Senja sudah hilang dari tempatnya berlabuh. Malam gelap yang sangat dingin menyapa. Angin sialan mengalunkan helai rambut legamku yang sengaja ku urai. Rentetan umpatan tak henti aku ucapkan.
Salahkan setumpuk pekerjaan yang membuat tulang-tulang ku hampir remuk. Bukan pekerjaan berat yang membuatku mengangkat besi ratusan ton. Ini hanya pekerjaan yang membuat otakku nyaris menjerit setiap hari.
Ribuan angka yang harus ku tatap dengan mata telanjang. Aku akan segera memaki kala pandangan ku mulai buram karna kelelahan.
Di awal malam tiba, aku sering menyalahkan keadaan. Andai, ya, kata andai selalu menjadi awal dari semua keluh kesah ku.
Andai orang tuaku tidak bercerai. Andai aku terlahir menjadi anak konglomerat. Andai aku bukan anak pertama. Andai aku punya teman yang baik hati.
Bagian kalimat terakhir yang baru aku katakan. Aku sebenarnya punya mereka. Orang-orang yang sering di sebut "teman", kadang aku juga menyebutnya seperti itu. Tapi aneh, aku harus mengeluarkan beberapa rupiah untuk membuat mereka tetap tinggal. Padahal aku bukan gadis pemilik kartu hitam dengan limit tinggi. Aku hanya gadis yang bekerja hari ini, untuk memikirkan apa bulan besok bisa bayar uang kos atau tidak.
Aku lelah. Tapi semua terasa seperti biasa saja.
Di tengah lamunanku selepas aku terbangun. Dering ponsel membuat mataku malas melirik. Bukan pada notif yang tertera di ponsel, melainkan pada jam yang ada di ponsel.
03.30.
Aku menghela nafas panjang. Sangat panjang seolah aku baru saja kehilangan pasokan oksigen.
Entah apa yang menuntun ku malam itu. Aku turun dari ranjang ku. Berjalan pelan ke arah kamar mandi sembari mengusap-usap mata yang masih setengah tertutup. Menatap keran dengan maksud, aku membasuh wajahku sedikit demi sedikit. Hingga kata "basmalah" ku sematkan kala kedua telapak tanganku mulai bertemu dan kembali basah.
Wudhu.
Jujur, aku bukan gadis sholeha yang selalu menjaga sholat ku. Aku bukan gadis sholeha yang menjaga bacaan Al-Qur'an ku. Aku bukan gadis sholeha yang menjaga pandangan juga perilaku ku.
Aku hanya seorang gadis yang menyapa Tuhan kala aku terlibat masalah. Aku hanya gadis yang ingin terlihat hebat di mata orang lain, menipu mereka dengan sikap anggun ku, tapi melupakn sang Pencipta yang memberiku segalanya.
Aku adalah gadis egois dan arogan yang selalu mengelak akan kebenaran Tuhan. Seburuk itulah aku, yang melupakan Tuhan dengan kesibukan dunia ku.
Bahkan, jika kalian ingin beradu bacaan Al-Qur'an dengan ku, aku pasti akan tereliminasi terlebih dahulu. Seburuk itu pribadiku, tapi aku selalu tampil polos dihadapan banyak orang.
Tapi malam itu, ketika dengan lancang ke adaan membangunkan ku dari tidur lelap ku, aku melangkah mengambil air wudhu dan memulai ibadahku.
Saat sujud terakhir, air mata tiba-tiba turun tanpa di perintah. Aku belum sampai pada salam ku, tapi aku enggan untuk sekedar bangun melanjutkan gerakan sholat terakhirku.
Masih nyaman dalam sujud, dan masih terbuai dalam senggukan tangis yang tiba-tiba muncul.
"Tuhan,
Hidupku berat." Aduku pada sang Maha Pencipta.
"Aku paham betul, sebelum aku terlahir di dunia Kau lebih dulu memperlihatkan bagaimana kehidupan ku di bumi. Dan ketika aku terlahir, itu tandanya aku menyanggupi semua takdir yang diberikan padaku. Tapi jujur Tuhan, aku lelah."
Isakan melawan malam yang dingin tak bisa ku elakkan.
"Tuhan, aku tidak ingin mengeluh. Tapi apa boleh aku memohon pertolongan mu?" Permintaan yang sebenarnya cukup tidak tahu malu.
"Maaf, maaf karena aku datang disaat hidupku berat. Dan aku pergi disaat hidupku indah. Ampun Tuhan, aku hanya ingin istirahat dari semua masalah yang muncul di hidupku."
"Aku tidak tahu apa lagi yang akan terjadi padaku setelah ini. Apa aku sekuat itu akan menanggung banyak beban setelah ini? Tuhan, tolong bantu aku melewati nya."
Bangun dari sujud terakhir, dan melanjutkan gerakan sholat terakhir ku, aku meraih buku tebal yang di sebut (Al-Qur'an) yang berdebu di lemari buku ku. Tangan kanan ku mengusap nya pelan, penuh kasih sayang. Sebelum aku membuka sampul nya, aku mendaratkan bibir ku di atas permukaannya, "maaf", ucapku sangat pelan dan lirih.
Mulai membaca bagian pertama, air mataku kembali terbendung. "Ada apa?" Tanya ku dalam hati.
Saat beberapa lantunan ayat ku ucapkan dengan terbata-bata, aku tersenyum. Mendongak menatap atap usang kamarku, lalu menurunkan pandangan ku ke arah sujud ku.
"Bantu aku, bantu aku menjadi wanita yang selalu merindukan surga."