Aku kembali terjaga bersama kenangan yang terus bermain-main dalam ingatan. Dengan dua cangkir kopi hitam. Malam. Dan selengkung bulan sabit yang menyerupai senyumanmu.
“Aku tak habis mengerti, mengapa lelaki sepertimu tergila-gila pada kopi?“
“Hidupmu terlalu datar Anya, cobalah sesekali minum kopi dan begadang,“
“Apa enaknya kopi?“
“Coba saja, nanti kamu akan tahu“
“Aku sudah pernah, tidak ada yang istimewa. Aku lebih suka jus buah dan air putih, itu jauh lebih sehat! Dan kita juga harus cukup tidur.“
“Kau sudah coba yang tanpa gula?“
“Buat apa? Jus buah tanpa gula bisa tetap manis kalau kita pandai memilih campuran buahnya, tapi kopi favoritmu itu sudah pasti pahit!“
“Ketika kita berhasil menikmati yang pahit, kita akan mampu menikmati semua hal dalam hidup, termasuk yang manis,“
“Ah, kamu mulai berfilosofi.“
“Tanpa gula kopi terasa lebih jujur menyampaikan karakternya. Ada rasa pahit, asam, dan wangi yang berbeda dalam setiap jenisnya.“
“Dan kamu juga semakin suka mengoceh,“
“Memang, biar kuteruskan dulu ocehanku. Kopi tanpa gula seperti perempuan tanpa balutan make up, mungkin ada jerawat atau sedikit noda hitam di wajahnya, kulitnya berminyak atau keringatan. Itu lebih menarik buatku! Ketika banyak orang ingin terlihat sempurna, kita lupa bahwa sesuatu yang asli telah menjadi langka hari ini.“
“Wah, sepertinya kamu berpengalaman sekali soal perempuan?“
“Ya, dan belum pernah kutemui yang lebih menarik dari kamu, Anya!“
“Gombal!“
“Kamu seperti kopi hitamku. Anya yang cantik apa adanya.“
“Yah, laki-laki memang seperti itu, bilangnya suka yang apa adanya. Tapi begitu lihat yang menor dan seksi, matanya melotot juga!“
“Haha, itu naluri namanya, tapi tenang saja, aku bukan laki-laki seperti itu!“
“fiuh!“
“Kamu cemburu?“
“Nggak!“
“Kalau kamu bilang nggak itu berarti iya…”
Aku memalingkan muka. Dan dia tertawa terpingkal-pingkal meledekku.
“Bawalah. Aku yakin kapan-kapan kamu pasti tertarik mencicipinya. Saranku: cobalah nikmati tanpa gula!“
Dia memberiku sebungkus kopi toraja, oleh-oleh dari temannya.
Percakapan itu terjadi sekitar setahun yang lalu. Dan aku masih merindukannya hingga saat ini. Malam beranjak larut. Kusesap kopi hitamku sedikit. Pahit. Tak juga bisa kupahami apa yang kamu nikmati dibalik rasa pahit itu. Lalu aku memandang kedepan, yang ada hanya kursi kosong tanpa dirimu dan kopimu utuh tak tersentuh. Mungkin aku harus belajar menikmati kekosongan seperti kamu menikmati pahitnya kopi hitam.
*****
Namanya Galang. Dia adalah kakak tingkatku semasa kuliah. Perbedaan adalah sesuatu yang membuat hubungan kami menjadi seru. Menciptakan perdebatan. Aku suka bagaimana kami saling mengeksplorasi dan mencoba memahami jalan pikiran masing-masing. Bagaimana bisa begitu. Bagaimana kalau begini.
“Apa rasanya terdampar berhari-hari di alam liar dan tidak mandi?“
“Rasanya? Hmm…mungkin sama dengan kamu yang betah seharian di rumah tanpa bertemu orang“
“Kenapa orang suka mempersulit diri sendiri?“
“Kami belajar untuk berempati, penduduk setempat bahkan banyak yang harus naik turun gunung setiap hari untuk mencari kayu, apa yang kami lakukan tidaklah seberapa,“
“Mereka butuh bantuan, bukan berarti kamu harus sama susahnya dengan mereka “
“Kami tidak merasa susah, dan belum tentu juga mereka merasa susah, setiap orang punya kebahagiaannya sendiri. Aku hanya ingin mencoba beradaptasi dengan berbagai macam keadaan.“
“Yah seperti aku yang bahagia seperti ini, dan kamu yang bahagia seperti itu,“
“Dan kita jadi lebih bahagia jika bersama!“
Kami menoleh satu sama lain dan tersenyum bersamaan.
