CERPEN
PART 1
Apa kamu percaya time travellers? mereka yang berjalan diantara waktu, entah untuk mengungkap kebenaran atau memperbaiki kesalahan, pada dimensi ini angka yang mendalih satu persatu diantara jarum jam merupakan roda yang bisa kau putar sesukamu, dengan jeda atau kecepatan yang tiada tentu, terlepas dari semua itu, bagaimana jadinya kalau mereka benar-benar ada didunia nyata?
Druk..!
Tumpukan buku itu jatuh berserakan dilantai koridor sekolah, sementara satu buku pelajaran dilempar kesana kemari oleh para remaja menyebalkan yang mengganggunya.
"Kembalikan buku itu!"
Ucapnya, dengan mata berkaca berusaha menahan amarah dan tangis diwaktu bersamaan
"Buku ini?!"
Seorang dari mereka berteriak ke arahnya, dengan senyum usil ia merobek beberapa lembar kertas buku tersebut.
"Hahahahahaha.."
Kemudian mereka perlahan melangkah pergi, meninggalkan gadis itu dan buku-bukunya yang berserakan, ia memunguti buku-buku itu, membawanya dipelukan dan berjalan menuju loker untuk menyimpannya.
Yaa.. seolah kejadian tadi ialah rutinitas biasa baginya.
Dia Melody alexa, gadis dengan kacamata tebal entah minus berapa, rok abu-abu setinggi lutut, kemeja yang dikancing hingga kerah teratas, serta rambut panjang sebahu yang dikuncir rapi. Sebenarnya Melody tidaklah buruk, ia cukup menawan kalau dipandang, matanya lentik, tatapannya bersinar seolah menarik siapa saja yang memandang, hanya saja mungkin karena gadis ini punya nilai tertinggi dikelas jadi beberapa siswa iri pada pencapaiannya, ditambah lagi kepribadian Melody yang pendiam dan kurang bisa bergaul seperti remaja sebayanya membuat para siswa menjahilinya.
Melody hanya tinggal berdua bersama sang nenek, yang mempunyai toko roti diseberang sekolah, penghasilannya tidak banyak tapi cukup untuk biaya hidupnya bersama cucu tersayang.
Beliau ialah orang bandung asli yang kini telah beralih domisili ke kota jakarta, ia membawa sang cucu 15 tahun silam dalam gendongannya yang hangat menjauhi kota bandung yang kelam.
ya.. kelam, ibu Melody sudah meninggal 1 Tahun setelah ia lahir, komplikasi pada area ginjal tutur dokter di rumah sakit, Hati neneknya tentu hancur berkeping, ia tak menyangka sosok lain hadir sementara anak perempuannya pergi.
Sang ayah tak kalah terpukul akan kepergian istrinya, ia berlalu dari rumah sakit dan tidak pernah kembali, meninggalkan anak semata wayang nya yang tertidur pulas dalam buaian sang nenek. satu tahun kemudan, kala itu Melody genap 2 tahun, ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita asal kota malang dan menyerahkan hak asuh Melody seutuhnya pada sang nenek, ingin menempuh hidup yang lebih baik ucapnya, tapi akan bertanggung jawab pada segala biaya hidup Melody, ia lupa yang dibutuhkan anak itu ialah kasih sayang, bukan lembaran berangka yang mereka sebut uang.
Nenek Melody tidak terima akan hal itu, ia mendalih menatap menantunya tajam kemudian pergi, setelah satu tahun kemudian sang ayah tak kunjung kembali atau sekadar menyadari kesalahannya, sementara nenek Melody merasa ini tidaklah adil bagi cucunya, ia membawa Melody yang berusia 3 tahun itu pergi menaiki kereta dari bandung menuju jakarta.
Semua sudah berlalu, meski kota kelahirannya mengandung tragedi yang mengiris hati, Melody sangat ingin lagi menjejaki kota itu, entah untuk menyusuri puing-puing yang tersisa disana, kenangan ibunda atau keberadaan sang ayah. Tahun ini ialah tahun terakhir sekolahnya, ia ingin memutuskan kembali ke bandung menyusuri kota itu dan kembali menempuh kuliah di jakarta, nenek melarang melody mengambil kuliah disana, katanya kota bandung tidaklah berubah tapi kenangan yang membuatnya berubah.
Teng... teng.. teng...
Jam sekolah berakhir, lembar ujian dikumpul kan ke meja guru didepan kelas, yang sudah selesai boleh pulang sementara yang belum harus mengejar waktu.
