tok...tok...tok....,
suara ketukan pintu terdengar dari pintu samping. dereret....., ibu membukanya dan terlonjak kaget. "Assalamu'alaikum ibu, Ananya ada?" suara Ara sambil tersenyum. "Ada, kok pagi-pagi sekali?" ibu. "iya Bu, kita mau ospek jam setengah enam harus sampai kampus", jawab Ara. Ana berlari keluar kamar. "Sebentar Ar". Ana buru-buru memakai sepatunya. "Untung aku sudah siap waktu kamu telephon aku tadi".
"Bu, Ana berangkat dulu ya...". pamit Ana pada ibunya. "Iya sayang, hati-hati di jalan ya". pesan ibu Ana. Ana dan Ara cium tangan ibunya Ana.
Sepanjang perjalanan Ara tak hentinya bercerita. Sampailah di kampus. Ternyata sesampainya di kampus kita sudah terlambat, jadilah kita bulan-bulanan para senior. Kita disuruh joged di depan bersama teman yang lain yang senasib, sampai akhirnya kita diijinkan masuk kelas untuk menerima materi.
"Hai, aku Rifa'i", tiba-tiba ada yang mengulurkan tangan memperkenalkan diri pada Ana. "Ana dan ini Ara", jawab Ana tanpa menerima uluran tangan Rifa'i. "Glen", teman Rifa'i memanggilnya. "Kok Glen?" tanya Ana. "Iya, Glen karena wajahnya mirip Glen Fredly" jawab Udin teman Rifa'i. " Oh...", Ana dan Ara tertawa bersama sambil ber oh...ria.
Pengenalan kampuspun telah usai. Ana dan Ara selalu berangkat dan pulang bersama. Ara mengeti keadaan Ana yang tak seberuntung dirinya, hingga setiap hari Ara menjemput dan mengantarnya setiap kuliah, beruntung mereka sekelas. Ana adalah seorang yatim. Ia hanya hidup dari hasil jahitan ibunya, namun Ana bersikeras ingin melanjutkan kuliahnya sampai cita-citanya tercapai menjadi seorang guru SD.
"An, gimana hubunganmu dengan Edi?" tanya Ara disela-sela perkuliahan. "Entah lah Ar, dia sulit ditebak. Disaat aku membuatkannya dia menghindar, tapi saat aku menghindar dia mendekat", jawabku. "Aku mau menikah An, tapi bukan dengan Ridho, aku dijodohkan dengan Arif, kakaknya Fatin". " Kok bisa?", tanya Ana. "Orang tuaku meragukan Ridho karena dia belum memiliki pekerjaan sedang Arif dia sudah PNS", cerita Ara sambil terisak. "Sabar ya Ar, tidak ada orang tua yang menjerumuskan anaknya, InshaAllah ini yang terbaik untukmu', Ana menenangkan Ara.
Ana berpacaran dengan sepupu Ara yang bernama Edi dan Ara berpacaran dengan Ridho tetangga Ara. mereka selalu berbagi cerita tentang kisah mereka walau yang lebih dominan cerita selama ini Ara dengan segala kisah cintanya yang rumit.
Akhirnya di semester 2 Ara menikah dengan Arif yang dijodohkan dengannya. Walau diawali dengan tangisan namun hari berganti hari merekapun bahagia.
"Kamu bahagia kan Ar?", tanya Ana suatu ketika saat mereka bertemu. "Bahagia lah, kita mau cinta siapa lagi kalau bukan suami sendiri", jawab Ara. "Aku tau kamu belum bisa melupakan Ridho, tapi kamu yang ikhlas ya, jodohmu memang Arif". Ana dan Ara mereka menangis bersama merasa cinta tak berpihak pada mereka.
"Kamu sama Glen aja, dia suka kamu loh", Ara coba menghibur Ana. "Ye...., ogah ah..., gantengan Edi". jawab Ana sambil tertawa. "Tapi Edi makan ati", timpal Ara. "Tapi aku gak suka sama Glen", hahaha.... mereka tertawa bersama, menertawakan nasib cinta mereka yang tak pernah bisa bersatu dengan orang yang mereka cintai.