Aku terlahir gembira, seperti anak kecil pada umumnya, besar dan berumur 5 tahun. Bermain seperti anak kecil pada umumnya, nakal, sekaligus tidak lucu. Semakin bertambah umur, aku semakin mencari kenapa sebab aku dilahirkan, kesepian semakin lama semakin datang, tanpa sebab.
Aku tak tau, selain aku dan teman hanya menghabiskan waktu untuk menendang drigen minyak, mencuri permen, dan belajar merokok dari seorang teman. Mencuri rambutan, bermain sepakbola, membuat gubuk bersama-sama.
Tak ada seseorang yang pandai dalam membicarakan sejarah, ibu, bapak, dan hari dimana aku lahir. Bapak tak suka banyak bicara, kakak seperti lelaki yang bisu seumur hidupnya, ibu, senang mendongeng tapi tidak tentang aku. Sementara orang lain terdekatku, adalah orang-orang rahasia.
Hari ini adalah hari ke 17 aku lahir di dunia ini, tidak ada hadiah seperti anak lelaki pada umumnya, ibuku unik dan ia selalu punya cara memberikan hadiah. Ibu sedang duduk diruang tamu, memanggil dan menyuruhku duduk disampingnya, setelah ia selesai dengan jarum dan benangnya, setelah semua orang rumah pergi bekerja. Ibu meletakkan jarum, dan pelan-pelan ia mulai mendongeng:
Seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan, setelah melewati banyaknya kemiskinan. Seorang perempuan hamil berada dalam sebuah angkutan umum, tanpa pendamping. Perutnya kesakitan, dan ia begitu kesepian bersama anak kecil di gendongan. Ia harus pergi kerumah sakit, menyelesaikan rasa sakit di perutnya itu.
"Dia hendak lahir, Bu?"
Iya
"Dimana suaminya?"
Suaminya mangkir dari tanggung jawab, ia tak ingin anak itu lahir sebab setahun yang lalu, istrinya baru saja melahirkan anak yang kedua. Sore semakin sore, Jakarta menjadi dirinya. Macet, dan dipenuhi orang-orang berduka. Ia sudah sampai di depan rumah sakit, dan sudah tak sadarkan diri. Penumpanglah yang menolongnya. Sekian lama, diruang persalinan, akhirnya bayi itu lahir, sehat dan kesepian. Selama mengandungnya, perempuan itu di penuhi rasa sedih, kesepian, dan jauh dari suami. Ia takut, itu akan berefek kepada anak kecil yang sedang berada di rahimnya. Lupakan ketakutan itu, ia sudah lahir dan belum memberinya nama.
Ibu tiba-tiba menangis.
"Kenapa Bu? Siapa namanya?"
"Dongeng sudah selesai, selamat ulang tahun, nak."
Ibu mengusap air matanya dan berdiri pergi.
Siapa anak itu?
(2017)