Deng..
Di menara yang menjulang tinggi berteman cahaya rembulan, aku menatap kegelapan yang menyelimuti Desa ku. Sudah 13 kali lonceng besar berbahan perunggu di hadapan ku ini berbunyi. Dentuman terakhir yang berdenging sukses membuat ku bergidik ngeri.
Meski lewat tangan ku sendiri bunyi itu muncul, namun aku tetap saja merasa ketakutan. Sudah tepat sebulan lamanya aku bertugas menggantikan Ayah ku sebagai pemukul lonceng. Akan tetapi bukan karena tubuh Ayah ku yang sudah renta, melainkan sebulan yang lalu aku sudah berumur 18 tahun.
“Bagaimana bisa selama ini Ayah hidup seperti ini? Setiap malam tidur tanpa kasur empuk hingga menyambut pagi seorang diri di menara yang menyeramkan ini.”
Aku hanya bisa mengeluh. Sebagai anak laki-laki pertama, aku memikul beban sebagai penerus keluarga pemukul lonceng. Bukan kasta rendahan, kami bahkan lebih dihormati dibandingkan para bangsawan. Namun bagi ku tidak ada yang istimewa terlahir dalam garis keturunan yang katanya menakjubkan.
Iya, hanya keturunan asli yang mampu membunyikan lonceng bermantra kutukan. Semua bermula dari berkah dan hukuman yang diberikan bersamaan oleh penguasa kegelapan, sang pelindung dunia para iblis pada salah satu leluhur ku.
Aku masih ingat betul bagaimana Ayah menceritakan kisah percintaan salah satu leluhur ku dengan penghuni dunia bawah. Meski jujur saja aku sulit mempercayai semua kisah yang menurut ku sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa cinta terlarang itu hadir dan menjadi belenggu bagi kami para manusia tidak berdosa.
“Rupanya diam-diam banyak yang melanggar aturan jam malam. Hah.. Jika bukan karena Ayah dan Ibu, mungkin aku juga akan menyelinap di malam hari.”
Sudah beberapa hari aku tanpa sengaja melihat ada warna kemerahan yang bergerak perlahan diantara rimbunnya hutan pinus. Tentunya aku hanya mampu menggeleng tidak habis pikir pada keberanian siapapun yang aku yakini telah diam-diam menyelinap. Sejujurnya sempat terbersit dipikiran ku bahwa cahaya itu bukan berasal dari obor apalagi lentera.
“Calla? Gila!! Untuk apa dia ke hutan!?”
Otak ku seketika kosong. Rasa panik yang datang tiba-tiba membuat aku kesulitan berpikir. Tidak mungkin aku melanggar sumpah untuk tidak meninggalkan menara. Namun Calla, adik kembar ku, tidak bisa aku biarkan dia menyelinap di malam yang mencekam ini.
“Bagaimana ini!? ARGH!!! Calla sialan!! Persetan dengan sumpah konyol itu..!! Calla lebih penting.”
Secepatnya aku menuruni anak tangga yang hanya mengitari separuh menara. Sungguh bangunan yang konyol, karena setelah ini aku harus menggunakan tangga kayu yang berdiri tegak.
Srak.
Srak.
Srak.
Langkah kaki ku terdengar nyaring, menyeruak indera pendengaran, memecahkan sayup-sayup bunyi dedaunan. Aku mencoba berlari sekencangnya diantara pohon pinus yang menjulang tinggi, mencari sosok Calla yang aku yakini belum pergi terlalu jauh.
Akan tetapi bagai tersihir dalam sekejap aku mematung. Tubuh lemas ku tidak mampu terjatuh. Meski mengerjap berulang kali yang tertangkap netra ku masih sama, adik kembar ku Calla yang tampak asing.
Dari kejauhan dapat ku lihat Calla memakan benda aneh berlumuran darah yang aku yakini sebagai jantung. Namun bukan itu yang membuat jiwa ku seakan tersedot ke dasar tanah, tapi pada kehadiran sesosok bersayap berkepala kerbau dengan ekor kalajengking yang memangku Calla.
“Ada keturunan pengkhianat yang menyelinap. HA HA HA..”
Aku terbelalak mendengar tawa mencekam itu. Mulut menganga yang aku tutup paksa dengan kedua telapak tangan seakan ingin berteriak namun tercekat di rongga dada.
Perlahan aku memundurkan langkah ku dengan gusar. Kaki ku terseret dengan berat, membeku pada pemandangan tidak masuk akal yang tertangkap lensa mata.
“Arg..!!”
Aku jatuh terduduk dengan siku membentur tanah berbatu. Luka perih tidak bisa menampar kesadaran ku. Sekujur tubuh ku mendadak ngilu dan tercabik semu.
“Aa-amm.. Am-pun.. Amm.. Puun..”
