My Winter
By. De'Bell
Jeordan Neon adalah siswa yang terkenal playboy di sekolahnya, pacar banyak dan merata hingga se-antero sekolah. Bahkan sampai di luar sekolah pun ada.
Satu hal yang membuat kepribadian Neon berubah menjadi playboy, semua itu karena ibu angkatnya. Ibu angkatnya benar-benar menyiksa Neon, bahkan dengan curangnya menikahi ayah Neon hanya karena harta. Hal itulah yang membuatnya menatap semua wanita sama saja.
Baginya wanita hanya memanfaatkan matrai, dan bagi Neon semua wanita dapat ia dapatkan hanya dengan uang. Tapi semua persepsi itu hilang saat Neon bertemu dengan Winter.
Wina tersiya Ninda, entah kenapa Neon memanggilnya Winter. Tapi menurut Neon, panggilan Winter memang cocok untuk gadis itu.
Sedangkan Wina Tersiya Ninda, dia anak beasiswa di sekolahnya. Bahkan tak ada yang mau berteman dengannya karena status beasiswa itu, paling hanya 2 atau 3 orang yang mau dekat dengannya.
Winter sendiri tidak tahu jika Neon benar-benar mencintainya. Karena Winter berpikir, Neon mengejar dirinya hanya sebagai koleksi semata.
Seperti saat ini contohnya, Winter yang sedang duduk di meja perpustakaan menghela nafasnya lelah. Dan hal itu karena Neon.
"Winter, udah makan belum?"
"Udah."
"Jutek banget sih Win, padahal udah hampir 1 minggu aku ngejar kamu. Tapi kenapa kamu nggak pernah nerima perasaan aku?"
Winter memutar bola matanya malas, sedangkan Neon pria itu masih terus merayu Winter. Neon benar, Winter memang berbeda dengan gadis yang lainnya. Jika gadis lain akan luluh hanya dengan rayuan gombal Neon, tapi untuk Winter sepertinya memang berbeda.
Masih tak mau menyerah, Neon mengejar Winter saat hendak pulang sekolah. Mencoba mengantarkan gadis itu, namun sia-sia karena Winter lebih memilih menaiki bus ketimbang di boncengi Neon.
Pagi harinya Winter berangkat, dan saat berangkat dia di kejutkan dengan pemandangan di dalam kelasnya. Dimana Neon, sang playboy cap kakap tengah berlutut di hadapan Winter. Tak lupa dengan sebuket bunga mawar merah di tangannya.
"My Winter, will you be my girlfriend?"
Dan saat itulah, Winter benar-benar merasa bila hidupnya tak setenang dulu. Winter menarik tangan Neon, dan membawanya ketaman belakang sekolah. Disana Winter mengeluarkan uneg-unegnya kepada Neon.
"Neon, lo tau gue nggak suka sama lo! Dan lo tau gue nggak ada rasa sama lo! Tapi kenapa lo selalu ngejar gue sih Ne?"
"Apa kelebihan gue sampe lo ngejar-ngejar gue? APA!! Coba kasih tahu gue."
"Karena lo nggak kaya mereka."
"Maksud lo?"
"Lo itu satu-satunya cewek yang nggak mandang gue dari matrai, lo sendiri satu-satunya cewek yang bikin gue penasaran setengah mati. Dan lo satu-satunya cewek, yang berhasil ambil detak jantung gue."
"Sekarang gue tanya sama lo Win. Salahkah gue cinta sama lo? Salahkah bila perasaan sayang gue jatuh ke-lo? Salahkah pernyataan cinta yang gue ungkapin ke- lo? Salahkah?!"
Winter terdiam, ulu hatinya terenyuh kala mendengar isi hati Neon. Benarkah Neom mencintainya? Tapi hati Winter masih terbesit ketidak percayaannya pada perkataan Neon. Karena bagaiamana pun, Neon adalah playboy cap kakap.
Ingat itu, playboy cap kakap bukan cap badak.
