Karina adalah seorang gadis berusia 16 tahun. Ia merupakan orang yang penakut dengan banyak hal. Terlebih, dengan hal mistis. Ia tidak menyukai cerita maupun film horor.
"Kalian pernah mendengar permainan petak umpet dengan hantu tidak? Namanya Hitori kakurenbo." Ucap teman Karina yang sangat suka dengan hal hal mistis.
"Entahlah.." Ucap Chandie yang merupakan sahabat Karina. Ia, Karina dan kedua temannya berada di satu meja yang sama di kantin.
"Bi- bisa tidak, kita tidak perlu membahas itu?" Ucap Karina.
"Heh, kau memang penakut sekali." Ucap temannya dengan nada mengejek.
"Siapa bilang aku takut?" Ucap Karina dengan berani.
"Heh, tidak perlu berpura pura berani seperti itu. Dasar penakut."
"Kalian berdua, jangan mengatakan hal seperti itu pada Karin" Ucap Chandie dengan marah sambil menatap dua teman di depan.
Chandie mengelus punggung Karina, "Kau tidak perlu mendengarkan ucapan mereka berdua, Karina."
"Kalau kau memang berani, maka buktikan! Lakukan permainan Hitori kakurenbo yang kukatakan tadi. Yah.. Itupun bila kau memang berani. Lagi pula, kami tau, kau itu adalah penakut." Ucap teman Karina dengan tatapan sinis.
Karina menjadi kesal dengan ucapan temannya itu, "Baik! Aku akan membuktikannya! Aku bukanlah orang yang penakut!"
"Ta- Tapi Karin--"
Karina memotong ucapan Chandie, "Tidak perlu mengkhawatirkanku, Chandie. Lagi pula, itu hanyalah permainan dan hantu itu hanyalah mitos."
"Karin.." Ucap Chandie dengan suara kecil. Karina pasti tidak mau terus terusan disebut penakut dan dijahili teman temannya yang ingin menakut nakuti dirinya.
***
Sepulang sekolah, Karina segera mandi dan mengganti pakaian. Kedua orang tuanya sedang tidak ada di rumah karna akan menginap di rumah saudara selama dua hari ini. Sementara, dua orang pelayan pulang sore. Jadi, Karina sendirian di rumah saat ini setelah pelayan baru saja pulang tadi.
Setelah selesai mandi, Karina mengambil ponsel yang ada di meja dalam kamarnya. Ia mencari tau tentang permainan Hitori kakurenbo yang dikatakan temannya. Walaupun sebenarnya ia sangat takut, namun mau bagaimana lagi? Ia tidak ingin diejek dan dijahili lagi oleh teman temannya.
"Nah, ini dia..", Karina segera membaca setiap tulisan dan cara permainan hitori kakurenbo. Hanya membaca permainan hitori kakurenbo saja, ia sudah ketakutan. Beberapa kali ia menelan ludah. Walau takut, ia tetap membacanya sampai selesai.
Dari membaca penjelasan di internet, Karina dapat mengambil kesimpulan bahwa Hitori Kakurenbo atau One Man Hide and Seek, yaitu permainan petak umpet dengan roh halus. Permainan ini berasal dari negeri Sakura dan tidak diketahui sejak kapan mulai dimainkan. Yang jelas dalam permainan ini, seseorang akan bermain petak umpet sendirian dengan makhluk halus.
Karina langsung mengambil salah satu boneka yang ia miliki berbentuk beruang dengan dua tangan dan dua kaki. Lalu, ia juga mengambil benang berwarna merah, jarum dan beras. Ia mengeluarkan isi kapas boneka dan lalu menggantinya dengan beras. Iapun menancapkan jarum pada jarinya dan meneteskan darahnya. Setelah itu, ia menjahit kembali boneka menggunakan benang berwarna merah.
Setelah selesai, Karina menatap bonekanya dengan takut takut. "Bagaimana bila itu memang benar? Aku takut.." Batinnya dengan gelisah. Iapun teringat kembali ucapan teman temannya, "Tidak! Aku harus melakukannya!"
Karina tidak akan tidur malam ini. Karna nanti sekitar jam 2-3 pagi, ia akan memulai permainan. Bila ia tidur sekarang, maka akan susah untuk bangun. Jadi dirinya memilih untuk tidak tidur.
Ia mempersiapkan benda lain yang dibutuhkan. Seperti pensil tajam, garam, gelas dan air garam.
***
Setelah melihat bahwa jam menunjukkan pukul 02.00, Karina segera bersiap. Ia menelan ludah dan kembali menatap bonekanya. Setelah itu, ia mulai mematikan semua lampu. Kecuali di kamar mandi. Ia juga menyalakan tv saluran kosong.