“Kenapa kamu betah melamun di rumah sepanjang hari?”
“Aku menikmati imajinasi!“
“Cobalah untuk keluar, nanti imajinasimu akan lebih berkembang, tidak hanya membaca, kau harus merasakannya sendiri!“
Sebenarnya aku juga ingin. Melihat Galang dan teman-temannya menikmati petualangan membuatku iri. Tapi hidup bukan hanya tentang keinginan. Ada hal lain yang ingin selalu aku jaga. Perasaan dan kepercayaan mama.
“Mereka bilang kamu anak mami,“
“Biar saja, aku memang anak mami!“
Mamaku adalah orang yang super protektif dan posesif. Tidak boleh begini. Tidak boleh begitu. Harus begini. Harus begitu. Aku adalah anak rumahan dengan jadwal yang pasti dan semua kegiatanku harus dengan izin mama. Hiburan buatku adalah buku-buku yang menghubungkanku dengan dunia luar, mengajakku berpetualangan ke tempat-tempat jauh, menyelami jalan pikiran si penulis, juga berimajinasi. Dan mimpiku adalah membuat ceritaku sendiri. Cerita untuk menyampaikan pemikiranku pada dunia.
Aku sama sekali tidak membenci mama karena hal ini. Aku belajar untuk memahami, bahwa itulah cara mama menyayangiku. Lima belas tahun yang lalu mama kehilangan Papa, dan Naya kakakku. Waktu itu Papa pergi ke hutan untuk sebuah penelitian. Naya suka sekali ikut Papa pergi ke hutan. Naya meninggal karena digigit ular. Dan papa juga meninggal digigit ular yang sama saat mencoba melepaskan ular itu dari Naya. Aku baru berumur lima tahun ketika itu, Naya dua tahun lebih tua dariku. Kejadian itu menjadi pukulan berat buat mama. Mama terus menyalahkan diri sendiri.
“Naya masih kecil, seharusnya mama yang menjaganya , dia anak perempuan, tidak seharusnya dia ikut papa kehutan!“
“Mungkin sudah takdirnya ma, tidak perlu menyalahkan diri sendiri..“
“Sekarang kamu anak mama satu-satunya Anya, mama tidak punya siapa-siapa lagi. Mama yang bertangung jawab atas keselamatan dan hidup kamu. Kamu harus nurut kata-kata mama ya sayang?“
“Iya ma.“
“Anya jangan tinggalin mama…”
Siapa yang tega untuk menolak permintaan sederhana itu. Sampai sekarang mama sangat trauma. Jika aku terlambat pulang sedikit saja tanpa memberi kabar sebelumnya, dirumah mama bisa menangis sambil menungguku. Mana tega aku meninggalkan mama lama-lama. Jangankan untuk naik gunung atau jalan-jalan keluar kota. Pergi ke mall pun aku harus menepati waktuku agar mama tidak khawatir. Buatku itu bukan masalah besar. Aku masih bisa menikmati banyak hal lain tanpa perlu membuat mama khawatir.
*****
Galang seperti perpanjangan dari mimpi-mimpi masa kecilku. Seperti Naya, aku juga suka sekali ikut papa ke hutan. Waktu itu kami tinggal di Kalimantan, ikut papa bertugas disana. Tapi sejak peristiwa itu mama mengajakku pulang kejogja, kampung halaman mama. Sikap mama berubah drastis. Mama menjadi mudah khawatir dan menyayangiku berlebihan. Yang bisa kulakukan hanya belajar memahaminya.
Galang adalah orang yang bebas dan merdeka. Bebas pergi dan melakukan apa yang dia suka. Ada dua hobinya. Minum kopi dan berpetualang. Walaupun sering berdebat, sesungguhnya aku mengaguminya karena dua hal itu. Tapi kemudian dia justru berubah. Galang berjuang untuk lulus dan kemudian memilih untuk bekerja di perusahaan manufaktur terkemuka.
“Aku nggak mungkin jadi mahasiswa abadi yang terus asyik sama petualanganku!“
“Kamu berubah…“
“Semua pasti berubah Anya, apa kamu tidak bisa memahamiku?“
“Aku lebih suka kamu yang dulu. Kemana idealisme dan cita-citamu?“
“Sama sepertimu, ada harapan orang tua yang harus aku penuhi,“
Yang terjadi kemudian kami lebih sering bertengkar. Galang hanya menghubungiku sesekali lewat sms, telepon pun sangat jarang. Pekerjaannya menguras waktu dan pikiran. Sebagai karyawan yang masih dalam masa training dia sering diminta lembur tanpa bisa menolak. Seringkali Galang harus berangkat pukul lima dan baru sampai di tempat kosnya pukul sebelas malam. Aku mencoba untuk memahaminya. Tapi yang kemudian terjadi hubungan kami menjadi hambar. Kami tak lagi punya kesempatan untuk mengobrol dan berdebat seperti dulu.