▪︎▪︎▪︎
Ini sudah lepas dua hari setelah tragedi Neon, menyatakan cintanya pada Winter. Semuanya kembali seperti semula, Winter dengan bukunya dan Neon yang masih suka menjadi playboy.
Bahkan kini Neon telah pacaran dengan perempuan yang terkenal seksi se-antero sekolahnya, namanya Aulia. Winter yang mendengar kabar itu sudah menduga dari awal, jika memang playboy ya tetap playboy. Tak akan perna berubah.
Tapi jujur, Winter juga tak bisa membohongi hati kecilnya. Bila sebenarnya dirinya juga mencintai Neon, bahkan Winter mencoba memendam perasaan itu sendirian. Karena Winter tak ingin disakiti, jadi cukup dia mencintai dalam diam.
▪︎▪︎▪︎
Neon masih tak habis pikir, bahkan dengan cara berpura-pura pacaran dan melakukan hal romantis bersama perempuan lain. Winter tak merasa cemburu.
Boro-boro cemburu, ngajak berkelahi pun tidak. Tapi Neon kembali tersadar dalam kenyataan, memang dia siapa? Hingga Winter harus merasa cemburu jika Neon bersama perempuan lain.
Satu hal yang paling di benci Neon ketika pulang rumah. Ibu angkatnya.
"Masih inget rumah hm?"
Jeno mengabaikan sindiran ibu angkatnya itu, berjalan kembali menuju kamarnya di lantai atas. Namun langkahnya berhenti kala mendengar ibu angkatnya itu menangis, dan Neon tahu bila ibu angkatnya itu tengah ber-akting.
"Ibu tahu, kamu nggak suka sama ibu..hiks... tapi bisa kan kamu nggak nyakitin perasaan ibu?"
"NEON! Apa yang udah kamu lakuin sama ibu kamu?!"
Neon sudah tak tahan lagi dengan semua drama yang dibuat oleh ibu angkatnya. Neon memandang tajam ibu angkatnya, yang saat ini tengah tersenyum miring kepada Neon.
"Memang apa yang saya lakukan?"
"Memang saya menampar jalang ini? Memang saya menyakitinya dengan perkataan pedas saya? MEMANG SAYA PEDULI DENGAN JALANG INI?!"
Plak
Satu tamparan keras tergambar jelas di wajah putih Neon, pria yang ia anggap super heronya kala kecil dulu. Pria yang ia anggap sebagai ayah yang lemah lembut kini telah menamparnya karena seorang jalang.
Neon terkekeh, menyadari situasi rumah ini yang dulu dan sekarang yang benar-benar berubah 180°. Neon memandang sekali lagi wajah ayah, dan ibu angkatnya. Niat hati ingin istirahat di kamarnya saat pulang tadi, harus ia pendam karena tragedi ini.
Neon memilih pergi dari sana, namun sebelum pergi ia menyelipkan satu kalimat yang pedas untuk ibu angkatnya.
"ADA YAH? PEMBANTU NGERACUNIN MAJIKANNYA SAMPE MATI. TERUS NGE-GODA SUAMI MAJIKANNYA DAN DI PERES HARTANYA CUMA BUAT KESENANGAN DUNIAWI."
"Dan itu lo, bitch!"
Neon pergi, meninggalkan gemuruh rumah itu yang telah memanas. Namun dalam hati Neon berdoa, semoga ayahnya tahu. Seperti apa sosok wanita yang dicintainya sekarang.
▪︎▪︎▪︎
Hidup Winter dapat dikatakan krisis ekonomi, dan hal itulah yang membuat Winter bekerja paruh waktu. Walaupun orang tuanya melarang, tapi Winter yang terkenal dengan sikap kepala batu itu tetap memutuskan bekerja. Orang tuanya hanya pasrah dengan apa yang ingin Winter lakukan, karena mereka tahu. Apa yang Winter inginkan, maka akan ia dapatkan.
Winter, gadis itu selesai mengelap meja cafe. Dirinya hendak pergi namun urung kala seseorang memanggil namanya, dan saat berbalik dia mendapati seorang pria yang begitu ia kenal.
