Namaku Delima aku tidak memiliki suatu yang spesial. Orang tuaku sudah bercerai sejak aku masih kecil. Mereka selalu bertengkar dan melimpahkan kesalahan mereka padaku. Itu membuat mental ku semakin melemah. Saat aku memasuki sekolah dasar aku pikir kehidupan ku yang buruk bisa diatasi dengan memiliki seorang teman namun nyatanya itu sangat berbeda.
Di sekolah entah kenapa mereka menganggap diriku aneh, tidak ada seorang pun yang mau bermain denganku. Aku tidak apa-apa jika mereka menghindari namun tolong jangan berbuat kekerasan kepadaku. Aku sudah rapuh kalau kalian juga sama seperti keluargaku mungkin aku akan menghilang.
Aku tak habis pikir dari mana anak-anak kecil itu tahu tentang kekerasan. Aku tak habis pikir mereka akan seberani ini denganku. Setiap kali aku berada di kelas semua anak akan melempar ku dengan batu, yah meskipun batu itu kecil tapi tetap saja terasa sakit. Ketika aku menuju toilet mereka selalu membuatku basah, waktu ulangan mereka selalu mengambil jawaban soal ku hingga aku tak mendapat nilai. Saat aku makan mereka bahkan menumpahkan tanah di makananku.
Pada saat aku kelas 4 aku pindah ke rumah nenek. Di sana kehidupanku berangsur-angsur membaik. Nenek sangatlah penyayang dan baik. Setiap hari aku bisa makan, berpakaian layak dan selalu diberikan kasih sayang. Aku juga berharap teman-teman kau akan menerima diriku yang kurang.
Sekarang waktunya aku sekolah. Aku mengayuh sepeda karena jarak dari rumah nenek ke sekolah cukup jauh. Dengan hati yang raguh dan cemas aku memasuki ruang kelas. Ku lihat tatapan mereka sangat ramah. Beberapa dari mereka bahkan mengobrol denganku. Jujur saja aku sangat senang dan berharap bahwa waktu berhenti sejenak.
Kelas 4 semester 2 adalah awal dari pembullyan. Entah kenapa sifat mereka sangat berbeda dari biasanya. Tatapan mereka seakan telah melihat sesuatu yang kotor. Aku menunduk dan segera menuju meja. Di sana sudah tersedia berbagai macam makanan seta minuman yang telah tumpah. Aku hanya ingin hidup biasa dengan kasih sayang yang secukupnya. Namun apakah itu begitu sulit?
Saat aku akan menuruni tangga seseorang mendorongku hingga terjatuh. Akibatnya aku tak bisa berjalan karena tulang kakiku patah. Aku berpikir mereka pasti akan merasa bersalah namun tidak. Saat aku duduk salah satu mereka mendorong bangku yang berada di tempatku. Dadaku sangat sakit dan sejak saat aku memiliki penyakit sesak napas. Aku sangat heran dengan mereka karena tertawa jika seseorang menderita. Apa mungkin jika mereka besar akan menjadi pesikopat? Hanya Tuhan dan mereka yang akan tahu.
Pernah beberapa kali terbesit dalam pikiranku lebih baik mati daripada merasakan siksaan ini terus menerus. Namun niat itu aku urungkan karena mengingat kasih sayang nenek. Jika aku tiada nenek akan sendirian dan nenek mungkin akan merasa yang paling menderita karena kepergian ku.
Saat pulang ke rumah aku melihat rumah nenek sudah berantakan. Aku sangat panik dan mencari keberadaan nenek. Untungnya nenek baik-baik saja dan menjelaskan bahwa tadi ada seekor kucing yang mengacak-acak rumah namun nenek lupa membereskannya.
Setiap kali aku tertidur aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk memberikan aku hidup yang selayaknya, tuhan telah mengabulkan doaku yaitu keberadaan nenek. Dengan itu saja aku semangat.
Sekarang aku berada di kelas 5 disini wali kelasku selalu membandingkan aku dengan anak pintar. Aku sih biasa aja karena kepintaran seseorang bukan dilihat dari nilai melainkan dari cara mereka bicara, berbuat, dan cara mereka menghargai orang lain.
Semakin bertambah usia seharusnya mereka bertambah dewasa namun tidak dengan teman-teman ku. Mereka selalu menggangguku, tak tanggung-tanggung aku sangat ingat kejadian yang sangat mengerikan. Saat itu adalah ekskul Pramuka, kakak pembina hari itu tidak masuk karena sakit. Entah setan apa yang merasuki mereka. Seorang anak perempuan mendekatiku dan menggores silet di tanganku. Tentu saja itu membuat tanganku berdarah. Rasanya begitu sakit.
Saat aku menuju ruang guru untuk melaporkan anak perempuan itu, namun semua guru tidak mengganggap ku ada. Mereka hanya cuek dan memberikan kasa kepadaku. Yah itulah kenapa selama ini aku diam. Semua orang di sekolah ini ternyata tak memiliki empati.
Saat aku menginjak kelas 6 pembullyan itu masih tetap terjadi namun tak terlalu ke arah fisik. Paling mereka membuat sepedaku rusak, mengganti jawaban ulangan ku, membuat kehebohan, memalak. Aku sih bersyukur karena kurang dari 1 tahun aku akan lulus dan tidak akan bertemu lagi dengannya. Aku harap begitu_
Mungkin mereka dulu tak sadar betapa banyak luka dan ketakutan yang aku rasakan. Tapi semoga saja mereka tak melakukannya untuk orang lain.