Pemilik mata tajam dari wujud menyeramkan yang seolah mencuri seluruh udara itu berjalan mendekati ku. Wajah ku pucat pias dengan bibir terbuka lebar. Seekor singa tampak berdiri gagah di hadapan ku.
Bukan, ini bukan singa sebenarnya. Aku pernah melihat gambar aneh di dinding menara yang sama persis dengan wujud di hadapan ku ini. Seekor singa dengan kepala kambing di punggungnya dan berekor ular.
Chimera. Benar, aku yakin seperti itu orang-orang menyebutnya.
Tiga pasang mata makhluk itu menatap lapar dan bergerak perlahan mengitari raga ku yang terpaku. Ekor berbentuk ular yang mendesis menyapu leher telanjang ku. Geraman dan hembusan nafas dari kepala singa seakan membungkam jiwa ku yang menyusut.
“Bodoh!”
“Cal.. Callaa.. Ap-appaa ini?”
Getar suara yang aku paksakan penuh rasa takut. Dengan bimbang aku menatap gusar pada Calla yang memasang raut wajah datar. Ia Calla adik ku, namun juga seolah bukan Calla yang aku kenal.
“Benar-benar keturunan pengkhianat. Bukankah kamu tidak boleh turun dari menara lonceng?”
“Bunuh saja dia.”
“Semudah itu?”
“Masa bodoh.”
Lidah ku kelu hanya untuk menyebut nama Calla. Aku benar-benar tidak ingin mempercayai pendengaran ku. Bahkan makhluk mengerikan bertubuh manusia itu bisa berbicara seperti aku.
“Akhirnya jiwa pengkhianat itu terwariskan pada keturunannya.”
“Berhenti bicara!! Lenyapkan dia sekarang juga!!”
“Separuh dirinya masih kaum kita. Dia bukan manusia, bukan juga iblis.”
“Bukankah kamu juga yang memberi kutukan pada iblis sialan itu!?”
“HA HA HA.. Sebenarnya aku masih ingin bermain-main dengan mu. Karena kamu tidak akan mati semudah itu.”
Gema tawa yang diakhiri bisikan di telinga belum sempat aku pahami. Semuanya seolah terlambat dengan raga ku yang mulanya mematung itu tergolek mengejang.
“Arg..!! Hooogh..!!”
Tusukan kilat menembus punggung itu terlepas, menyisakan darah yang mengucur lewat lubang besar di perut dan punggung ku. Aku beberapa kali memuntahkan darah hingga pandangan ini menghilang dari pelupuk mata ku.
“Ed!! Edgar bodoh cepat bangun!!”
“Calla!!?? Ba-bagaimana kamu bisa ada di sini?”
“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja aku memanjat!”
“Bagaimana bisa?”
“Dirimu pasti jelas tau seperti apa aku memanjat.”
Aku yang belum bisa menguasai diriku hanya terpaku, terdiam seribu bahasa untuk memahami apa yang terjadi. Bukan itu maksud sebenarnya pertanyaan ku. Sejenak silau dari mentari yang menyembul dari balik awan menyadarkan dan membuyarkan lamunan ku.
“Iya, tapi dengan pakaian mu yang seperti itu!?”
“Tenang lah Kakak ku. Lihat apa yang aku kenakan di balik gaun menyebalkan ini.”
“Sampai kapan kamu akan berhenti!? Bertingkah lah dengan anggun Calla!!”
“Berhenti memarahi diri ku untuk bertingkah anggun sesuai standar mu!!”
Aku dapat melihat Calla yang mendengus kesal, meninggalkan aku yang masih terduduk di ranjang sederhana meraba sekujur tubuh ku. Tidak ada luka. Tidak ada pula lubang besar di perut yang sempat aku lihat mengucurkan darah. Aku kembali berkelana dalam angan memikirkan mimpi yang tampak sangat nyata.
“Cepat turun Ed!! Ibu akan marah jika kamu terlambat pulang karena tidur terlalu lama!!”
“Ibu tidak akan pernah tau jika kamu berhenti mengadu!!”
Dengan keyakinan bahwa semua itu hanya mimpi, aku menjalani hari-hari ku seperti biasa. Setiap hari berulang hingga terasa hampa. Namun baru-baru ini aku menyadari ada sepasang mata yang selalu mengawasi dengan senyum menyeringai. Rupanya rasa merinding yang selama beberapa hari menerjang raga ku bukan hanya kekalutan belaka.
Aku benar-benar diintai oleh dia yang tampak seperti Calla dalam mimpi ku, bukan Calla adik kembar ku. Iris matanya yang merah menyala terpantul jelas di kegelapan malam. Menyorot dalam seakan menguliti diriku.
Bersamaan dengan tekad yang sudah aku bulatkan dan suara lonceng ke 13 yang berdentang di tengah malam kali ini, aku membalas tatapannya yang sulit untuk diartikan. Menghunus tajam penuh makna, menghadirkan seringai dan menghilang di kegelapan malam.
TAMAT.