Sundel bolong itu kembali melayang sepuluh jengkal dari atas bumi. Kain putih gaib yang membungkus tubuhnya bagai jubah berkibaran seperti lidah api walau tak ada angin kencang yang terasa. Rambut panjang menumpuk kusut masainya menjulur turun ke bawah.
Kulitnya yang tak tertutup jubahnya itu berwarna pucat melebihi putihnya busananya, termasuk sepasang lengan yang kesepuluh jarinya dihiasi cakar-cakar tajam dan hitam mengalahkan kelamnya malam.
Soemantri Soekrasana menggertakkan giginya dan menatap Marni si sundel bolong dan Girinata dengan tajam bergantian.
Girinata terkekeh. Soemantri Soekrasana meludah ke tanah. "Keluarga ular beludak. Kali ini aku benar-benar tak sampai berpikiran sejauh ini. Tidak hanya menggunakan anak kandung sebagai tumbal, istrimu sendiri kau karyakan untuk mencapai nafsu biadabmu, Pak Girinata," seru Soemantri Soekrasana.
Girinata semakin tersenyum lebar. "Ibuku sendiri yang mengatakan bahwa kelak aku, Marni, dan Wardhani tentunya, tidak akan terpengaruh dengan ruang dan waktu. Kekayaan hanyalah secuil kenikmatan yang bisa kami dapatkan. Tapi waktu ... Nah, nah, itu sesuatu yang sama sekali tak terukur, nak. Lagipula ibuku bahkan termasuk Kinanti, mereka akan terus melayang-layang di dunia fana ini bersama kami, bukan?"
"Baik. Bila benar memang seperti ini adanya, aku juga semakin berniat untuk tak sungkan-sungkan memberikanmu dan anak perempuanmu itu pelajaran dan hukuman yang setimpal," seru Soemantri Soekrasana geram.
"Anak bau kencur sepertimu? Kencing saja belum bisa lurus mau mencoba cari masalah denganku, bocah? Kau pikir dengan memiliki kemampuan mantra pemanggil dan penjinak mahluk halus serta menguasai Lembu Sekilan membuat dirimu hebat? Mau jadi polisi gaib, kau?" Mata Girinata membelalak menantang. Otot-ototnya mengeras. "Marni ... Bunuh orang itu!"
Tanpa mempertontonkan mimik perasaan sama sekali, Marni sang sundel bolong menghambur cepat ke arah Soemantri Soekrasana. Kain jubah putihnya berkelebatan menonjol diantara kepekatan kegelapan.
Serangan fisik memang tak akan mampu melukai Soemantri Soekrasana selama Lembu Sekilan masih dimantrakan. Namun lain ceritanya bila sosok gaib hantu sundel bolong menyergap dengan sepuluh jari bercakarnya. Lembu Sekilan nampaknya tak dapat mendeteksi serangan semacam itu.
Maka Soemantri Soekrasana melompat kesamping sejauh mungkin. Tubuhnya menubruk jambangan tanaman milik istri Pak Guru Johan. Lengannya terluka oleh pecahan jambangan dari tanah liat di berbagai tempat. Ia sendiri sedikit merasa bersalah karena menghancurkan benda-benda itu, walau ia yakin istri Pak Guru Johan pasti akan memaafkannya karena ia terpaksa melakukannya agar tak mati dicekik dan dicakar sesosok sundel bolong.
Marni menghilang!
Soemantri Soekrasana berdiri awas, melihat sekeliling namun tak menemukan sosok yang menyerangnya tadi selain Girinata yang berkacak pinggang dan tertawa puas. "Ada apa sih dengan para orang jahat yang selalu ceria?" batinnya kesal melihat tingkah lawannya tersebut.
Soemantri Soekrasana hendak merapal mantra untuk membuat sang sundel bolong muncul dan terbaca oleh radarnya ketika Marni sudah muncul dan melayang semeter di atas kepalanya dan menghujam turun.
Soemantri Soekrasana berguling sampai dua kali ke depan. Punggungnya perih. Ada koyakan lebar di sana akibat terkena cakaran sang sundel bolong.
Marni kembali menghilang. Jubah putihnya sempat terlihat menyelip diantara tanaman istri Pak Guru Johan yang berbatang panjang-panjang.
"Mengapa hantu perempuan selalu terlihat berdaster putih panjang? Padahal mereka dikuburkan dengan dipocongi, atau dengan baju berbeda," gumamnya berbicara pada diri sendiri. "Itu karena hantu tak terpenjara bentuk fisik. Kemunculannya di dunia membawa bentuk-bentuk yang tercipta dari persepsi dan sudut pandang manusia. Ia akan berdaster putih panjang seperti ini untuk memuaskan keinginan visual manusia. Lalu, si kampret Girinata menambahkan bumbu kejahatan dalam sosok itu. Mulai sekarang, pikir baik-baik, mana yang lebih mengerikan. Manusia atau hantu? Bahkan setan iblis laknat penghuni kerak neraka pun sebenarnya tak perlu banyak bekerja untuk membuat manusia saling benci dan saling bunuh. Hanya butuh dorongan seupil buat manusia terbakar angkaramurka," gumamnya masih pada diri sendiri, seakan memberikan pengertian pada orang lain.
