Malam sudah menunjukkan pukul 20.59 menit.
Sebuah film tentang penciptaan alam semesta baru saja memasuki masa putar 5 menit. Malam itu memang Putra dan Putri sedang menonton film dari sebuah player yang belum lama diperbaiki. Maklum, sudah lebih dari enam bulan, keduanya tak pernah mesin ajaib pemutar piringan putih itu.
Di tengah-tengah adegan proses penciptaan matahari.
“Lihat…lihat…mataharinya keluar,“ ujar Putra serius. Penglihatannya tak mau lepas sedikit pun dari monitor. Demikian juga dengan sang adik, Putri.
“Aku…ingin beli matahari…kayak itu, Mas Putra,“ kata Putri sambil tangannya menunjuk gambar bola matahari yang sedang menyala kekuningan.
“Aku juga mau beli matahari. Yangti, aku beli matahari ya?" pinta Putra mendekati Eyang Putrinya yang sedari tadi menemani kedua cucunya di ruang tamu.
“Iya…," sahut Eyang Putri sedikit tertawa.
“Aku juga mau beli, Yangti,“ sambar Putri menirukan kakaknya.
“Iya… belinya besok, ya…,” Eyang Putri tertawa kembali.
Dalam hatinya sang nenek tersenyum sekaligus berpikir keras: membeli matahari? Aneh-anah saja ini anak-anak. Memang matahari bisa dibeli, kayak mainan saja.
Begitu berakhir perkataan Eyang Putrinya, kedua anak itu pun berjingkrak-jingkrak kegirangan sambil mengeluarkan suara-suara seperti nyanyian seperti teriakan yang berisik. Perasaan bungah membuncah di dada mereka: asyiik…aku akan punya matahari.
Keduanya pun meneruskan menonton film itu dengan sangat serius. Kedua bocah itu mengamati sedetail mungkin benda yang bernama matahari itu. Sehingga besok saat membeli matahari tidak akan salah sasaran.
Tepat pukul 21.45 film pun bubar. Mereka pun kemudian beranjak ke tempat tidur masing-masing dengan sebuah kemenangan: besok akan dibelikan matahari!
*****
Sudah lebih dari setengah jam Putra dan Putri, kakak beradik dari Negeri Nusantara, bermain di kawasan lembah Perbukitan Menoreh. Namun anehnya tidak terlihat tanda-tanda kelelahan terpancar dari wajah mereka.
Aneka permainan sudah semuanya dicoba kedua anak itu. Ada permainan pelorotan, panjat pohon, mengikuti alur sungai, bergelantungan di pohon seperti tarzan. Kadang juga berlari-lari mengelilingi sebuah lapangan nan hijau dengan rerumputan yang empuk.
Setelah cukup lama berlarian, mereka menuju ke sebuah gazebo yang terbuat dari kayu-kayu jati dan beratapkan daun pohon salak. Setelah sampai, keduanya tersenyum gembira.
Sesekali Putra melemparkan pandangan kea rah pepohonan besar dan kecil yang bertebaran di sekitar lapangan. Sedangkan Putri melemparkan beberapa kerikil sembari pandangannya tertuju ke angkasa yang terang berwarna putih dan kebiruan.
Tiba-tiba, “Ayo kita bermain bola, Mas Putra," ujar sang adik, Putri, sudah menenteng sebuah bola berwarna pelangi.
“Adik mau bermain bola dimana?" tanya sang kakak, Putra, sembari mengelap keringat di dahinya dengan selembar sapu tangan berwarna putih bergambar Avatar.
“Tadi kan kita berlarian di lapangan. Kita main bola di sana saja," rayu Putri sembari menendang bola. Sudah tidak sabaran rupanya dia.
“Aku enggak mau main bola. Kita main pasir di sungai aja, yuk!" ajak Putra sudah menghambur menuju ke sungai tak jauh dari lapangan. Meski cemberut, Putri pun menyusul dengan tetap memegang bola. Ada setitik harapan sang kakak akan mau bermain bola di pinggir sungai bersamanya.
Tak sampai lima menit, kedua anak itu sudah mencapai bibir sungai yang airnya cukup deras, tapi tidak begitu dalam. Keduanya menjulurkan kaki kirinya hendak menyentuh air nan bening itu. Namun…..
Byurr….
“Tolong…tolong aku kecebur ke sungai!“ teriak Putra di dalam kamar tidur yang terang benderang.
“Tenang…tenang Mas Putra. Kamu ngimpi ya?" tanya Mama mendekap anak pertamanya.
Putra sesenggukan di gendongan Mama. Tak berapa lama sang adik, Putri, pun ikut terbangun. Melihat kakaknya menangis, Putri pun ikutan-ikutan menangis sembari meraih botol susu bergambar pigeon kesukaannya.
“Besok beli matahari ya, Ma,“ pinta Putra sambil membenamkan mukanya ke dada sang Mama.
“Iya…" jawab Mama singkat sambil menurunkan Putra ke kasur empuk di depan televisi.
Putri masih berurai airmata. Dalam elusan tangan lembut Mama, tak sampai lima menit, anak semata wayangnya sudah terlelap tidur kembali. Entah akan ber mimpi seperti apa yang dilakoni kakaknya. Atau dia akan bermimpi yang lain. Atau bahkan tidak akan bermimpi sama sekali.
“Ma…tadi aku bermain-main di matahari. Putri juga ikut. Nanti beli matahari ya, Ma," rajuk Putra sambil mengarahkan pandangan ke adiknya yang masih belum terlelap betul. Matanya masih kadang terbuka kadang tertutup. Hanya satu benda yang pasti dipegang eratnya: botol susu bergambar pigeon.
