Putri Irene tinggal di dalam sebuah istana yang terletak jauh di kawasan pedalaman. Pada suatu malam, dia mencari seorang ahli sihir yang pernah ditemui di dalam sebuah kamar kosong
:)
Pada suatu pagi, pengasuh telah meninggalkan Putri Irene kepada penjaga rumah untuk seketika. Penjaga rumah itu telah mengeluarkan semua barang permainan di dalam almari dan meletakkannya di atas meja untuk menghibur Putri Irene. Putri Irene bermain-main di situ selama beberapa jam. Ketika sedang bermain-main dengan sebentuk kerongsang, tangannya telah tertusuk jarum. Dia menjerit kesakitan. Jarinya semakin sakit dan mulai membengkak. juru rawat dan dokter datang ke rumah. Mereka membawa Putri ke kamar, Putri Irene masih merasa kesakitan. Pada saat Putri sudah berada di kamar Putri pun tertidur dan mengalami berbagai mimpi, namun dia masih terasa sakit.
Sinaran cahaya bulan menerangi kamarnya. Tangannya terasa panas dan dia membayangkan jika cahaya bulan itu dapat menyejukkan tangannya.
Dia berjalan menuju ke arah jendela. Ketika dia tiba di bawah tangga, dia melihat cahaya bulan menyinari tangga itu dan tanda itu kelihatan aneh. Dia mencium bau yang harum dan melihat tangga itu menjadi cantik. Dia pun berjalan menaiki anak tangga yang berwarna perak itu satu persatu.
Mungkin anak-anak lain akan merasa takut jika berjalan seorang diri di tengah malam. Tetapi tidak bagi putri Irene karena dia seorang putri.
Dia menaiki tangga itu satu persatu sehingga sampai di sebuah tempat yang dipenuhi dengan beberapa buah seperti mana yang pernah dilihatnya sebelum ini. Dia berjalan dengan perlahan menuju ke arah pintu yang terletak di tepi tangga sempit yang menuju ke arah menara.
"Mungkin saya akan bertemu dengan nenek saya yang cantik itu di atas menara" fikirnya sambil berjalan.
Setelah tiba di puncak menara, dia berhenti sebentar karena mendengar sesuatu. Ya! Itu bunyi mesin jahit! Dia mengetuk pintu dengan perlahan. "Silahkan masuk, Irene," terdengar satu suara yang lembut mengajaknya masuk.
Putri Irene membuka pintu lalu masuk. Dia melihat seseorang perempuan tua duduk di tengah-tengah sinaran cahaya bulan. Perempuan itu memakai baju berwarna biru dan putih. Rambutnya yang berwarna perak itu berkilau di sinari cahaya bulan. "Kemarilah Irene" kata perempuan tua itu. Dia bertanya, "Apakah kamu tau apa yang sedang saya jahit?". "Tidak, saya tidak tahu apa yang sedang nenek jahit. Saya menyangka saya sedang bermimpi. Kenapa saya tidak pernah melihatmu nek?" tanya Putri Irene.
"Kamu akan melihat saya jika kamu tidak menganggap semua ini adalah mimpi" jawab perempuan tua itu.
Semasa mereka sedang berbual, perempuan tua itu tidak berhenti menjahit.
"Kamu belum memberitahu saya apakah yang saya jahit ini" dia berkata.
"Saya tidak tahu, tetapi kelihatannya sangat cantik" jawab Putri Irene.
Terdapat setangkai bunga yang cantik pada mesin yang dipegang oleh nenek itu. Bunga itu menempel pada roda mesin. Waktu malam bunga itu kelihatan berwarna kelabu berbanding warna putih.
"Saya menjahit ini untuk kamu wahai cucuku" jawab perempuan tua itu.
"Untuk saya? mengapa untuk saya?" tanya Putri Irene.