Melody mengumpulkan kertas hasil ujiannya dan kembali ke tempat duduk lalu merapikan alat tulis diatas meja dan memasukkan nya ke dalam tas. ia melangkah keluar kelas mengingat hari ini hari terakhir ujian, lalu besok dan seterusnya seluruh siswa siswi diliburkan tinggal menunggu pengumuman kelulusan, waktu yang tepat untuk pergi ke bandung pikirnya. Gadis itu menyusul neneknya ke toko dan menyampaikan keinginannya, sempat nenek merasa khawatir karena tidak pernah melepas cucunya pergi jauh sendirian.
"Aku janji nek setelah sampai di bandung aku langsung ke rumah lama kita"
ucapnya, matanya berbinar penuh harap
"Baiklah.. tapi kamu harus jaga diri baik-baik dan kabari nenek kalau sudah sampai, cucu nenek sudah besar kan.."
meski dengan hati yang masih berat tapi ia mencoba melepaskan sang cucu, toh Melody memang harus tahu kota kelahirannya dan pendahulunya.
~ ~ ~
Gadis itu menaiki bus dan melambaikan tangan pada neneknya melalui jendela, roda bus berputar pelan dan mulai menjauhi ibu kota, jalanan memang padat sempat beberapa kali supir harus menjejal macet disepanjang jalan, tapi pada akhirnya bus itu sampai di stasiun pemberhentian nya, bandung. Melody melongo menatap kota itu, setidaknya bandung lebih tenang dari pada jakarta pikirnya.
Disambung dari stasiun ia melambai pelan berusaha memberhentikan taksi yang lalu lalang, satu taksi berhenti didepan Melody, ia memberi tumpangan dan melaju mengantar ketempat tujuan,
"Terima kasih pak, ini uangnya"
tutur Melody sembari mengeluarkan uang dari saku celana
"Hiya neng.. sami-sami"
Bapak supir taksi menerima uang itu dengan ramah
Melody menuruni taksi, membawa kopernya yang berat digenggaman tangan kanan.
Dihalaman rumah lama, ia menatapi tiap jengkal rumah itu, masih kokoh hanya saja cat putihnya agak luntur, dan rumput dihalaman tinggi-tinggi. Melody mulai berjalan menuju rumah itu dan membuka pintunya pelan, gelap dan senyap itulah rasanya.
klik..
Ia menyalakan lampu dibelakang pintu, lampu menyala terang memperlihatkan seluruh isi rumah, foto-foto masih terpajang diruang tamu, Melody menatapi tiap bingkainya mendapati foto sang ibu dan ayahnya, lalu berpindah ke kanan, menatap foto allmarhum kakek yang sudah lama meninggal. Kakek merupakan pejuang indonesia kala dulu, neneknya bilang kakek prajurit bersenjata yang ikut membela indonesia dulu, tapi pada akhir hayatnya kakek tidak meninggal karena berperang, melainkan kerena sakit.
Menatapi potret-potret masa lalu membuat Melody agak tercengang, ia menyusuri isi rumah dan terhenti di kamar utama yang dulunya kamar nenek dan kakek, Melody mulai mengeluarkan beberapa barang dan pakaian dari dalam kopernya dan mulai menyusunnya ke dalam lemari.
Druk!!
Benda keras terjatuh dari lemari, sebuah kotak kayu berukuran kecil, Melody mengabil kotak itu dari lantai mengamati kotak itu sebentar lalu membukanya.
"Apa ini?"
Ia mendapati sebuah arloji kuno yang masih menyala namun tak sesuai dengan waktu sekaarang
"Hah masih nyala?"
Tangannya mulai memutar setingan jam tersebut sesuai waktu saat itu dan memutarnya ke angka-angka lainnya, jam bergerak pelan. 18:23 setingnya, nampak hanya arloji biasa lalu ia memutarnya ke angka 07:00 hanya menyetingnya ke arah angka yang berbeda, memastikan arloji itu tidak rusak dan bisa menyala.
07:00, waktu berdetik pelan, suara kokokan ayam menyadar kan Melody pada keanehan yang terjadi, sinar matahari pelan-pelan menembus di jendela kamar.
"Apa!!!"
Gadis itu terkejut bukan main, ia menatap langit yang cerah dengan bingung
"Tadi kan malam?!"
Melody menyalakan handpone nya menatap waktu berbeda dengan arloji tersebut, berdetik 18:23
Tunggu-tunggu ada yang aneh pikirnya, ia mulai memutar kembali setingan arloji tersebut ke arah 18:23 lalu langit kembali menggelap pelan, mata Melody membulat tak percaya, ia mencubit pipinya keras, dan merasa sakit memastikan itu bukan mimpi. berulang-ulang ia memutar alroji dan menyadari satu hal.
Hmm tunggu dulu, arloji ini tampak istimewa! ia tak hanya jam saku biasa!!!
Karya : Ditanirma