“Iya…” jawab Mama sambil terseyum. Masih saja tangan kanannya mengusap punggung Putri yang masih merem melek. Kali ini bunyi sedotan susunya terdengar agak keras dan gerakannya mulutnya kian bertambah cepat.
“Matahari itu dimana, Ma? Aku ingin beli matahari. Aku ingin beli matahari sekarang!“ teriak Putra keras.
Badannya bergerak-gerak seakan meronta. Mama tak kuasa menahan gerakannya, sehingga ikut bergetar badannya. Sedangkan Putri sudah tertidur dengan pulas.
“Iya nanti kalau sudah pagi. Ini kan masih malam. Tuh lihat…masih gelap, kan?" kata Mama sambil menyibak tirai kelambu berwarna biru muda yang menutupi ruang pertunjukan.
“Mas Putra kan setiap pagi lihat matahari?" ujar Mama melepaskan gendongan.
Sekarang Putra terduduk setengah mengantuk karena kelelahan meronta. Sementara botol susu bergambar sama dengan milik adiknya masih dipegangnya erat. Tak lama setelah itu, Putra benar-benar tertidur lelap.
*****
Allohu Akbar
Allohu Akbar
Suara adzan pagi memanggil manusia untuk segera bergegas menunaikan kewajiban sholat Shubuh. Meski udara dingin menusuk tulang, sholat Shubuh harus tetap dilakukan. Ini adalah salah satu kewajiban ibadah yang tidak boleh dilupakan.
“Mas Putra … Dik Putri … ayo bangun. Hari sudah pagi. Saatnya sholat Shubuh, lho!" bisik Mama kepada Putra dan Putri yang sudah kucek-kuek mata. Tanpa berkata-kata Putra cepat-cepat ke kamar mandi khusus putra. Sedangkan Putri dengan langkah agak gontai menuju kamar mandi khusus putri.
Setelah selesai membuang hajat kecil, keduanya lantas berwudhu dan segera bersiap-siap menunaikan ibadah sholat Shubuh bersama Mama.
Tujuh menit berlalu. Jaru jam dinding di ruang pertunjukkan menunjukkan pukul 04.45. Matahari masih belum menampakkan diri. Mama, Putra, dan Putri masih berdo’a dengan khusyuk. Kemudian dilanjutkan membaca beberapa lembar Iqro’.
Tepat tiga menit mereka merampungkan ibadah.
Setelah itu mereka keluar rumah untuk berolah raga pagi. Sungguh segar udara pagi ini.
“Mama, lari-lari, yuk!“ ajak Putra lantas merengkuh tangan kanan Mama.
Segera Putri merengkuh tangan kiri Mama. Mereka pun berlari-lari kecil di sepanjang jalan beraspal di tengah persawahan di kampung mereka tinggal.
Bola lampu penerangan jalan masih menyala menandakan hari masih cukup gelap.
Setelah 10 menit berlari, berjalan-jalan, mereka pun berhenti di dekat pinggir jalan, dekat sungai kecil.
Tiba-tiba, “Mas Putra, beli matahari, yuk! Mama…beli matahari,“ pinta Putri sembari melemparkan batu kecil ke sungai. Putra yang sedari tadi diam saja, lantas menimpali.
“Iya, katanya tadi mau beli matahari. Dimana, Ma?" tanya Putra merajuk manja.
Dengan sabar, Mama berucap, “Anak-anakku yang pintar. Siapa yang mau matahari?" tanya Mama kepada Putra dan Putri yang menarik-narik tangan Mama.
“Aku…aku mau matahari," jawab Putra sambil mengacungkan jari telunjuknya tinggi-tinggi sambil melonjak kegirangan.
“Aku juga, Mas Putra. Aku juga mau matahari, Ma," ucap Putri tak mau kalah sama kakaknya.
“Begini anak-anakku yang cakep dan cantik. Tuh…lihat ke sana belum kelihatan mataharinya, kan?" telunjuk Mama mengarah ke arah timur, arah terbitnya matahari.
Putra dan Putri hanya bias melongo yang terlihat hanyalah pohon-pohon kelapa, jambu, dan rumah-rumah.
“Apa…mataharinya malu, ya?“ tanya Putra menangkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya.
“Iya…matahari malu, he he…,” timpal Putri ikutan menangkupkan kedua telapak tangan ke wajah imutnya.
Mendengar itu mereka tertawa bersama.
“Begini anak-anakku, matahari itu tak bisa dibeli. Matahari itu panas sekali. Nanti kalau Putra dan Putri terbakar, gimana?" jelas Mama melihat anak-anaknya serius mendengarkannya. Raut wajah kedua kanak itu mendadak sedikit ketakutan.
“Nanti gosong ya, Ma, he he…,” ucap Putri tertawa kecil namun wajahnya masih sedikit ketakutan.
“Matahari rumahnya juga jauh dan tinggi sekali. Mama tidak bisa mengambilnya,“ jelas Mama lagi.
“Iya…tinggi sekali di langit. Tapi kemarin kok aku bisa bermain di matahari?" tanya Putra sembari tangannya memegang kepala. Sepertinya sedang mengingat-ingat kejadian mimpi semalam.
“Iya..Mas Naka… itu hanya mimpi. Mimpi kan tidak betulan. Kalau kita bermain-main di matahari, nanti kita akan terbakar. Matahari kan panas sekali…" Mama menjelaskan dengan sepenuh kemampuannya.
“Tapi…tapi…aku mau lihat matahari, Ma?" pinta Putri manja.
“Iya…sebentar lagi matahari akan kelihatan. Yuk, kita jalan-jalan lagi. Kita lihat matahari disana, yuk," ajak Mama menggandeng tangan kedua anaknya menuju ke sebuah dangau di dekat sekolah.
"Alhamdulillaah ....." Putra dan Putri puas. Mereka masih bisa melihat matahari.