Soemantri Soekrasana melirik ke arah pecahan jambangan bunga dari tanah liat kemudian memungut beberapa. Pandangannya beredar ke segala penjuru. Marni masih belum terlihat. Tepat ketika rambut-rambut di lengannya berdiri sebagai tanda kehadiran mahluk gaib adikodrati, Soemantri Soekrasana melemparkan pecahan tajam dan lancip jambangan tanah liat ke arah Girinata.
***
Wardhani diam terpaku. Permukaan kulitnya berdesir, ia merasakan sesuatu sedang terjadi di sudut dusun. Dua pemuda budaknya bertelanjang dada. Peluh membasahi tubuh mereka dengan latar belakang pemandangan gapura bata merah yang hancur lebur hampir rata dengan tanah. Api juga membumbung dari pos penjagaan keamanan dusun. Para warga yang mendapatkan giliran malam ini berserakan di tanah. Mereka syok dan terluka secara mental sehabis menyaksikan iblis berupa-rupa berkeliaran tepat di depan mata mereka. Belum lagi kekuatan Wardhani yang mendadak berubah menjadi seorang ratu dedemit yang mengintimidasi baik dengan aura maupun kekuatan gaibnya.
Kedua pemuda itu melihat sekeliling, seperti bangga atas hasil pekerjaan mereka, kemudian berjalan dengan percaya diri mendekati Wardhani.
"Ah, Wardhani ... Atau boleh kami panggil Raden Ayu?" ujar salah satu diantaranya.
Wardhani tak mengacuhkan mereka. Ia masih menewarang dan mencoba menerjemahkan rasa yang datang tiba-tiba menyentuh semua indranya.
Kedua pemuda itu saling bertatapan. Kemudian orang yang sama kembali memanggil nama Wardhani.
Kali ini Wardhani berpaling memandang ke arah mereka. Ia memandang kedua pesuruhnya itu dengan tajam.
"Ah, bagaimana mengatakan kepada Raden Ayu, ya ini? Begini ..., apakah kami sudah diperbolehkan mendapatkan imbalan dan ganjaran kami karena telah membantu Raden Ayu?" lanjut sang pemuda.
Wardhani terlihat seperti berpikir, namun kemudian ia tersenyum. "Boleh kutahu maksud kalian apa? Mengapa tak katakan dengan jujur dan lugas?" jawab Wardhani. Suara yang keluar dari sela-sela bibir legitnya itu menggetarkan jiwa kedua pemuda tersebut.
Tanpa diperintah, kedua pemuda itu menggaruk kepala mereka yang tak gatal secara berbarengan. Salah satunya menimbang-nimbang batang besi linggisnya dengan tidak nyaman dan malu-malu, meski akhirnya ialah yang membuka mulut mewakili rekannya. "Begini Raden Ayu. Bukankah kami dijanjikan untuk dapat mendapatkan ... Ah ... Mendapatkan Raden Ayu bila kami telah menyelesaikan pekerjaan kami ini?"
"Oh, itu maksudmu. Kau ingin menikmati tubuhku, bukan?" jawab Wardhani sembari melemparkan senyum menggodanya. Sekali lagi tanpa dikomando, kedua pemuda mengangguk serentak dan nyengir ngeres.
Raden Ayi Ratu Dedemit Wardhani berbalik arah. "Ikut aku," ujarnya.
Bagai sepasang kerbau dicucuk hidungnya, kedua pemuda itu mengikuti kepergian Wardhani dengan taat.
Wardhani berhenti di ujung belokan jalan setapak dusun. Ia berbalik dan menghadap ke arah kedua pemuda yang diburu nafsu bagai dua ekor an*jing menjulurkan lidah minta diberi makan.
Cahaya jingga lemah dari kobaran api yang melahap sisa pos penjagaan dari kayu itu membayang di kulit gelap nan mulus Wardhani.
Perlahan, lengan ramping Wardhani meraih simpul kain kafan yang membalut sepasang dada mungilnya. Selembar kain panjang itu jatuh ke tanah. Sinar jingga lidah api yang lemah bermain warna dengan puncak dada merah darah Wardhani yang mengacung tegak di sela-sela kabut.
Kedua pemuda budak berahi itu menelan ludah. Tonjolan jakun di leher mereka naik turun sekehendak hati tanpa bisa dikontrol lagi. Wardhani membiarkan angin membelai kulit telanjangnya, termasuk kedua pemuda yang memandang sang ratu dedemit dengan lapar.
Wardhani menikmatinya.
Kedua lengannya kemudian merambat turun ke pinggul, meraba dan mencari-cari simpul kain kafan yang mengikat penutup bagian bawah tubuhnya tersebut.
Kedua pemuda jelas makin merasa jantung mereka berguncang keras dan darah menderu-deru liar. Mereka seperti sedang menunggu tontonan utama dalam sebuah pertunjukan di atas panggung.
Sayang, kedua pemuda tak sempat menyaksikan puncak tontonan utama itu karena tubuh mereka tiba-tiba terangkat ke udara. Leher mereka tercekik oleh tangan-tangan tak kasat mata. Wardhani mengangkat kedua lengannya dari jauh.
