Satsuki mizu, seorang gadis SMA yang di jauhi oleh orang orang di sekitar nya termasuk orang tua nya sendiri. tak ada yang mau berteman dengan nya banyak yang memandang rendah dirinya karna selalu di jauhi. alasan nya hanya satu, ia adalah gadis hujan.
semua orang menganggap mizu adalah pembawa sial karna ia bisa mengendalikan hujan sesuai dengan emosi nya.
namun itu dulu, semenjak semua orang menjauhi dan mengasingkan diri nya, mizu kehilangan emosi, ia hidup tanpa ekspresi, menjalani kehidupan sehari hari nya dengan monoton.
bahkan kedua orang tua nya sudah menelantarkan nya sejak ia mendapat julukan 'gadis hujan', mizu ingin menangis, namun ia lupa bagaimana cara nya, bagaimana cara nya mengekspresikan diri dan emosi.
ia ingin tertawa dan tersenyum, namun ia tak bisa, terlalu banyak beban yang ia bawa sampai ia sendiri lupa bagaimana rasa nya tersenyum manis dan tertawa lepas layak nya anak seumuran nya.
"aku lelah.." gumam gadis itu lirih.
ia lelah, ia ingin beristirahat, jika memang ia tak boleh istirahat, paling tidak jangan buat ia lelah dengan hidup nya.
.
.
.
.
seperti biasa mizu berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, ia memakai sebuah jaket putih tanpa lengan, dan sebuah tudung biru menutupi kepala hingga setengah wajah nya.
berjalan perlahan menikmati udara pagi yang berhasil menenangkan pikiran dan tubuh nya.
gadis itu menghentikan langkah nya, ia memejamkan mata nya sambil menengadah kan kepala nya ke arah langit, menikmati udara sejuk yang menerpa wajah cantik nya.
"ku mohon...biarkan aku beristirahat hari ini" gumam nya pelan.
Mizu membuka mata nya, ia kembali melanjutkan langkah nya menuju sekolah nya, tempaf dimana ia mendapat paling banyak perlakuan buruk.
ketika memasuki gerbang sekolah banyak yang menatap rendah juga menatap nya dengan tatapan mengejek, bahkan tidak sedikit yang menghina nya dengan melempar kata kata yang membuat gadis itu semakin tertekan.
"hey apa dia tak malu setiap hari datang ke sekolah walau sudah di ejek berulang kali"
"hahaha!! itu pantas untuk nya! ia hanya pembawa sial yang masib beruntung karna di beri kehidupan!"
"pembawa sial! lebih baik kau pergi!"
banyak yang menghina nya, namun mizu tetap memasang wajah datar dan sorot mata dingin. ia sudah terbiasa di hina. karna sejak sekolah dasar sudah banyak yang menghina nya.
Mizu melangkahkan kaki nya menuju kelas, kemudian berjalan menuju kursi yang berada di paling pojok kelas.
mendudukkan diri nya kemudian mengambil sebuah novel dan membaca nya tanpa memperdulikan tatapan tatapan yang di lemparkan oleh murid yang berada di kelas.
berbeda dengan seisi kelas, justru ada seorang pemuda bersurai silver yang menatap nya dengan sebuah senyum kecil. entah kenapa pemuda itu bahagia ketika melihat mizu.
tidak-tidak, bukan bahagia karna melihat mizu di bully dan di rendahkan, ia bahagia ketika melihat gadis itu karna ia sudah menyukai nya sejak awal mereka bertemu, ya sebenarnya hanya saling tatap sejenak, namun pemuda itu yakin bahwa ia telah jatuh cinta pada gadis pendiam itu.
ia ingin membela ketika melihat mizu di bully, hanya saja ia tak bisa, ia takut jika ia nanti membela nya, mizu malah mendapat perlakuan yang semakin buruk, ia memilih diam karna ia tak ingin menyakiti gadis itu lebih dalam.
pemuda dengan name tag 'Chichiro Hanazuki' itu hanya bisa menatap Mizu dalam diam.
'maaf..aku belum bisa melindungi mu' batin nya sedih.
.
.
.
.
pelajaran sudah berakhir beberapa jam yang lalu, sekolah sudah sepi hanya menyisakan seorang gadis bersurai putih yang kini sedang menatap ke arah luar jendela kelas nya.
Mizu menatap datar langit yang kini sudah berubah menjadi senja. namun jika di lihat lebih jelas, mata itu..netra saphire itu hanya memandang kosong ke arah langit.
'ternyata aku memang belum boleh beristirahat ya?'
dengan helaan nafas pelan mizu bangkit dari duduk nya berniat meninggalkan kelas, sebelum tatapan nya bertubrukan dengan tatapan dari seorang pemuda yang kini berdiri di depan kelas.
