Aku adalah seorang remaja pria, atau bisa dikatakan pemuda, yang sedang menempuh pendidikan di SMA. Kalian boleh memanggilku Rio.
Di sekolahku, aku tidak berteman dengan siapapun, aku kurang suka untuk bergaul bersama mereka, sebab kebanyakan dari orang-orang itu bersifat kekanakan.
Hari ini berjalan seperti biasanya, pergi ke sekolah, belajar, istirahat, belajar kembali, lalu pulang ke rumahku. Kali ini, aku sedang membaca sebuah buku berjudul ‘Sunyi', buku itu memang sangat menarik, kalimatnya sangat puitis, aku suka.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
“Hai!" Seorang gadis menyapaku, di lorong sekolah?
“Hai," balasku. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak terlalu suka bergaul.
Tapi.. aku sedikit penasaran, kenapa dia tiba-tiba muncul di lorong sekolah ini? Biasanya para penghuni sekolah, kecuali aku, akan melewati jalur lain.
Gadis ini menyodorkan tangannya, “Aku Catharina. Kamu?"
Untuk sekejap aku menatap tangan itu, kulitnya sangat pucat, berbeda dengan tanganku. Tapi tidak terlalu aku pusingkan, “Panggil aja Rio."
“Owh... Kamu kelas 12 ya?"
“Iya. 12 IPS 2," jawabku.
“Lo sekolah disini?" sekilas aku memandang matanya. Pupil mata berwarna biru itu seakan menghipnotisku.
“Iya. Aku udah lama banget sekolah disini."
Lama? Mm... Mungkin dia bodoh, maka itu dia selalu tinggal kelas.
“Sekolahnya udah makin bagus ya?" tanyanya selagi kami berjalan bersamaan.
“Makin bagus? Dari dulu juga gini-gini aja."
“Oh iya? Tapi waktu it-"
“Kak Rio!" Aku menoleh dan mendapati satu orang siswi berlari ke arahku.
“Kenapa?"
“Aku disuruh minta tanda tangan kakak kelas. Tolong ya? Tanda tangan disini."
Aku menandatangan bukunya dengan cepat, aku malas berurusan dengan mereka.
“Makasih kak." Aku mengangguk cepat.
“Adik kelas ya? Pakaiannya kok ketat gitu ya?" Gadis ini mengerutkan alis.
Keherananku semakin menjadi. Anak-anak perempuan disini memang sangat banyak yang menggunakan pakaian ketat, meski sudah dilarang tentunya. Apakah dia se-kuno itu? Sampai tidak tau kebiasaan gila kebanyakan siswi disini.
“Eh udah sampai kelas kamu!" Aku melihat papan petunjuk, ya, kami memang sudah sampai di kelasku.
Aku tidak menggubrisnya dan langsung masuk ke kelas. Tanpa disadari, dia mengikutiku, juga duduk di sampingku.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
“Pagi semua!" Pak Botak, julukan kami pada guru kimia, masuk ke kelas sambil membawa beberapa buku di tangannya.
“Rio, tolong hapus papan tulis!"
Dengan malas, aku melangkah ke depan kelas untuk menghapus coretan-coretan abstrak disini. Ini pasti ulah orang-orang di kelas ini tadi.
Kenapa Pak Botak tidak menegur Catharina? Dia kan bukan bagian dari kelas ini? Apa dia anak yang dipindahkan ke kelas ini? Tapi kenapa tidak ada sesi perkenalan?
“Sudah cukup. Kamu boleh kembali duduk," titah Pak Botak.
“Iya Pak," ucapku lesu.
Hari-hariku terus berputar, tetapi terasa sedikit berwarna setelah kedatangan Catharina di sampingku. Entah kenapa, aku bisa merasa agak bahagia dengan Catharina, aku menganggapnya hanya sebagai sahabat. Tidak lebih.
Dia selalu menemaniku di sekolah, di kelas, dan dimanapun, kecuali di rumah. Tidak mungkin aku membawanya ke rumahku, itu tidak pantas. Dan juga keluarganya akan mencarinya bila aku melakukan hal itu.
“Rumah lo dimana sih?"
“Rumahku... Di jalan Setapak Satu," tuturnya agak ragu.
Jalan Setapak Satu? Aku rasa tidak ada nama jalan seperti itu di kota ini. Mungkin ada nama jalan baru.
“Di daerah mana?"
“Mm... Daerah Rawang."
“Gak ada yang namanya daerah Rawang sekarang. Kasih tau gue, lo sebenarnya siapa?” mataku menatap intens pupil biru itu.
“A-aku.. aku siswi disini!"