Karina berjalan menuju kamar mandi dengan hati hati karna ia bisa saja tersandung dengan keadaan rumah yang begitu gelap ini. "Ge- Gelap sekali.." batinnya.
Karina kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air di dalam gayung. Iapun menusuk boneka dengan pensil tajam yang ia bawa dan memasukkan boneka ke dalam gayung berisi air. Ia membaca mantra untuk memulainya.
Setahu Karina, air digunakan sebagai media dunia manusia dan alam gaib, beras sebagai simbol sesajen, dan juga benang merah sebagai simbol pembuluh darah.
Setelah selesai, Karina segera pergi dengan cepat keluar dari dalam kamar mandi. Dengan hati hati dan agak panik, ia terus menjauh dari kamar mandi dan bersembunyi di dalam kamar orang tuanya. Suasana yang ia rasakan kini berubah sangat mencekam. Ia terduduk sambil memeluk kedua lututnya dengan takut. "Ba- Bagaimana bila itu benar? Bagaimana bila itu memang--"
"Ka.. Ri.. Na.. Hihihi.."
Mendengar suara asing itu, membuat Karina menutup mulut dan bernafas pelan pelan. Ia bisa mendengar suara itu berada di luar kamar orang tuanya. Bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya menegang. Suara itu sangat menyeramkan baginya.
"Itu.. Apa benar?" batin Karina. Ia mulai berdiri dan berjalan mundur menjauh dari pintu. Bisa saja pemilik suara itu akan langsung membuka pintu dan membuatnya tertangkap.
"Aku harus sembunyi.. Ke tempat.. Lain" Gumam Karina dengan suara bergetar. Kakinya terasa lemas untuk bergerak.
"Ka.. Ri.. Na.. Hihihi..."
Suara perlahan mulai terdengar menjauh. Hal ini membuat Karina sedikit bernafas lega. Namun tak lama, dering ponsel mulai terdengar. Karina terkejut karna suara dering ponselnya begitu keras. Mungkin karna ruangan kini sedang sunyi, membuat suara terdengar jelas.
Karina begitu panik. Karna suara yang ia dengar kini terdengar lebih jelas dan seperti mendekat padanya. Keringat sudah terdapat pada keningnya. Jelas ia sangat takut. Bila ia tertangkap, maka dirinya tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang jelas, ia akan berada dalam bahaya.
Karina segera mematikan panggilan telepon dan langsung berlari ke dekat jendela kamar sambil menatap ke arah pintu. "Di- Dimana.. Dimana garam? Dimana garam yang.. Yang kusimpan.. A- Apa jangan jangan.."
BRAAKKK
Pintu terdorong keras ke belakang, membuat Karina terlonjat kaget.
"Ka.. Ri.. Na.. Dimana.. Kamu.. Khihihi.."
Karina melihat sekitar. Matanya sudah berkaca kaca dan seakan ingin menangis karna ketakutan. Ia menggeserkan tirai jendela dan mencoba untuk membuka jendela. Namun tidak bisa. Sepertinya, sebelum pergi, pelayan sudah mengunci jendela agar tidak ada penjahat yang masuk.
Suara semakin mendekat dan seakan sudah berada di samping telinganya. Ia mencari cari sekitar dan langsung masuk ke bawah tempat tidur untuk bersembunyi. Ia menutup mulut dengan kedua tangan dan bernafas pelan pelan agar tidak diketahui keberadaannya.
"Ka.. Ri.. Na.. Kamu.. Disini?"
Dari bawah tempat tidur, Karina dapat melihat sepasang kaki boneka yang nampak bergerak. Sepasang kaki itu menghadap ke arah tempat tidur saat ini dan membuat jantung Karina seakan berhenti berdetak. "Tolong aku.."
Karina menjerit dalam hati. Ia ingin mengakhiri ini semua segera dengan berkata 'aku menang' 3x, lalu membakar boneka itu agar ia bisa mengakhiri permainan. Namun ia terlalu takut untuk melakukannya.
Tubuh Karina seakan membeku di tempat ketika sepasang kaki boneka semakin mendekat padanya. Boneka itu masih bersuara menyeramkan. Sehingga Karina tak mau membayangkan bagaimana bila ia harus melihat langsung keadaan boneka saat ini.
Keadaan ruangan sangat gelap sekarang. Namun Karina dapat mengetahui lokasi boneka itu berada dari suaranya dan dari tv yang ia nyalakan saluran kosong dalam kamar ini.