Mizu hanya diam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun mizu berjalan meninggalkan pemuda itu, sebelum ia merasakan tangan nya di tarik orang seseorang.
akhirnya mizu menoleh, menatap datar orang yang baru saja menarik lengan nya, "kenapa?" tanya mizu dingin.
Chichiro selaku pelaku penarik lengan mizu hanya tersenyum, "bisa kita bicara?" tanya Chichiro pelan, mizu menaikkan sebelah alis nya bingung, namun ia tak ingin mengambil pusing dan hanya menjawab dengan anggukan kecil, "hn", senyum Chichiro melebar, ia melonggarkan pegangan nya terhadap lengan mizu, namun enggan melepas nya.
.
.
.
.
"jadi?" tanya mizu membuka pembicaraan.
Chichiro menghela nafas pelan, kemudian menatap mizu, "apa..apa kita bisa berteman?", pertanyaan yang Chichiro ucapkan membuat mizu membeku di tempat, gadis itu menatap tak percaya pemuda bersurai silver yang kini tersenyum pada nya.
Mizu menatap tepat ke dalam netra emerald pemuda di depan nya, mencoba mencari sebuah kebohongan di sana, namun nihil, ia tak menemukan kebohongan ataupun keraguan di mata itu.
"apa kau yakin" tanya mizu memastikan, Chichiro tersenyum lalu mengangguk, "tentu!" sahut nya semangat.
Mizu terdiam beberapa saat. "baiklah..tapi ku mohon jangan ikut campur saat mereka mengganggu ku" ucap mizu lagi.
tatapan Chichiro berubah sendu, ia menghela nafas. "baiklah, tapi jika kau membutuhkan bantuan jangan segan segan meminta pada ku ya" jawab nya dengan senyum lebar, mizu hanya mengangguk, ekspresi nya tetap datar, walau dalam hati ia sudah sangat bahagia.
.
.
.
.
.
pertemanan kedua nya berjalan dengan lancar, kedua nya sangat jarang bertengkar atau mungkin bisa di katakan tak pernah bertengkar, kedua nya saling menerima satu sama lain, dan mencoba saling mengerti.
saat ini mizu sedang bersiap siap, tadi Chichiro baru saja mengirim pesan, dan mengajak nya berjalan jalan, mizu yang kini tak memiliki pekerjaan lain pun menyetujui ajakan teman yang kini sudah menjadi sahabat terdekat nya.
Mizu sudah siap dengan pakaian santai milik nya, sebuah celana jeans putih panjang mencapai lutut di tambah kaos biru muda polos dan balutan kardigan putih bersih, mizu hanya memakai sneakers putih polos, dan sebuah tas kecil berbentuk kucing berwarna biru tersampir di bahu sempit nya.
ia mengikat rambut nya dengan gaya pony tail dan beberapa pernak pernik kecil menghiasi surai putih bersih milik nya.
merasa dirinya sudah rapi mizu pun keluar dari apartement nya kemudian berangkay setelah mengunci pintu nya.
.
.
.
.
"maaf membuat mu menunggu" ucap mizu yang kini sedang berjalan beriringan dengan Chichiro. pemuda itu hanya tersenyum, "haha bukan masalah, ayolah jangan terlalu kaku", mizu hanya mengangguk, gadis itu belum bisa menunjukkan ekspresi lebih selain sebuah senyum kecil semenjak berteman dengan Chichiro.
Chichiro menghentikan langkah nya, membuat mizu yang berada di samping nya ikut menghentikan langkah kaki nya.
"hm? ada apa?" Mizu.
Chichiro memutar tubuh nya menatap mizu, pemuda itu tersenyum, "aku ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya aku ingin mengatakan nya sejak lama, tapi aku takut nanti kau malah menjauhi ku" Chichiro tersenyum miris mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut nya, sedangkan mizu hanya menatap bingung.
"huh? cepat katakan saja, jangan menahan nya" sahut mizu yang merasa bahwa pemuda di depan nya ini sedang menahan diri.
Chichiro menarik nafas panjang kemudian menghembuskan perlahan, ia menatap tepat ke netra laut milik mizu membuat gadis itu memerah tanpa sadar.
"Satsuki Mizu, jadilah kekasih ku"
Mizu membeku di tempat, tanpa sadar ia menahan nafas, mendengar pengakuan sahabat nya itu. Chichiro ikut menahan nafas karna takut gadis di depan nya akan menolak nya, namun ia salah.
"b-baiklah..tidak ada s-salah nya mencoba kan?" jawab mizu pelan, Chichiro menatap mizu dengan mata berkaca kaca, ia langsung memeluk gadis itu dan mizu membalas pelukan nya.
"terima kasih"
.
.
.
.
"tidak semua orang membeci mu, bukalah mata mu dan lihat lah, masih banyak orang yang mau menerima mu dengan senyum hangat, dan kasih sayang"