"Hey kamu kenapa sih egois banget" tanya Andra
"Aku egois untuk diriku sendiri,kalau merasa aku egois ke kalian mungkin kalian yang tidak terima dengan aku" jawab Nabila
"Tapi itu menyakiti orang lain dengan sikapmu" ucap Andra
"Lalu dengan kalian? Tidak sadar sudah menyakiti orang?" tanya Nabila
"Mereka menginginkan nya lalu salah kah?" ucap Andra membalas
"Kalau kalian menilai orang lain egois tidak dengan diri kalian sendiri sama saja bukan" kata Nabila
"Kami tidak egois dan mereka menginginkan nya jadi kami tidak salah" ucap Andra tak mau kalah
"Kalau sejatinya kehidupan penuh keegoisan aku katakan apa kalian percaya?" tanya Nabila
Cukup lama untuk menjawab pertanyaan itu bagi Andra, hingga setiap kata yang diucapkan Nabila mengejutkan dirinya
"Bingung bukan, kalian berpikir bisa untuk dijawab tapi kenapa diam,
Bukan kah kalian tahu apa yang kalian lakukan hanya karena diinginkan nya,
Tapi kalian tidak sadar maksud di balik itu semua, apa yang dipikirkan orang lain hanya sebagai angin berhembus bagi kalian dan tidak pernah kalian pikirkan"
"Kalian tahu bahwa aku memang baik tapi apa kalian tahu aku bisa jadi psikopat jika hal itu sudah menyinggung,
Karena sedari kecil aku sudah di perlihatkan dengan dunia itu tanpa disadari,
Kamu tahu bagaimana kehidupan anak pertama dimana harus berpikir jika harus melakukan sesuatu ,
Apa kamu tahu bagaimana kehidupan ku sekarang? Terlihat baik bukan? Nyatanya aku memiliki jiwa psikopat yang bisa hidup kapan saja"
kata Nabila kemudian berlalu pergi
"Apa Lo percaya dengan ucapannya?" tanya Vero
"Gue kurang percaya dengan yang di omongkan nya " kata Yudi
"Kalaupun ada kenapa dia bisa menyembunyikan nya? Bukan kah orang yang psikopat tidak memiliki perasaan?" tanya Vero
Pikiran Andra mencoba menjawab tapi nyatanya nihil untuk jawabannya
"Dia gak punya perasaan tapi kenapa waktu itu dia nangis? Apalagi waktu itu aku milih putus dengannya dia nangis, Apa dia bersandiwara tapi aku sering ngeliat nangis di tempat sepi malam hari disekitar taman" pikir Andra
"Psikopat tidak memberitahu dirinya psikopat, yang artinya ucapannya hanya omong kosong," Yudi berucap mengalihkan perhatian Andra dan Vero
"Dan lagi dia bilang anak pertama? Mustahil untuk dipercaya dengan sikap nya yang anak-anak" kata Vero
"Rasa ingin menang sendiri nya itu yang membuat orang tidak nyaman dengannya" Yudi berkata
"Kamu kenapa diam saja? Apa katanya kamu pikirkan? Jangan menambah beban untuk dirimu sendiri karena orang lain" kembali Yudi berkata sambil berjalan-jalan di sekitaran
"Apa kamu tahu Yud ? Tentangnya yang dia sembunyikan? Kamu juga tahu bukan Ver ? Kenapa tidak di beritahu!" pelan ucapan Andra membuat mereka berdua terkejut, melempar pandangan satu sama lain
"Egoisnya di buat, bukan asli seolah ada yang menekan tombol hidup tanpa di matikan kembali,
Mau dia anak urutan keberapa tergantung masing-masing sikap menyikapi,
tidak ada yang menggantungkan agar dia mau dipercaya, tapi seolah dia membuat orang lain tergantung pada kepercayaan nya,
dan itulah bagian dari diri kita sendiri, yang tanpa disadari menginginkan sebuah kepercayaan sehingga obsesi kepada objek lebih dalam" Andra
"Dari kapan? Ternyata kamu dan dia mau sejauh apapun kalian bertapak, ikatan tanpa sadar itu menghubungkan meski sama-sama tersakiti ya" Yudi
"Kejarlah, tanpa diberitahu kamu pun rasa itu akan tetap terhubung, jalani lika-liku yang akan di hadapi karena akan tetap ada harapan bila keduanya masih berharap, menghargai, saling kejar-kejaran, Semangat" Vero
Ya, Andra pergi mengejar apa yang harus dimiliki karena hidup adalah kehidupan yang banyak pilihan, keegoisan, kebaikan, kejahatan. Bukan karena urutan tapi diri sendiri bersikap.
Duduk melihat taman hijau di depannya, tanpa sadar dia merindukan sosok itu, sosok yang barusan dijawabnya dengan segala kelakuan dia rindu.
Andra memperhatikan dia duduk memandang kedepan, perlahan maju tidak menimbulkan derap kaki.
Pelukan hangat bagi keduanya membuat mereka tahu ikatan mereka masih ada dan panjang, ambil keputusan yang membuat mu memperlajari bagaimana kita bersikap lebih baik bukan untuk menampung rasa dendam.
~~~~END~~~~