Tv yang awalnya hanya bergambar runyam, tiba tiba berpindah saluran. Karina semakin terkejut dan takut. Keringat terus keluar dari keningnya. Ia begitu hati hati saat bernafas.
Sepasang kaki yang menghadap ke arahnya mulai pergi menjauh darinya. Karina sedikit lega karna untungnya boneka itu tidak menemukannya. Ia terus berdiam diri di bawah kasur selama puluhan menit. Ia tidak mau keluar dari sana sama sekali.
Ketika Karina hampir saja tertidur, ia mendengar suara langkah menuju kamar ini. "Apa.. Apa mungkin boneka itu.. hii.." Karian kembali menjerit dalam hati. Ia menenggelamkan wajahnya ke lantai dan menutupnya dengan tangan.
"Karin.. Karin..!!"
"Itu.. Suara Chandie. Apa mungkin.. Dia kemari? Tidak- Tidak, pasti itu bukan Chandie. Tapi boneka itu menggunakan suara Chandie untuk mengelabuiku." Batin Karina. Ia merasa semakin takut dan gemetar ketakutan.
"Karin..!! Ini aku, Chandie! Jawab aku, bila kau memang ada di sini!"
"Cha- Chandie.." Ucap Karina dengan suara yang masih gemetar. Dia kini mulai yakin bila suara itu memang milik sahabatnya.
"Karin?!"
Suara langkah semakin dekat pada Karina dan gadis itu juga mulai keluar dari bawah tempat tidur. Saat melihat bahwa itu memang benar benar Chandie, Karina langsung menangis dan memeluknya. Dengan cahaya dari televisi, maka Karina dapat melihat sahabatnya itu, "Chandie.. Hiks.."
"Karina..," Chandie mengelus punggung sahabatnya itu dengan kasihan dan khawatir, "Kau baik baik saja? Karina.. Jawab aku.."
"Hiks.. Hiks.. Aku.. Takut.." Air mata yang selama ini ditahan oleh Karian karna takut mulai ia keluarkan. Ia begitu takut dengan semua hal ini.
Chandie terus mengelus punggung Karina dan terus menenangkannya. Setelah tenang, sahabatnya mulai bertanya, "Bagaimana.. Hiks.. Kau bisa ada di sini?"
"Aku khawatir terjadi sesuatu denganmu. Aku tau kau pasti akan melakukan apa yang kedua teman kita itu katakan. Jadi aku pergi ke tempatmu sekarang. Karna bila aku pergi ke tempatmu saat pulang sekolah nanti dan melarangmu, maka kau tidak akan menuruti ucapanku. Aku tau cara melakukan permainan petak umpet itu. Jadi aku kemari ketika waktu permainan dilakukan."
"Chandie.. Terimakasih.. Dan maaf.." Ucap Karina dengan menyesal.
"Tidak perlu meminta maaf. Sekarang, dimana boneka yang kau gunakan untuk permainan?"
Karina menggelengkan kepala, pertanda ketidaktahuannya.
Chandie berekspresi serius, "Kalau begitu, kita harus menemukannya terlebih dahulu dan mengakhiri ini semua. Jangan sampai dia yang lebih dulu menemukan kita."
Karina mengangguk dan pergi bersama Chandie mengecek seluruh tempat dengan hati hati. Mereka tak menggunakan cahaya lampu ataupun ponsel, karna bisa saja membuat keduanya dapat diketahui letaknya oleh boneka itu.
Karina dan Chandie mencoba mencari ke kamar mandi dengan langkah hati hati. Karna Karina tadi melakukan ritual di kamar mandi, bisa saja boneka beruang itu kembali ke sana. Keduanya masuk ke dalam dan memperhatikan sekitar dan berdiri saling membelakangi untuk saling menjaga.
"Di- Dia tidak ada di sini." Ucap Karina dengan suara gemetar. "Se- Seharusnya kita mengambil garam terlebih dahulu, Chandie."
"Eh? Kau tidak membawanya?" Kaget Chandie.
Karina menggelengkan kepala dengan takut. Padahal, garam diibaratkan sebagai senjata bagi mereka. Namun Karina tak membawanya.
"Kalau begitu, kita ambil dahu--"
BRRAAKK
Keduanya terkejut dan langsung menatap ke arah pintu yang tiba tiba tertutup keras. Hingga, suara tawa terdengar di belakang mereka. Tidak, tapi di atas.
"Khihihi... Ka.. Ri.. Na.. Aku.. Menemukanmu.."
Karina dan Chandie secara bersamaan melihat ke atas. Tempat di mana mereka tidak memperhatikannya selama ini. Tubuh mereka menegang dan keringat keluar dari kening karna takut.