Pak Guru Johan melihat istrinya datang tergopoh-gopoh menggendong anak yang paling kecil serta menggandeng lengan anak tertua setengah menyeret. Tak lama, ketujuh orang lainnya ikut memperhatikan kedatangan rombongan itu ke bangunan joglo tempat mereka sedang berbicara.
Sontak Pak Guru Johan meloncat dari duduknya untuk menyambut keluarganya itu. "Kamu kenapa? Kenapa dengan anak-anak, bu?" tanya Pak Guru Johan demi melihat wajah pucat istri dan tangisan kedua orang anaknya.
Lainnya ikut berdatangan dan sama-sama menyaksikan respon perempuan beranak dua warga asli dusun ini tersebut. Istri Pak Guru Johan terdiam kaku, bibirnya hilang merahnya, berubah menjadi seputih daging ayam potong yang telah dibersihkan. Ia memandang wajah suaminya, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling seakan butuh waktu untuk menyerap informasi dan realita.
Tak lama wajahnya yang kaku berkerut dan isakan tangis pecah. Ia memeluk erat suaminya, begitu pula kedua anaknya yang terhimpit diantara kedua orangtua mereka. Sembari terisak, dengan sangat terbata-bata istri Pak Guru Johan berkata, "Pakdhe Giri ... Muda lagi. Wewe ... Wewe gombel. Anak kita ... Mau dibunuh, Pakdhe Giri jadi muda ...," ujarnya.
Para warga dusun yang berkumpul di tempat itu kebingungan dengan ucapan patah-patah istri Pak Guru Johan tersebut. Namun berdasarkan pengalaman yang beberapa orang dapati malam ini, mereka menafsirkan ada kemungkinan istri dan anak-anak Pak Guru Johan baru saja mengalami hal gaib atau penampakan seperti yang mereka juga alami.
Pak Guru Johan tak bisa berkata apa-apa. Ia juga sebenarnya bingung harus melakukan apa pun tak menyangka kejadian yang sedang dibicarakan para tokoh dusun di rumah joglo malam ini terjadi pada keluarganya sendiri.
"Kita akan kerumah Pak Guru Johan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi," ujar salah seorang tokoh dusun yang tak membutuhkan waktu lama diamini sisanya.
Tapi mendengar hal ini, istri Pak Guru Johan mendadak tersentak sadar secara penuh. "Jangan ... Jangan ke rumah kami. Ada banyak sihir disana. Pakdhe Giri, Pakdhe Giri yang ... Yang membawa masalah ke dusun ini. Ia tadi hendak membunuh anak bungsuku sebelum wewe gombel muncul," tukas si istri Pak Guru Johan. Ucapannya kali ini sedikit lebih dipahami yang meski tetap menyisakan misteri.
Selagi semuanya terdiam dalam sepersekian detik untuk memutuskan apa yang harus mereka pikirkan dan lakukan, sekoyong-koyong muncul sekelebatan bayangan sosok berbalut kain putih melompat, meloncat dan berlari cepat seakan menunggangi angin, melintas ruang satu jalur di depan mata mereka kemudian menghilang dalam sempilan malam.
Beberapa warga yang paling tua jatuh terduduk karena lemas dan syok dengan apa yang mereka barusan lihat. "Wardhani ...," ucap satu orang sepuh yang jatuh terduduk itu pelan.
***
Angkasa serasa retak terbelah. Cemeti energi melecut kesana kemari setelah Girinata mencatut bilah keris pusaka Mpu Gandring dari betis astral sang istri yang sudah berbentuk sundel bolong itu.
Genderuwo yang menjulang setinggi atap menggeram menunjukkan sepasang taringnya yang mencuat keluar dari bibir tebalnya. Tubuh berbulunya bergetar kesal dengan hawa mengancam dan mematikan yang bercipratan keluar dari bilah keris sakti itu. sedangkan sang wewe gombel dengan payu*dara menggantung panjangnya mendesis penuh amarah lebih kepada sang pemegang pusaka. Sepasang matanya melebar melotot ingin melompat dari rongganya. Lidah sang wewe gombel menjulur panjang meneteskan liur bagai seekor a*njing betina yang siap menerkam.
Arwah-arwah gentayangan berbentuk kuntilanak yang berdiri di cabang sebuah pohon serta tuyul-tuyul bertubuh anak-anak berkepala besar semua mengkerut takut oleh cahaya kebiruan yang berkedap-kedip itu, tidak terkecuali si sundel bolong yang tubuhnya melayang menjauh dari Girinata yang kedua tangannya menjadi semakin legam menjelaga, bermain-main bersama kekuatan sang pusaka.
Soemantri Soekrasana tak mampu untuk kembali bangun. Ia masih tengkurap karena tenaga seperti sudah disedot habis dari tubuhnya.
