Di salah satu sekolah, ada sebuah fakta yang lumayan menarik, sebuah rahasia umum yang banyak orang ketahui.
Yaitu kisah seorang gadis cantik memiliki kepribadian berbudi luhur yang baik serta di kagumi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebut saja namanya Mala.
Mala seorang gadis desa yang cerdas, baik, murah tersenyum, dan selalu membantu setiap orang yang kesusahan, Sehingga membuat dirinya di juluki sebagai "Bunga Sekolah".
Setiap hari Mala menghabiskan waktu untuk mengikuti ekstrakulikuler, bakti sosial dan menyibukkan waktunya dengan kegiatan yang memusingkan.
Karena ada suatu kegiatan yang harus diselesaikan hari ini juga, Mau tak mau ia harus pulang setelah magrib. Setelah menyelesaikan tugas ia melihat bahwa jalanan sudah sepi dan cukup gelap. Maklum, Karena di zaman ini penerangan sangat sulit untuk ditemukan.
Tak beberapa lama setelah Mala keluar dari kelas seorang gadis memanggil namanya.
"Mala, Mala, aku duluan ya!" Ucap teman Mala agak keras seraya melambaikan tangan, Mala hanya menanggapi nya dengan senyuman.
Mungkin karena semua orang sudah menunaikan ibadah, sekarang jalanan ini dipenuhi oleh beberapa orang yang lalu lalang.
Saat itu ia sudah sangat letih, ia lelah dengan seluruh aktivitasnya dari pagi sampai sore, kondisi remang remang setelah maghrib membuat nya ter--disstract.
Saat ia mulai melangkah dan hendak menyebrang, Terdengar suara klakson mobil memenuhi pendengaran, Mala yang tersadar langsung berteriak sekencang kencang nya, Namun naas, Tubuhnya tertabrak dan terpelanting sangat jauh.
Seragam putihnya yang bersih kini telah dipenuhi oleh noda darah. Karena rasa sakit kini menjalar ke seluruh anggota tubuhnya. Ia terdiam dan memejamkan kedua matanya, Berharap rasa sakit ini menghilang dan dia bisa kembali ke sekolah.
Terlihat di jalan beberapa orang sedang menolong Mala. Mereka membawa Mala ke rumah sakit namun, Suatu kenyataan pahit telah tertelan. Mala dinyatakan tewas karena beberapa komplikasi dan tak mungkin juga untuk diselamatkan.
Arwah gadis itu keluar dan menuju titik dimana gadis itu tergeletak. Ia juga melihat masih ada banyak sekali darah yang melumuri jalan, Perlahan-lahan ia mencerna apa yang barusan terjadi, Rasanya ingin pulang namun ia bingung harus pulang kemana.
Ia menangis, ia ingin kembali.
Suara tangisan seperti terdengar jelas di telinga Mala, ia mencari dari mana sumber suara itu berasal dan ternyata suara itu berasal dari tangisan orang tua Mala yang belum siap untuk kehilangan putri semata wayang nya.
Mala, arwah gadis itu masih berdiri di pojok ruangan dengan tatapan sendu, ia ingin sekali memeluk orang tua nya namun ia tidak bisa.
Ia bahkan menjerit tak mungkin percaya ketika melihat wajah cantiknya hancur, tubuhnya terpotong-potong seakan tak terbentuk, baju putihnya berlumuran darah dan berbau anyir.
Ia bingung, ia gelisah, ia menangis tersedu sedu, tempat yang memungkinkan dia untuk singgah adalah sekolah.
Seragam yang ia kenakan masih tetap melekat di diri nya, ia ingin menetap di sekolah itu -- di bagian tangga lantai 2 dan dimana ia selalu tertawa yaitu kelas 8-4 yang berada di ujung dari kelas-kelas yang lain.