tidak ada.
“Kevin, ayolah, di mana kau? Aku lelah mencarimu!” ucapku berharap adikku itu menyahuti.
“Ka-ka-k ....”
Ucapan terbata-bata yang masih belum sempurna itu terdengar, itu suara Kevin, adikku! Bola mataku bergerak ke kiri ke kanan, atas-bawah, mencari keberadaan adikku itu. Dan ... astaga! Aku langsung berteriak memanggil Mama dan Papa, saat kulihat Kevin duduk manis di atas lemari pakaian! Dia tertawa cekikikan, tanpa rasa takut sama sekali. Sepersekian detik setelah aku memanggil, Mama dan Papa sudah berdiri di sampingku. Papa segera mengambil tangga, lalu menurunkan Kevin. “Jagoan papa, hahaha, kenapa kau bisa di atas situ, Sayang?” Papa mengusap rambut Kevin, mencium pipinya secara bergiliran. Kevin hanya merespons sambil tertawa, berbicara tidak jelas, yang entah apa maksudnya.
Kulirik Mama yang masih mematung, dia masih terlihat panik. Aku segera mengambil segelas air putih, kemudian memberikan pada Mama agar meminumnya supaya lebih tenang.
“Pa, ini aneh,” ucap Mama dengan suara lirih, dia mengambil Kevin dari gendongan Papa.
“Enggak usah pikir yang macam-macam, Sayang,” sahut Papa memeluk kedua pundak Mama menuntut ke kamar. Papa melirik ke arahku, “Key, ayo kembali tidur.”
Aku mengangguk mengiyakan. Kenapa sampai detik ini Papa tetap tidak percaya dengan segala keanehan yang terjadi? Bukankah selama ini Papa perlu bukti? Dan sekarang bukti itu ada di depan matanya! Ah, sudahlah semuanya percuma, karena Papa adalah salah satu orang yang tidak percaya adanya makhluk kasat mata, Papa selalu teguh dalam prinsip—sebuah kebetulan.
***
Satu bulan sudah, aku dan keluargaku menempati rumah nomor 56. Bahkan, tetangga sebelah rumahku menyebut keluarga kami pemecah rekor! Entah apa maksudnya, saat kutanya alasannya tidak pernah mau dijelaskan. Katanya, aku masih kecil untuk mengetahui itu. Huh!
Suara ketukan-ketukan yang masih terdengar. Kevin yang selalu hilang di tempat tidur hampir setiap malamnya. Sepertinya sudah tidak lagi menjadi hal yang menakutkan. Baik diriku, Mama, Papa melihat hal itu hal-hal menjadi biasa saja. Sepertinya juga, aku sudah termakan oleh prinsip Papa bahwa semua yang terjadi hanya sebuah kebetulan.
Satu lagi malam ini aku akan kembali tidur di kamarku. Hmm, masih agak takut, tapi oke tidak apa-apa. Aku akan mengikuti saran dari Papa, sebelum tidur berdoa, dan jangan membiarkan pikirku kosong, aku harus menyibukkan diri dengan sesuatu hal yang bisa membuatku berpikir, yang membuat kantuk itu datang, kemudian aku akan terlelap dengan nyenyak sekali. Membaca buku. Hanya itu yang bisa membuatku berpikir, dan membuat kantuk itu datang lebih cepat. Aku mengambil buku di atas meja belajar, mulai membaca lembar per lembar, sehingga aku terhanyut terbawa oleh alur cerita. Semakin lama, semakin penasaran tak sadar jarum jam sudah menunjukkan angka 12 malam.
Aku menutup buku, meletakkan kembali ke tempatnya. Sayup-sayup terdengar suara binatang bersahutan dari luar jendela kamar diiringi sesekali suara lembut embusan angin. Aku berjalan ke arah jendela kamar, berniat untuk menutup jendela yang terbuka setengah, tapi ... sebentar!
Sekilas aku melihat sosok wanita di atas pohon mangga di belakang kamarku. Karena penasaran, tanganku bergerak untuk membuka jendela itu lebih besar lagi. Aku mengucek mata. Hah? Apa itu? Sosok itu semakin jelas di penglihatanku. Dia sesosok wanita muda cantik, yang sedang duduk di atas dahan yang tinggi sambil menggerakkan kakinya dan bersenandung pelan. Rambutnya hitam lurus, parasnya cantik, ah, mirip sama, Mama.
Namun, apa yang dia lakukan jam segini di atas pohon? Masih penasaran, aku tetap mengamatinya dari jendela. Menatapnya tak berkedip. Entah kenapa keringat dingin mulai bercucuran, jantungku berdegup kencang. Pikiranku mulai melayang ke mana-mana. Tak lama kemudian, wanita itu berhenti bersenandung, dan tiba-tiba menatap lurus ke arahku! Aku terpaku, tubuhku mulai kegemetaran. Tatapan tajam wanita itu begitu menusuk, tapi dalam sekejap wanita itu hilang dari penglihatanku.
