"Mas, dapat salam dari Lina," kusampaikan salam dari salah satu temanku yang bilang terus terang padaku kalau dia menyukai Mas Alan, pacarku.
"Lina? Lina siapa?" tanyanya sambil menautkan kedua alisnya.
"Temenku. Dia bilang naksir ama kamu," kataku sambil tersenyum tipis dan mengedipkan mata menggodanya, "Cieee ... yang lagi di naksir cewek," godaku sekali lagi.
Dia hanya mencebik mendengar godaanku, "Emangnya kamu ga bilang, aku ini siapamu?" tanyanya kemudian.
"Bilang."
"Bilang apa?" desaknya.
"Aku bilang kamu Mas-ku," kataku sambil meminum es alpukat kesukaanku. Kami memang sedang mampir di kedai bakso sebelum mengantarku pulang, seusai dia menjemputku dari kuliah.
"Ya pantes aja, kalau dia jadi naksir," ucapnya sambil menggelengkan kepala, "Memangnya kamu nggak cemburu?"
"Memangnya kamu suka Lina?" tanyaku balik tanpa menjawab pertanyaannya.
"Nggak tahu. Coba besok tunjukin, yang mana anaknya," pintanya santai.
"Oke."
Kami pun melanjutkan menyantap bakso yang telah terhidang di meja sesaat sebelum kami mengakhiri percakapan. Bagi sebagian orang mungkin percakapan kami ini aneh. Bagaimana mungkin ada cewek yang masih bersikap biasa saja saat mengetahui ada cewek lain yang terang-terangan bilang kalau dia sedang naksir pacarnya. Tapi bagiku, itu memang biasa. Bukannya aku tidak cemburu, tapi aku bersikap rasional aja. Kalau hanya si cewek yang naksir tapi pacarku ndak menanggapi, ngapain ngabisin tenaga buat cemburu? Yekan?
Lain soal kalau ternyata si pacar juga naksir. Ini baru mengharuskannya berbicara serius dengan sang pacar. Selama belum ada ikatan pernikahan, bagiku semua masih bebas. Dia bisa saja berpaling dariku, dan aku bisa berpaling darinya. Meski kami tidak pernah berniat untuk saling berpaling pada yang lain.
Kami menjalani hubungan ini serius, tapi santai. Itu sebabnya selama setahun kami pacaran, kami jarang bertengkar hebat. Pertengkaran kecil memang sering terjadi, namanya dua manusia dengan dua kepala yang berbeda pemikiran tentu kadang ada gesekan. Namun semua selalu bisa kami selesaikan dengan baik.
Ya, kami berpacaran setelah aku lulus dari SMA. Mas Alan adalah seniorku di SMA. Selama di sekolah dulu, kami tidak pernah dekat, hanya saling tahu saja. Aku sempat terkejut saat dia tiba-tiba datang ke rumah seusai ujian kelulusan SMA-ku dan menyatakan kalau dia ingin berhubungan serius denganku.
Aku tentu saja menerimanya dengan suka cita. Sudah sedari dulu aku menyukainya. Namun, aku tak punya keberanian mendekatinya, karena dia memang terkenal dingin pada wanita meski dia sangat ramah.
Kami berpacaran semenjak saat itu. Kami tidak kuliah di tempat yang sama. Dia mengambil jurusan Tehnik Informatika sebuah PTS sedangkan aku kuliah di Komputer Bisnis di sebuah college.
Kata orang-orang, wajah kami memang mirip. Bila kami sedang jalan bersama, mereka sering menyangka kami kakak-adik. Tentu saja dengan narsisnya dia mengatakan kalau dialah sang adik dan aku kakaknya. Salah satu hal yang aku baru tahu tentang dia setelah kami berpacaran, yaitu kenarsisannya yang sangat tinggi.
Saking seringnya kami dikatakan sebagai kakak-adik, aku pun menggodanya, "Coba nanti tanyakan ke Bapak Ibu Mas, siapa tahu kamu memang adikku yang hanyut di sungai."
Tentu saja dia segera menjitak kepalaku pelan sambil tertawa.
"Ada-ada saja kamu."
"Ya, siapa tahu. Banyak banget yang bilang kita kakak adik. Segitu miripkah?"
"Itu artinya kita memang jodoh," jawabnya sambil mengerlingkan mata.
"Kalau jodoh itu, mbok ya, langsung dilamar gitu, loh, Mas," gurauku lagi.
"Baik. Minggu depan aku bilang Bapak sama Ibu untuk memintamu," jawabnya dengan wajah serius.
"Loh, eh. Serius?" tanyaku sedikit panik.
"Serius. Kamu nggak mau nikah ama aku?" tanyanya masih dengan wajah serius yang menaikkan kadar ketampanannya jadi 500 kali lipat. Lebay!
"Bukan gitu. Ya ... mau, sih," jawabku lirih.
"Apa? Nggak mau?" desaknya membuat wajahku memanas. Malu cuy.
