"Untungnya saya enggak punya bapak, jadi aman donk, tidak bakal didoain jelek.” Beber Kiky.
“Saya doakan, semoga engkau sukses selalu, katanya sih doa orang musyafir cepet dikabulkan!” Jawab Fikri, sambil tertawa terkekeh kekeh.
Menurutnya, bahwa ia bersama suaminya, mempunyai nasib sama. Yakni, tidak punya bapak. Sejak lahir, sampai berkeluarga, Kiky tidak pernah tahu siapa bapaknya. Sedangkan suaminya, lebih beruntung. Karena sejak kecil, ia besar dalam pangkuannya. Adapun orang tua suaminya, telah meninggal dunia, tatkala ia pulang kerja.
Merasa tidak pernah punya bapak, Kiky; begitu sedih, hatinya perih, berang bercampur dendam. Ia beranggapan, bahwa bapaknya, tidak pernah menganggap dirinya ada, tidak diakui sebagai anaknya. Hal itu, yang bikin tambah miris hatinya. Bahwa dirinya merupakan buah hasil di luar nikah. Dan sudah tentu, dianggap sebagai anak haram.
Fikri, manggut manggut mendengar cerita itu. Sesekali menghela nafas. Ia tahu, akan kegundahan Kiky. Sudah sering mendengar keluh kesahnya. Semua problematika, kehidupannya sudah pasti di curhatkan kepada Fikri. Fikri, menginginkan Kiky tidak putus asa, tegar menghadapi. Apapun realitasnya. Ia tidak boleh menyerah. Karena semua itu, pasti ada jalan keluarnya.
Menyuruhnya, hadapi semuanya, pantang mundur, jangan lari dari suatu masalah. Justru, kita harus mencari jalan keluar masalah itu. Yakni, dengan tawakkal kepada Nya. Karena tiap manusia, dilahirkan bersama takdir Nya, kehendak Nya, kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Semua itu, atas kasih sayang Nya. Lalu Gusti (Allah) menentukan garis jalan hidup kita; bahagia – sengsara, pun juga tingkat kemampuan kita disesuai kan kadar nya.
“Percayalah, ini semua merupakan rahasia Allah, suatu saat, pasti akan terjawab.” Ujar Fikri.
“Aku memahaminya Mas, persoalannya, kalau bapak ku buat khilaf, khilaf aja! Tidak usah nambah dosa.” Sangah Kiky, ada tetesan air mata di pipinya.
Kiky sangat menyayangkan sikap orang tuanya. Semenjak lahir, ia merasa belum pernah dinafkahi. Betapa berdosanya, melupakan begitu saja. Padahal sehancur apapun hidupnya. Ia tetap ingin berbakti kepada bapaknya, kedua orang tuanya. Dan ingin mengirim doa, pasca telah tiada nantinya. Justru dengan kehidupannya saat ini. Jika bisa memilih, ia menginginkan, lebih baik digugurkan saat itu. Biar tidak ada hati yang terluka. Tidak menambah dosa, bagi bapaknya.
Hingga menyebabkan ia trauma, dan berefek pada pernikahannya. Ia tidak ingin mempunyai keturunan, karena ketidak jelasan silsilah keluarga. Dan itu, sudah menjadi prinsip. Karena, darah nya tidak ada yang sesuai sama keluarganya.
“Seandainya, aku dilahirkan kedunia ini. Merupakan pilihan, maka aku tidak ingin lahir. Apalagi dari benih jelek.” Sambung Kiky, air matanya terus mengalir, matanya tambah sembab. Tampak wajahnya yang cantik sangat kentara dengan penyesalan.
Sedangkan hidup, tidak bisa dipisahkan dari rasa penyesalan. Menyesali suatu perkara, itu memang hal wajar. Akan tetapi, semuanya menjadi tidak wajar, ketika kita terus meratapi. Begitu pula, anggapan kita selama ini. Dengan berbuat baik, maka orang lain akan melakukan timbal balik. Dunia tidak berjalan serta merta seperti itu. Terpenting, kita jangan pernah berhenti menjadi orang baik. Karena semua perkara, akan menuai perbuatannya masing-masing. Adapun, yang terbaik bagi kita. Perbanyak doa memohon kepada Allah, karena dialah tempat kita berkeluh kesah.
***
“Mohon maaf, jika saya selalu mengikuti statusmu, ada perasaan miris, bercampur sedih membaca masa lalu kamu, tapi saya suka dengan style kamu, terbuka dan hebat." Chat Fikri, membalas story WA Kiky. Lantas memberi semangat. Bahwa (kita) bisa menjadi manusia baik, dari yang terbaik. Adapun cobaan, itu hanya bagian dari asinnya garam, dalam bumbu kehidupan. Kita harus yakin, bisa melawati, melintasi, karena cobaan, tidak bakal melebihi batas kadar kemampuan kita.
