Tepat hari Rabu, Minggu ketiga bulan ini. Tanggal yang tak mungkin ku lupakan, bukan tanggal spesial namun pasti diingat orang-orang sebab hari ini tepat dimana hari kematian ku. Singkat saja ku ceritakan bagaimana aku bisa tahu kematian ku. Aku bukan paranormal atau peramal. Aku ini penjahat, iya aku penjahat pembunuh bayaran terkenal sulit ditangkap. Tapi mungkin keberuntungan ku berhenti sampai dia kembali datang. Pria satu-satunya yang aku cintai, tapi ia lah penyebab aku akan di eksekusi hari ini.
Dia seorang detektif yang sama terkenalnya dengan ku, kita dua profesi yang saling ingin bersama padahal seharusnya kita saling mati karenanya. Hingga tepat dia mampu mengungkap kasus yang ku buat, menyerahkan diriku sebab tanggung jawabnya, hingga namanya kian melambung sedangkan diriku akan tinggal nama hari ini.
Anehnya, aku masih mencintainya sampai detik ini. detik dimana diriku digiring menuju sebuah lapangan eksekusi tembak mati.
"Apa ada yang anda inginkan sebelum hukuman anda dilakukan?" Tanya salah seorang polisi di sampingku. Aku menoleh seketika, tersenyum menatap tanganku yang terborgol. Lalu pandangan ku jatuh pada pria yang mencoba tegar disana, di dekat polisi yang akan menembak ku. Bodoh, aku ingin menertawakannya sekarang juga. Sudah ku bilang ke padanya jika aku tidak apa-apa, bahkan ia menawarkan diri ingin membawaku lari. Pria itu benar-benar bodoh tapi aku mencintainya. Dia, Kim Namjoon.
"Boleh tidak aku memeluknya, sebentar saja." Pandanganku masih pada pria yang memakai setelan jas rapi, mungkin sekalian untuk datang ke pemakaman ku nanti. Polisi itu nampak berfikir sebentar, sebelum menuju ke arah Namjoon. membisikkan sesuatu lalu Namjoon menatap ke arahku----berkaca-kaca.
Lantas berlari mendekat ke arahku, semakin dekat hingga rasanya aku ingin meluruh begitu ia langsung mendekap diriku erat. "Aku ingin membawamu lari, tidak apa-apa jadi buronan, asal berdua, ayolah." Aku tertawa singkat. "Ini bukan dirimu kan? Kau itu profesional, lagipula aku ini kan bersalah." Ucapku lirih, sedikit bergetar sebab menahan tangis, semoga Namjoon tidak sadar.
"Maafkan aku." Ucapnya, sedikit terisak mungkin sudah menangis. "Heh, detektif tidak boleh cengeng." Ucapku sembari tertawa, meyakinkan dirinya jika aku tidak apa-apa.
"aku serius akan membawamu lari jika kau bilang 'iya' sekarang." Ucap Namjoon. "masih belum terlambat, aku mencintaimu." Ucap Namjoon lagi, dalam setiap kalimatnya mengandung sesak, entah sejak kapan aku ingin terus berada pada posisi dipeluk seperti ini, kalau boleh egois aku ingin menghentikan waktu untuk beberapa saat kedepan, hanya berputar untukku dan Namjoon saja.
"Namu! Ayo lari." Namjoon terdiam. melepaskan pelukannya lalu menatapku.
"andai saja semudah itu, tapi tidak kau harus tetap hidup untuk memberikan bunga di pemakaman ku nanti." Aku menatapnya sesaat. "Nanti kalau sudah dapat pengganti ku kenalkan dia padaku ya?" Ucapku sembari menahan air mata, sesak sekali bilang seperti ini. "Kau harus bahagia." Ucapku kemudian.
Tak lama seorang polisi menghampiri kami, tanda waktunya sudah selesai. Namjoon agak berat melepaskan ku, terlihat dari tangannya yang enggan melepaskan ku. "pergilah." ucapku sembari tersenyum. "Aku mencintaimu." Tukas ku lagi.
Hingga tiba waktunya, aku masih melihat Namjoon disana, menatapku sesekali memalingkan wajah saat merasa akan menangis. Aku bahkan sempat menertawakannya.
aku terus menatapnya hingga hitungan mundur dimulai.
tiga.
Aku mulai di pakaikan penutup kepala hitam, itulah terakhir kali aku melihatnya.
dua.
Air mata ku mulai meluruh, berjatuhan deras sekali.
satu.
Ku dengar suara pistol berdengung tepat ke arahku. Tubuhku tumbang tepat saat benda panas mencoba mengoyak tubuhku. sakit tapi perlahan-lahan aku mulai terbiasa. Hingga di ambang kesadaran aku melihat semuanya, kenangan-kenangan yang ku buat bersamanya. Kata orang jika seseorang sudah diambang Kematian segala bentuk kenangan masa lalu akan berputar begitu saja. Hingga rasanya mengantuk sekali.
"JANE!"
itulah namaku, untuk terakhir kalinya sebelum menutup mata, ku dengar dia menyebut namaku. "Oh, God itu saja sudah cukup, terimakasih." lirihku agak kesusahan bahkan tidak bersuara.
Aku merasakan seseorang mendekat, membuka penutup kepala ku, dia Namjoon, menangis memelukku yang terbaring lemah, darah mengalir dari bagian perut kiriku.
"Namjoon, aku mencintaimu." Ucapku sekuat tenaga, berulang kali dia mencoba membuatku sadar tapi ini hukuman. aku harus mati. jadi setelah mengucapkan kalimat itu aku tersenyum
Lalu ku rasakan perlahan diriku tak mampu menahan mata, ingin tidur.
Selamat tinggal, Kim Namjoon.