Aku tidak punya pilihan selain mengambil pedang suci dan menjadi pahlawan. Aku rela mati demi dia dibandingkan harus menunggu dia kembali dari peperangan.
"Aku akan menanggung beban dunia! Lilith tidak perlu menanggung beban sebesar itu!".
Para petinggi agung merestuiku sebagai pahlawan yang menggantikan Lilith. Pedang suci juga menerimaku sebagai pahlawan, bahkan dia menanyakan apa keinginanku.
Aku menjawab pedang suci, "Aku ingin menjadi lemah dan kuat pada saat yang bersamaan. Aku ingin tersenyum bahkan disaat mental ku hancur. Aku hanya ingin dia yang selamat dan menungguku pulang ke rumah."
Setelah itu aku menerima banyak sekali berkah dari pedang suci dan menerima pelatihan berpedang selama 1 tahun sebelum pergi berperang melawan iblis.
Lilith adalah teman sejak kecilku. Kami sering bersama bahkan kami tinggal bersama karena kedua orang tua kami meninggal di medan perang. Seharusnya kami berdua masuk panti asuhan namun Lilith bersikeras ingin hidup mandiri. Karena aku mengkhawatirkan nya, aku pun ikut bersamanya dan meyakinkan petinggi agung bahwa kami bisa berjuang hidup sendiri.
Setelah itu banyak yang terjadi dan berakhir aku yang menjadi pahlawan. Kami tinggal bersama sejak aku berumu 14 tahun dan Lilith berumur 15 tahun, sedangkan aku diangkat menjadi pahlawan saat berumur 17 tahun.
"Mengambil pedangku, menerima berkah dari pedang suci, dan kemudian bermalas-malasan? Bagaimana kamu mau menjadi pahlawan jika malas-malasan gini, Arthur?".
Lilith menghampiri ku yang sedang tidur di bawah pohon pinus. Dia membawa keranjang makan dan dua botol air minum.
"Akhirnya makan siang?".
Lilith tersenyum dengan wajah yang menyeramkan. "Orang malas tidak dapat makan!".
"Heh?! Kumohon yang mulia Lilith! Berikan aku roti isi serta botol air minum yang kamu bawa!".
Dengan wajah sok imut dan kebodohan Lilith yang mudah terperdaya, akhirnya Lilith luluh dan membuka isi keranjang makan yang dia bawa.
"Hambuger!!!".
"Kayak anak kecil, makannya yang pelan! Nanti tersedak lagi kayak tadi pagi."
"Mwakanan bwuatan Lrilrith enak *glup! Sekali!".
Lilith geleng-geleng kepala melihat ku makan hamburger yang besar dengan sangat cepat. Semenjak aku menerima latihan berpedang nafsu makanku meningkat 10x lipat.
Lilith duduk di samping ku dan mulai memakan hamburger nya. Aku berbaring lagi dan melihat ke atas pohon pinus.
Pohon pinus ini adalah tempat aku pertama kali bertemu dengan Lilith. Pertemuan kami berdua ketika aku memanjat pohon ini untuk menganbil buah pinus lalu terjatuh. Kebetulan saat itu Lilith sedang lewat dan aku terjatuh di atasnya. Tapi... Lilith bukanlah gadis kecil biasa, dia adalah keturunan gorila yang dapat menggendongku tanpa kelihatan keberatan. Jadi pandangan pertamaku bertemu dengan Lilith adalah harga diriku sebagai anak laki-laki hancur seketika saat anak perempuan menggendongku dengan mudah.
"Are you going to Scarborough Fair?".
Tiba-tiba Lilith menyanyikan lagu Scarborough Fair. Lagu ini juga sangat berarti bagi berdua karena lagu inilah yang kami nyanyikan saat mengantar kedua orang tua kami berperang.
"Parsley, Sage, Rosemary, and Thyme."
Sambungku melanjutkan lirik lagunya.
"Remember me to one who lives there~"
"She once was a true love of mine~"
Setelah itu Lilith memukul dadaku.
"Lirik terakhir, apakah itu benar?".
"Iya. Ibuku adalah cinta sejatiku."
Tiba-tiba Lilith membenturkan kepalaku ke kepalanya yang sekeras batu zamrud itu. Kepalaku benjol, sedangkan Kepalanya baik-baik saja! Tidak salah aku bilang kalau Lilith memang keturunan gorila. Jika dia tahu aku bilang dia keturunan gorila, mungkin aku tidak bisa melihat matahari lagi besok.
"Serius. Apa kamu menyukai ku?".
Sudah berkali-kali Lilith bertanya tentang itu. Tentu saja aku menyukainya namun belum saatnya. Aku akan memicu bendera kematian ketika saatnya telah tiba. Saat aku menjadi pahlawan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.
Pertarungan melawan iblis tidaklah singkat. Sudah 100 tahun lamanya peperangan bodoh ini berlangsung. Masalah utamanya hanyalah perbedaan pendapat saat pembagian wilayah kekuasaan.
Aku pasti akan menghentikan perang bodoh ini. Sudah 5 generasi pemegang pedang ini gagal, sebagai generasi ke-6 aku harus menghentikan perang ini.
"Bagaimana denganmu?".
"Tentu saja aku menyukaimu Arthur. Tapi aku ingin sekali mendengar kata itu dari mulutmu."
Dasar. Kalau begini terpaksa aku menggunakan kartus as sebelum mengatakannya.
Aku memegang kedua pipi Lilith, lalu menyingkap poni yang menutupi keningnya dan kemudian aku menciumnya.
