"Ini siapa? Ini ponsel kak Joe kan?" tanyaku ketika mendengar suara seorang lelaki yang tidak kukenal di ujung telepon. Apa aku salah menekan nomer ya? Pikirku.
"Kamu Melati kan? Murid les private Joe?" Tanyanya kemudian.
"Iya. Kok tau?"
"Hahaha, gimana aku ga tahu. Namamu sudah memenuhi dinding kamarnya. Setiap hari yang dia bicarakan hanya Melati, Melati, dan Melati. Dia pasti sudah jatuh cinta padamu. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya." Aku tercekat mendengar kata-katanya. Benarkah?
Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Ternyata, kak Joe juga mempunyai rasa yang sama denganku.
"Lagian mana ada sih, les private di malam minggu, kayak ngapel aja." Tawanya terdengar seperti mengejek kebodohan tingkah kami.
Aku segera menutup sambungan telpon itu. Apa yang baru kudengar membuatku shock. Kembali aku memutar kejadian beberapa bulan yang lalu.
*****
"Paman, aku mau les kimia sama kak Joe boleh? Dia kan temen deketnya paman, bilangin dong." Kataku merajuk pada pamanku.
"Kenapa harus Joe sih? Cari yang cewek aja dong.." protes pamanku. Dia memang sangat menjaga pergaulanku. Tidak boleh pacaran, tidak boleh berduaan dengan laki-laki yang bukan mahrom.
"Mbak Nana udah ndak di ITS lagi, aku ndak ada yang kenal lagi. Ntar aku lesnya di temani bibi deh, jadi ndak berduaan, gimana?" Rayuku padanya.
"Ya udah, ntar aku hubungi dia deh. Tapi dia agak sibuk kayaknya, kan dia sudah jadi dosen di ITS."
"Yah, bisa diatur kan waktunya. Ya,ya.." rajukku manja.
"Oke deh," pamanku menyerah. Aku melonjak gembira. Kimia memang pelajaran paling sulit buatku. Dan karena wali kelasku adalah guru kimia, maka aku merasa harus menguasai kimia dengan baik. Karena itu aku berusaha keras, bahkan kalau perlu les private.
Dan berita membahagiakan itu akhirnya mampir ke telingaku. Kak Joe bersedia memberi les private. Dua kali seminggu. Hari selasa dan kamis ba'da maghrib. Siip...
Sebulan, dua bulan, hingga enam bulan kemudian, les private berjalan lancar. Kami tidak pernah berduaan ketika belajar. Selalu ada bibi atau paman yang menemani. Meski kadang ada tawa canda diantara kami, tapi masih dalam batas wajar.
Entahlah, sejak kapan muncul getar-getar di dada ketika mata saling menatap. Tak jarang kami saling mencuri pandang dengan alasan 'penjelasan materi'. Sungguh setan sangat lihai merasuk ke hati kami. Bahkan dia (setan) dengan liciknya menabur aroma sedap saat beberapa kali tak sengaja tangan kami bersentuhan.
Semakin sering kami bertemu, semakin gencar dia memperdaya hati kami. Mulailah terdengar bisiknya agar kami bisa belajar berdua saja. Dasar setan.
Akhirnya dengan alasan mencari tempat yang lebih dekat dengan sekolahku, kami mulai belajar di cafe. Pamanku tidak protes karena aku mengajak Diny temen sebangkuku untuk belajar bersama kami. Sekali, dua kali, dan cuma bertahan hingga empat kali pertemuan saja Diny menemaniku. Pertemuan selanjutnya hanya ada kami berdua.
Kami semakin menikmati suasana hati kami berdua. Aku merasa nyaman ngobrol dengannya. Entah apa yang dirasakannya ketika bersamaku. Meski tak pernah ada kata-kata suka apalagi cinta diantara kami, tapi sepertinya semua itu tak penting buat kami.
Kami pun mengubah jadwal les menjadi malam minggu, dengan alasan jadwalnya mengajar di ITS penuh di hari biasa. Sepertinya setan sudah berhasil merasuk ke hati kami. Dan mempercantik jalan dosa kami. Mengoles rasa bersalah dalam hati kami dengan kata-katanya yang manis hingga kami tidak sadar telah terjerumus dalam dosa khalwat.
Bila saat tidak ada jadwal les. Maka kami akan berbincang lama di telpon. Kadang dia dulu yang telpon, tapi tak jarang juga aku yang menghubunginya.
Dan malam ini, aku dikejutkan dengan pengakuan temannya tentang perasaan kak Joe kepadaku. Resah. Antara bahagia dan gelisah. Karena aku merasa tidak yakin dengan perasaanku padanya.
Beberapa saat kemudian, ponselku bergetar tanda ada pesan masuk. Kak Joe mengirim pesan untuk bertemu di cafe biasanya.
Sejam kemudian.
Lelaki itu telah duduk di depanku. Tidak seperti biasanya, dia tampak gelisah malam ini. Semua gerak tubuhnya tak luput dari tatapan mataku. Seolah aku juga ingin meyakinkan hatiku tentang perasaanku padanya.
"Maafkan temanku Mel, dia sudah mengatakan perasaanku padamu. Harusnya aku yang bilang padamu. Kalau aku menyukaimu," suaranya terdengar lirih.
"Tapi aku tidak berniat menjadikanmu pacarku. Jika kamu berkenan, setelah kamu lulus SMA, aku akan datang melamarmu," katanya lagi dengan mantap
Degg!! Melamarku? Oh my Good. Apa harus secepat ini?
"Maafkan aku kak. Aku ga bisa memberi jawaban sekarang. Beri aku waktu. Karena aku belum yakin dengan hatiku.." aku menghela napas.
