Aku terdiam melihat hamparan sawah yang begitu luas membentang indah dengan daun-daunnya yang hijau saling bergesekan karena terpaan angin. Untuk ke 2 kalinya setelah sekian lama aku baru menginjakan kaki lagi disini, kota kelahiranku.
Menghirup udara yang begitu sejuk sangatlah mengasyikan serasa membuat jiwaku terasa tenang. Namun sepertinya sang mentari sedang bersedih, karena langit yang harusnya berwarna biru cerah mendadak menampakan awan-awan gelap hingga cuaca menjadi mendung.
Hembusan angin semakin kuat dan membuat tubuhku kedinginan, aku gerakan kedua kaki secepat mungkin untuk sampai ke rumah kakekku dan sepertinya hujan sudah tak sabar untuk turun kebumi. Membuat tubuhku sedikit kebasahan dan terpaksa meneduh di gubuk bambu yang ada di pinggir jalan.
“Maaf, boleh saya ikut meneduh?”
Suara yang begitu merdu itu membuat fokusku teralihkan, aku pun mengangguk setuju dan langsung menyimpan ponsel yang sedang aku mainkan tadi. Wanita itu masuk kedalam gubuk dan segera duduk disampingku, ada perasaan aneh saat ia didekatku, terlihat tubuhnya kedinginan karena basah kuyup, ia mendekap tas ranselnya untuk menutupi tubuh bagian depannya.
Hampir satu jam hujan belum juga reda, namun wanita yang ikut meneduh bersamaku tadi sudah lama pergi semenjak intensitas hujannya berkurang. Dari kejauhan aku melihat ada pengendara motor yang mendekat ke arahku, ternyata ia adalah pamanku. Orang yang aku tunggu dari tadi.
“Lama ya? Maaf karena tadi hujannya begitu deras makanya paman menunggu sedikit mereda.” Ucap pamanku memberikan jas hujan untuk segera ku pakai.
Sesampainya dirumah aku di sambut hangat oleh nenek dan kakekku, bahkan anak dari pamanku pun ada disini karena ikut orang tuanya untuk menyambut kedatanganku.
“Haii Reno..” Aku menyapa anak lelaki dari pamanku, ia sedang asyik menonton kartun upin-ipin. Namun sepertinya aku di abaikan olehnya, karena ia terus saja tertawa saat anak kembar itu di kejar lebah dan terpaksa menceburkan dirinya kedalam sungai.
“Dia kalo sudah nonton TV gak bisa di ganggu, lebih baik kamu pergi ke kamar dan segera bersiap makan!” Titah bibi padaku.
Aku taruh tas ransel di atas tempat tidur, Hawa dingin langsung menyeruak saat aku memasuki kamar mandi, tak ada air hangat disini membuatku terpaksa untuk mandi meski harus menggigil kedinginan.
TOk..TOk..
Suara ketukan pintu terdengar.
“Ya..” Jawabku sambil bergegas merapihkan baju yang telah ku pakai.
“Buruan kita makan bareng.” Sahut bibiku dari luar.
Semua orang rupanya sudah duduk mengelilingi meja makan, terlihat berbagai makanan tersaji memenuhi meja, baru kali ini aku bisa makan bersama. Biasanya aku hanya makan sendiri karena kedua orang tuaku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
🍃🍃🍃
Rumah begitu lenglang dan juga hening, tak nampak satu orang pun disini. Aku keluar rumah untuk melihat apakah nenek dan kakekku berada di luar atau tidak, dan ternyata mereka tak ada.
“Assalamaualaikum.”
Saat aku hendak menutup pintu, suara merdu itu kembali ku dengar, terlihat wanita kemarin berdiri di depan rumah kakek sembari menenteng kantung kresek putih.
“Kaisar?” Tanya wanita itu menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan.
Tunggu.. bagaimana ia tahu namaku? Pikirku.
“Siapa kai?” Tanya nenek yang datang dari arah dapur, sepertinya nenek dari belakang rumah.
“Ini saya nek, saya mau memberikan baju yang nenek jahit di ibu, ini sudah selesai.” Jawab wanita itu tersenyum ke arah nenek.
Melihat senyumannya aku merasa familier, senyuman yang begitu manis bahkan sampai menggetarkan hatiku.
“Ohh kiara.” Nenek mengambil kantung kresek itu dan segera memberikan sejumlah uang padanya.
“Terima kasih nek, saya pamit.” Wanita yang bernama kiara itu pamit.
“Assalamualaikum.” Sambungnya meninggalkan rumah.
“Waalaikumsalam.”
“Kamu suka ya sama dia?” Tanya nenek membuyarkan lamunanku.
“Kayaknya kamu beneran suka sama dia.” Ucap nenek meninggalkanku yang masih berdiri di depan pintu.