"Saya akan menjelaskan kepada kamu. Tetapi sebelum itu, saya akan beritahu kamu sesuatu. Benang yang saya buat ini hanya dihasilkan oleh sejenis laba-laba di sebuah hutan saja. Benang ini adalah benang yang paling baik dan paling kuat"
"Apakah nenek bekerja siang dan malam?" tanya Putri Irene dengan sopan.
Perempuan tua itu berkata sambil tersenyum, "Tidak, saya akan bekerja jika ada cahaya bulan saja."
"Apakah yang akan kamu lakukan seterusnya, nenek?" tanya Putri Irene.
"Saya rasa kamu pergi lah tidur. apakah kamu ingin melihat kamar saya?" tanya perempuan tua itu.
"Ya, saya mau melihatnya" jawab Putri Irene.
"Baiklah, saya akan menunjukkan kepada kamu. Mari kita pergi sekarang" ajak perempuan tua itu.
Perempuan tua itu bangun dan memegang tangan putri Irene. Putri Irene menjerit karena tangannya sakit.
"Cucuku, kenapa dengan tangan kamu?" tanya perempuan tua itu.
Putri Irene menunjukkan tangannya di bawah sinaran bulan yang dan menceritakan apa yang terjadi. Perempuan tua itu berkata "Ulurkan tangan kamu yang satu lagi kepada nenek". Mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruangan itu.
Putri Irene kaget ketika melihat kamar neneknya. Kamar itu adalah kamar yang paling cantik yang pernah dilihatnya. Kamar itu besar, tinggi dan berbentuk kubah. Terdapat lampu yang tergantung di tengah-tengahnya. Lampu itu seperti sebiji bola kan cahayanya terang seperti cahaya bulan. Sebuah kamar yang besar dilengkapi dengan selimut berwarna merah dan cadar balado berwarna biru muda terletak di tengah-tengah kamar itu.
Didinding itu juga berwarna biru dan dihiasi dengan bintang-bintang perak yang bergantungan.
Perempuan tua itu melepaskan tangannya dan menuju ke arah sebuah lemari yang aneh. Dia membukanya dan mengeluarkan sebuah kotak berwarna perak. Dia duduk di atas sebuah kursi dan memanggil Putri Irene untuk melihat tangannya. Dia memeriksa tangan putri Irene kemudian membuka kotak kecil itu lalu mengambil sedikit obat. Ketika perempuan tua itu memberikan obat ke tangan putri Irene yang sedang panas dan membengkak, bau yang sangat harum seperti bau bunga mawar dan lili memenuhi ruangan kamar itu. Sentuhan tangan perempuan tua itu terasa sangat lembut dan menenangkan seolah-olah dapat menghilangkan kesakitan dan kepanasan.
"Oh, nenek! nenek sangat baik. Terima kasih nek." ucap putri Irene.
Kemudian perempuan tua itu mengeluarkan selain sapu tangan dan membalut tangan putri Irene dengan berhati-hati.
"apakah kamu mau tinggal di sini bersama nenek?" kata perempuan tua itu.
"Tentu saja nenek" jawab Putri Irene.
Kemudian, perempuan tua itu mengambil sebuah benda perak yang besar lalu membasuh kaki Putri Irene. Setelah itu, dia bersedia untuk tidur. Kamar itu sangat besar. Dia berasa seperti tidak berbaring di atas apa-apa. Dia hanya dapat merasakan sesuatu yang sangat lembut.
Perempuan tua itu berbaring di sebelahnya dan memeluknya. "Wahai nenek, saya sangat senang. Saya terasa ingin berbaring di sini selama-lamanya." kata Putri Irene.
Seketika kemudian, Putri Irene terlena dibuai mimpi yang sangat indah. Tidak ada mimpi yang lebih indah dari mimpinya itu.
Pada keesokan pagi, dia bangun dan mendapati dirinya di kamarnya sendiri. Tidak ada sapu tangan yang membalut tangannya. Cuma ada bau yang harum. Tangannya sudah tidak bengkak dan kembali sembuh.
~Selesai~