Sepulang dari sekolah, ia mengerjakan pekerjaan rumah yang di berikan ibu gurunya.
Di bukanya tiap lembar, setiap halaman itu.
Tak pernah mampu ia selesaikan
Ketika soal, selalu saja meracau tentang esai, pertanyaan, yang membuat ia kebingungan untuk menjawab:
"Apa itu bahagia?"
Lima belas jam kali dua detik ia mondar- mandir di ruangan tamu, untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Setelah keliling kota menggunakan sepeda motor tengah malam tanpa jaket, setelah mendaki gunung dua belas hari lamanya. Ia memberanikan diri untuk menjawab perkejaan rumah itu dalam keadaan meriang:
"bahagia masih bingung, bu. Ditelepon kapan datang untuk wawancara, ia malah ngawur minta kirim es teler. Ia tak suka banyak bicara, seluruh isi percakapan hanya gerutunya saja. Sekarang, saya sedang sakit, dan baru saja saya di tinggal pergi. Jika boleh mengasal rasa-rasanya, bahagia adalah ada."