Mungkin ini tidak seperti sebuah cerita, lebih mirip dengan luapan perasaan yang sudah lama terpendam dan jauh di dalam sana. Di sebuah ruang yang gelap,hampa dan tanpa cahaya. Sendirian, mengarungi lautan sepi yang tak berujung. Adakah yang tahu? Dimana itu? Siapa yang mau mendengarnya? Siapa yang mau menghibur setiap kesedihannya? Dan apakah akan ada cahaya yang datang?
Berhari-hari kulalui dengan senyum palsu, menerima semua kenyataan dengan sepenuh hati. Kadang ada yang bertanya, "Apa kamu baik-baik saja?". Mungkin di mata kalian aku terlihat baik-baik saja, tersenyum dengan ramahnya. Tapi lihatlah lebih dalam ke dalam mataku, setumpuk kesedihan yang tersimpan sekian lama. Aku tahu kebahagiaan ini memang hanya sesaat, dan benar saja, retakan demi retakan telah dimulai.
Yang dulu aku lihat saling mencintai dan menyayangi, kini telah berubah menjadi benci dan saling mencacimaki. Memang benar, semua itu cepat berlalu karena kehadiran diriku. Kehadiran seorang anak yang memberi semangat kepada orang tua. Tapi, itu pasti belum selesai, masing-masing dari kalian masih memendamnya di dalam hati. Perkataan yang menusuk perasaan, dan juga momen-momen yang membuat marah tak karuan.
Aku berharap hal seperti itu tidak akan terjadi lagi di keluarga ini, hingga akhirnya aku tumbuh sedikit demi sedikit. Memahami setiap masalah yang hadir di sebuah keluarga, menangis dan terdiam. Orang lain yang mendengarnya mungkin berkata yang lain-lain.
Di keluarga mereka mungkin jarang terjadi keributan, tapi di sini semua itu sudah menjadi tontonan gratis untukku. Seperti sebuah film, semakin lama semakin seru dan mencekam. Hingga suatu saat ayah memukul ibu hingga pingsan.
Di mataku serasa sudah tidak ada lagi harapan, harapan memiliki keluarga yang damai dan lebih baik. Aku hanya bisa gemetar dan memeluk erat adikku, hingga aku berkata dalam hatiku," Dik jika kamu besar nanti kamu harus menjadi anak yang lebih baik dari kakak dan memiliki keluarga yang bahagia. Mungkin sekarang kamu belum mengerti semua yang terjadi, tapi jika sudah besar nanti kamu pasti akan merasakan apa yang kakak rasakan. Jadi berbahagialah dan saling menyayangi.".
Kita manusia adalah makhluk yang egois, ingin menang sendiri dan serakah. Tapi terkadang ada manusia yang baik dan berbudi luhur, saling menyayangi dan tidak suka melakukan kekerasan, terutama pada keluarga sendiri. Manusia yang seperti itulah yang disebut langka, sulit dicari dan didapatkan.
Ibu tersadar dari pingsannya dan lari menghampiriku, berlari dan kabur dari rumah. Hanya itu yang bisa kami lakukan, menginap di rumah tetangga dan sedikit merepotkan mereka. Dan Ayah, karena pengaruh alkohol ia sampai melakukan hal seperti ini, menganiaya keluarganya sendiri. Dan sedikit demi sedikit menumbuhkan dendam di dalam diriku.
Sedikit demi sedikit, semakin lama semakin sering, Ibu sudah tidak tahan dan ingin berpisah. Dan disaat hal seperti itu telah muncul, Ayah meminta maaf dan berjanji tidak akan melakukannya lagi, berjanji tidak akan mabuk lagi dan mengecewakan semuanya. Karena Ibu sayang pada kami sang anak, Ibu memaafkan Ayah dan menerima untuk berdamai. Tapi Ibu juga mengucap kata, "Jika hal ini terulang lagi sampai tiga kali maka jangan salahkan aku, aku akan pergi meninggalkan kamu dengan anak-anakku. Dan aku tidak akan peduli lagi dengan kata maafmu itu."
Seketika aku tercengang, kenapa? Kenapa semua ini terjadi? Salahkah aku menginginkan keluarga yang damai? Dan apa yang ada di pikiran Ayahku? Jika keluarga ini retak sepenuhnya, maka apa yang akan terjadi padaku? Sanggupkah diriku ini menerimanya?
Dan semua sudah berlalu Ibu dan Ayah tidak lagi bertengkar, dan adikku juga sudah tumbuh. Adik yang berusia 2 tahun, pasti masih belum mengerti tantang masalah keluarga. Hanya tahu bermain dan memanggil anggota keluarga mereka. Tidak denganku, dari sekian kejadian yang aku lihat, trauma telah menyeret diriku dalam kegelapan yang sangat dalam.
Jika ku ingat kembali, maka sekujur tubuh ini akan gemetar dan air mata mulai menetes. Bagaikan kata yang mengatakan,"Menangis tanpa suara itu sungguh menyakitkan."
Ya, itu memang benar, dan juga rasa sakit yang mendengar Ibu terus menangis di tengah malam, setiap Ayah melakukan kesalahan. Mengingkari semua janjinya, bahkan menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Rumah yang baru saja dibangun, karena bantuan pemerintah, lihatlah sekarang, pintu yang rusak karena pertengkaran Ayah dan Ibu, bahkan perabotan rumah juga ikut pecah berantakan.
Hancur! Hancur sudah diriku ini, tapi kalian tidak melihatnya. Setiap waktu luang yang sepi aku gunakan untuk mengeluarkan keganjalan di hatiku. Menangis sepuasnya dan membual sepuasnya, mengeluarkan semua rasa sakit yang telah terpendam lama. Walaupun hanya sebentar tapi itu cukup membantu.
Bagaikan angin yang berhembus, ia hanya lewat dan tidak peduli dengan yang lain. Tetapi ia juga memberikan kesejukan yang menenangkan, belaian lembut yang memapar wajah ini, juga mengandung kasih sayang yang lembut. Seperti sebuah angin, perasaan kita juga demikian, angin sepoi-sepoi itu bagaikan kasih sayang kita. Dan jika batas kesabaran kita sudah habis, angin topan dan badai yang kencang akan menerjang segala yang dilaluinya. Tidak peduli apapun itu, ia akan meratakan semuanya.