Girinata melihat terpesona pada gemerlap sinar biru bilah keris pusaka ratusan tahun yang digenggam oleh tangan hitamnya, berselimutkan surat-surai asap tipis. Tak tahan lagi, ia tertawa keras, "Begini rasanya memegang keris bertuah dan sakti. Selama ini kau ternyata mampu menundukkan segala jenis demit dan setan dengan benda ini, cah bagus?" ujarnya tanpa melihat sedikitpun pada Soemantri Soekrasana. Tatapannya menempel pada Mpu Gandring dengan rasa gandrung.
"Aku mungkin tak bisa menyerangmu. Lembu Sekilan masih menempel di badanmu yang hampir saja tak bernyawa lagi itu, Soemantri. Tapi, terbukti bahwa kau akan kesulitan melawan arwah dan hantu-hantu gentayangan tanpa keris ini. Bagaimana bila kuberikan semua hantu, jin, siluman dan iblis di segenap penjuru dusun ini untuk merasukimu, mencacah jiwa sekaligus badanmu, cah bagus?" ujar Girinata dengan sunggingan liciknya.
Laki-laki paruh baya yang telah kembali menjadi muda itu mengangkat keris pusaka Mpu Gandring tinggi-tinggi. Lengkingan tinggi nan mengerikan kuntilanak, wewe gombel dan Marni si sundel bolong meretakkan udara malam itu. "Aku perintahkan genderuwo, wewe gombel, kuntilanak, sundel bolong, siluman, setan alas dan iblis demit segala rupa. Aku perintahkan untuk menyerbu manusia itu. Namanya Soemantri. Cakar, gigit, rasuki, ludahi dengan bisa teluh dan kutukan, penyakit kulit bernanah, perut membengkak dan muntah darah. Tiduri orang itu dengan tubuh-tubuh kalian yang penuh lumpur dan lendir. Cabik-cabik dadanya, congkel kedua matanya, tarik lidahnya keluar dari mulutnya, kunyah ke*laminnya sampai lumat. Lakukan sekarang!" teriak Girinata dengan penuh tenaga. Iaa kemudian kembali merapal mantra serta setelah itu keris pusaka Mpu Gandring ia sabetkan ke udara. Semua mahluk astral bergejolak, kembali mendesis, berteriak, menangis dan terkikik pedih.
Soemantri Soekrasana menengadahkan kepalanya. Mata fisik dan mata batinnya sama-sama melihat pergerakan dari mahluk-mahluk adikodrati yang perlahan mendekatinya dengan segala kengerian yang mereka bawa.
"... Manik gumilir cahya gumilang sang gateyap ireng aran kang ningali sajroning soca, copiyang naga marucut arane banyune mata sira lunga ...," kembali mantra untuk melawan kedatangan dan serangan para mahluk gaib yang bergerak bersama bagai tanaman menjalar Soemantra Soekrasana rapalkan.
Perlawanan yang hebat terjadi. Girinata semakin tertawa menggila. Keris Mpu Gandring tambah erat ia genggam. Tangannya yang hitam masih mengeluarkan garis-garis asap putih yang membumbung mengikuti lekukan keris. Para mahluk gaib tak mungkin mundur menolak perintah Girinata karena kekuatan hawa magis Mpu Gandring yang terlalu membahayakan bagi mereka. Sedangkan Soemantri Soekrasana masih merapal mantra yang juga lumayan kuat sehingga membentuk semacam dinding gaib yang harus mereka rangkak dan panjat untuk dapat melewatinya.
Di sisi lain, mantra yang tertulis di lantai ubin rumah Girinata menyala. Chandranaya sang kuntilanak merah yang mengambang di atasnya terkikik. Darah mengalir deras dari kedua matanya membasahi kebaya merah, jarit dan terus turun ke kakinya yang tak menyentuh tanah. Hantu simbah Dasimah yang bungkuk menegakkan kepalanya. Sepasang mata berlendirnya menerawang ke suatu arah tertentu. Hantu Kinanti muncul merayap di dinding. Kedua kaki dan sepasang tangannya membuka lebar bagai seekor laba-laba. Matanya pun memandang nanar ke arah yang dilihat simbah Dasimah. Mahluk-mahluk gaib lain serupa binatang atau campuran manusia dan mahluk jadi-jadian lainnya muncul di sekitar Chandranaya, memadati ruang dan waktu.
Chandranaya kembali terkiki. Mulutnya membuka lebar. Kedua merah mengalirkan darahnya melotot. Tak lama tubuhnya menghilang bagai asap disapu angin. Begitu pula segenap mahluk adikodrati lainnya yang tadi ada bersamanya.
