"Siang Bu."
Sapa beberapa muridnya yang berpapasan dengan Ani di lorong sekolah saat jam istirahat dan dengan ramah Ani akan menjawab sapaan Mereka.
"Bu Ani.."
Panggil Bu Susi teman sejawatnya sesama guru.
"Bu Susi, baru keluar kelas juga."
"Iya Bu, mau ke ruang guru kan."
"Iya Bu, mau ambil mukena dulu setelah itu ke masjid."
Ani dan Bu Susi berjalan beriringan menuju ke ruang guru saat sampai di depan sebuah kelas keluarlah Pak Angga.
"Siang Bu Ani, Bu Susi."
Sapa Pak Angga dengan tersenyum ramah.
"Siang Pak." jawab Ani dan Bu Susi sambil tersenyum.
Namun Bu Susi menatap ada sesuatu yang berbeda dari cara Pak Angga memandang Ani.
Ani termasuk guru baru di sekolahnya sekitar 3 bulan ini mulai mengajar sedangkan Bu Susi sudah senior hampir 8 tahun mengabdi di sekolahan itu.
Ani setelah mengambil mukenanya segera menuju ke masjid dan berpapasan dengan siswinya.
Selesai jamaah Ani masih duduk di serambi masjid sambil ngobrol santai dengan siswi - siswinya yang selesai sholat.
"Bu Ani, masih di sini nggak makan siang."
Pak Angga yang baru keluar dari dalam masjid duduk di serambi masjid berjarak dari Ani tapi tak ada penghalang di antara Mereka.
"Pak Angga, enggak Pak belum lapar juga."
jawab Ani sambil tersenyum ke arah Pak Angga.
"Bu, Kita duluan ya." pamit Siswinya.
"Iya nanti langsung masuk lab ya."
"Oke Bu."
Begitulah Ani dengan siswa-siswinya dia menganggapnya seperti Adiknya sendiri.
"Masih ada jam Bu Ani."
"Iya Pak, masih dua jam. Pak Angga enggak ada jam mengajar."
"Sudah selesai Bu."
"Ya sudah Pak, Saya permisi bel masuk sudah berbunyi."
"Silahkan Bu."
Ani pergi meninggalkan Pak Angga yang masih menatap punggungnya hingga dia tak terlihat lagi.
"Cantik, Sholehah." gumam Pak Angga sendiri yang tanpa sadar ada guru lain yang mendengarnya.
"Siapa Pak, yang cantik."
Pak Angga kaget dan muncullah Pak Ahmad kemudian duduk di sampingnya.
"Ah.. Pak Ahmad salah denger aja."
"Yang bener Pak.."
Pak Ahmad menyenggol pundak Pak Angga, mereka memang seumuran sudah hampir 1 tahun ini terasa akrab tetapi mengajarnya lebih dulu Pak Ahmad daripada Pak Angga.
"Iya Pak, enggak ngajar Pak."
Pak Angga mengalihkan pembicaraannya.
"Kosong dua jam ini, nanti setelah Bu Ani selesai baru jam Saya."
Ada debaran di dada Pak Angga saat mendengar nama Bu Ani, entah apa itu tapi semenjak kedatangan Ani di sekolah itu diam - diam dia memperhatikannya.
"Ngobrol apa tadi sama Bu Ani Pak, kelihatan bahagia sekali."
Pak Angga tidak menyangka jika obrolannya tadi dengan Bu Ani ada yang melihat juga, memang tadi Pak Ahmad saat keluar dari masjid melihat mereka berdua sedang ngobrol akhirnya menunggu mereka selesai bicara baru mendekati Pak Angga setelah Bu Ani pergi.
"Ngobrol biasa aja Pak."
"Buruan di dekati sebelum di ambil orang."
Pak Ahmad bangun dari tempat duduknya sambil menepuk pundak Pak Angga.
Pak Angga tersenyum saja ke arah Pak Ahmad yang entah serius atau bercanda berkata seperti itu.
"Ngopi Pak."
Pak Ahmad menoleh lagi ke belakang mengajak Pak Angga ke kantin mumpung siswa - siswi sudah masuk kelas.
Bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar Mereka merasa bahagia jika tanda itu dibunyikan seakan terbebas dari belenggu.