“Gue gak nanya lo siswi disini atau bukan. Yang gue tanya identitas lo!" Sekarang kedua tanganku mencengkram pelan kedua bahu Catharina.
Dia menelan sesuatu di dalam mulutnya, “Aku.. Catharina.."
Aku mencabut secarik kertas yang keluar dari sakunya, kubaca disitu ada nama ‘Catharina de Wit'. Ini bukan nama yang biasa dipakai orang Indonesia kan?
“Lo siapa?! Setau gue, di sekolah ini gak pernah ada orang berdarah campuran."
Catharina berlari kencang, lalu menghilang dibalik lorong sekolah, tempat dimana kami bertemu untuk pertama kalinya.
“Catharina de Wit." Aku membaca nama yang tertulis di kertas itu. Di bawah namanya, ada beberapa tulisan yang tidak aku mengerti.
Aku berlari menembus kabut tipis yang menutupi lorong, berusaha untuk mencari Catharina.
“Catharina!"
Aku terpaku, ada sekelompok remaja di sebuah ruangan kosong.
“Kalian siapa?" Perlahan aku memasuki ruangan berdebu itu. Tiba-tiba suasana menjadi mencekam, dan hawa dingin menembus kulitku.
“Catharina?" panggilku ragu. Kenapa mereka berkumpul disini? Pakaian mereka, sangat kuno.
“Catharina, wie is zij? (Catharina, siapa dia?)" Aku mengernyit, pria ini bilang apa? Bahasa apa itu?
Catharina de Wit, seperti nama orang Belanda, kalau aku tidak salah. Berarti bisa jadi mereka..
“Hij is mijn vriend. Hij gaat hier naar school. (Dia temanku. Dia sekolah disini)." Catharina menjawab pertanyaan pria tadi.
Aku meneguk salivaku, sepertinya ada yang tidak beres disini.
“Mm... Kalian kenapa ngumpul disini?" Sebenarnya aku agak ragu untuk berkomunikasi dengan sekelompok orang yang tidak aku kenali di depanku sekarang.
“Wat zei hij, Catharina? (Apa yang dia katakan, Catharina?)" Seorang yang lain menatap Catharina.
“Hij vragat waarom we hier samenkomen. (Dia bertanya kenapa kita berkumpul disini)."
Brak!
“CATHARINA!" Sejenak aku terkejut karena pintu yang didobrak kasar oleh seorang pria jangkung ini. Dia memeluk tubuh Catharina.
Aku tidak bisa mengucapkan apapun, karena aku semakin bingung dengan semua dihadapanku. Apa ini? Mereka berucap dengan bahasa Belanda (sepertinya), dan menggunakan pakaian kuno berwarna hitam putih?
“Ehm... Sorry, mag ik een vraag stellen? (Ehm... Maaf, bolehkah aku bertanya?)" kataku. Dan tentu saja aku menggunakan penerjemah melalui ponselku.
Mereka, kecuali Catharina mengangguk kecil.
“Waarom ben je hier verzameld? (Kenapa kalian berkumpul disini?)" Aku tetap menggigit bibirku.
“Waarom? Omdat dit onze klas is. We wachten op onze leraar om les te geven. (Kenapa? Karena ini kelas kami. Kami sedang menunggu guru kami untuk mengajar)."
Kelas? Guru mengajar? Ini kelas yang sudah tidak digunakan! Siapa yang mau mengajar disini? Apa sebenarnya mereka ini?
“Ini kan kelas yang-"
“Rio! Kamu ngapain di sini?" Seorang pekerja wanita menatap aneh padaku.
“Ibu.. gak ngeliat ada orang-orang lain di ruangan ini?" Aku mengangkat alis, kenapa beliau nggak bisa liat?
“Liat siapa? Kamu jangan ngaco Rio! Kamu dari tadi ngomong sendiri!"
Deg!
Catharina?
Aku menggelengkan kepala, “Ibu udah lama kan kerja di sekolah ini? Sama neneknya Ibu?"
“Kamu tau dari mana nenek saya pernah kerja di sini?"
“Sering saya dengar dari yang lain." Aku menoleh ke belakang. Mereka masih menatapku.
“Ibu sekarang mau kemana? Ke gudang ya?"
“Iya. Kenapa?"
“Saya ikut ya Bu?" Aku ingin menanyakan suatu hal.
“Ya udah."
Kami, aku dan Bu Rina, berjalan beriringan menuju gudang, untuk sekejap, ia ingin mengambil tongkat pel yang baru.
~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•
“Kamu mau nanya sesuatu ya?" tebak Bu Rina. Dan ya, itu benar.
“Iya Bu. Ibu pernah diceritain sesuatu gak tentang sekolah ini?"