Pada saat kejadian itu, dinding pertahanan magis Soemantri Soekrasana bobol. Ia tak kuat menahan banyaknya mahluk gaib yang berbondong-bondong mendatanginya.
Sang genderuwo yang bertubuh jangkung menyundul langit berhasil berada paling dekat dengan tubuh sang dukun muda. Taringnya yang mencuat dari mulutnya yang berbuih terlihat jelas di depan mata Soemantri Soekrasana ketika lehernya tercekik lengan raksasa berbulu dan jari-jari bercakar panjang itu.
Nafas Soemantri Soekrasana tersengal-sengal. Sundel bolong Marni melayang di atas kepalanya, kemudian menghujam turun menembus tubuh astral sosok genderuwo yang masih mencekiknya.
Tubuh Soemantri Soekrasana mengejang. Marni merasukinya.
Tak lama rombongan hantu berupa buruk, bertubuh berbau busuk dan berbentuk tak sempurna, berebutan mencoba masuk ke dalam tubuh fisik Soemantri Soekrasana.
Sebelum itu terjadi, dengan sekuat tenaga, Soemantri Soekrasana membaca mantra, meludah ke tanah dan muntah. Ia berdiri dengan gamang namun menghambur maju ke arah Girinata.
Kepala Soemantri Soekrasana terasa berputar dan puyeng luar biasa. Ia jatuh berdebum ke bumi dengan bilah keris pusaka Mpu Gandring menancap di lambung bagian kirinya.
Girinata tersentak mundur ketika keris pusaka itu melesak masuk ke daging si dukun muda sehingga genggamannya juga ikut terlepas. Tidak hanya itu, kedua lengannya yang menghitam kemudian retak di permukaannya lalu pecah berderai. Girinata terpekik tertahan walau kemudian dapat segera mengatasinya.
Kini ia bagai telah berganti kulit.
Hitam di bola matanya perlahan ikut menghilang, meleleh bagai air mata hitam kelam ke kedua pipinya.
Girinata menarik nafas. Para mahluk gaib berhenti bergerak. Mereka melayang-layang dan berkelap-kelip kadang terlihat oleh mata telanjang, kadang tidak. Namun mereka sudah tak berusaha menyerang Soemantri Soekrasana lagi.
"As*u buntung! Tunggu nanti setelah kuambil keris itu lagi, baru kalian akan menuruti semua kemauanku!" gertak Girinata. Ia kesal karena para hantu dan arwah gentayangan itu tak meneruskan pekerjaan yang ia perintahkan karena keris Mpu Gandring tak sedang berada di tangannya walau ia lega melihat Soemantri Soekrasana terkapar mati di sana. Habis sudah masalah malam ini yang mengganggu segala rencananya.
Ia mengambil paku logam bertuliskan rapalan di permukaannya dari sakunya. "Kemari kau, Marni!" serunya.
Si sundel bolong muncul di samping Girinata, melayang tak menyentuh tanah. Rambutnya yang menggunung dan panjang itu menutupi sebagian menutupi jubah putih kumal dan terciprati darah tersebut. Marni dengan taat menunduk ketika Girinata menancapkan kembali paku di puncak kepalanya.
Teriakan penuh kepedihan keluar dari mulut Marni yang tubuhnya kembali berasap tebal bagai bebakaran sampah.
Setelah asap tebal itu menghilang bersama teriakan panjang, tubuh manusia perempuan muda Marni muncul. Marni lunglai tergeletak di tanah. Kemben kain kafannya tersibak, mempertontonkan kulit kuning langsat yang tersorot jelas oleh lampu-lampu terang rumah Pak Guru Johan. Kedua dadanya menggembung padat dengan pucuk merah darah yang sedang tunduk dan kempis.
Girinata tersenyum lega menyaksikan tubuh molek manusia istrinya sudah kembali utuh lagi.
Kini Girinata menggunakan mata batinnya untuk melihat ke arah para mahluk halus yang masih melayang terdiam. Ia lalu mendekati tubuh Soemantri Soekrasana hendak mencabut keris dari lambung kiri pemuda itu sebelum kemudian ia tersentak mundur dan jatuh terduduk.
Mendadak sosok kuntilanak merah Chandranaya muncul tepat di depannya, melayang dengan kedua lengan terentang. Sosok itu terkikik keras-keras. Mata merah menangis darah memandang tajam ke arah dirinya, sedangkan mulutnya membuka selebar mungkin menyemburkan suara galak dan memggerikan. Segala roh dan arwah, siluman, iblis dan setan yang sempat melayang diam kini bergerak kesana-kemari dalam sebuah lingkaran besar dengan agresif dan ribut. Mereka berbunyi nyaring penuh kengerian memekakkan telinga merespon kedatangan sosok hantu perempuan berkebaya merah tersebut.