Pak Angga masih di dalam ruang guru dia sengaja menunggu seseorang, kemudian tak lama orang itu pun datang pas ruang guru juga sudah sepi karena para dewan guru sudah pulang.
"Baru selesai Bu Ani."
ucap Pak Angga yang melihat Ani masuk ruang guru selesai melakukan pengecekan komputer di lab yang rutin ia lakukan setiap minggunya bergantian dengan guru lainnya.
"Iya Pak, Pak Angga belum pulang."
"Sebentar lagi Bu."
Pak Angga pura - pura sibuk menulis tapi sebenarnya dia menunggu Ani bersiap pulang.
"Bu Ani sudah makan siang."
Pak Angga bicara agak mendekat ke meja Bu Ani namun masih berjarak.
Ani kaget dan kemudian menatap ke arah Pak Angga,
"Biasanya makan di rumah Pak, tadi sudah bawa bekal juga tapi sudah habis sih he he he.."
"Mau makan siang sama Saya."
Pak Angga langsung aja tanpa basa - basi lagi.
"Sama Pak Angga, cuma berdua."
Ani ada rasa kurang nyaman juga jika berdua belum lagi nanti kalau ada guru lainnya yang melihat mereka berduaan pasti akan menjadi biang gosip.
"Iya Bu, kenapa. Kurang nyaman ya Bu jika hanya berdua."
Pak Angga bisa memahami itu.
"Sebenarnya iya Pak, belum lagi nanti ada guru sini yang melihat kita berdua atau bahkan siswa - siswi sini."
"Kita cari yang agak berjauhan dari sekolahan, Saya tau tempat bakso enak Bu. Itu pun kalau Bu Ani mau."
"Tapi ke arah pulang ke rumah saya kan Pak, jangan berlawanan."
"Iya Bu, setiap hari Bu Ani lewatin kok."
Pak Angga juga kadang diam-diam mengikuti Ani ketika pulang dan ternyata rumah mereka searah.
"Hemmmm.... gimana ya Pak."
"Saya terserah Bu Ani, kalau mungkin memang ada acara bisa lain waktu lagi Bu."
"Bukan Pak, Saya kosong enggak ada acara. Oke lah Pak Saya mau."
Senyum merekah di bibir Pak Angga, dalam hatinya yess...
"Oke, Bu Ani ikuti sepeda motor Saya ya."
"Iya Pak."
Mereka berdua keluar dari area sekolahan dan benar Ani mengikuti sepeda motor Pak Angga dari belakang yang melaju dengan pelan-pelan.
Tak Butuh waktu lama hanya sekitar 15 menit dari sekolahan mereka sudah sampai di sebuah kedai bakso yang disebut oleh Pak Angga tadi.
Pak Angga memesan dua porsi bakso sesuai yang mereka inginkan sebelumnya telah bertanya kepada Ani bagaimana seleranya dan juga 2 gelas jeruk hangat yang ternyata mereka mempunyai selera yang sama.
"Maaf ya Bu, kalau Saya lancang mengajak Bu Ani makan siang." Pak Angga mengawali obrolan Mereka.
"Enggak papa Pak, Saya juga enggak enak takut ada yang marah nanti jika lihat Pak Angga sama Saya."
Pak Angga malah tertawa, Dia merasa Ani lucu.
"Siapa yang marah Bu."
"Ya pacar Pak Angga lah."
"Ha ha ha... Bu Ani ini, kalau Saya punya pacar enggak mungkin ngajak Bu Ani makan siang."
Ani tersenyum merasa bebannya terlepas dia takut jika dicap sebagai pelakor.
"Bu Ani sendiri ada yang marah enggak nih makan siang bareng saya."
"Paling Ibu Saya Pak, nanti banyak bertanya anaknya pulang terlambat." kata Ani kemudian menyeruput jeruk hangat yang ada di depannya yang sudah diantar oleh mbak nya tadi.
"Silahkan makan dulu Bu "
Mereka berdua menikmati bakso yang ada dihadapan mereka dan saling terdiam tak baik pula makan sambil bicara.
"Bu Ani mau saya antar pulang."
tawar Pak Angga setelah Mereka selesai makan.
Ani menatap Pak Angga dan terlihat ketulusan di matanya tanpa basa - basi.
"Enggak perlu Pak, Saya bisa pulang sendiri. Makasih ya Pak traktiran baksonya. Sudah sore juga Saya permisi pulang."