Dan itu adalah Deki, kekasihnya dulu di SMP. Winter memutar bola matanya malas, kali ini apalagi yang akam di lakukan oleh pria itu. Mengingat pertemuan terakhir mereka yang sangat tidak baik.
"Wina, maaf sebelumnya."
"Maaf jika aku dulu pernah sakitin hati kamu, dan maaf atas ketidak setiaan aku sama kamu. Aku harap kamu bisa memaafkan aku, dan aku janji. Aku nggak akan gangguin kamu lagi mulai sekarang."
Winter menatap Deki, menepuk pundaknya pelan. "Its oke Ki, aku maafin kamu." Winter terkejut saat Deki yang tiba-tiba memeluknya, namun tak urung Winter membalas pelukan Deki.
"Makasih Win, makasih..."
Winter mengangguk. Sebenarnya ini yang menjadi alasan Winter tak ingin membuka hatinya pada orang lain, terutama kepada Neon. Winter belum siap jika harus merasakan rasa sakit yang sama lagi.
Tapi seiring berjalannya waktu, Winter juga berusaha memaafkan Deki yang dulu berselingkuh darinya. Mencoba membuka lembaran baru, dan berjalan sesuai arah yang mengalir dalam hidupnya.
▪︎▪︎▪︎
Tak terasa sudah 8 bulan Winter lewati di kelas 12, dan saat ini adalah masa kelulusannya. Mungkin kalian bertanya bukan, bagaimana dengan kisah cinta Neon dan Winter sekarang.
Flashback
Saat Winter melepas pelukannya dari Deki, tatapan matanya tak sengaja bertemu dengan Neon. Deki yang melihat jika Winter tengah menatap seseorang pun ikut menoleh.
Deki melihat Neon yang pergi dengan tangan terkepal erat. Deki tersenyum, tangannya terulur pelan menepuk bahu Winter.
"Kamu suka sama dia, tapi kenapa nggak kamu kejar waktu dia pergi?"
Winter menatap Deki, dan yang di tatap menganggukan kepalanya. Seolah meyakinkan Winter, jika gadis itu harus mengejar Neon.
"Tapi..."
"Stop Win, aku tau kamu suka sama dia. Aku percaya sama Neon, dia tuh pria setia."
"Loh kok kamu tau..."
"Karena aku sepupunya Neon, aku tahu lebih banyak. Seperti apa Neon yang sebenarnya, please trust me."
Winter mengangguk, lantas meninggalkan Deki yang masih di dalam cafe sendirian.
"Wina, jadi lo Winter yang dimaksud Neon? Hm, aku tidak menyangka."
Sedangkan disisi Neon, pria itu memilih pergi dari rumahnya menuju cafe tempat langanannya. Dia pikir hal itu akan menenangkan pikirannya, namun salah.
Matanya malah melihat kejadian, dimana sepupunya dan Winter tengah berpelukan. Hati Neon memanas melihat itu, dan pandangannya tak sengaja bertemu dengan Winter. Neon segera pergi dari tempat itu.
Dirinya benar-benar tak menyangka, ternyata sepupunya bermain di belakangnya. Padahal dirinya begitu percaya pada Deki.
Baru saja dirinya berjalan berapa langkah dari cafe itu, tiba-tiba saja dia merasa ada seseorang yang memeluknya begitu erat. Dan saat itu dia menyadari jika Winter memang mencintainya.
"I love you Neon."
"Me to..."
Flashback off
Ya kira-kira seperti itulah kisah mereka, akhirnya Winter mau membuka hatinya kembali untuk seseorang dan orang itu adalah Neon.
Untuk kesalah pahamannya dengan Deki, semuanya telah selesai.
"Winter." Wina tersenyum geli kala melihat Neon dengan bunga mawarnya. Bagaimana tidak tertawa, karena Neon membawa bunga mawar itu dengan gerobak sampah sekolah.
"Habis panen bang?"
"Bukan, habis jadi babu sekolah ini.. disuruh ngasih bunga mawar sama penduduk yang udah lulus.
Dan sampai sinilah kisah My Winter berakhir.