Cerita ini dibuat berdasarkan kisah nyata.
Di sebuah pondok pesantren yang terletak di desa kecil, ada 3 asrama atau kamar untuk santri putri. Tiap asrama di tempati sekitar 20 orang.
Tempat itu terletak di dekat sekolahan. Dengan berjarak sekitar 3 meter, di belakang asrama juga terdapat lahan yang biasa digunakan untuk pemakaman umum.
-------
Kisah ini bermula ketika suatu malam, seseorang bernama Hanah yang menempati asrama paling ujung tak sengaja terbangun dan mendengar sesuatu.
'Tok.. Tok.. Tok' sebuah suara ketukan itu bukan berasal dari pintu. Melainkan berasal dari kaca jendela di dekat pintu itu. Seketika Hanah menjadi merinding. Mengapa tidak?. Tiba-tiba saja ketukan itu semakin cepat dan berirama.
Ia tak berani membangunkan teman-temannya yang tengah tertidur pulas. Ia mencoba memejamkan mata sambil berdoa dengan keringat dingin. Akhirnya ia pun dapat tertidur kembali.
Pagi kemudian, ia menanyakan kepada teman-temannya mungkin saja ada orang lain yang mendengarkan hal yang sama dengannya.
"Apakah tadi malam ada yang mendengar seseorang mengetuk jendela?" tanya Hanah. Namun, semua orang menggeleng-gelengkan kepala.
Ketika ia bercerita, ia menunjukkan kaca tempat suara itu berasal.Ternyata, dari kaca itu terdapat sebuah jejak tangan.
"Mungkin aja orang iseng." jawab salah seorang bernama Naya.
Mereka semua mengira mungkin saja ada orang yang tengah usil saat malam hari. Lalu mereka semua tak memperdulikannya lagi.
-------
Hingga akhirnya tiga hari telah berlalu. Malam pun telah tiba. Ketika semua orang telah tertidur, sekitar jam 1 malam terror itu mulai menghantui lagi. Namun terror itu berganti ke asrama yang terletak di tengah.
Pagi itu, salah seorang dari asrama tengah bercerita hal yang sama dengan yang diceritakan Hanah. Kabar itu menyebar dengan cepat. Namun, masih banyak orang yang tak percaya.
Malam terus berganti. Terror itu terus saja berlanjut. Malah semakin menjadi-jadi. Setiap tengah malam ada saja orang yang terbangun mendengar ketukan itu. Satu persatu tiap asrama mulai mendengarnya. Meski tak semuanya yang mendengarnya, tapi setidaknya ada 5 orang yang pernah mendengarnya.
Ada yang merasa takut, ada yang merasa biasa saja. Ada yang tak percaya, dan ada pula yang meyakininya. Meski begitu, tak ada yang pernah berani membuka pintu ketika terror itu terjadi.
Seperti halnya Rika, ia tak percaya karena belum pernah mendengarnya. Saat malam itu, Rika tertidur seperti biasanya. Lalu tiba-tiba ia terbangun karena seperti mendengar suara yang berisik.
Ternyata suara itu berasal dari asrama paling ujung. Dan bukan berasal dari asramanya. Namun suara itu tak lagi suara ketukan. Melainkan suara yang berbeda.
'Brakkk.. Brakkk.. Brakkk' suara itu seperti suara seseorang yang akan mendobrak pintu. Suara yang begitu keras namun seperti tak ada seorangpun yang mendengar suara itu. Rika melihat ke jam dinding dan menunjukkan pukul 1 malam. Saking takutnya, Bulu kuduk Rika berdiri dan ia pun cepat-cepat memejamkan mata agar bisa segera tertidur lagi.
-------
Pagi akhirnya tiba. Rika yang masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya tadi malam mulai membicarakannya.
"Aku mendengarnya. Suara itu. Suara yang meneror tiap tengah malam. Suaranya terdengar seperti seseorang yang akan mendobrak pintu." jelas Rika.
"Aku juga mendengarnya." sahut salah seorang lagi yang bernama Lina. Dia adalah orang dari asrama yang berbeda dengan Rika.
Ketakutan dan kecemasan semakin menjadi-jadi. Mereka hanya bisa berharap agar terror itu segera berakhir.
-------
Di hari berikutnya, terror itu masih terjadi lagi. Dan kebetulan yang mendengarnya adalah Sarah. Sarah secara cepat membangunkan senior yang ada di sampingnya yang bernama Kak Nisa. Seketika Kak Nisa terbangun.
"Kak temenin ke toilet." kata Sarah.
Kak Nisa langsung beranjak dan pergi membuka pintu. Sarah yang ada di belakangnya terkejut karena tak ada siapapun yang ada di luar. Suara ketukan itu juga menghilang.
Semenjak saat itu, tak tau apakah terror itu terus terjadi atau tidak. Namun, sudah tak ada lagi yang mendengar ketukan itu lagi. Meski begitu, hal janggal masih belum berakhir.
-------
Suatu sore, hujan gerimis tak henti-hentinya membasahi seluruh tempat. Kebetulan sehabis maghrib ada sebuah acara di masjid. Dan itu ditujukan untuk semua orang yang tinggal di asrama. Masjid terletak sedikit jauh dari asrama. Sekitar berjarak 500 meter atau mungkin lebih.
Kala itu sehabis maghrib memang terasa sangat dingin karena gerimis belum juga berhenti. Jalanan gelap dan remang-remang karena hanya ada satu lampu kecil yang menerangi jalan.
Semua orang bergegas pergi ke masjid dengan berkelompok. Dan yang paling terakhir pergi adalah Kak Nisa dan juga Sarah. Mereka pergi dengah berlari kecil sambil menutupi kepala mereka dari gerimis. Ketika mereka berdua melewati gerbang sekolah, Kak Nisa melihat Alya yang berdiri di tengah hujan. Dengan tatapannya yang dingin, gerimis hujanpun seperti tak membasahi Alya sedikitpun.
Kak Nisa seketika berhenti. Sedangkan Sarah masih terus berlari.
"Alya.. Kenapa diem aja. Ayo cepetan kita ke masjid." Teriak Kak Nisa kepada Alya.
Alya hanya terdiam. Sedangkan Kak Nisa membalikkan badan dan hendak berlari. Ketika hendak berlari, tiba-tiba Alya memanggil Kak Nisa.
"Kakak"
Kak Nisa terus berlari tanpa menengok ke belakang. Sesampainya di masjid, Kak Nisa terkejut ketika melihat ternyata Alya sudah berada di masjid.
Sepulang dari acara, Kak Nisa bercerita tentang apa yang di alaminya. Kak Nisa adalah seseorang yang dewasa dan tak mungkin baginya untuk berbohong. Karena memang Kak Nisa bukanlah tipe orang yang suka bercanda. Alya yang bersangkutanpun menjadi merinding. Namun bagi Kak Nisa, itu bukanlah sesuatu yang harus ia takuti. Karena ia percaya bahwa Allah selalu bersamanya.
Yang paling aneh adalah panggilan 'Kakak' untuk Kak Nisa hanya Alya yang memanggilnya seperti itu. Semua orang sering memanggil Kak Nisa dengan sebutan 'Kak Nisa'.
~TAMAT~