"Jangan sampai salah orang, yang namanya Russell banyak. Ingat Russell yang lu cari itu yang botak dan bertubuh gembrot." Perintah Boss Crowe pada kedua anak buahnya.
Boss Crowe kemudian meninggalkan mereka yang masih terdiam dan saling berpandangan.
"Lu ingat kan yang mana Russell yang boss maksud?." Tanya Chiwetel, salah satu dari dua orang anak buah yang menerima perintah dari Boss Crowe.
"Kayaknya gue ngandalin daya ingat lu deh!." Jawab Ejiofor, orang yang satunya lagi.
Chiwetel menggeleng-gelengkan kepala, sejak kapan gue punya daya ingat yang bagus, katanya dalam hati. Namun bagaimanapun karena ini perintah mereka harus melaksanakannya, karena kalau tidak, mereka tidak bisa membayangkan resiko yang akan mereka hadapi.
Beberapa jam kemudian, Russell sedang asyik bermain gaple bersama tiga orang temannya. Berkali-kali Russell mengumpat ketika melihat kartu yang ia pegang ternyata menutup jalannya untuk menang.
Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba...
"Woyyy Russell...ada yang nyariin nih?."
Teriakan dari seberang tak ayal membuat fokus Russell buyar, ia segera memandang ke arah sumber suara.
"Siapaaa???...gue lagi sibuk nih!." Balas Russell berteriak.
"Sibuk apa lu?." Kali ini bukan yang berteriak tadi yang bertanya, namun Chiwetel suruhan Boss Crowe.
"Ooh...elu cah...!." Russell memberikan kode kepada teman-temannya untuk berhenti bermain. Russell kemudian berjalan tenang ke arah Chiwetel.
"Ada pesan dari Boss Crowe!." Tegas Chiwetel.
"Boss Crowe?...tunggu...biasanya lu bareng Ejiofor, dimana dia?." Tanya Russell sambil celingukan.
"Lu merindukan gue!?." Suara Ejiofor terdengar, ia kemudian muncul di samping Chiwetel sambil tersenyum sinis.
"Gue gak tau siapa Boss Crowe." Kata Russell.
"Lu jangan bohong...kami tidak salah dengar Boss Crowe nyebut nama lu!." Tegas Ejiofor sambil tetap memandang sinis ke arah Russell.
"Jadi kalian mau apa?." Tanya Russell, sepertinya hal ini akan mengakibatkan sedikit keributan.
Chiwetel hendak mengeluarkan suara, namun tiba-tiba handphonenya berbunyi. Tanpa melepaskan pandangan dari Russell ia mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Haloo."
"Iya...kenapa?."
"Haaah...apaa??."
"Gak mungkin...gak mungkin!."
Wajah Chiwetel langsung memucat dan memandang Russell seolah melihat hantu.
"Ada apa?." Tanya Ejiofor.
"Boss...Boss Crowe dibunuh oleh Russel!." Jawab Chiwetel terbata-bata.
"Russell?, Bukankah Russell sekarang sudah ada di depan kita?."
"Bukan...bukan...bukan Russell yang ini!."
Dengan pandangan tak mengerti Russell lalu berdiri lalu berjalan meninggalkan Chiwetel dan Ejiofor yang berdiri mematung tak tahu kenyataan apa yang sedang mereka hadapi.
"Russell itu banyak bro!, Makanya ingat-ingat ciri khas Russell yang kalian cari!." Kata-kata Russell terasa seperti pisau yang membelah perut Chiwetel dan Ejiofor.