"Baik Bu, kita bareng ya."
Ani menganggukkan kepalanya mereka searah tetapi nanti akan terpisah di perbatasan kota.
Pak Angga mengikuti sepeda motor Ani dan mendekati pertigaan Pak Angga menyalip meminta Ani menepi.
"Ada apa Pak."
Ani membuka helmnya setelah menepi ke pinggir jalan.
"Hati - hati ya Bu, maaf enggak mengantar sampai rumah tapi jika Bu Ani berubah pikiran saya akan mengantarkan sampai rumah." tawar Pak Angga lagi.
Ani tersenyum, " Makasih banyak Pak, tapi saya bisa pulang sendiri. Pak Angga juga hati - hati, saya duluan Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Pak Angga melihat motor Ani sampai tak terlihat baru dirinya belok menuju ke arah rumahnya.
Sesampainya di rumah Ani sudah mendapat pertanyaan dari ibunya kenapa pulang terlambat tetapi tetap Ani menjawab ada kegiatan sekolah.
Setelah membersihkan dirinya dan selesai salat ashar Ani baru membuka ponselnya.
"Bu Ani sudah sampai rumah."
sebuah pesan masuk dari nomor yang tak tersimpan di HP Ani dan setelah melihat profilnya sudah dipastikan pasti itu Pak Angga.
"Alhamdulillah sudah Pak, maaf baru buka HP."
balas Ani dan kemudian meletakkan ponselnya membantu ibunya di dapur.
Selesai sholat maghrib Dia membuka kembali ponselnya sudah ada panggilan tak terjawab dari Pak Angga dan juga pesan bentuk perhatiannya.
"Kenapa Pak Angga jadi perhatian begini." gumam Ani sendiri.
Tak di pungkiri jika Pak Angga sosok yang mengagumkan di mata Ani, selain masih muda dan memiliki tubuh yang tinggi berkulit kan bersih terlihat sangat berwibawa sekali saat mengenakan seragam sekolah.
Saat bekerja pula Pak Angga sosok yang bertanggung jawab dan sangat dekat dengan siswa-siswinya. Mudah bergaul dengan sesama guru dan juga mengobrol santai dengan muridnya.
Pagi hari setelah kemarin siang keluar makan siang bersama Pak Angga dan Ani tetap biasa saja seperti hari - hari sebelumnya. Tetapi ada yang beda dengan perasaan Mereka, Pak Angga semakin merasa yakin akan mendekat ke Ani begitu pula Ani kadang mencuri pandang memperhatikan Pak Angga.
"Kemarin kemana Bu, Saya lihat lho."
Bu Susi duduk di depan Ani dan menginterogasinya.
"Kapan Bu." Ani sudah merasa takut kepergok tetapi dia mencoba menutupinya.
"Kemarin sore saya lihat Bu Ani sama Pak..... ehem.... di pertigaan." goda Bu Susi.
"Apa iya saya Bu."
"Iya Bu, Saya nggak mungkin salah lihat, Saya hafal sekali motor Bu Ani."
Ani tersenyum aja dan berlalu ke kelas, "Bu Susi salah lihat kali."
"Di tunggu kabar gembiranya Bu."
Karena ada yang memergoki kemarin dengan cepat gosip menyebar di ruang guru hingga Ani merasa nggak nyaman dan lebih memilih di lab saja karena saat di ruang guru dan ada Pak Angga mereka berdua jadi bahan candaan.
Bukan apa - apa sih sebenarnya, tapi Ani merasa nggak nyaman saja takut perasaannya bertepuk sebelah tangan karena Pak Angga juga hanya tersenyum jika menjadi bahan candaan para guru.
Pak Angga sebenarnya juga merasa jika Ani jadi lebih sering di lab dan jarang kumpul di ruang guru, dia merasa nggak enak juga gosip sudah menyebar tetapi tak ada kepastian dengan hubungan mereka. Bukan karena menggantungkan perasaan kepada Ani tetapi dia akan memantapkan hatinya sebelum menyatakannya.
"Assalamualaikum Bu, boleh minta alamat rumahnya."
pesan di kirim Pak Angga ke nomor Ani saat hari minggu mereka libur.
Setelah menunggu sekitar satu jam baru ada balasan dari Ani dengan mempertanyakan apa tujuannya menanyakan alamat rumahnya dan di jawab Pak Angga akan bersilaturahmi dengan keluarga Ani.