‘Kiara’ sebuah nama yang tak asing bagiku, apakah aku pernah bertemu dengannya? Pikirku mencoba mengingat nama itu, padahal setahuku aku tak mempunyai teman yang bernama kiara.
Cuaca yang sejuk membuatku tergerak untuk berjalan santai disekitaran rumah kakek, disini orang-orangnya ramah tak seperti di kota. Terlihat seorang wanita sedang berdiri dekat pohon besar di tepi danau. Aku mencoba mendekatinya, wanita itu seperti menggenggam sesuatu dan duduk berjongkok sambil memeluk kedua lututnya.
“Padahal cuaca begitu cerah, terlihat indah dengan langit birunya, kenapa kamu terlihat sedih?” Tanyaku yang langsung membuat wanita Kiara itu mendongak.
Ternyata wanita itu adalah Kiara.
“Hai Kai, bagaimana kabarmu?” Tanyanya dengan menatapku dalam.
“Baik, bagaimana kamu tahu namaku?”
Tak ada jawaban darinya, ia langsung berdiri dan pergi dari hadapanku tanpa berkata apapun lagi.
“Kenapa dengan wanita itu?” Tanyaku kesal sendiri.
Hari berganti hari dan wanita itu sering lewat depan rumah bersama teman-temannya, ternyata ia masih sekolah menengah, ia selalu ramah terhadap nenek dan kakek tapi tidak terhadapku. Semenjak kita bertemu di danau ia besikap begitu padau. Apakah aku telah berbuat salah kepadanya? Pertanyaan itu sering muncul saat ini. Bahkan aku ebgitu penasaran bagaimana ia bisa kenal padaku, padahal kami baaru saja bertemu untuk pertama kalinya.
Sudah 2 minggu lebih aku tinggal disini, cukup nyaman namun tak ada bedanya saat aku di kota, dimana banyak wanita yang ingin dekat denganku tapi tidak dengan Kiara.
“Lo tau wanita itu?” Tanyaku pada Rafli. Dia adalah anak tetangga, umurnya sebaya denganku hingga membuatku bisa nyambung dengannya.
“Ohh Kiara, kenapa emang?”
“Dia termasuk cewek yang seperti apa Raf?”
“Aku tanya malah balik nanya.” Kesal Rafli.
“Dia itu cewek baik kok, banyak cowok disini yang mendekatinya, termasuk gua. Tapi sayang dia selalu menolak cowok yang mau dengannya.” Sambung Rafli dengan mengeluh karena cintanya telah ditolak oleh Kiara.
Tak dapat dipungkiri Kiara termasuk wanita cantik disini, apalagi saat ia tersenyum.
“Hai Kia… abis dari mana?” Sapa Rafli melebarkan senyumnya.
“Abis dari rumah bi Inah.” Jawab Kia ramah sambil berlalu.
Tak henti-hentinya mataku menatap kepergian wanita itu. Untuk pertama kalinya aku di acuhkan oleh wanita, sikapnya sungguh membuat hatiku resah tak menentu. Padahal aku tak mengenalnya tapi bisa-bisanya aku mulai tertarik terhadapnya.
🍃🍃🍃
Disuatu sore selepas aku pulang nongkrong bersama Rafli, aku melihat Kiara keluar dari rumah. Untuk pertama kalinya ia tersenyum ramah padaku, senyuman yang begitu indah hingga bisa menggetarkan jiwa juga hatiku.
“Abis dari mana?” Tanya nenek padaku.
“Abis dari luar nek, nyari yang bening.” Ucapku bergurau.
“Ini ada titipan dari Kiara.” Nenek memberikan kotak kecil yang di bungkus kertas kado berwanrna biru padaku.
Mataku terus saja menatap kotak kecil itu, Aku baru teringat jika hari ini adalah hari lahirku, bagaimana ia tahu hari ulang tahunku? Dan kenapa ia berbaik hati memberikan hadiah padaku? Padahal kita tidak saling mengenal satu sama lain.
Sudah 3 hari kotak kecil itu tersimpan di atas nakas, tak pernah aku buka. Namun saat ini rasa penasaran itu muncul hingga akhirnya aku pun membukanya.
‘Ini pemberian darimu aku kembalikan, terima kasih atas kenangan masa kecil kita.’
Begitulah isi surat kecil di dalamnya, disana aku melihat gelang kaki putih dengan liontin inisial huruf K.
Keningku mengerut dalam, belum mengerti dengan maksud isi suratnya.
“Kenangan masa kecil?” Gumamku tersenyum renyah, bagaimana bisa aku memberi hal seperti ini pada seorang gadis.