Pemandangan indah lekukan lengan bagian bawah Wardhani, terus turun ke cekungan ketiak dan tonjolan dada membusung tegak itu tak dapat dinikmati sama sekali oleh kedua pemuda yang memegangi lehernya tanpa tahu apa yang harus dilakukan sedangkan mereka mulai kehabisan nafas.
Wardhani mendadak bosan menunggu kedua laki-laki muda itu megap-megap mengejar udara bagai dua ekor ikan terlempar dari kolamnya. Maka ketimbang jenuh, Wardhani menggerakkan jari-jarinya dan mematahkan leher mereka.
Dua tubuh pemuda yang sudah menjadi mayat itu jatuh terhempas di atas tanah dengan bunyi berdebum.
***
Pecahan jambangan menghajar dada, leher dan wajah Girinata. Laki-laki tersebut berteriak keras penuh amarah dan kekesalan. Beberapa pecahan yang lancip menusuk di kulitnya dan menempel di sana. Darah mengalir dari luka-lukanya ketika Girinata mencabuti benda-benda tajam tersebut.
Soemantri Soekrasana menggunakan kesempatan ketika lawan sedang lengah ini untuk melaju deras ke arah Girinata dan memberikan satu bogem keras ke wajah laki-laki yang berubah menjadi muda itu.
Girinata terjengkang dan jatuh terduduk. Ada darah baru mengalir dari hidungnya yang patah.
"Bang*sat!" rutuk Girinata. Ia berguling mundur ketika Soemantri Soekrasana berusaha menjejaknya.
Girinata berusaha menghindari serangan Soemantri Soekrasana dan menciptakan jarak sejauh mungkin agar dapat merapal mantra.
Si sundel bolong Marni berkelebat dengan kedua tangan bercakar tajam terentang ke depan, ke arah Soemantri Soekrasana.
Laki-laki dukun muda itu mencelat ke samping, kemudian berguling ke samping, menjauh. Marni kembali hilang. Luka besetan panjang yang mengoyak kemeja dan kulit punggungnya terasa berdenyut nyeri. Girinata memandang tajam ke arahnya selagi mulutnya masih komat-kamit membaca mantra memainkan peran Marni. Girinata kemudian mengangkat kerisnya, meleletkan bilah bergelombang itu ke darah di luka-luka dadanya.
Soemantri Soekrasana paham bahwa Girinata hendak melancarkan sebuah serangan brutal dengan ilmu sihirnya.
Benar saja, laki-laki yang berubah muda itu kembali mengangkat kerisnya tinggi-tinggi dan berteriak keras. Hawa menjadi makin beku, menyiutkan nyali siapapun. Apalagi Marni si sundel bolong kembali muncul di antara Girinata dan Soemantri Soekrasana menghadap ke arah dukun muda itu.
Rambutnya yang menumpuk menggunung sekaligus panjang terburai kusut berpilin-pilin, mendadak memanjang dan mengembang di udara. Jubah putihnya berkelim-kelim juga ikut melebar. Marni melotot ke arah Soemantri Soekrasana. Kukunya semakin memanjang dan menghitam.
Soemantri Soekrasana meraba tas selempangnya. "Sial ... Sial ...," ia bersumpah serapah. "Aku terpaksa harus menggunakannya!" gumamnya geram.
Dari dalam tas selempang butut dan lusuh itu, Soemantri Soekrasana mengambil sebuah benda pusaka: juga sebuah keris namun tanpa sarung dan gagangnya ditempa oleh bahan yang sama menjadi satu dengan bilahnya sehingga terlihat seakan tak bergagang sama sekali. Keris itu sangat indah dan memancarkan cahaya kebiruan.
Teriakan keras Marni sang sundel bolong menyelimuti udara, tapi kali ini lebih karena rasa takut.
Nyala kebiruan dari keris Soemantri Soekrasana menyiutkan ruang dan waktu, menyempitkan sudut-sudut bumi dan memangkas tirai beragam dunia. Para mahluk halus dalam area getaran energi keris itu menggelepar. Tubuh astral mereka memadat dan kaku.
"Keris lawan keris. Tapi keris mana yang dengan lancang tak tunduk di depan Mpu Gandring?!" gumam Soemantri Soekrasana.
Tenaga keris pusaka itu ternyata juga menyerap tenaganya sendiri, mungkin itu yang membuat Soemantri Soekrasana enggan dan malas menggunakan keris tersebut. Ia pun tak mau lagi berlama-lama menggenggam senjata itu dan memutuskan menghambur ke arah sundel bolong yang melotot dan membuka lebar mulutnya.
"Marni ...!!!" seru Girinata. Kerisnya terlepas dari tangannya dan jatuh menancap di tanah ketika melihat bilah keris Soemantri Soekrasana menusuk lambung sang hantu.
Marni bergetar. Tubuhnya berasap tebal seperti terbakar. Sundel bolong yang harusnya berbentuk arwah dan tak solid itu berhenti melayang dan jatuh bergulingan di tanah kesakitan.