Kulihat dia menundukkan kepala. Entah apa yang dia pikirkan.
"..kenapa aku kak? Bukankah kak Joe punya adik perempuan yang sudah kuliah. Yang artinya, usiaku lebih muda dari adik kak Joe. Apa keluarga kakak bisa menerima itu?" Kataku padanya.
"Tidak masalah. Mereka tidak pernah mempermasalahkan usia." Ujarnya dengan yakin.
"Tapi bagaimana dengan keluargaku? Aku tidak yakin mereka akan memberi ijin padaku untuk menikah setelah lulus SMA. Apalagi kakakku juga belum menikah." Jelasku padanya. Kulihat dia menghela napas dengan berat.
Kini aku merasa ada yang salah. Seharusnya kami tidak melangkah sejauh ini. Tapi apa gunanya penyesalan? Aku harus segera memperbaiki kesalahan ini dan bukan hanya sibuk minta maaf dan menyesalinya saja.
"Begini saja deh kak. Mulai saat ini kita hentikan saja lesnya." Nampak dia sedikit terkejut dengan keputusanku. Aku juga tak tahu kenapa memutuskan seperti itu. Apa mungkin karena aku merasa bersalah terlalu memberi harapan padanya.
"Biarlah nanti Alloh yang putuskan kelanjutan cerita kita. Kalau jodoh pasti kita akan bertemu lagi. Jika tidak, semoga kak Joe mendapat jodoh yang jauh lebih baik dariku." Kataku dengan mantap.
Ada ketidakrelaan, kesedihan bersatu dengan penyesalan dalam tatapan matanya. Mungkin dia menyesal kenapa harus sekarang terungkap perasaannya. Kenapa dia tidak bisa menahan sedikit lama, hingga aku usai menjalani ujian nasionalku. Tapi dia sadar tak ada gunanya meratapi nasi yang sudah menjadi bubur.
"Baiklah. Maafkan aku. Aku sudah mengecewakanmu. Harusnya menjelang ujian akhir aku tidak mengganggu konsentrasimu dengan recehan seperti ini," katanya sambil menundukkan kepalanya.
Aku tersenyum.
"Tidak mengapa kak. Mungkin memang sudah saatnya kita melalui semuanya. Inilah saat kita berhenti. Kita sudah melangkah terlalu jauh dalam dosa. Rencana Alloh siapa yang tahu." Sahutku dengan ringan.
"Inilah yang aku suka darimu. Usiamu mungkin masih muda. Tapi pemikiranmu bahkan lebih dewasa dariku," katanya kemudian. Jadilah malam itu malam terakhir kami berjumpa.
Kabar itu ternyata terdengar pamanku. Beliau memang tidak marah, tapi sangat kecewa. Kak Joe sudah meminta maaf pada paman atas kelancangannya padaku. Tapi dia juga mengungkapkan kalau dia berniat melamarku.
Karena kejadian itu, keluargaku jadi heboh. Diantara mereka ada yang pro dan berusaha mempengaruhi orang tuaku agar menerima saja lamaran itu.
"Terima aja mbak yu. Kalau Melati menikah dengan Joe, nanti yang datang ke pestamu para petinggi ITS lho. Apalagi dia kan juga sudah pasti kerjaannya. Sudah terjamin masa depannya," bujuk salah satu bibiku pada ibu. Kulihat ibuku hanya manyun.
"Aku ndak gila pangkat, ndak gila harta. Aku hanya pengen nanti anak-anak dan menantuku bekerja bersama-sama. Kalau dosen kan kerjanya sendiri-sendiri." Sahut ibuku dengan santai.
Aku sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan kejadian itu. Aku ingin memasrahkan semua persoalan ini pada-Nya. Aku tidak ingin gegabah dalam menentukan imamku kelak. Bagiku pernikahan itu sekali seumur hidup. Dan lagi aku masih harus konsentrasi menghadapi ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi.
Namun sedikit banyak, masalah ini telah mempengaruhiku dalam memilih jurusan di PTN. Sebelumnya, aku begitu antusias memilih ITS. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini PTN tersebut tidak menarik lagi buatku.
Setiap kepasrahan pasti ada usaha sebelumnya. Dan inilah usahaku. Kusebut namanya ketika aku melakukan sholat istikharah. Kupasrahkan pada Dzat yang memiliki hati, kepada siapa aku persembahkan cintaku.
Setelah 30 hari melakukan sholat istikharah selepas isya'. Akhirnya jawaban itu tiba. Ihlash aku lepaskan dia dari hatiku. Meski berat aku katakan padanya untuk mencari penggantiku.
Bukan karena orang tuaku tak menyukai profesi dosen. Bukan karena perbedaan usia kami yang terlalu jauh. Bukan karena aku, dia atau kami. Tapi mutlak karena Alloh. Alloh telah menjauhkan dia dariku. Alloh telah memberikan keyakinan pada hatiku bahwa dia bukan yang terbaik buatku. Jika semua sudah diputuskan Alloh, kenapa aku harus mencari alasan.
Saat ini ditanganku sudah ada undangan pernikahan. Ya, kak Joe sudah memutuskan untuk menikah dengan gadis yang dikenalkan murobbinya ketika taaruf. Tidak ada drama menangis hingga berdarah-darah dalam cerita kami. Karena kami menjalani semua ini atas kehendak-Nya.
"Alhamdulillah," ucapku dalam hati. Alloh mudahkan jalan kami. Sungguh Alloh akan mengulurkan bantuan-Nya saat hamba-Nya memutuskan bertaubat.
Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kau dustakan?
.
.
.
.
~end~