Tak mau larut dengan pemikiranku, aku pun memutuskan untuk tidur, karena aku tak mau terlambat dengan keberangkatanku besok.
.
.
“Kai, kamu janji yah kalo setahun sekali datang kesini lagi.” Gadis kecil dengan mahkota bunga dikepalanya menuntut janji pada Kaisar yang berumur 8 tahun.
“Iya aku janji.”
“Oke.” Ucap gadis itu kegirangan langsung memeluk Kaisar.
“Kiara sayang Kai, Kia mau bareng Kai terus, seperti ibu sama ayah kia.”
“Nanti kalo udah dewasa, Kita bakal sama-sama. Kia jangan suka sama cowok lain ya.!” Kaisar kecil melepaskan pelukan Kia, ia mengeluarkan gelang kaki dari saku jaketnya, dipakaikannya pada kaki Kia.
“Ini buat Kia, Kai janji nanti kai bakal balik lagi, dan bareng terus.”
Meski sudah di beri janji tetap saja Kia kecil itu menangis saat Kai pergi dari hadapannya.
.
.
“Apa artinya ini?” Aku terbangun ditengah malam.
Rasanya tak percaya saat aku memimpikan hal seperti itu, Akhirnya aku mencari album foto masa kecilku, dan benar saja aku melihat sebuah foto yang menampakan gadis kecil tadi dengan diriku kecil, jadi mimpi tadi adalah masalalu ku.
‘Kaisar dan Kiara’ tulisan dibalik foto tersebut.
[Banyak cowok disini yang mendekatinya, termasuk gua. Tapi sayang dia selalu menolak cowok yang mau dengannya.]
Perkataan Rafli waktu itu teringiang-ngiang terus dikepalaku, terus menerus berputar bagaikan kaset rusak. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Pertama kali aku kesini adalah saat liburan kelulusan SMP, pantas waktu itu ada wanita aneh yang terus menerus cari perhatian padaku. Jadi wanita itu Kiara?
Pagipun menjelang, Aku mematung di depan pintu rumah Kiara, belum sempat tanganku mengetuk, pintu itu terbuka dari dalam.
“Kai, sedang apa kamu sepagi ini disini?” Terlihat jelas Kiara begitu terkejut mendapatiku berdiri di depan rumahnya, Kiara keluar rumah mengambil gelas kotor di atas meja.
“Maaf aku terlambat menyadarinya Kiara Larasati.”
Pergerakan tangan Kiara terhenti, ia berbalik menatapku, dapat dilihat ada cairan kristal dipelupuk matanya.
“Maaf Kia.” Ucapku lirih menyadari kebodohanku.
“Aku sudah memaafkanmu Kai.”
“Benarkah?” Rasa bahagia tak dapat lagi kutahan, ku genggam kedua tangannya. Namun tidak sepertiku Kia malah melepaskannya.
“Kenapa Kia? Kamu tunggu aku beberapa hari oke, aku akan segera kembali melamarmu.” Ku pegang erat kedua pundaknya.
“Kia..” Panggilku saat merasakan tubuhnya bergetar, Kiara menangis tanpa suara. Ia menumpahkan air matanya di depanku.
Kami terdiam untuk beberapa saat, aku tak bisa memeluknya karena dia menolak saat akan ku rengkuh tubuhnya.
“Kai..” Kiara bersuara, tatapan kami bertemu.
“Aku sudah melupakan janjimu, dan maaf aku tak bisa menepati janjiku.” Perkataannya membuat jantungku berdegup kencang, sesak mulai kurasa, rasanya paru-paru ku mulai bermasalah.
“Semenjak Kai mengacuhkan kia waktu itu, Kia bertekad untuk melupakan Kai. Tapi ternyata Kia gak bisa kai.” Ucapnya parau menahan tangis. Ingatan kembali muncul pada wanita yang sering cari perhatian padaku.
“Setelah lulus sekolah Kia akan menikah.”
“Bagaimana bisa Kia?” Pungkasku tak terima.
“13 tahun Kia berusaha menunggu, tapi disaat Kai belum juga mengingat Kia rasanya sakit Kai.… Kia gak bisa harus terus menunggu. Kia harap kita bisa bahagia meski tak bersama Kai. Terima kasih sudah mengingat Kia kembali.” Ucapnya berbalik meninggalkanku.
Rasanya aku tak percaya dengan apa yang ku alami saat ini, jadi ini alasan dimana aku tak pernah serius dengan wanita-wanita yang dekat bersamaku selama ini, karena ternyata hati kecilku mengingat jelas janjiku pada Kiara. Tapi sayang semuanya sudah terlambat.
“Maafkan aku kia.”
🍃 Ketika kata maaf sudah tak berarti, maka kita terlambat untuk memperbaiki.
SELESAI.