“Pernah. Kamu mau dengar?" Aku mengangguk antusias.
“Dari dulu, sekolah ini udah berdiri, cuman ya modelnya belum seperti sekarang. Yang dipakai sekarang kan gedung baru. Nah dulu, murid sekolah ini banyak yang keturunan Belanda. Guru-gurunya juga, tapi ada beberapa yang orang Indonesia asli, termasuk nenek saya. Waktu itu, semua berjalan seperti biasanya. Tapi, semenjak ada kepala sekolah baru, sekolah ini makin keras peraturannya. Dan uniknya, ada dua orang murid yang berpacaran saat itu, seharusnya gak boleh karena ada peraturan. Karena ketahuan, dua murid itu dipenggal kepalanya sama kepala sekolah."
“Dipenggal?!" Mataku reflek membulat sempurna. Mengerikan sekali, hanya berpacaran, langsung dipenggal. Hiiy!!!
“Iya. Terus teman-teman mereka yang lain, kalau saya nggak salah, ada 2 orang, bunuh diri, mereka gantung diri di halaman belakang gedung lama. Karena nggak kuat dengan peraturan baru. Kalau tidak salah, ada salah satu dari mereka berdua yang kepalanya putus dan hilang entah kemana." Lagi-lagi aku merinding. Jumlah mereka tadi ada...
“Rio." suara seorang gadis terdengar lirih memanggilku dari belakang.
Aku menoleh, “CATHARINA!" seruku.
“Rio? Kamu tau dari mana nama siswa itu?"
“Bu... Dia, mereka ada di belakang." Aku menunjuk mereka berempat. Bu Rina menoleh cepat.
“Jullie hier? Ik kan je niet zien. (Kalian ada disini? Aku tak bisa melihat kalian)." Wanita yang menjadi pekerja di sekolah ini memicingkan kedua matanya.
“Katakan padanya, kami akan pergi dengan segera, karena kami sudah menemukan tubuh kami yang hilang, yang sudah dikubur kepala sekolah, tapi kalian harus kuburkan tubuh kami dengan layak," ujar Catharina.
“Bu. Dia bilang, mereka bisa pergi kalau kita kuburkan tubuh mereka selayaknya mayat biasa."
“Dimana? Tanyakan padanya."
“Di halaman belakang sekolah, di dekat tiang tinggi," jawab Catharina dengan tetap melihatku.
“Di dekat tiang tinggi halaman belakang, Bu."
“Moeten we het opgraven? Zodat we je goed kunnen begraven? (Apa kami harus menggalinya? Agar dapat mengubur kalian dengan layak?)"
“Iya, tolong. Dengan cara itu, kami bisa pergi. Tolong bantu kami."
“Mereka bilang harus, Bu. Itu satu-satunya cara biar mereka bisa pergi."
“Oke. Rio, telpon beberapa tukang di sekolah ya. Ini.." Bu Rina memberikan telepon genggamnya padaku. Dengan cepat aku menghubungi 4 orang pekerja sekolah.
Beberapa menit kami menunggu, akhirnya keempat orang yang aku hubungi mendatangi aku, dan kami semua.
“Kenapa Bu?" Pak Anto, tukang kebun sekolah, mendekati Bu Rina..
“Ikut saya ke taman belakang ya. Ada yang harus kalian kerjakan." Aku, keempat bapak-bapak pekerja, dan Catharina beserta temannya, mengikut di belakang.
Tak lama kami berjalan untuk sampai ke taman belakang sekolah itu, hanya memandangi sekejap saja, sudah dapat kami temui tiang tinggi yang dikatakan Catharina..
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling taman, sebenarnya taman ini tidak terlalu buruk, udaranya segar, dan ada beberapa tumbuhan disini.
“Gali di sekitar sini ya bapak-bapak. Tolong ya..."
Keempat pria yang dimaksudkan Bu Rina tetap menjalankan apa yang dikatakan oleh wanita tersebut, meski wajah mereka tampak keheranan.
“Bu! Ada tengkorak Bu!!" Aku berlari melihat lubang yang digali. Sangat banyak tengkorak yang ditemukan di situ.
Dengan segera aku menghubungi pihak sekolah.
Akhirnya, kasus ini diusut, dan diteliti lebih lanjut. Tengkorak-tengkorak itu kami kuburkan di pemakaman. Tetapi pelakunya, alias kepala sekolah yang dulu, sudah meninggal, jadi.. kasus selesai sampai disini.
Catharin, pacarnya, dan kedua temannya menghilang meninggalkan kami.
Hanya itu yang bisa aku ceritakan tentang mereka. Goodbye Catharina!!!