“Bukankah dulu kamu bilang tidak suka kehidupan seperti robot begini?“
“Inilah realita Anya, apa boleh buat aku tak punya pilihan…”
“Kamu selalu punya pilihan!“
“Oh ya? Dan kamu sendiri masih rela mengurung diri demi mamamu?“
“Jangan bawa-bawa mamaku!”
Kali ini yang kami hadapi bukanlah perdebatan seru seperti yang biasa terjadi. Kami telah sampai pada pertanyaan-pertanyaan sensitif dan bahkan saling melukai.
“ Sudahlah, mungkin kita perlu waktu untuk sendiri dan berfikir…”
Itulah percakapan kami yang terakhir. Telepon terakhir dari Galang di sela-sela waktu kerjanya yang sibuk. Dan sampai sekarang aku masih berharap dia kembali.
*****
Pagi itu, tujuh belas tahun sejak kepergian Papa dan Naya. Satu setengah tahun sudah Galang meninggalkanku. Untuk pertama kalinya mama mengajakku pergi ke hutan. Hutan pinus imogiri. Tentu saja hutan ini tidak seperti hutan yang sering kukunjungi bersama papa dulu. Ini adalah hutan wisata. Tapi dengan ini mama telah melepaskan trauma masa lalunya.
“Anya, kamu harus hidup dengan bahagia, lakukan apapun yang buat kamu bahagia….mama salah selama ini,“
“Mama ini ngomongin apa sih? Anya bahagia kok sama mama.“
“Kemarin malam mama memutuskan untuk menghadapi ketakutan mama, mama melihat kembali fakta-fakta tentang kematian papa dan Naya. Kamu tahu apa yang mama temukan Anya? Mama melihat foto terakhir Papa dan Naya, mereka tersenyum. Papa dan Naya meninggal dalam posisi berpelukan. Mereka pasti bahagia. Dan disini, kita harus bahagia,“
“Harusnya mama melakukannya sejak dulu. Sekarang Anya boleh melakukan apapun yang buat Anya bahagia Selama kamu tidak menyakiti orang lain dan tidak melanggar perintah Tuhan, kamu berhak untuk bahagia.“
Nasehat itu seperti pesan terakhir mama. Seminggu kemudian mama meninggal karena serangan jantung. Membesarkan anak perempuan sendirian tentu bukan hal yang mudah. Mama pasti lelah. Dengan nasehat terakhirnya mama seakan melepasku untuk memilih jalanku sendiri. Andai boleh memilih, aku masih ingin bersama mama.
Aku pergi ke dapur untuk menyeduh kopi hitamku. Kuhirup aromanya. Harum. Lalu kusesap sedikit. Pahit. Seperti kopi, hidup selalu punya dua sisi.
*****
Malam itu, aku duduk bersama dua cangkir kopi. Aku memandang ke depan dan mendapati seorang lelaki memamerkan selengkung senyuman serupa bulan sabit. Setelah dua tahun bertarung dengan kata hatinya akhirnya Galang memilih untuk pulang.
“ Apa yang akan kamu lakukan setelah ini? “
“ Aku akan membuka kedai kopi dan ingin berpetualang bersamamu “
“ bagaimana dengan orang tuamu? “
“ akan aku buktikan kalau aku bisa menghasilkan uang tanpa bekerja seperti robot. Sekarang aku bekerja sebagai fotografer lepas, setidaknya aku tidak minta uang pada mereka “
“ Baguslah “
“ Aku sudah mengumpulkan keberanian dan membuat pilihan, bagaimana denganmu, bisakah sesekali kau ikut denganku jalan-jalan? “
“ ya, tentu saja “
“ bagaimana dengan mama mu? “
“ mama sudah mengizinkan “
“ wah bagus sekali, nanti kau bisa membaca buku dan menulis ceritamu dari tengah hutan, puncak gunung, juga ditengah lautan. Pasti akan menyenangkan. Oh ya, dimana mamamu? pasti dia kengen aku “
“ mama sudah meninggal “
“ Oh, maaf…aku tidak tahu “
Kami meneguk kopi hitam bersama-sama. Merayakan pahit dan wanginya hidup seperti menikmati secangkir kopi hitam.