Akh! Tiba-tiba wajah wanita itu berada dekat sekali dengan jendela tempat kuberdiri. Aku menelan ludah susah payah. Mata kami bertemu saling bertatapan satu sama lain. Bahkan embusan hawa dingin wanita itu dapat kurasakan. Berikutnya wanita itu tersenyum menyeringai, wajah cantiknya diganti dengan paras yang begitu menyeramkan! Aku tersentak, memundurkan langkahku ke belakang. Ketukan-ketukan dinding di kamar mulai terdengar. Wanita itu masih tersenyum jahat!
Lampu di dalam kamar tiba-tiba saja berkedip-kedip, entah kusadari atau tidak kini wanita itu ada di dinding kamar, dan akh! Dia terbang, menempel di dinding kamar, dengan posisi kaki di atas dan kepalanya di bawah. Karena kaget, kakiku tergelincir dan langsung terduduk di lantai. Sebisa mungkin aku mengucapkan doa-doa yang kuhafal, entah lupa atau apa pun tak ada doa yang berhasil kuselesaikan. “Ma! Pa!” Suaraku kembali terasa ada yang menahannya, aku enggak bisa teriak sama sekali! Aku melempar apa saja yang ada di dekatku, air mataku mengalir, wanita itu tersenyum jahat. Dia bukan manusia ...
Dan brugh! Pintu kamar terbuka lebar. Terlihat Pak Sukri, Satpam di rumahku di ambang pintu, aku langsung terjatuh lemas. Sosok wanita itu hilang sekejap setelah kedatangan Pak Sukri. Tubuhku diangkat ke luar, tak lama Mama dan Papa ada di sampingku.
“Key, kau baik-baik saja?” Papa menepuk pipiku, kesadaranku nyaris hilang. Aku hanya membalas dengan gerakan menggelengkan kepala pelan. Pak Sukri menyodorkan segelas air putih, aku segera meminumnya hingga tandas.
“Apa yang terjadi, Pak?” Mama bertanya kepada Pak Sukri, dia berusaha menenangkanku dengan dekapan hangatnya.
“Bapak enggak sengaja dengar keributan di kamar Non Keysha, Bu. Khawatir bapak langsung ke sana, dan melihat Non Keysha terduduk lemas di lantai.”
Mama memandang wajahku, mengelap keringat yang masih bercucuran di pelipisku. “Sayang, kau mengalaminya lagi?”
Aku mengangguk lemah, air mataku kembali tumpah. “Aku takut,” lirihku dengan tubuh yang gemetaran. Mama memelukku lebih erat, kurasakan punggungku basah, Mama ikut menangis!
“Pa, cukup! Kita harus pindah dari sini! Rumah ini memang bermasalah! Kalau Papa emang enggak mau pindah, iya sudah!”
Tak kudengar lagi bantahan dari Papa.
“Rumah ini bukan bermasalah saja, Bu. Tapi angker sudah sejak pemilik rumah ini meninggal tiga tahun yang lalu,” ucap Pak Sukri.
“Angker?” Mama dan Papa kompak bertanya.
“Bapak dan Ibu emang enggak tahu latar belakang rumah ini?”
“Enggak, Pak. Saya mendapatkan rumah ini dari bonus kantor,” jawab Papa.
Kemudian Pak Sukri menceritakan bahwa tiga tahun yang lalu, Mutia (pemilik rumah) hidup sebatang kara setelah keluarganya mati karena kecelakaan. Dia hidup sebagai wanita yang mandiri, tangguh, dan memiliki paras yang cantik membuat dia banyak dikagumi bahkan disukai oleh warga desa.
Suatu ketika Mutia dilamar oleh salah satu pemuda, yang orang desa mencap sebagai preman, karena pemuda itu suka memalak dan mengambil uang orang lain dengan paksa, tentu saja Mutia menolak lamaran pemuda itu, wanita mana pun tentu tidak mau menikah dengan laki-laki seperti itu.
Namun, pemuda itu tidak suka Mutia menolak lamarannya, dia menyimpan dendam kesumat karena ditolak mentah-mentah oleh Mutia, sehingga suatu malam pemuda itu nekat mendatangi rumah Mutia dan membunuh Mutia, pemuda itu sempat merebut keperawanan yang dimiliki Mutia sebelum benar-benar nyawanya dihilangkan. Setelah kematian yang tragis itu banyak kejadian ganjil dan menyeramkan terjadi di rumah nomor 56. Banyak orang-orang yang sempat membeli rumah ini, tapi baru satu malam mereka langsung keluar dengan ketakutan yang tak bisa dijelaskan.
“Memang cinta itu bisa membutakan segalanya, termasuk akal sehat yang kita miliki,” ucap Pak Sukri menutup ceritanya.