Memang tidak ada, yang bisa melawan takdir Allah, jika Allah sudah berkehendak, ‘kun faa yakun’, jadilah apa yang akan terjadi! “Jika kamu berkeinginan, tidak mempunyai anak, apakah tidak memikirkan ada orang yang kamu sayangi, ingin meneruskan garis keturunannya? Janganlah kamu jadikan masa lalu. Menjadi sebuah karma. Baiknya, engkau jangan takut mempunyai buah hati.” Hardik Fikri.
“Mohon maaf mas, jika saya berlebihan. Tapi ini merupakan bentuk kekesalanku! Kalau masalah keturunan, suamiku duda, uda punya anak. Saat ini, aku merasa tidak perlu punya keturunan. Bagiku, itu tiada mengapa. Terkait silsialahku yang tidak jelas. Turunan bejat, aku takut, kasian sama anakku nanti.”
Setelah itu, Kiky mengilas balik masa lalunya. Waktu SD, ia pernah melihat seorang pria, ada di kamarnya, pegang kakinya. Tapi ia singkirkan tangan itu. Kemudian melanjutkan tidurnya.
Pada suatu hari, pernah ia pegang Hp ibunya, melihat salah satu nomer yang sering menghubungi ibunya. Ia tidak tahu, nomer siapa? Nomer itu, sampai sekarang masih diingat, disimpan di buku catatan.
Ketika sudah umur duapuluh tahunan. Kiky, beserta ibunya buka Warkop. Di Senja yang temaram, ada seorang lelaki, melempar uang ke ibunya. Ia tidak mengenali lelaki itu, dan tak pernah ingin tahu. Ia hanya melihat ada mobil warna ijo di seberang jalan. Saat itu, ia berfikir. Jangan jangan orang itu, merupakan yang dulu pegang kakinya.
***
Akhir Agustus, Kiky bepergian ke Banyuwangi, bersama ibunya. Dalam perjalanan, Ibunya yang gaptek, menyuruh agar Kiky mencari nama inisial TYB di akun jejaring sosialnya, tapi ketika di searching, nama itu nihil. Ia jadi curiga, menimbulkan beribu pertanyaan dengan nama inisial itu. Jangan jangan dia bapak ku, bapak yang tak pernah tahu. Kalau anaknya sudah besar, anak yang tak pernah mendapatkan kasih sayang. Ditelantarkan dari baru lahir, dan hidup hanya berdua bersama ibunya. Berjuang bertahan hidup, dengan bekal seadanya.
Di pertengahan bulan Syawal. Lelaki itu, juga pernah hadir, waktu acara reuni teman SMA nya, di Restoran Gotri. Ia ingat lelaki itu, tidak bisa dilupakan wajahnya, wajahnya begitu familiar. Begitu juga, seiring berjalannya waktu, saat belanja ke Solaria Marina sama ibunya, orang itu kedapatan ada disana. Membuntutinya, seperti seorang detektif.
Dan suatu hari, orang itu muncul kembali di Warkop nya. Kiky berlari menemui ibunya, yang sedang mandi. Kemudian ia bilang tentang orang itu. Namun ibunya bersandiwara. Bahwa orang itu, bukan orang yang pernah dilihatnya.
“Sejak saat itu, aku mengangap adanya persekongkolan, permainan sesunguhnya telah lama dimulai. Ada kebohongan diantara ibuku dengan orang itu. Sedangkan aku, orang yang mudah mengingat sesuatu. Apalagi lelaki itu. Aku tidak suka, dengan manusia settingan dalam kehidupanku . Karena itu, sama halnya dengan dunia sinetron.” Demikian Kiky.
***
Langit sore itu cerah, setelah menjalankan kewajiban menghadap Gusti, dalam doa yang selalu di panjatkan oleh Kiky, semoga dibukakan semua tabir kepalsuan yang selama ini menghantui alam pikiran Kiky, dengan langkah gontai menuju warung ibunya.
Subhanallah, tulisan apakah yang kau tunjukan di langit, inisial TYB, 'ya Allah,' pekik Kiky. Secepat kilat dibuka tas dan langsung memotret apa yang Allah tunjukan, jawaban dari semua keraguan yang Kiky cari selama ini.
Hati Kiky berkecamuk, sambil meneteskan air mata, seakan tak percaya kalau di setiap doa yang dia panjatkan, terjawab kali ini. TYB sebuah nama yang selalu menjadi bayangan di setiap kelam, yang membuatnya hancur, yang telah merusak masa depannya, kini Gusti (Allah) telah tunjukan, siapa sesungguhnya dia.
Tetesan airmata Kiky di setiap malam, seakan menjadi segumpal dendam yang akan selalu diingat, jeritan hati yang menyayat pedih menjadi sebongkah kesombongan ingin membalas semua rasa sakit hati yang tercampakan, semua telah merubah dari Kiky yang dulu dengan kiky yang sekarang.
Tuhan, siapakah aku sesungguhnya? Bagitu Doa Rizki Nurita Octaviani