"Bawakan aku sebuah apel emas. Setelah itu aku akan menjadi istrimu."
Suara dentuman keras terdengar di telinga hingga membuat tanah ikut bergetar. Wajah yang penuh keringat bangun dari tidur lalu dengan segera mengambil dua buah pedang yang dia simpan di bawah kasur tidurnya.
Dia keluar dari tenda dan melihat dua iblis besar yang menembakkan sebuah bola api keseluruh hutan. Dia menarik kedua pedangnya lalu menerjang kedua iblis itu.
Butuh waktu yang lama, dia berhasil memenggal kedua kepala iblis. Wajahnya dilumuri cairan hitam, matanya tidak menunjukkan cahaya ataupun kebahagiaan. Hanya keputusasaan lah yang ada di matanya.
Tahun 440X, iblis-iblis kuno muncul dipermukaan dan manusia yang terpilih oleh apel emas harus bertarung melawan iblis sampai para iblis kembali ke dunia bawah. Sekarang, tahun 445X para manusia masih melawan iblis.
Edward adalah manusia pertama yang dipilih oleh apel emas untuk melawan para iblis. Sudah bertahun-tahun dia melawan iblis dan dia hampir lupa masa-masa dia sebelum menjadi pahlawan dunia.
Dia hanya ingat janjinya kepada seseorang yaitu membawakan apel emas kepadanya. Para pahlawan akan mendapatkan apel emas ketika para iblis kembali ke dunia bawah, karena itu Edward rela menjadi pahlawan dan meninggalkan semua yang dia sayangi agar dapat memenuhi keinginan serta janjinya kepada orang yang dia cintai.
Iblis terus menyerang begitu pula Edward, tidak pernah berhenti melawan iblis tanpa mengenal takut. Satu persatu iblis dihabisinya. Pasukan bantuan dari kerajaan yang ditugaskan untuk membantu para pahlawan ketakutan saat mereka turun ke medan perang. Mereka bukan takut kepada iblisnya, namun takut kepada Edward yang sudah seperti mesin pembunuh.
Setiap dia beraksi selalu berakhir dengan dirinya yang dilumuri cairan hitam. Dia seperti menyirami dirinya dengan cairan itu untuk membuat para iblis takut akan keberadaannya.
Anggota kerajaan mengetahui kondisi Edward dan memutuskan untuk tidak membantunya dengan mengirimkan ksatria lagi. Edward menganggap bantuan itu hanya beban baginya.
Tahun demi tahun… Iblis semakin banyak dan semakin meraja rela. Edward pun terus bertarung di garis depan bersama para pahlawan yang lain. Lalu suatu saat tibalah hari dimana raja iblis sendiri yang muncul ke permukaan.
Dia melihat semua pertarungan Edward serta pahlawan lainnya. Namun raja iblis hanya menganggap Edward saja yang pantas disebut pahlawan. Edwad mengabaikan semua perkataan raja iblis dan menantangnya.
Raja iblis mengajak Edward untuk bergabung dengannya, namun tanpa pikir panjang Edward menolaknya.
Dengan kedua pedangnya, Edward menggunakan seluruh kemampuannya serta kekuatannya untuk membunuh raja iblis. Pertarungan sengit mempertaruhkan nasib dunia sangatlah mencekam. Semua pahlawan yang melihat pertempuran pahlawan kegelapan melawan raja iblis hanya dapat terdiam dan kesal kepada diri sendiri karena tidak dapat membantu pahlawan kegelapan.
Pertarungan sengit itu berakhir dengan terpojoknya raja iblis dan terpotongnya tangan kiri Edward. Dengan kekuatan terakhirnya, Edward menggabungkan kedua senjatanya dan mengorbankan seluruh kemampuannya untuk memenggal kepala raja iblis dalam satu tebasan.
Pahlawan Kegelapan, Edward Nephilia itulah julukannya.
Perang telah selesai, para pahlawan kembali ke kerajaan untuk meminta imbalan. Semua mendapatkan apel emas masing-masing satu kecuali Edward. Dia mendapatkan dua apel emas karena dialah yang memenggal kepala raja iblis.
Setelah itu Edward bergegas kembali ke desanya untuk menepati janjinya.
Dia melihat perubahan yang begitu amat banyak di desanya bahkan dia tidak mengenali semua orang di desanya.
Dia pergi ke rumah kekasihnya dan disambut oleh gadis kecil.
"Ibu! Ada tamu!".
Seorang perempuan muda datang dan menyambut Edward.
"Apakah anda mencari seseorang?".
"Erina?…"
"Erina? Itu nama ibuku. Sudah lama sekali saya tidak menyambut seseorang yang mencari ibu."
Edward terdiam. Dia mencoba memahami apa yang sedang terjadi disini.
"Jika anda mencari ibu, ayo ikut saya."
Edward pun mengikuti perempuan itu ke sebuah tanah lapang yang ditengah-tengah nya ada pohon zaitun yang sangat dikenal Edward.
"Ibu, ada yang ingin bertemu dengan ibu."
Dibawah pohon ada batu nisan yang tertulis
[Erina Miliarze. 425X - 510X.]
Edward menangis. Dia memeluk batu nisan itu sambil menangis tersedu-sedu.
"Maaf. Maafkan aku Erina! Aku tidak menepati janjiku. Maafkan aku!".
Anak Erina serta cucunya meninggalkan Edward karena mereka mengerti bahwa seseorang yang ditunggu oleh Erina sampai tua adalah Edward.
Namun ada satu hal yang membuat anak Erina kebingungan, Edward masih terlihat seperti pria berumur 20 tahun.
Hembusan angin yang melambai-lambai seperti menenangkan Edward yang duduk disebelah nisan Erina.
Edward menaruh bunga Rosemary diatas nisan Erina lalu dia menyanyikan lagu yang sering mereka nyanyikan.
Are you goin to Scarborough Fair?
Parsley, Sage, Rosemary, and Thyme
Remember Me to One Was Lives There
She Once Was A True Love Mine