Namaku Mala aku tinggal bersama dengan keluargaku di kota x. Tapi karena sekolahku cukup jauh aku memutuskan untuk pindah kamar tidur atau ngekost. Waktu pertama pindah aku gak nyangka kalau teman sekelas ku juga tinggal disini jadi, saat itu kami mulai akrab. Sebut saja namanya Dinda.
Dinda anaknya tuh kalem, alim dan baik banget. Setiap hari dia selalu masakin makanan untukku, padahal aku udah berkali-kali bilang kalau aku gak mau ngerepotin.
Setelah 5 hari menetap perasaan aneh mulai terjadi. Setiap pukul 12 malam terdengar suara ketukan pintu. Awalnya aku kira itu Dinda namun pas aku buka pintu tidak ada siapa-siapa di depan. Aku sih poting aja, mungkin telingaku bermasalah atau lagi halu. Namun itu terus terjadi sampai 2 hari berturut-turut. Sumpah aku tuh kesel parah.
Setelah di teror hampir 2 minggu aku memutuskan untuk bilang ke Dinda atas kejadian yang menimpaku. Awalnya Dinda gak percaya karena kamar kos-kosan kita itu gak terlalu jauh, cuma selisih 1 kamar aja. Seharusnya dia denger dong kalau ada yang ngetuk pintu kamarku. Aku aja bisa denger kalau ada orang yang bicara di sekitar kamar Dinda. Setelah aku berdiskusi akhirnya Dinda memutuskan untuk mampir ke kamar kost ku, katanya sih dia mau baca ayat suci Al-Quran, oh Iyah kebetulan aku beragama Kristen.
Nah setelah di bacakan surat-surat perasaanku mulai membaik, seperti aura di kamar ini menjadi lebih nyaman. Aku berterimakasih kepada Dinda dengan cara mentraktir di resto kesukaannya.
Aku kira semaunya akan berakhir saat itu juga namun, pada waktu tengah malam suara ketukan pintu itu terus terdengar sampai pukul 2 dini hari. Karena merasa terganggu aku mencoba untuk berdoa supaya hal-hal buruk tidak akan menimpaku.
Besoknya aku berangkat ke sekolah bersama Dinda, aku menceritakan tentang teror ketukan itu kepadanya. Aku sempat melihat dari ekspresi wajahnya terlihat seperti ketakutan. Tapi semua itu aku tepis, mungkin saja tadi aku salah lihat.
Saat di sekolah ada tugas kelompok nah, saat itu kebetulan aku 1 kelompok sama Dinda, Rasta, Tasya, Aku, dan, Retna. Kami berdiskusi dimana kita akan kerkel. Semua anak setuju pas aku mengajukan kalau mereka kerkel di rumahku aja.
Setelah pulang sekolah kamu langsung membeli setengah perangkap untuk kerkel, setengahnya lagi akan kami buat menyusul karena kami bokek.
Saat kami selesai membeli perlengkapan ternyata sudah adzan magrib. Kami memutuskan untuk segera menuju kos-kosan. 10 menit setelah berjalan akhirnya kami sampai di kos-kosan.
Kami memutuskan untuk mandi setelah itu langsung mengerjakan tugas.
Rasanya menyenangkan saat mereka datang kemari, atmosfer disini semakin berwarna seakan ada pelangi 😅
Gak aku sangka kami tak tahu waktu dan selesai mengerjakan pada pukul 11 malam. Karena udah kelewat malam Ratna dan Tasya menginap di kamarku sedangkan Retna akan tinggal bersama dengan Dinda. Yah kalian pasti tahu kalau teman kita menginap apa yang akan terjadi, Yups kalian benar kami mengobrol hingga tak kenal waktu.
Saat aku melihat jam sudah menunjukkan pukul 12 malam rasanya aku sedikit takut. Benar saja terdengar suara ketukan pintu dari luar. Saat itu Ratna yang membuka pintunya namun dia tidak melihat siapa-siapa. Pada ketukan yang ke 2 Tasya yang melihatnya namun tidak ada seorangpun yang mereka lihat. Ketukan itu terjadi terus menerus dan saat kami membuka pintu tidak ada seorangpun yang muncul. Dengan sedikit geram Tasya mengomel pada orang yang mengetuk pintu begitu juga dengan Ratna.
Saat ada ketukan lagi Tasnya membawa sapu kemudian membuka pintu dan melihat ada Dinda bersama Retna. Tasya dengan mulut lamis berdebat dengan mereka berdua. Tasya kira mereka berdua yang ngetuk pintu lalu bersembunyi. Setelah selesai mengomel aku menyuruh mereka masuk takutnya mengganggu tetangga yang lain.
Ekhem.... pertama cukup canggung, kenapa mereka diam semua 😀 padahal tadi rame banget.
Aku pun membuka pembicaraan kenapa mereka datang kesini. Awalnya Dinda sedikit ragu-ragu untuk bicara namun Retna menepuk pundak Dinda seakan memberikan persetujuan.
Dinda pun berkata bahwa saat ingin menutup jendela dia melihat ada sesosok anak kecil yang mengetuk pintu. Awalnya Dinda cuma berpikir kalau itu adalah efek dari kurang tidur, namun saat ia memperhatikan dengan baik-baik tiba-tiba sesosok anak kecil itu sudah berdiri di depan jendela yang membuatnya tersentak.
[Sebenarnya Dinda bukan anak indigo, tapi kadang-kadang dia bisa lihat mahkluk dunia lain]
Waktu itu Dinda tidak bilang kare takut kalau Retna ketakutan. Namun siapa sangka ternyata Retna memiliki mata batin dan dengan sangat jelas melihat penampakan anak kecil itu. Setelah berdiskusi kami memutuskan untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ternyata anak kecil itu selalu mengetuk pintu dari kamar Mala. Mendengar itu semua Aku, Tasya dan Ratna menjadi ketakutan.
Dinda, Tasya, dan Ratna mencoba membaca surat-surat pendek berharap mereka tidak mengganggu kami lagi. Benar saja setelah membaca surat pendek suara ketukan itu tak terdengar lagi. Setelah cukup lelah akhirnya kami semua tidur.