Wajahnya memerah dan Lilith membatu ketika aku menciumnya.
***
"Pahlawan Arthur serta teman seperjalanannya silahkan—".
"Aku akan berjuang sendirian."
"Heh? Tunggu! Pahlawan—".
Aku meninggalkan kuil dan meninggalkan orang-orang yang memaksakan ikut bersamaku melawan iblis.
Mereka ketakutan dan keteguhan hati mereka tidak tetap. Cukup saja aku yang berjuang. Mereka yang masih ragu karena meninggalkan keluarga dan orang yang mereka sayangi cukup tinggal di rumah dan berjuang sekuat tenaga jika iblis-iblis kecil menyerang rumah mereka.
Sudah 2 tahun aku berjuang dan meninggalkan halaman kampungku. Ratusan bahkan ribuan nyawa iblis telah melayang dari pedangku. Nyawa manusia pun tidak luput dari tebasan pedang ini karena kebodohan mereka yang memilih bergabung dengan iblis.
Tidak seperti saat pertama aku membunuh dan melihat darah, sekarang tanpa membunuh atau melihat darah rasanya aku akan gila. Aku akan kebingungan jika perang ini berakhir. Aku takut jika aku pulang dan gairah membunuhku bangkit, aku akan membantai semua orang sampai puas.
Wajah Lilith selalu melintas di kepalaku setiap haus darah menguasai diriku. Aku rasa aku dapat bertahan agar tidak menjadi mesin pembunuh karena Lilith. Wajahnya selalu melintas di kepalaku, aku ingin pulang secepatnya namun ketakutan ku akan gairah membunuh membuatku ragu untuk pulang.
"Bolehkah aku meminta sesuatu yang mustahil?".
"Apa?".
"Aku ingin kamu kembali secepatnya."
"Baiklah, aku berjanji akan menepati keinginan mu."
Maaf Lilith, sepertinya aku tidak bisa menepati keinginan mu. Aku sedang tidak terpojok malah aku telah menumbangkan para jendral raja iblis yang menghalangiku. Hasrat, gairah, dan haus darah telah menguasaiku. Pedang suci ini saja telah merespon jika aku sudah kehilangan syarat menjadi pahlawan.
Aku yakin sekarang aku terlihat lebih menyeramkan dari raja iblis. Aku tertawa diatas mayat para jendral raja iblis dengan darah diseluruh wajah.
(Are You Going To Scarborough Fair?)
Aku berjalan menuju kastil raja iblis sambil membawa 5 kepala jendral raja iblis yang aku satukan lewat rambut mereka.
(Parsley, Sage, Rosemary, and Thyme)
Banyak iblis yang lari terbirit-birit saat aku masuk. Aku membuang pedang suci karena kekuatan suci ku telah hilang. Aku mengangkat pedang salah satu jendral raja iblis untuk kugunakan melawan raja iblis nantu.
Muncul pertanyaan di kepalaku. Apakah aku harus menjadi raja iblis selanjutnya atau bunuh diri setelah semua ini selesai?
Haha. Aku tidak peduli. Aku akan membuang kemanusiaan ku dan menjadi raja iblis yang hebat.
(Remember Me To One Who Lives There)
Aku melempar kepala jendral raja iblis di hadapan raja iblis. Wajahnya terlihat sangat marah dari kursi singgasana nya.
Aku maju beberapa langkah dan menginjak kepala jendral raja iblis.
"Senang bertemu denganmu raja iblis. Bisakah kita melakukan pertempuran terakhir kita?".
Raja iblis berdiri dan berteleportasi ke belakangku. Dia ingin menebas kepalaku namun dia terlalu lambat, aku telah menebas perutnya sebelum dia berteleportasi.
Saat perutnya terbelah aku langsung memasukan tanganku ke perutnya untuk memecahkan kristal sihirnya. Raja iblis terlalu lemah.
"Kau tau tidak raja iblis? Manusia yang telah merasakan darah akan menjadi iblis bahkan melebihi iblis. Perang yang terjadi sekarang bagiku hanyalah mainan anak-anak."
Kemudian raja iblis menghilang dan keberadaan nya telah hilang di dunia ini.
Aku yakin suara dunia telah bersuara bahwa raja iblis telah dibunuh oleh pahlawan.
Tapi aku akan segera mengumumkan kepada dunia bahwa akulah yang menjadi raja iblis selanjutnya.
Aku berjalan menuju singgasana raja iblis untuk melanjutkan siklus dunia ini.
Raja iblis Arthur.
(He's Once Was a True Love of Mine)
***
—10 tahun kemudian
"Bagaimana rasanya menjadi iblis?".
"Menyenangkan."
"Benarkah? Bukankah menjadi manusia lebih menyenangkan?".
Dari singgasana aku melihat 5 orang berpakaian putih dengan senjata suci di tangan mereka. Pahlawan yang memegang pedang suci berada di tengah. Wajahnya terlihat marah dan aku meremehkan kekuatannya.
Dengan cepat pahlawan pedang suci bergerak dengan gesit ke singgasana ku sambil mengarahkan pedangnya ke leherku.
"Silahkan, aku senang dibunuh oleh pahlawan."
"Apa kamu lelah menjadi iblis?".
"Tentu. Aku ingin mati dan bertemu dengan dewa yang telah bermain dengan dunia ini bagaikan catur."
Pandanganku tiba terbalik. Akhirnya aku melihat wajah sang pahlawan pedang suci. Wajahnya tersenyum dengan air mata. Aku hanya tertawa sampai akhir riwayatku.
"Maafkan aku. Aku mencintamu selamanya."