"Mau Mas. Mau," jawabku sambil melotot sebal karena menahan malu. Dia pun terkekeh pelan. Kekehan itu pun menular padaku.
🌼🌼🌼
"Mas, itu loh, yang namanya Lina," bisikku saat dia menjemputku seusai kuliah dan Lina pun melintas di depan kami.
"Ni," sapa Lina memanggil namaku, "Duluan Mas." Lina tersenyum dan menganggukkan kepala pada Mas Alan.
"Iya. Hati-hati Lin," jawabku dengan senyuman, sedangkan Mas Alan hanya mengangguk tanpa tersenyum sama sekali. Aku mendorong bahunya pelan sambil mengedip-ngedipkan mata menggodanya.
"Apaan, sih?" tanyanya sambil menyerahkan helm padaku.
"Cieee, yang habis disapa gebetan," godaku sekali lagi.
"Kamu lagi ngetes aku atau gimana, sih? Naik!" perintahnya tegas sambil mulai menghidupkan motor. Aku hanya tertawa pelan sambil naik sebelum dia marah-marah lagi.
Aku masih ingat, saat beberapa hari sebelumnya Lina mendekatiku dan mengatakan sesuatu yang sedikit mengagetkan, tapi aku segera menghalau pikiran burukku tentangnya. Bukan salah Lina kalau dia sampai naksir Mas Alan, karena dia memang menganggap lelaki itu adalah kakakku.
"Ni," panggil Lina pelan sambil duduk di kursi sebelahku yang masih kosong sebelum kuliah mulai.
"Heem," jawabku pelan tanpa mengalihkan pandangan dari lembaran yang kupegang. Aku memang sedang mempelajari materi presentasi tugas Pemrograman Bisnis sesaat lagi.
"Cowok yang biasa nganter jemput kamu itu siapa, sih?"
"Mas-ku. Kenapa?" Aku memang lebih suka menyebutnya 'Mas-ku' daripada 'pacarku'. Lebih halus aja kedengarannya. Hehehe.
"Oh, kakakmu, ya?" Asumsi Lina yang tak ingin aku benarkan. Aku hanya diam saja.
"Ganteng, ya," lirih Lina membuatku sedikit menoleh padanya.
"Heem, iyakah?" tanyaku sedikit menautkan alis.
"Iya dong, sama kek, adiknya. Cantik." Aku tersenyum mendengar pujiannya. Aku merasa ada yang aneh dengan kata-katanya.
"Ni," panggilnya sekali lagi. "Titip salam dong buat Mas-mu," katanya dengan mata berbinar.
Aku sedikit tersentak sebelum dengan segera aku bisa menguasai diri. Dengan tersenyum singkat aku mengangkat tangan dan menyatukan jempol telunjukku membentuk kode 'Oke'. Lina pun tersenyum sumringah dan segera meninggalkanku sendiri lagi.
🌼🌼🌼
"Ni, Mas kamu itu ganteng, tapi kenapa jarang senyum, sih?" keluh Lina tanpa aba-aba sesaat setelah dia menjatuhkan tubuhnya di kursi sebelahku, "Memang dia sekaku itu, ya?"
"Heem. Sepertinya begitu," jawabku seadanya.
"Ni, dia udah punya pacar belum, ya?" lirihnya seraya menatap langit-langit ruang kelas kami.
Punya! Aku pacarnya. Ingin rasanya aku menjawab seperti itu, tapi aku nggak tega melihat Lina seperti itu. Seperti kehilangan gairah hidup. Memang segitu merana menjadi cewek yang diabaikan cowok incarannya. Aku juga sebenarnya ingin tahu, bagaimana Mas Alan menghadapi cewek-cewek yang naksir padanya.
Aku yakin, dengan wajahnya yang tampan, sikapnya yang kalem dan ramah, baik hati dan suka menolong, pasti banyak cewek yang akan naksir padanya.
"Nanti aku tanyakan padanya." Shit! Jawaban apa itu? Sontak Lina menegakkan badan dan menatapku dengan pandangan berbinar.
"Sip. Aku tunggu kabar baiknya, ya, Ni. Thanks banget ya, Sist. I love you," ucapnya bertubi-tubi. Aku jadi sedikit merasa bersalah telah membodohinya. Aku hanya tersenyum menanggapi kehebohan Lina.
Sesuai janjiku pada Lina, aku pun menanyakan hal itu pada Mas Alan setelah dia menurunkanku di depan rumah.
"Mas," panggilku ragu, takut dia marah.
"Heem. Kenapa? Masih kangen?" godanya sebelum mematikan mesin motor. Mungkin dia memang merasa ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padanya.
"Lina nanya, apa Mas punya pacar," ucapku pelan sambil mengamati perubahan ekspresi wajahnya.
Biasa. Dia hanya menatapku lebih tajam.
"Kenapa kamu nggak jawab aja, sih?"