Ani berfikir sejenak dan akhirnya diberikan lah alamat rumahnya, sekitar satu jam kemudian ada sepeda motor merapat di halaman rumah Ani.
"Mbak, ada tamu." Adiknya yang memberitahu Ani.
Ani sudah merasa jika yang datang Pak Angga, dia mengambil jilbabnya dan keluar dari kamar.
"Pak Angga, duduk Pak."
Ani melihat Pak Angga berdiri melihat Ani keluar dari dalam.
"Makasih Bu, maaf ya Bu saya lancang ke sini."
"Nggak papa Pak, maaf ada perlu apa ya Pak ini kedua orang tua saya baru saja keluar ke tempat saudara."
"Saya ada perlu dengan Bu Ani."
Ani menatap Pak Angga dan begitu pula sebaliknya.
"Bu bisa kita keluar sebentar."
"Maaf Pak, bicara saja di sini karena saya harus menjaga ke dua adik Saya."
"Hemmm.. begitu ya, baiklah Bu..."
Pak Angga menarik nafas dan melepaskannya.
"Bu Ani, Saya tahu Bu Ani merasa nggak nyaman dengan candaan para guru di ruang guru dengan menjodohkan Saya dengan Bu Ani."
Pak Angga diam sejenak dan Ani hanya menunduk mendengarnya.
"Maafkan Saya Bu sebelumnya, memang semua berawal dari Saya yang mengajak Bu Ani makan siang waktu itu. Tetapi saya ingin jujur dengan Bu Ani tentang perasaan Saya kepada Bu Ani."
Ani masih diam saja dan menunggu,
"Saya suka sama Bu Ani, maukah Bu Ani menjadi pacar saya dan calon istri Saya."
Pak Angga menatap Ani serius begitu pula dengan Ani yang kaget apalagi Pak Angga bilang calon istri.
"Saya serius Bu, maaf saya baru mengungkapkan sekarang karena saya ingin serius dengan Bu Ani tak hanya sekedar main - main saja menghabiskan waktu untuk pacaran."
Lidah Ani terasa kelu dia harus jawab apa.
"Ijinlah dengan kedua orang tua saya jika Pak Angga memang serius."
Pak Angga tersenyum baginya lampu hijau di depan mata.
"Insha Allah Saya akan kembali lagi ke sini. Jadi... sekarang ..." Pak Angga menelisik wajah Ani yang menunduk namun senyumnya memancar.
"Kita... " lanjut Pak Angga ingin mendengar suara Ani.
"Kita jalani aja Pak, dan silahkan bicara dengan kedua orang tua saya jika Pak Angga serius karena saya nggak mau lama - lama dosa." ucap Ani sambil tersenyum menatap Pak Angga.
"Pasti Bu, kapan Ibu dan Bapak pulang."
"Mungkin lusa."
Pak Angga menganggukkan kepalanya dan tersenyum senang.
Setelah kejadian hari minggu itu Pak Angga serius dengan ucapannya tiga hari kemudian dia menemui kedua orang tua Ani dan di sambut dengan baik.
Sedangkan jika di sekolahan sekarang Ani sudah menganggap candaan guru lainnya itu doa, yang tau hanya Dia dan Pak Angga karena mereka yang menjalani.
Tanpa banyak bicara dan mengumbar kemesraan di hadapan umum Pak Angga langsung melamar Ani dengan membawa kedua orang tuanya bertemu dengan keluarga besar Ani.
Seluruh sekolah heboh, setelah pagi hari Ani berangkat dengan membawa suguhan untuk para guru. Sebenarnya dia menolak tapi itu kemauan Ibunya daripada mubadzir nggak kemakan lagian anggap saja syukuran lamarannya.
Setelah itu kini Pak Angga dan Ani berani tampil di depan para guru bersama dan kadang juga berangkat boncengan dengan Pak Angga menunggu di perbatasan kota setelah itu ke sekolahnya bareng.
Hari membahagiakan itu datang, mereka dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan setelah Pak Angga mengucapkan ijab qobul di depan penghulu dengan wali nikah Bapaknya Ani sendiri.
Mereka sudah memantapkan hati walaupun belum lama mengenal tapi mereka sudah satu visi misi untuk membangun rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah...
Aamiin...
~~~~TAMAT~~~~