"Aku jawab gimana? Aku tadi bilang padanya, nanti aku tanyain ke Mas," jawabku polos. Mas Alan tertawa pelan lalu mengusap ujung rambutku pelan. Begitulah dia, jarang sekali marah meski kadang aku bertingkah menjengkelkan.
"Kamu mau aku jawab gimana?" tanya Mas Alan mendongakkan wajahku yang menunduk karena merasa bersalah. Aku beneran takut membuatnya marah. Aku takut dia beranggapan kalau aku tak mengakuinya sebagai pacar. Padahal aku hanya ingin tahu bagaimana dia menanggapi cewek-cewek yang naksir padanya.
"Kok, malah nanya. Ya, jawab aja sesuai kehendak Mas Alan, nanti aku sampaikan padanya," jawabku seadanya, berusaha menyembunyikan debar jantung bila harus mendengar jawaban yang tidak aku inginkan.
"Kalau aku bilang nggak punya pacar, gimana?"
"Ya, nanti aku bilang pada Lina kalau Mas belum punya pacar," sahutku cepat sambil memutar badan hendak meninggalkannya. Sebel!
"Hey!" Mas Alan menahan tubuhku lalu meraih tanganku pelan. "Ngambek, nih?"
Aku hanya mencebik mendengar kata-katanya. Suara tawa ringannya terdengar pedas di telinga. Seolah mengejekku.
"Rani Dewi Shafiya." Mas Alan menyebut nama lengkapku.
"Aku sudah punya pacar dan aku hanya mencintainya. Tidak ada wanita lain yang mampu mengalihkan pandanganku darinya. Hanya dia, selamanya. Kamu percaya aku?" Sungguh wajahku memanas dengan cepat mendengar kata-katanya.
"Terserah kamu mau bilang apa pada Lina. Tapi aku minta maaf, tidak bisa menyambut perasaan sukanya. Karena hanya ada satu wanita dalam hatiku. Itu kamu."
Kembali Mas Alan melambungkan hatiku hingga jauh meninggalkan bumi. Tanpa sadar aku tersenyum dan menggigit bibirku, agar tak berubah menjadi tawa mendengar kata-katanya.
Mas Alam memang jarang sekali berkata-kata romantis, namun sekali terucap, sangat luar biasa efeknya.
"Sekarang masuklah. Sudah tenang, kan?" katanya sambil menepuk ringan pipiku.
"Ish! Tenang apaan?"
"Cause I said, I love you," katanya kembali menggenggam erat kedua tanganku.
"Hahaha. Ya, I love you, too."
"Yes. Minggu depan aku lamar kamu," katanya sambil melepas genggaman tangan kami dan mulai menyalakan motornya.
Aku hanya melongo mendengar kata-katanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawabku spontan. Mas Alan segera meluncur meninggalkanku dalam kebingungan seusai mendengar jawaban salamnya.
What the ...
Minggu depan katanya?!
Bapaaaak!!
🌼🌼🌼
Kalau ada saat dimana aku ingin menghilang, adalah saat dimana Lina dengan sumringah menunggu kedatanganku di kelas pagi ini. Dia sudah memanggil namaku dan menepuk kursi di sebelahnya. Mau tak mau aku pun mendekatinya. Ya Tuhan, semoga aku tidak mengucapkan kata-kata yang menyakitinya.
"Ni, gimana-gimana?" tanya Lina antusias. Aku tersenyum mendengarnya. Dengan tenang aku duduk di kursi dan mulai mengatur napas dan ekspresi senatural mungkin.
"Maaf, Lin. Mas Alan bilang, dia sudah punya pacar," ucapku dengan wajah kubuat sesedih mungkin.
"Dan aku tahu siapa pacarnya," jawab Lina masih nampak biasa. Aku terkejut mendengarnya.
"Oh, ya? Siapa?" tanyaku spontan.
"Kamu, kan?" jawab Lina sambil mencebik, "Kamu jahat tahu, nggak." Lina berkata sambil cemberut, dia mengalihkan pandangan, tangannya bersedekap di dadanya. Aku jadi sedikit panik.
"Lin, maaf. Aku nggak bermaksud demikian. Aku, tuuh ... "
"Iya-iya, hahaha." Lina tertawa melihat kepanikanku. Aku hanya melongo melihatnya. Kok?
"Kamu, tuh, polos banget, sih. Kamu kira aku nggak tahu kalau kalian pacaran? Memang sikap kalian biasa. Tapi tatapan mata Mas Alan tuh, keliatan banget. Seolah hanya adaRani seorang." Aku tersipu mendengar kata-kata Lina.
"Ya, aku cuma ngetes aja. Siapa tahu kalian bisa putus dan Mas Alan mau sama aku. Hahaha." Lina tertawa sambil mengedip-ngedipkan mata. Sialan!
"Ish! Usil banget." Kami tertawa bersama.
Lega rasanya bisa berbagi tawa dengan sahabat di pagi yang cerah ini. Hanya satu yang kini menjadi beban pikiranku.
Apa iya minggu depan Mas Alan beneran melamarku?
Alamak!
Matek koen!